Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Nisa dan Nayaka


__ADS_3

Sudah tiga minggu ini Nisa dan Armanda menikmati masa bulan madu dengan penuh gairah dan kebahagian yang sulit dilukiskan, semua seperti dongeng buku cerita yang selalu berakhir sangat manis.


Hari ini Armanda harus ke kota bogor, mengambil pesanan cincin untuk istrinya yang baru bisa ia tebus setelah mengambil uang di ATM tempo hari melalui bantuan ibu asuhnya. Armanda selama ini tidak berani mengambil uang ke Bank karena takut diketahui jejak oleh keluarga besar Akbar.


Nisa berdiam di kamarnya melipat gaun pengantin yang dipakainya tiga minggu lalu. Gaun yang membawa pada perubahan hidupnya.


Nisa beranjak ketika ia mendengar suara pintu bergeser di bawah, Nisa yakin itu suaminya.


"Sayang.., sudah pulang..." ujarnya sedikit berteriak di antara langkahnya.


Ya Tuhan! Nisa terkejut setengah mati ketika ia hendak menuruni tangga seseorang yang ketika ia melihatnya syaraf-syaraf Nisa menjadi kacau balau, seseorang yang sudah tiga bulan ini hilang dalam hidupnya.


Nayaka Akbar sudah berdiri di bawah tangga menatap ke arahnya. Nisa terpaku tak dapat bicara, akhirnya hal yang ditakutkan datang jua, tempat rahasia ini berhasil ditemukan.


"Akhirnya aku berhasil menemukanmu..." ujar Nayaka.


"Untuk apa mencari kami? Sebaiknya lupakan kami. Kami sudah bahagia disini."


"Bahagia." Dengus Nayaka pahit. "Kau tak boleh memikirkan kebahagian dirimu saja. Banyak orang menderita karena ulah keegoisanmu. Ikutlah bersamaku pulang. Tinggalkan Armanda."


Nisa tersenyum sinis membalas kalimat Nayaka.


"Aku tidak mungkin melakukannya. Kedatanganmu terlambat karena aku sudah menikah. Armandamu saat ini sudah resmi jadi suamiku sejak tiga minggu lalu."


"Itu tidak mungkin..," suara Nayaka hampir tidak terdengar. Nayaka terkejut mendengar pengakuan Nisa barusan. "Kalian tidak boleh menikah. Ini hanya akan menciptakan masalah yg lebih besar lagi."


"Terlambat. Kami sudah menikah. dan kami berdua sangat bahagia..."


"Pernikahan kalian hanya akan menghancurkan masa depan kalian, terutama Armanda. Nisa!" Suara Naya lebih keras penuh ketakutan.


"Armanda kalian baik-baik saja bersamaku. Dia sangat bahagia dengan pernikahan ini. Begitu juga aku."


"Kamu egois Nisa!" Suara Naya menekan. "Apa kamu tidak berpikir banyak orang yang terluka karena ulah kalian?"


"Aku tidak perduli. Selama Bintangku bahagia aku tidak peduli dengan yang lainnya."


"Aku tidak percaya kamu bisa sangat seegois ini.., bahkan kamu tidak peduli dengan nasib Mutiara saat ini. Mutiara putri Ridwan Agung seseorang yang semasa hidupnya selalu menolongmu. Bahkan kau juga berhutang nyawa padanya tapi kau tega melukai putrinya dengan cara paling kejam dari pada perlakuan ibuku padamu dulu. Kau keterlaluan!"


Naya berusaha menekan dengan mengingatkannya pada Mutiara dan sepertinya saat menyebutkan nama Mutiara nampak wajah perempuan itu berubah murung dan sedih.


"Apa kau tidak mau tahu nasib malang yang menimpah Mutiara saat ini? Apa benar kamu tidak mau tahu!"


Nisa tidak mengerti maksud Nayaka, kata-katanya membuatnya berpikir sesuatu yang buruk terjadi pada Mutiara.


"Apa yang sebenarnya hendak kamu katakan? Apa yang terjadi pada Mutiara, Naka?" Suara Nisa mulai terdengar kecemasan.


"Kalau kamu masih memiliki perasaan sebagai manusia ikutlah denganku sekarang."


"Aku tidak mungkin melakukannya. Armanda sudah jadi suamiku dan aku tidak mungkin meninggalkannya. Apa yang ingin kamu bilang, bilanglah sekarang, katakan apa yang terjadi dengan mutiara?"

__ADS_1


Nayaka mengeluarkan sebuah koran dari balik jas bagian dadanya yang sengaja ia selipkan dari awal untuk memperlihatkannya pada Nisa. Di koran itu ada berita mengenai petaka yang menimpah Mutiara tiga bulan lalu yang berujung koma. Nayaka melempar koran itu ke depan Nisa.


"Bacalah. Kamu akan tahu semuanya."


Nisa dengan perasaan penuh ketakutan ia menuruni tangga untuk mengambil koran yang tergeletak di anak tangga setelah dilempar Nayaka.


Tangan Nisa tiba-tiba bergetar ketika membacanya dan airmatanya menitik ketika ia baca kutipan besar di koran itu dengan bunyi seperti ini.


PEMILIK PT MULYA AGUNG KOMA SETELAH MENABRAKAN MOBILNYA PADA MOBIL KONTENER YANG SEDANG MELAJU KENCANG DI HADAPANNYA. DARI SUMBER YANG TERPERCAYA PELAKU BERUSAHA BUNUH DIRI SETELAH MERASA PRUSTASI DICAMPAKAN PEMILIK TUNGGAL AKBAR GROUP YANG MELARIKAN DIRI DENGAN QUEEN AGUNG.


"Tidak. Ini tidak mungkin...," Nisa menangis ia tidak sanggup mempercayai ini. Mutiara bunuh diri di luar pikirannya selama tiga bulan ia dan kekasihnya mengasingkan diri di tempat ini dan tidak mau mendengar kabar apapun dan setelah tiga bulan kemudian ia baru mendengar hal yang sangat menyedihkan yang terjadi pada Mutiara.


Nayaka cukup lega melihat reaksi Nisa, meskipun ia datang terlambat karena tidak sempat menghentikan pernikahan mereka namun tidak ada kata terlambat bagi Nayaka untuk membuat semuanya kembali mengikuti aturan semula. Dan ini saat yang tepat untuk mempengaruhinya.


"Jangan khawatir. Mutiara saat ini masih hidup.., Mutiara sudah bangun dari koma." ungkapnya dan saat itu ia melihat senyuman dalam tangisan Nisa ketika diperdengarkan berita terbarunya tentang Mutiara.


"Syukurlah..." balasnya lirih menatap Nayaka.


"Tapi..,"


Nisa melihat kesedihan yang mendalam pada ekpresi wajah Nayaka. Nisa cemas melihat wajah pria di depannya yang seolah hal buruk kembali terjadi pada Mutiara. Lebih buruk dari pada mati itu sendiri.


"Ada apa Naka?" Suara Nisa penuh ketakutan sambil melangkah turun mendekati Nayaka. "Tapi apa? Cepat Naka katakan. Tapi apa?Katakan padaku Mutiara kenapa? Kalau dia sudah bangun dari koma harusnya dia baik-baik saja..," mencengkram jas Nayaka lalu berteriak. "Capat katakan bagaimana Mutiara sekarang!"


Nayaka menatap sedih wajah Nisa, ia melihat kecemasan yang begitu besar pada dirinya. Selama ini mungkin Nisa berusaha tidak peduli pada Mutiara demi kebahagian Armanda tapi di hatinya tak bisa dipungkiri ia masih memiliki rasa peduli pada Mutiara, ada rasa sayang meski rasa sayang itu tidak bisa dibandingkan dengan rasa sayang pada Armanda setidaknya ada nilai setitik yang mungkin bisa menekannya untuk lebih peduli lagi pada kondisi Mutiara saat ini.


"Mutiara..," berhenti sejenak untuk menarik napas panjang. "Dia lumpuh total." Jawab Naka dengan suara sedih seketika ia melihat perempuan di depannya menjatuhkan badannya ke lantai, tubuhnya nampak terlihat lemas dan pucat. Berita Mutiara berhasil menekan perasaannya. Kembali Nayaka meneruskan. "Syaraf-syarafnya seolah tidak berpungsi lagi. Tubuhnya tak ada yang bisa di gerakan kecuali matanya yang sesekali berkedip. Dokter bilang hanya motipasi dari orang-orang terdekatnya yang bisa menyembuhkannya. Yang ku tahu selama ini selain dekat dengan Armanda dia juga dekat denganmu. Dia putri Almarhum Ridwan Agung, seseorang yang pernah dekat denganmu. Tolonglah Mutiara. Seperti ayahnya pernah menolongmu. Jangan lupakan kalau bukan karena pertolongan Ridwan Agung mustahil kamu bisa bertemu kembali dengan adikmu. Balaslah jasanya dengan menolong Mutiara. Tinggalkan Armada dan temuilah Mutiara. perlihatkan kalau kamu masih manusia yang masih memiliki perasaan untuk orang lain jangan hanya memilikirkan Armanda saja sehingga kamu melupakan banyak orang disekitarmu yang terluka karenamu. Ingat juga Mutiara adalah orang yang kamu anggap adikmu setelah Bintangmu." Nayaka bernafas lega setelah menuturkan semua kalimatnya. "Kalau kamu masih merasa manusia. datanglah malam ini di pintu dekat pohon cemara sepertigaan jalan. Aku akan membawamu pada Mutiara. Jangan khawatirkan Armanda, setelah tahu kamu tidak ada, dia pasti segera menyusul ke Jakarta. Sekarang kamu hanya boleh memikirkan Mutiara karena saat ini dia sangat membutuhkanmu. Kutunggu kamu di sepertigaan jalan. Aku harap kamu datang."


Nisa bangkit dari duduk melangkah lunglai menaiki tangga. Saat masuk kamarnya nampak tergelatak gaun pengantin yang tadi hendak dilipatnya. Nisa menangis memeluk gaun itu, gaun yang ketika memakainya membuatnya seolah terbang ke langit ke tujuh. Nisa mengalami dilema yang sangat berat, ia tidak ingin meninggalkan suaminya tapi di sisi lain saat ini Mutiara lebih membutuhkannya. Nisa berdiri dalam cermin memakai gaun nikah itu. Nisa tidak ingin meninggalkan pernikahan ini, Nisa tidak ingin meninggalkan Armanda.


Nisa berjalan keluar dari rumah ini berjalan di atas tanah tapi seperti melayang tak berpijak pikirannya sangat kacau balau antara tidak pergi tetap bersama kekasihnya atau menemui Mutiara yang saat ini sedang terluka karenanya.


Nisa duduk di bibir danau. begitu banyak kenangan indah di danau ini, pertama kali adiknya menyatakan cinta, dan di sini juga banyak kenangan indah yang terjadi, mandi bersama, canda tawa dan bahagia berdua tanpa ada orang lain yang mengganggu.


Dengan meletakan kepala dan tubuhnya di atas tanah dan Pandangan menerawang tak bertepi. Kedatangan Naya setengah jam yang lalu menimbulkan perang bathin di hati Nisa, di satu sisi ia sangat ingin melihat Mutiara di sisi lain ia tidak mau berpisah dengan suaminya walau sedetikpun, namun Nisa merasa ia tidak bisa lagi mengacuhkan Mutiara karena tak bisa di pungkiri Mutiara telah hancur karena kekejamannya dan itu membuat hati Nisa sakit.


Tatapan lepas itu seketika berubah menjadi ketakutan, Nisa merasa semua yang ada di sekitarnya sedang menghakiminya. Tiba-tiba saja dalam pikiran Nisa ketenangan air danau nampak bergejolak dan bergelombang seperti siap meluluh lantahkan, awan putih tipis dan lembut yang berjalan tenang di atas langit seolah berubah menjadi gumpalan awan tebal yang menakutkan, hembusan angin ringan yang menggoyangkan dedaunan seolah berubah menjadi badai besar yang memporak porandakan, suara kicau burung yang biasanya terdengar seperti kidung indah terdengar seperti bisingan yang meresahkan. Penderitaan Mutiara dan kebaikan Ridwan Agung seakan mencabik-cabik tubuh Nisa. Nisa menjerit dalam hati karena ia sudah telampau kejam pada Mutiara.


Nisa memutar pandangannya ke samping. Kedua matanya menyaksikan seseorang berjalan ke arahnya dengan menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman yang ketika melihatnya selalu mendamaikan hatinya, namun kali ini ketika melihatnya lagi Nisa merasa takut ia tidak akan pernah bisa melihat senyuman itu lagi.


"Aku tahu Kakak pasti ada di sini..."


Armanda duduk di dekat, dia melihat hal yang aneh pada kakaknya, wajahnya nampak murung dan yang lebih aneh dia terbaring di sisi danau dengan memakai gaun pengantin.


"Kakak kenapa?" Menatap wajah Nisa yang terbaring pucat. "Kakak sakit..?" Menyentuh kening Nisa dengan punggung tangannya. "Ya Tuhan sepertinya Kakak demam.." ujar Armanda cemas setelah merasakan panas di kening Nisa. "Kita pulang. Di sini dingin.." menarik kedua lengan istrinya duduk.


"Tidak. Kakak mau di sini. Kakak tidak apa-apa. Kakak menunggumu dari tadi, kenapa lama sekali?"


"Iya maaf.., Tadi aku menunggu dulu tokonya buka. Sebentar..," mengambil sesuatu di saku bajunya "Lihat. Baguskan?" Memperlihatkannya pada Nisa.

__ADS_1


Nisa menitikan air matanya, ia sangat suka dengan cincin itu, permata berkilau indah sangat cantik. Armanda memasangkannya di jari manis kiri Nisa.


"Maaf terlambat harusnya sebulan lalu Kakak sudah memakai cincin ini..."


"Tidak apa-apa.." Menatap cincin yang sudah melingkar di jari manisnya. "Ini cantik sekali.."


"Sekarang kita pulang. Aku akan membalur dan memijatmu. Mungkin Kakak masuk angin dan kelelah..."


Nisa memotong ucapan suaminya dengan menyimpan telunjuknya di bibirnya.


"Kakak mau di sini..."


"Ya sudah aku akan menunggu Kakak lima belas menit lagi. Badan Kakak panas. Aku khawatir."


Nisa tersenyum getir kemudian mendekatkan wajahnya lebih dekat, Nisa sentuh lembut wajah suaminya, lalu menciumnya bibirnya lembut dan mesra. Armanda kaget karena ini pertama kalinya istrinya mencium bibirnya terlebih dulu dengan mesra. Nisa menatap lembut wajahnya kembali, lalu memeluknya erat. Armanda cukup heran melihat sikap istrinya saat ini.


"Ayo kita pulang. Aku akan menggendongmu."


Nisa membalas ucapan suaminya dengan kembali mencium bibirnya lebih mesra lagi berhasil membuat jantung Armanda semakin tarik memompa.


"Kakak ingin melakukannya di sini.." Pinta Nisa parau pada suaminya yang berhasil membuat Armanda terkejut.


Armanda sebenarnya terpancing gairahnya beberapa kali ia menelan ludah untuk menahannya mengingat keadaan istrinya lagi demam.


"Lain kali kita bisa melakukannya. Di sini dingin..." ujar Armanda halus.


Nisa memeluknya dan menitikan air matanya dalam hati bertanya benarkah masih ada lain kali?


Armanda melepas pelukannya ketika ia merasakan istrinya menangis. Armanda benar-benar merasa aneh apa yang sudah terjadi dengan istrinya kenapa begitu sensitif seperti ini.


Punggung tangan Armanda menyeka air mata iatrinya. Benarkah ia menangis karena menolak permintaannya? Armanda mengecup bibir Nisa pelan-pelan. Nisa membalasnya ciuman itu lebih mesra memancing gairah Armanda. Tangan Armanda mulai bergerak di tubuh Nisa dan keduanyapun melepaskan gairah di tempat ini. Armanda tidak tahu kiamat besar sedang menunggunya?


Armanda menggendong Nisa di punggungnya membawanya pulang.


"Kakak ingat tidak, waktu kecil Kakak yang selalu menggendongku seperti ini."


"Saat itu tubuhmu kecil. Kakak masih bisa menggendongmu. Sekarang kalau Bintang lelah atau sakit Kakak sudah tidak bisa menggendongmu lagi."


"Aku tidak akan sakit ataupun lelah. Karena kalau aku sakit dan lelah siapa yang akan menggendong Kakak kalau Kakak lagi sakit seperti ini."


"Kakak mencintaimu..." ujar Nisa sambil menyenderkan kepalanya miring di bahu belakang Armanda.


"Dan aku lebih mencintaimu..., dari kecil hingga aku besar aku hanya mencintaimu."


Nisa menitikan air matanya rasanya tidak mampu untuk meninggalkan pria ini. Cinta pria ini kepadanya telampau dalam sedalam Nisa mencintai pria ini yang kedalamannya melebihi apapun yang ada di dunia ini.


Jam sudah menunjukan angka jam 12 malam. Armanda sudah tertidur lelap sejak tadi. Nisa terus menatap wajah suaminya sambil terus menangis. Nisa tidak ingin meninggalkannya tapi rasa bersalah pada Mutiara dan air mata Ridwan Agung terus menyiksa bathinnya, membuat Nisa terpaksa harus meninggalkannya.


Nisa menemui Nayaka di tempat yang sudah dijanjikan dengan perasaan kacau balau.

__ADS_1


"Apa aku melakukan hal yang benar?" lirih Nisa menatap Nayaka namun dalam hati ia masih bingung apa yang harus ia lakukan.


"Tentu saja. Kau sudah memutuskan hal yang benar. Saat ini Mutiara sangat membutuhkanmu. Armanda akan baik-baik saja." balas Nayaka, dan segera membawa Nisa ke dalam mobilnya meninggalkan tempat ini dalam kegelapan malam.


__ADS_2