
Anggraeni Akbar benar-benar tidak bisa menahan kemarahannya serta rasa penasarannya pada perempuan bernama Queen Agung. Emosinya melonjak tajam setelah apa yang dilakukannya semalam yang membuatnya jadi bahan luconan cucunya sendiri.
JEEBLAAK...
Anggraeni menerobos masuk ruangan Queen sementara Nayaka berusaha mengekori.
"Apa maksudmu mempermainkan kami?"
Untuk pertama kalinya Anggraeni menyaksikan sosok itu, dia nampak sedang duduk di kursinya di depan laptop. Cukup terkejut Anggraeni melihat kecantikan perempuan itu, dia muda dan terlihat angkuh.
Anggraeni melihat perempuan itu berdiri setelah menutup laptopnya, ia menatap kearahnya dengan senyuman penuh kemenangan dan menyahut.
"Hai, Anggraeni, Akhirnya kau kembali."
Anggraeni terkejut siapa yang dengan berani menyahut namanya dengan tidak sopan seperti itu. Tatapannya merendahkan, senyumannya menang dan suaranya mengejek.
Anggraeni merasa wajah perempuan itu tidak asing, berusaha ia mengingat tapi kemarahannya membuat Anggraeni tidak bisa berpikir jernih, namun sahutan kecil putranya yang kini sudah berdiri di sampingnya berhasil tertangkap kuping Anggraeni.
"Nisa..."
Sahutan Nayaka langsung menaikan denyut jantung Anggraeni, ketika ia sadar siapa yang sedang berdiri di balik meja itu. Ini mustahil dan sulit dipercaya gadis sederhana yang dulu sempat jadi batu sandungan yang berhasil ia singkirkan kini berdiri di hadapannya seolah menjadi sosok yang lain. Satu hal yang kini ia pahami, seperti apa yang Armanda bilang semalam kalau perempuan ini sedang mengerjainya, dan kini Anggraeni baru memahaminya, ini memang sudah masuk dalam perencanaannya.
Tidak seperti ibunya yang masih bisa menutupi keterkejutannya beda hal dengan Nayaka. Nayaka terkejut setengah mati, nafasnya serasa sesak, dasi yang mengikat di lehernya seolah menjadi rantai besi yang menjerat lehernya hingga terpaksa kedua tangan Nayaka segera melonggarkan dasinya agar bisa bernafas, suhu badannya tiba-tiba sangat panas hingga keringat dingin membanjiri seluruh tubuh Nayaka, wajah Nayaka pucat pasi ketika ia inget pertemuannya kemarin, dia berkata pertemuan kedua akan jauh lebih menarik ternyata ini jawabannya, pertemuan ini berhasil membuatnya seakan mati berdiri.
Nayaka melihat Nisa saat ini sangat berbeda dengan Nisa yang ia lihat kemarin, tatapannya menyimpan banyak kebencian, senyumannya sinis dan menakutkan, tapi Nayaka tak mengelak memang Nisa yang seperti inilah yang sepatutnya ada, Nisa yang terluka dan siap membalas dendam.
"Apa mau mu?"
Anggraeni melemparkan pertanyaan berusaha tampil tenang padahal saat ini ia merasa sekujur tubuhnya gemetaran.
"Aaahhh..." Queen membuka mulutnya seperti erangan yang mengejek. "Kau pintar sekali Anggraeni..." Menyilangkan kedua tangannya di perutnya, memperlihatkan keangkuhannya ditambah dengan senyuman yang amat meremehkan. "Sudah lama kita tidak berjumpa tapi yang pertama kau tanyakan, apa mau ku?" Melepaskan kedua tangannya dan menyimpan kedua telapak tangannya di atas meja saling berjauhan dengan tubuh sedikit membungkuk, tatapanya seperti tali panah tembus pada kedua pasang mata Anggraeni. "Bagaimana kalau aku mau," menatap Anggraeni dua kali lebih tajam dan menakutkan. " Ke-hancuran-mu."
__ADS_1
Anggraeni berusaha tetap tenang meski perkataan Queen barusan berhasil membuatnya seluruh tubuhnya terguncang.
"Dan kau sudah merasa berhasil dengan memiliki enam puluh persen Akbar Group? Empat puluh persen perusahaanku di sini adalah sebagian kecil dari semua harta yang kupunya. Kau tidak akan sanggup menghancurkanku."
Anggraeni berusaha melawannya dengan kesombongan padahal saat ini ia sedang mengalami krisis keuangan, perusahaannya di korea sudah gulung tikar selain perusahaannya di sini tak ada lagi yang ia banggakan.
Queen mengangkat kedua tangan dari meja lalu tersenyum membalas perkataan Anggraeni, senyuman yang yang begitu amat meremehkan.
"Kasian sekali kamu Anggraeni..., kamu masih saja sombong, padahal kau sudah tidak memiliki apapun.." ujarnya berhasil menambah pucat wajah perempuan tua di depannya karena krisis ekonomi yang sedang melandanya sudah diketahui. "Kau sedang krisis keuangan. Perusahaanmu di Korea sudah gulung tikar. Keuanganmu saat ini lagi kacau. Selain empat puluh persen perusahaanmu di sini kau nyaris tak punya apapun." Beralih menatap wajah Nayaka yang nampak dua kali lebih punya dari ibunya. "Benarkan Naka. Itu yang kamu ceritakan padaku kemarin?"
Berkesan mengadu domba, Queen menberitahukan pertemuannya kemarin dan seperti tebakannya, Nayaka pasti merahasiakan pertemuannya kemarin dari ibunya, bisa dilihat reaksi keduanya, Nayaka terlihat gugup dan Anggraeni menoleh wajah putranya penuh dengan kemarahan.
Queen keluar dari mejanya mendekati keduanya, ia tersenyum puas menatap Anggraeni.
"Dan bahkan putramu yang senantiasa kau kendalikan seperti A*jing ini..." Menoleh Nayaka sebentar tersenyum puas, kembali menatap Anggraeni. "Dia memgatakan Akbar group sangat penting untukmu. akbar Group adalah nafasmu. Dan kau akan berusaha merebut kembali perusahaan ini dengan cara apapun..." Tersenyum puas menyaksikan wajah Anggraeni merah padam tanpa bisa menyela perkataannya. "Kau berencana membelinya dariku? Seberapa nilai uangmu saat ini, kau tidak akan sanggup membelinya, tak ada rencanaku untuk menjualnya pada siapapun, apalagi padamu, kau mau tahu apa rencanaku?" Terdiam sebentar lalu tersenyum. "Aku akan menghancurkan perusahaan ini supaya kau tidak sanggup bernafas."
Anggraeni ketakutan setengah mati tapi ia masih berusaha kuat untuk berdiri tegap meski pertahanannya sebagai sosok berkuasa telah roboh di hadapannya.
"Kau pikir aku tidak sanggup melakukannya." Queen menggertaknya dengan senyuman. "Uang bukanlah segalanya bagiku, selain itu aku masih memiliki harta-hartaku yang lain yang tidak ada hubungannya dengan Akbar Group, Aku tidak akan mendapatkan kesulitan apapun bila Akbar Group hancur. Sementara kau..., Aku tidak bisa menjamin hidupmu tanpa uang."
Anggraeni membisu ia merasa kalah dengan perkataan perempuan di hadapannya, bahkan ia kesulitan mencara kata-kata balasan. Inilah untuk pertama kalinya Anggraeni merasa kalah pada seseorang, Queen Agung mengingatkan dirinya waktu muda, berbakat, angkuh dan percaya diri.
"Apa yang harus kulakukan untuk bisa menghentikanmu?"
Anggraeni melemah untuk sementara karena ia tidak mau Akbar Group benar-benar hancur, baginya Akbar Group lebih berharga dari nyawannya. Akbar Group didirikan oleh mendiang kakek dan neneknya, berdiri hampir seratus tahun diturunkan secara turun temurun, nama keluarga besar Akbar mungkin akan berakhir kalau perusahaan ini hancur.
Queen tersenyum puas ia melihat Anggraeni memiliki jalan buntu di sini Queen akan menggunakan kebuntuannya untuk mengadakan tawar-menawar.
"Sebenarnya mudah saja..."
Queen berjalan mundur dan duduk kembali di balik mejanya, menyilangkan kakinya anggun dengan kedua sikut tangan di simpan di meja sementara kedua telapak tangan saling menggenggam tenang namun tatapannya yang seperti tali panah tetap terkunci pada Anggraeni yang nampak lemah.
__ADS_1
"Kau tahu Anggraeni, sebenarnya sangat mudah bagiku untuk mempertahankan Akbar Group, bahkan dengan bakatku aku sanggup mengangkat kembali perusahaan ini ke level tertinggi. Kau tahukan namaku sangat diakui di dunia bisnis, bahkan di luar jangkauanmu Akbar Group saat ini berada di bawah kendaliku, Aku bisa menaikannya dengan mudah dan menjatuhkannya dalam sekejap mata. Tapi aku pastikan Akbar Group tetap aman selama kau mau menuruti perintahku."
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Cukup. Kembalikan Bintang Kecil ke Indonesia, itu saja. Bagaimana apa kau mau menerima tawaranku?"
Permintaan Nisa itu membuktikan kalau ia belum tahu keberadaan cucunya sampai saat ini, mungkin yang selama ini ia dengar adalah Armanda Akbar tentu saja nama Bintang Kecil sudah lama hilang Anggraeni sudah berhasil menghapusnya mengganti identitas baru sebagai cucu dari anak perempuannya, dan perempuan ini tidak akan pernah menyangka kalau Bintang Kecil yang ia cari adalah Armanda Akbar.
"Kamu tahu pendapatmu tentangmu saat ini?" Anggraeni membalas permintaannya dengan pandangan meremehkan. "Kau tidak pernah berubah. Kau sangat menyedihkan sama menyedihkannya seperti saatku melihatmu sepuluh tahun lalu saat kehilangan Bintangmu. Sangat kasihan." Anggraeni menyaksikan wajah perempuan di depannya yang sejak tadi nampak angkuh seketika berubah merah padam campuran antara marah dan sedih. Anggraeni menikmati pemandangan itu. Kembali Anggraeni meneruskan kalimatnya dengan mengangkat kembali wajahnya. "Saya menolak permintaanmu. Bermimpilah bukankah saya bilang manusia itu perlu mimpi untuk bertahan hidup. Dan mimpimu kali ini tak akan bisa terwujud. Kamu tidak akan pernah bisa menemukan kembali Bintang Kecilmu, sampai kapanpun."
Queen merasa jatuh tersungkur mendengar kalimat Anggraeni, rasanya ia ingin berteriak tapi Queen harus berusaha tenang untuk menutupi kelemahannya.
"Jadi, kau lebih suka aku melenyapkan perusahaan ini Anggraeni, Aku tidak sedang bermain-main, menolak permintaanku, kau akan paham seberapa jahatnya aku?"
"Lakukanlah. Sebelum aku bisa mencegahnya." balas Anggraeni menantang kemudian menatap Nayaka mengajaknya keluar dari ruangan ini.
Tantangan angkuh yang keluar dari mulut Anggraeni dijadikan genderang perang yang telah ditabukan. Queen sangat kecewa tapi tidak akan pernah menyerah, Bintang Kecil harus kembali meski jalannya harus ada pertumpahan darah dan air mata darah.
"Tunggu!"
Teriakan Queen berhasil menghentikan langkah Anggraeni dan Nayaka. Tangan Queen nampak membuka laci dan mengambil buku kertas cek, tangannya menulis nilai uang dalam cek itu, kemudian menhampiri Anggraeni.
"Kau ingat ini," memperlihatkan cek kepada Anggraeni. " Lihatlah nilai cek ini jumlahnya sama seperti nilai uang yang kamu beri sepuluh tahun lalu, saat kau di tahanan kau memberiku cek dengan nilai seperti ini supaya kau bisa melunasi hutang-hutangmu padaku, Toko roti dan rumahku yang kau bakar dan sisanya jasa sebagai pengurus Bintang Kecil selama sepuluh tahun. Kau tahu kenapa aku tidak menerimanya saat itu? Karena aku menunggu hari ini. Aku menunggu kamu membayar seluruh hutang-hutangmu padaku saat ini tapi sepertinya kau tak akan sanggup...," tersenyum meremehkan. " jangankan untuk membayar hutang-hutangmu, sepersenpun kamu tak akan pernah sanggup, tapi aku mau berbaik hati, ambillah cek ini, dengan cek ini aku bisa memberi modal untukmu cari usaha baru. Kupastikan Akbar Group akan hancur hari ini juga. Ambillah." Menyodorkannya cek dua millyar itu ke tangan Anggraeni. Queen yang meraih tangannya dan memindahkannya ke kepalan tangan Anggraeni. "Uang ini cukup untuk berjaga-jaga agar kau bisa kembali ke negaramu." Senyum Queen puas.
Anggraeni merasakan kalimat yang keluar dari mulut perempuan di depannya seperti pisau yang menghunus jantungnya. Anggraeni remas cek itu dan melemparnya ke wajah Queen, amarahnya sudah nyampe ke ubun-ubun. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi selain segera angkat kaki dari ruangan ini.
Queen melepaskan kemarahannya selepas kepergian Anggraeni dengan membabi buta pada barang di meja kantornya ia meluapkan kekecewaannya dengan menangis sejadi-jadinya yang ia tahan sejak tadi. Penolakan Anggraeni serta cemoohan sebagai perempuan menyedihkan mengoyak bathin Queen. Di depan Anggraeni ia masih bisa memainkan mimik wajahnya dengan keangkuhannya tapi sebenarnya Queen sangat terpuruk dengan pura-pura kuat dan bahagia.
Queen meraih telponnya.
"Evelin, adakan konferensi pers hari ini juga!" Tegas Queen menutup kembali telponnya tanpa diberi kesempatan asistennya untuk bicara kenapa?.
__ADS_1