Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Mutiara dan Kursi Roda


__ADS_3

Armanda panik ketika ia terbangun dari tidurnya Nisa sudah tidak ada dalam pelukannya. Armanda melihat tulisan di kaca cermin yang ditulis memakai liptik.


Jangan panik, saat Bintang membaca ini Kakak sudah sampai di Jakarta.


Dalam ketakutan Armanda bertanya dalam hati. Ada apa dengan Nisa dari kemarin sikapnya sangat aneh? Tanpa berpikir lagi, Armanda segera memakai pakaiannya untuk mengejar istrinya setelah ia merasa yakin Anggraeni ada di balik ini semua.


Di lain tempat Nisa menangis pecah ketika Nayaka menghadapkannya pada Mutiara yang berada di salah satu rumah sakit internasional yang ada di Jakarta. Keadaan Mutiara sangat menyedihkan, ia nampak kehilangan kesadarannya. Pandangannya kosong dengan duduk di atas kursi roda bahkan ketika Nisa dekati ia sama sekali tidak bereaksi apa-apa, keadaannya benar-benar menyedihkan, kalau sudah begini Nisa merasa ia tak berhak lagi punya pilihan lain, selain harus meninggalkan suaminya untuk gadis ini.


"Bagaimana Dok, apa ada kemungkinan Mutiara bisa sembuh?" lirih Nisa pada seorang dokter yang tengah memeriksa keadaannya.


"Ada sebagian sarafnya rusak, tapi masih ada kemungkinan dia masih bisa sembuh."


"Apapun caranya berapapun biayanya saya mohon sembuhkan dia, Dok."


"Obat-obatan medis tidak cukup untuk membantunya sembuh tapi ada kekuatan lain yang sanggup membantunya pulih."


"Apa itu Dokter?" Tanya Nisa penuh harap.


"Cinta orang-orang terdekatnya, saya pernah dengar beberapa kali bibirnya menyebut seseorang, saya pikir cuma orang itu yang sanggup menolongnya."


"Siapa Dok?"


"Kalau tidak salah dia menyebut nama Boy..,"


Nisa terpaku lesu mengingat, Boy adalah panggilan Mutiara untuk Bintang. Nisa melangkah gontai mendekati Mutiara dan berjongkok di depannya, rasa bersalah menyeruak di sanu barinya. Boy adalah cinta pertama gadis ini, tapi ia sudah merebutnya. Di malam pesta itu bahkan dengan teganya ia menghiraukan gadis ini padahal gadis ini tidak berhenti memohon. Nisa merasa sangat kejam kepadanya lebih kejam dari pada perlakuan Anggraeni dulu terhadapnya.


"Tante akan mengembalikan Boy padamu. Sembuhlah..." Lirih Nisa menangis lalu memeluknya.


Nayaka dan dokter itu saling menatap lega melihat reaksi Nisa.

__ADS_1


Anggareni sudah mendapat kabar dari Nayaka kalau ia udah berhasil membawa Nisa menjauhkannya dari cucunya. Ini kabar baik meskipun bukan cucunya yang berhasil ia bawa, tapi Anggraeni tahu Armanda pasti akan pulang untuk mencari Nisa di sini. namun ada hal yang sulit di terima Anggraeni yaitu pernikahan Nisa dan cucunya. Anggraeni harus berusaha menutupi dari semua orang baginya ini aib yang akan mencoreng nama keluarga Akbar.


Sama seperti Nayaka Anggraenipun berpikiran sama tak ada kata terlambat untuk memisahkan mereka, cara pertama membiarkan Nisa tinggal di rumah ini sebagai bagian keluarga ini, sesuai rencana semula dan setelah itu harus dipikirkan rencana berikutnya?


Nisa sendiri tidak menolak keputusan Anggraeni tinggal di rumah ini untuk merawat Mutiara. Mutiara tinggal di rumah ini adalah keputusan bersama karena Mutiara tidak memiliki keluarga dan rumah ini tempat yang baik untuk menyatukannya kembali dengan Armanda, pikir Nayaka dan Anggraeni saat memutuskan ini.


Armanda kembali ke rumah Anggraeni. Betapa senangnya Armanda ketika melihat istrinya berada di rumah ini. Tapi kenapa harus berada di rumah besar ini dan yang mengejutkan istrinya nampak berdiri di ruangan ini bersama Anggraeni? Bukan waktunya bagi Armanda untuk menanyakan itu, yang ingin ia lakukan saat ini adalah melesat kearahnya dan memeluknya.


"Kenapa Kakak pergi diam-diam? Aku takut sekali.." lirih Armanda sambil memeluknya melepaskan segala kecemasannya.


Nisa berusaha menahan air matanya, mengendalikan perasaannya padahal saat ini ia merasakan sejuta kali lebih sakit ketika harus kembali menatap pria ini. Armanda sadar kalau pelukannya tidak dapat balasan seperti biasanya. Biasanya setiap kali ia memeluknya maka kedua tangan Nisa akan melingkar di punggungnya, tapi kali ini ia merasa istrinya bersikap dingin dan kaku kepadanya. Ini aneh segera Armanda melepas pelukannya untuk melihat kedua matanya dan ia melihat bongkahan kesedihan di kedua mata istrinya.


"Ada apa?" Tanya Armanda cemas sambil berusaha menembus kedua matanya berharap ia menemukan jawabannya di sana. "Apa Kakak marah padaku..?"


"Lihatlah..," Nisa tersenyum getir. "Bagaimana bisa kamu sudah memperlakukan aku istrimu sementara aku selalu menjadi Kakakmu..." lirihnya tapi bukan itu masalahnya Nisa hanya mengingatkan diri kalau ia sudah merasa terlalu jauh bertindak.


"Apa Kakak marah karena aku memanggilmu, Kakak? Kalau begitu aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi? Tapi aku mohon jangan seperti ini..." ucap Armanda cemas.


"Aku tidak mengerti..." ucap Armanda bingung lalu menatap Angraeni, dengan tatapan menuduh. Kembali menatap wajah Nisa. "Mereka pasti sudah menyakitimu?"


"Tidak ada yang menyakitinya." Tegas Nayaka yang berdiri di samping belakangnya.


Armanda menoleh pada Nayaka berteriak.


"Aku tidak tanya padamu!" Kembali menatap Nisa dengan perasaan cemas. "Ayo kita pulang..," sambil meraih tangan Nisa hendak membawanya pergi tapi tubuh Nisa menolak untuk di bawa pergi.


Nisa merasakan sakit yang luar biasa mungkin lebih sakit dari pada sebuah pedang yang mencabik-cabik tubuhnya saat melihat keputus asaan pada wajah kekasihnya rasanya butuh perjuangan bagi Nisa untuk berkata,


"tidak. Kakak tidak bisa ikut denganmu..." lirih Nisa berusaha menahan untuk tidak menangis.

__ADS_1


Armanda melepaskan tangannya dari tangan Nisa dia menatap kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Kenapa jadi seperti ini?" lirihnya hampir ingin menangis kemudian pandangannya berubah marah menatap Anggraeni. "Omah pasti sudah melakukan sesuatu padanya. Benarkan?" Kemudian menatap Nayaka. "Cepat katakan padaku apa yang sudah kalian katakan padanya!" teriak Armanda keras.


"Kami tidak melakukan apa-apa padanya." Balas Nayaka tegas.


"Aku tidak percaya pada kalian. Kakak tidak akan seperti ini kalau kalian tidak melakukan apa-apa padanya!" Teriak Armanda menatap Nayaka.


"Sudah.., cukup...," Nisa tak kuasa menangis mengembalikan wajah kekasihnya kepadanya. Ini bukan paksaan tapi tekanan keadaan yang membuatnya harus tega mengatakan,


"Maaf..., Kakak tidak bisa lagi ikut denganmu..."


Armanda sangat terkejut mendengar ucapan istrinya berharap hingga dadanya terasa berat,


"Kakak bercanda?" balasnya penuh ketakutan. "Kakak sedang tegang." Sekali lagi Armanda tidak mau mendengar apa-apa kemudian menarik tangan Nisa sekali lagi. "Ayo kita pulang." Sekali lagi tubuh Nisa tidak bisa digerakan.


"Kita berpisah saja."


Armanda merasa mendengar guntur memecah langit mendengar ucapan istrinya yang ketika mendengarnya begitu menakutkan. Kembali Armanda berusaha tidak mau mendengar karena ia merasa saat ini istrinya sedang digerakan oleh ketakutan.


"Kakak tahu candaanmu itu sangat tidak lucu." Armanda menangis.


"Kakak tidak sedang bercanda..."


"Kita sudah menikah. Kak..," Lirih Armanda setengah berteriak. Armanda panik kemudian mengulang dengan lirih. "Kau dan aku sudah menikah. Setiap malam kita tidur bersama, Kakak ingat yang terjadi di tepi danau kemarin, kita selalu melakukannya dengan bahagia. Benarkan?" lirihnya menangis kemudian tertawa sakit. "Bahkan kita berdua sudah merencanakan untuk memiliki banyak anak. Kita dan juga anak-anak kita nanti akan tinggal di rumah rahasia kita selamanya, kita sudah merencanakan banyak hal di sana, jangan seperti ini, ini menghancurkanku..." Meraih tangan istrinya kembali. "Ayo kita pulang..." Tangis Armanda dan ia menyaksikan perempuan di hadapannya juga mengisak tangis dari sana Armanda tahu kalau Nisa sedang tertekan.


Nayaka cemas Nisa akan mengubah pikirannya. Segera ia memprotes keras keponakannya.


"Jangan paksa Nisa lagi!"

__ADS_1


Protesan Nayaka malah memancing jiwa liar keponakannya dalam sekejap Armanda memutar dan memukuli Nayaka namun Nayaka berusaha melawan dengan mendorong tubuh keponakannya dan ia berhasil menjatuhkan keponakannya jatuh menubruk kaca jendela.


Armanda terpaku lesu ketika tatapannya tembus keluar jendela dan menyaksikan sesuatu yang menurutnya sangat menakutkan ketika di dekat kolam renang ia melihat seseorang yang di kenalnya sedang duduk di atas kursi roda. Dari sini ia tahu jawabannya kenapa istrinya bersikap seperti itu terhadapnya.


__ADS_2