
Membawa kasus masa lalunya ke jalur hukum untuk membuktikan sekali lagi kalau Armanda bukan keturunan Akbar sesuai wasiat ayahnya, dalam hal ini Ridwan cukup mengerti, Queen hanya ingin mewujudkan cita-cita ayah angkatnya yang menginginka dirinya mengasuh adiknya hingga usianya dua puluh satu tahun.
Membawa kasus ini lagi ke pengadilan baginya bisa mengurangi rasa bersalahnya pada ayah angkatnya. Namun satu hal yang sulit dimengerti satu tahun lagi Armanda akan berusia dua puluh satu tahun kalau ia melakukan itu selama kurun waktu satu tahun yang singkat, hanya akan habis dengan saling menyerang di pengadilan dan itu akan sangat rumit karena Anggraeni Akbar bukan lawan yang mudah.
"Kamu yakin akan menempuh cara ini? Kamu hanya memiliki waktu satu tahun. Bagaimana kalau waktu satu tahun ini kamu masih belum sanggup membuktikan kalau Armada bukan cucu dari Anggraeni, Apa menurutmu itu tidak sia-sia?"
Nisa terdiam sebentar memikirkan hal itu, sempat kepikiran untuk tidak melakukan itu namun setiap kali ayahnya masuk ke dalam mimpinya perasaan bersalah selalu muncul dan mungkin dengan melakukan ini bisa sedikit membuatnya mengurangi perasaan bersalah itu.
"Mungkin dengan sekali lagi berusaha, bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku pada papa."
"Takdir Queen. Kamu tidak bisa merawat dia selama sepuluh tahun ini itu adalah takdir Tuhan. Itu sama sekali bukan kesalahanmu."
"Aku tidak percaya takdir." Menatap wajah Ridwan Agung yang berdiri dua meter darinya. "Yang ku yakini kehidupan seorang ditentukan oleh dirinya sendiri, yang kuat adalah pemenangnya jadi yang terjadi sepuluh tahun lalu, semua adalah kesalahanku."
Kalimat bijak yang dibuat untuk menenangkan hati Queen Agung akan selalu percuma. Percuma memperkenalkan takdir pada orang yang sudah tidak percaya lagi dengan Tuhan. Penderitaan yang berkepanjangan itulah yang membuatnya demikian.
Nayaka Akbar pria tampan nyaris sempurna tanpa tergores sedikitpun sudah berdiri diantara mereka menerobos masuk ruagan ini.
"Bisa kita bicara berdua?"
Nayaka menoleh pada pria agak tua yang berdiri di dekat Nisa. Tanpa diminta Ridwan Agung mengerti maksud Nayaka Akbar. Ia segera pamitan pergi tanpa merasa terusir dan Nisa mulai duduk di kursinya dan berkata.
"Ada perlu apa kau menemuiku?"
Nisa bicara tenang meski ia melihat ada sesuatu yang tidak beres dari wajah Nayaka.
"Hentikan!" tegas Nayaka yang menatapi perempuan cantik yang duduk anggun di kursinya. "Untuk membawa kasus ini lagi kepengadilan. Berdamailah dengan ibuku."
"Berdamai." ulang Nisa tertawa mengejek. "Apa aku tidak salah dengar?"
"Nisa berpikirlah membawa kasus ini lagi kepengadilan adalah tindakan bodoh. Bukankah tanpa hukumpun saat ini Bintang kecilmu sudah kembali padamu, jadi apa yang kurang? Apa kau masih belum puas. Ingin membuktikan sekali lagi kalau Armanda bukan keturunan ibuku, itu tidak akan berhasil. Armanda adalah cucu ibuku. Itu sudah terbukti sepuluh tahun lalu. Aku mohon jangan kau perebutkan Armanda dengan cara seperti ini. Kasian dia."
Nisa membisu hatinya perih saat ia harus mengakui kata Naya adalah benar. Memperebutkannya dengan cara seperti ini, bagaimana dengan perasaan adiknya apa dia senang atau sedih Nisa belum pernah menanyakannya. tapi Nisa tidak memiliki cara lain lagi untuk bisa mendapatkan Armanda secara sah dimata hukum, karena mengabulkan permintaan terakhir ayah angkatnya adalah budi baik yang harus ia balas.
''Kamu tidak akan pernah mengerti Naka karena kamu tidak berada di posisiku." Suara Nisa getir. "Sebagai anak sebatangkara yang kemudian di angkat dari jalanan karena keberuntungannya, Ia mendapat keluarga baru yang sangat mencintainya. Apa yang sudah aku balas atas kebaikan mereka padaku? Bahkan saat papa memintaku untuk mengurusi anak kandungnya. Aku tidak bisa hingga anak itu menderita selama sepuluh tahun. Bagaimana aku harus bertanggung jawab karena kemalangannya? Apa yang harus kulakukan saat aku tak sanggup mengabulkan keinginan terakhir papa. Mungkin hanya dengan begini aku bisa sedikit bernapas lega karena bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku pada papa."
Giliran Nayaka yang terpaku lesu menanggapi kalimat perempuan di depannya, ia mulai bisa memahaminya tapi ia protes keras ketika Nisa menyalahkan diri atas semua yang terjadi pada Armanda.
"Kakakku sudah meninggal. Kamu tidak perlu merasa bersalah padanya. Apa yang sudah terjadi itu sama sekali bukan salahmu." Nayaka berusaha meyakinkan.
"Kamu benar sekali." Sedikit tersenyum namun nampak sakit. "Itu memang bukan salahku. Orang yang bersalah adalah kamu dan ibumu."
"Bukan juga kami." Nayaka protes murung. "Orang yang patut disalahkan adalah kakakku. Papa angkatmu. Ayah kandung Bintang Kecil sendiri. Dialah satu-satu yang bersalah pada kalian. Menurutku sangat keterlaluan baginya mempercayakan hal besar pada gadis berusia delapan belas tahun."
__ADS_1
Nayaka selalu menyayangkan tindakan kakaknya sebelum meninggal membuat surat wasiat keliru dengan memberikan hak dan kewajiban pada Nisa untuk mengurus seorang anak yang masih kecil, padahal itu tugas yang sangat berat bagi umur Nisa saat itu.
Ada Dewi Purnama tapi Nayaka yakin itu hanya sebuah penguat saja agar surat wasiat tidak bisa diganggu gugat intinya kakaknya hanya menginginkan Nisa yang memiliki hak asuh itu dan Nisa menyadari hal itu, makanya ia berjuang mati-matian untuk merebut kembali Bintang kecilnya dengan cara berusaha membuktikan kalau ayah angkatnya bukan keturunan Anggraeni.
"Papa tak punya pilihan lain. Ia tidak mau anaknya sampai jatuh ke tangan ibumu. Karena bagi papa. Ibumu yang sudah membunuh istrinya."
"Aku melihat sendiri kakak iparku jatuh karena habis oprasi." protes Nayaka karena itu yang menurut terjadi saat itu ibunya tidak mendorongnya tapi kakak iparnya jatuh sendiri.
"Saat itu kamu ada di tempat kejadian. Apa kamu tidak melihat saat ibumu yang mendorongnya?" Nisa mengingat kembali kejadian ketika Bintang Kecil masih berusia satu minggu, saat itu Anggraeni dan Nayaka yang kala itu masih berusia sekitar tiga belas tahunan datang ke rumahnya. Tangan Anggraeni menarik bayi itu dari mama dan mendorongnya hingga mama terjatuh dan meninggal. itu yang Nisa lihat. Saat itu umurnya masih sepuluh tahun dan Nisa tidak akan melupakan itu. "Ibumu kejam, pantas saja papa meninggalkannya dan menolak kalau anak keturunananya diasuh oleh keluargamu."
Nayaka membisu semua kumpulan kata yang ia miliki segera ia tangguhkan untuk sekedar protes. Tuduhannya kalau ibunya yang sudah membunuh kakak iparnya itu sama sekali tidak benar. Kakak iparnya meninggal paska oprasi setelah melahirkan ia terjatuh.
Author juga bingung mana yang benar mana yang salah, Nisa dan Nayaka memiliki pandangan masing-masing, intinya hanya Tuhan yang tahu. Apa saat itu tangan Anggraeni yang sengaja mendorongnya atau emang menantunya yang terjatuh sendiri karena kondisinya masih lemah paska operasi? Kalau dibahas kagak bakal kelar ceritanya.
"Kamu memandang segala sesuatu menurut pemikiranmu sendiri." Nayaka kembali mengeluarkan kalimat tapi bukan protesan, Naka hanya ingin menenangkannya, Naka tidak mau wanita yang selalu dicintainya itu hidup diliputi dengan segudang kebencian. "Itu justru hanya akan membuatmu semakin terluka."
"Jangan sok memahamiku." protes Nisa keras lalu tersenyum. Senyuman yang selalu sinis namun tampak sakit. "Jangan khuatir aku sudah terbiasa, dipisahkannya aku dengan Bintang Kecil masih terasa lebih pahit ketimbang memandang sesuatu yang kupikirkan tentang kematian mama. Jadi aku bisa lebih kuat."
Nayaka merasakan sakit sekali di hatinya ketika menyaksikan kedua bola mata perempuan cantik di depannya nampak berkaca-kaca. Nayaka bertanya dalam hati seberapa besarkah penderitaannya hingga menjadikan sosok seperti ini padahal dulu sekali ketika ia masih jadi pacarnya, Nisa adalah sosok yang hangat lembut dan baik hati pada siapapun.
"Apa yang telah kami lakukan dulu mungkin memang terlalu kasar untukmu, hingga membuatmu menjadi seperti ini atas nama ibuku, aku minta maaf." Kemudian menghela napas. "Maafkan aku juga Nisa. Kami berdua bersalah padamu."
"Maaf." ulang Nisa tersenyum sinis kemudian keluar dari meja mendekatinya. "Katakan bagaimana caraku harus memaafkan kalian? Dan kau..." Berhenti tepat di hadapan Nayaka. Menatap kedua mata Nayaka. "Apa yang sudah kamu lakukan padaku? Kamu sengaja masuk dalam kehidupanku pura-pura mencintaiku. Kujadikan kamu sebagai pacar pertamaku tapi apa yang sudah kamu lakukan saat itu? Kamu menikamku dari belakang. Dan tindakan apa yang kamu lakukan ketika ibumu menyeretku ke penjara, saat itu kamu malah pergi membawa adiku ke luar negeri, dan hampir membuatku gila. Katakan Naka bagaimana caraku bisa memaafkan kalian?" lirih Nisa mengernyitkan hidung dan bibirnya menahan sakit.
Nayaka membisu hatinya ikut terluka mendengar penuturan sakit perempuan di depannya.
Ketika Nisa membawa si kecil hari itu ibunya marah besar dan menyalahkannya. Ibunya marah dan melaporkannya ke polisi untuk memenjarakannya.
Saat itulah telah terjadi kesepakatan antara ia dan ibunya. Nisa bisa bebas dari kekejaman ibunya dengan menerima satu hal yaitu dirinya harus pergi meninggalkan Indonesia membawa keponakannya. Tak ada pilihan lain terpaksa ia menyetujuinya meski ia tahu itu tindakan yang terlalu kejam terhadap Nisa.
"Kamu benar, kami memang tidak layak meminta maaf padamu. Aku sudah menerima balasannya? Kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku saat itu?" Menghela napas panjang. "Masuknya aku dalam kehidupanmu dengan pura-pura mencintaimu sebenarnya aku sudah terperangkap di dalamnya. Aku tidak bisa keluar dan aku tersiksa dalam sebuah lingkaran yang aku buat sendiri. Kamu tahu kenapa?" Nayaka meraih kedua tangan Nisa lalu berkata "Aku sungguh-sungguh telah jatuh cinta padamu." ungkapnya membuka rahasia yang sudah sepuluh tahun ia simpan.
Nisa terpaku dengan pengakuan pria di hadapannya sementara Armanda sudah sejak tadi diam-diam menguping di balik pintu.
Ungkapan cinta pamannya saat ini pada kakaknya berhasil membuat perasaan Armanda resah, Armanda ingin mendengar apa kelanjutan pembicaraan mereka.
Tiba tiba jantung Armanda berdetak dengan cepat ketika menyaksikan sendiri bagaimama Nayaka memegangi kedua tangan kakaknya menyatakan perasaan yang selama sepuluh tahun pamannya simpan dalam hatinya.
"Apakah aku harus percaya?" ucap Nisa menatap Nayaka.
"Percayalah padaku." Nayaka meyakinkan. "Bahkan setelah sepuluh tahun perasaan itu tak bisa hilang. Aku mencintaimu, Nisa."
Nisa terdiam sebentar mengingat apa yang sudah dilakukan pria ini kepadanya dulu? Menipunya dengan pura-pura jatuh cinta itu masih sulit ia lupakan.
__ADS_1
Nisa menarik tangannya lalu berjalan mundur menyender ke meja dengan kedua tangan menyilang di perutnya sementara pandangan tetap selalu meremehkan.
"Kamu pikir aku bisa mempercayainya dengan mudah begitu saja setelah apa yang kamu lakukan dulu padaku?" Tersenyum sinis kembali pokus pada kedua mata milik Naya. "Di mana cinta saat aku terluka karena perbuatan Ibumu? Di mana cinta saat ku hampir gila karena kehilangan adikku? Katakan Naya apakah cinta sanggup menolongku?" tersenyum mendengus sinis. "Tidak. Sebaliknya perlakuanmu padaku lebih kejam dari pada ibumu."
"Kamu pikir aku gembira karena berhasil memisahkan kalian?Memisahkan kalian tidak ada dalam pikiranku. Aku memang mendukung ibuku untuk mengambil hak asuh Bintangmu, karena aku ingin kamu terlepas dari tanggung jawab sebesar itu. Saat itu usiamu baru sembilan belas tahun, apa aku tega melihatmu terpisah dari kehidupan remajamu karena diharuskan mengurus anak kecil."
Nayaka terdiam sebentar kembali melanjutkan kalimatnya untuk meluruskan semuanya demi ketenangan bathin Nisa.
"Percayalah, apa yang kulakukan padamu saat itu semata kulakukan karena ingin melindungimu. Perpindahan keluar negeri sebelumnya aku menolak rencana ibu. Namun saat kamu membawa Armanda pergi dengan mobilku saat itu ibuku mengetahuinya dan ibuku memampaatkan kesempatan itu untuk menekanku. Aku takut ibu memenjarakanmu. akhirnya terjadi kesepakatan, aku menerima tawarannya dan ibukupun mencabut laporannya. Itulah yang terjadi saat itu." Ungkap Naka meluruskan kejadian sepuluh tahun lalu dan Ia melihat Nisa terpaku sepertinya ia berhasil meyakinkannya kalau saat itu ia melakukannya karena ingin melindunginya dari kemarahan ibunya.
Naya mendekatinya meraih kedua tangan Nisa dengan kedua tangannya kemudian berkata.
"Apa sekarang kamu percaya? Semua yang terjadi dulu semata kulakukan untuk melindungimu. Aku berusaha melindungimu karena aku sangat mencintaimu, Nisa. Bahkan sampai detik ini aku masih mencintaimu. Sekarang, apa kamu percaya?" ucap Naya sepertinya berhasil meyakinkannya ketika ia melihat perempuan cantik di hadapannya menitikan air matanya.
"Iya, Naka. Aku percaya..."
Armanda yang sejak tadi menguping diam-diam tubuhnya terasa lemas ketika ia melihat dan mendengar kakaknya nampak mempercayai kata-kata pamannya. Kesalah pahaman diantara mereka sudah diluruskan mungkin saat ini kakaknya akan kembali pada pamannya seperti dulu.
Armanda diam-diam merapatkan pintunya kembali, ia tidak mau menyaksikan lebih lama lagi saat sang paman menggenggam tangan kakaknya, pernyataan cinta pamannya pada kakaknya membuat Armanda merasa ada sebuah pisau tajam menusuk jantungnya. Entahlah perasaan apa itu? Yang jelas Armanda merasa sedih dan ingin marah. Segera Armanda berlalu dari tempat ini.
Nayaka sontak kaget ketika tiba-tiba Nisa menarik kedua tangannya lalu mengubah tangisan itu dalam sekejap menjadi senyuman. Senyuman seperti biasa, senyuman sinis dan meremehkan.
"Sayangnya sekarang ini aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padamu."
"Tidak mungkin. Kamu bohong. Aku yakin kamu masih mencintaiku seperti aku mencintaimu." protes Nayaka seolah tidak menerima kenyataan.
Sama seperti Nayaka Nisapun merasa tidak percaya karena ia sempat berpikir ia masih menyukai lelaki ini karena selama sepuluh tahun ini tidak ada satupun yang menggantikan posisi Nayaka, namun sesuatu yang kontras baru saja terjadi sentuhan pria ini tidak lagi menghangatkan, pandangan matanya tidak lagi menggetarkan, semua terasa biasa-biasa saja. Entah kapan cinta itu pergi atau sebenarnya ia memang tidak pernah mencintai pria ini? Atau apa ada hal lain?
Astaga...! Kenapa saat ia berpikir tentang hal lain itu kenapa yang terpikir adalah wajah adiknya.
"Kenapa? Kamu tidak percaya? Nisa tersenyum puas menatapnya. "Tapi aku benar-benar sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padamu."
Nisa kembali berjalan menuju kursinya dan kembali duduk dengan anggun.
"O-ya katakan pada ibumu, kali ini aku pasti menang."
Nayaka tidak bisa berkata lagi ia benar-benar merasa sedih karena ia tidak melihat cinta itu lagi di matanya selain ambisi dan kebencian.
"Kamu memang harus menang karena aku tidak mau kamu terluka untuk yang kedua kalinya."
"Jangan pikirkan aku!"
Nisa menegaskan karena pantang baginya menerima belas kasihan orang lain apalagi dari musuhnya sendiri. kembali Nisa tersenyum dengan nada tenang dan berkata.
__ADS_1
"Sebaiknya pikirkan alibi apa yang harus direncanakan ibumu dalam menyerangku?"
Tak ada kata-kata balasan dari mulut Nayaka selain segera keluar dari ruangan ini dengan perasaan sedih dan kecewa.