Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
RAHASIAKU


__ADS_3

Armanda dan Nisa menikmati sore ini di tempat yang sangat tenang jauh dari kebisingan kota berdendang dengan kicau burung, memuaskan mata dengan hamparan hijau, cakrawala senja yang berwarna kuning kecoklatan.


"Aku ingin tinggal di sini selamanya." ujar Armanda yang sejak tadi membaringkan kepalanya di paha Nisa.



"Kakak juga berpikiran begitu. Kakak suka udara di sini."


"Kita tinggal di sini saja, bagaimana?


Nisa teringat kembali ke masa kecil pria di depannya ini, dulu dia pernah meminta tinggal di tempat ini dan Nisa tidak mengabulkannya, sepertinya ini saat yang tepat untuk mengabulkannya.


"Setelah semua urusan kita di jakarta selesai, kita tinggal di sini, Kakak harus memenangkan perkara sidang dengan omahmu, biar kita bisa tenang di sini."


"Iya.." balasnya parau dan pelan-pelan menutup matanya sampai tertidur.


Di hari berikutnya Armanda dan Nisa menghabiskan waktu pagi mengelilingi tempat ini, banyak keindahan di sini yang tidak ditemukan di kota, siang harinya Armanda mengajak Nisa ke kebun belakang rumah ini ada sesuatu yang ingin diperlihatkannya pada Nisa, sesuatu yang ia kubur sejak usianya sembilan tahun.


Nisa mendengus ketika adiknya membuka sebuah peti yang telah ia kubur di bawah pohon cemara yang ada di samping belakang rumahnya selama sebelas tahun, lucunya semua benda itu adalah berbagai macam bentuk spiderman yang dulu Nisa hadiahkan untuknya.


"Anak nakal. Bagaimana, melakukannya?"


Nisa tertawa kecil merasa heran membayangkan dari anak umur sembilan tahun sanggup menggali tanah, membuat peti kecil dan menguburkan benda-benda kesayangannya di tempat ini dan herannya lagi Nisa tidak mengetahuinya.


"Dulu aku merasa orang dewasa selalu punya rahasia yang anak kecil tidak boleh tahu.., saat itu aku berpikir ingin membuat rahasia agar bisa cepat dewasa. Jadi inilah yang terjadi. Sebuah harta karun. Bagaimana aku hebatkan?" Senyumnya bangga terlempar pada Nisa yang berjongkok di dekatnya.


"Apanya yang hebat..." ejek Nisa tersenyum pura-pura meremehkan namun hatinya mengakui kalau ini menakjubkan tak bisa dipungkiri dari kecil adiknya selain senang bermain rahasia-rahasian juga ia memiliki tingkat khayalan yang cukup tinggi. "Sekarang apa yang akan Bintang lakukan dengan benda itu?"


Armanda tersenyum lalu merapihkan barang-barangnya kembali ke dalam peti dan mengeluarkan sesuatu di saku jaketnya. Sebuah alat perekam berbentuk boneka Spiderman yang dihadiahkan Nisa saat ulang tahunnya yang kesepuluh. Di sini tersimpan suara Nisa yang selama sepuluh tahun ini menemaninya dan sekarang Armanda merasa tidak membutuhkannya lagi karena orang yang selama ini ia rindukan sudah bersamanya.


"Aku akan menguburnya dengan benda ini, Aku sudah tidak memerlukannya lagi." Sambil menyimpannya ke dalam peti dan menutupnya rapat. "Karena sekarang Kakak sudah di sampingku."


"Itu sudah bukan rahasia lagi, kenapa menguburnya?"


"Ini memang sudah bukan rahasia lagi buat Kakak tapi ini akan menjadi rahasia buat orang lain."


"Waktu kecil Bintang senang bermain rahasia-rahasian pada Kakak, kupikir masih banyak rahasiamu yang tidak Kakak tahu. Huh.., Kakak kecewa ternyata cuma ini saja..." ujar Nisa pura-pura kecewa sambil berdiri.


Armanda terdiam sebentar mengingat ada sebuah rahasia lagi yang masih ia simpan dan kakaknya tidak tahu, ia ingin mengatakannya tapi mulutnya seakan terkunci untuk mengatakan atau mungkin Armanda membutuhkan waktu yang tepat untuk memberitahunya.


"Sebenarnya aku masih punya satu rahasia lagi." ucap Armanda sambil bangkit dan menginjak-injak tanah supaya padat.


"Benarkah..? Kapan akan memberitahuku?" tanya Nisa terpukau senang.


Armanda  berhenti menggerakan kedua kakinya dan menatap Nisa lembut.


"Pada saatnya nanti aku akan memberitahumu."


"Sekarang saja. Kakak penasaran."


"Butuh waktu dan persiapan tapi cepat atau lambat aku tetap harus memberitahumu sebuah rahasia yang aku simpan selama ini."


Nisa semakin penasaran, rahasia apa itu yang begitu pentingkah hingga membutuhkan waktu dan persiapan untuk membukannya. Tapi Nisa akan menunggunya hingga adiknya merasa siap membuka rahasia yang disembunyikan darinya. Pasti itu rahasia terhebatnya, pikir Nisa dalam hatinya.


Tidak terasa ini menjadi hari ke enam, banyak hal yang sudah mereka lakukan di tempat ini salah satunya adalah telaga kecil yang letaknya seratus meter dari rumah rahasia mereka, tempat ini benar-benar sangat indah dan exotik, telaga di sini airnya sangat jernih dan juga dingin hampir setiap hari selama di sini Armanda menghabiskan waktu bersenda gurau di tempat ini, kalau airnya lagi tidak dingin ia mandi di telaga ini mengajak kakaknya mandi bersama seperti hari ini.



Sudah dua jam mereka menghabiskan waktu untuk bercanda tawa sambil sesekali melempar air ke arah kakaknya yang sedang berjemur mengeringkan tubuhnya yang sedang duduk di atas batu telaga.


Keanggunan alam serta kenyamanan seolah menenggelamkan waktu dalam suasana akrab dan damai, mereka hampir tak sadar kalau waktu hampir menerobos senja tiba-tiba awan nampak mulai pekat, hujan turun menyentuh kulit mereka dengan kasar, Nisa segera menjauh dari telaga, berteduh di bawah pohon besar di ikuti Armanda mengejar.

__ADS_1


Langit tiba-tiba pecah mengeluarkan air hujan dan kemarahannya dengan teriakan-teriakan halilintar, suasana yang tadi terasa damai berubah dalam sekilat jadi menakutkan.


Nisa merasa saat ini ia sedang terperangkap dalam pulau terlarang. Nisa sekilat memeluk tubuh adiknya menyembunyikan wajahnya kedada bidang adiknya ketika terdengar suara gemuruh paling keras. Sementara itu justru diam-diam pria yang mendekapnya itu tersenyum tipis.


Armanda merasa kakaknya nampak sangat manis sekali saat sedang ketakutan seperti ini padahal siapa sangka kalau wanita yang sedang ketakutan ini adalah sosok pemberani yang ditakuti oleh kawan maupun lawan bahkan dianggap tembok besar yang tak mudah dihancurkan oleh seorang Anggraeni.


"Kakak takut yah..?" Armanda tersenyum merasa lucu.


"Tidak." Nisa menyadari kalau ia sudah bersikap konyol. Dengan segera ia melepas pelukannya dan berganti menjadi memeluk kedua tangannya. "Kakak sama sekali tidak takut, hanya sedikit kedinginan saja.." ujarnya berbohong untuk menghilangkan kekonyolannya.


Armanda tersenyum mengejek karena ia tahu kakaknya sedang berbohong.


"Oh.., begitu yah.., kupikir Kakak takut..."


"Enggak kok. Kakak enggak takut..., jangan-jangan Bintang kali yang takut..." Nisa melemparkan tudingan adiknya berusaha menyembunyikan rasa takutnya.


Armanda tersenyum menanggapi tudingan kakaknya, tapi ia tahu kakaknya saat ini sedang merasa ketakutan tapi berusaha menyembunyikannya.


Muncul ide di benak Armanda untuk membuktikan kalau saat ini kakaknya sedang berada dalam ketakutan.


"Kakak benar...,"


"Benar apa?"


"Aku merasa takut.."


"Takut apaan...?" Nisa mulai cemas melihat mimik muka adiknya yang menatap ke arah telaga. "Ada apa?" Nisa bertanya diantara rasa takutnya namun ia tidak berani menatap ke arah telaga itu.


"Aku melihat seseorang bergaun putih berambut panjang di sana."


"Jangan bercanda ah..." suara Nisa tegang.


"Serius Kak..." balasnya tanpa beralih pandangannya dari telaga yang dua puluh meter dari pohon ini. "Ya- Tuhan.." Armanda tercengang seperti melihat sesuatu yang menyeramkan.


"Kakak lihat itu..." ucap Armanda seperti berbisik ketakutan. "Wanita itu menatap ke arah kita..."


"Kita pergi dari sini..." ujar Nisa sambil merapatkan tubuhnya ketubuh adiknya tanpa berani melihat kebelakang.


"Tapi hujannya lebat."


"Tidak apa-apa," Nisa segera membuka sewiter yang ia pakai. "Pakai ini, Kita harus segera pergi.." sambil memakaikan ke tubuh adiknya yang mengenakan kaos basah berwarna putih.


"Telambat Kak, perempuan itu berjalan ke sini dan saat ini dia.., dia.., sudah berdiri di belakang Kakak..."


"Tidaaakkk..."


Teriak Nisa sambil melompat ke dalam peluk adiknya ketakutan. Mendekapnya seerat mungkin. Padahal sebelumnya ia paling tidak percaya dengan hal-hal yang irasional, hantu, kuntilanak, jin, dedemit atau apapun itu sejenisnya hanyalah dongeng untuk menakuti anak-anak tapi ceritanya jadi beda ketika langsung di hadapkan dengan situasi ini.


Mendadak Armanda tertawa ngakak merasa lucu menyaksikan reaksi kakaknya saat ini. Armanda berhasil membuktikan katakutan kakaknya. Nisa segera melepaskan pelukannya setelah sadar kalau ia terkena tipuannya, dengan perasaan kesal Nisa memukul-mukul gemas dada pria di depannya sementara Armanda berusaha menghindar dan menahan dengan kedua tangannya tanpa sanggup menghentikan tawaannya yang menurutnya sangat lucu.


"Sudah.. sudah.. Aku minta maaf.."


Armanda berhasil menghentikan tawaannya sambil berusaha meraih punggungnya dan menggiringnya rapat ke tubuhnya.


"Jangan takut..." ucapnya lembut setelah berhasil mendekap tubuh kakaknya.  "Mengenai hantu atau monster percayakan saja padaku. Aku akan menjagamu."


Nisa merasa terjaga dalam pelukan adiknya suasana yang tadinya menakutkan seakan lewat begitu saja. Udara dingin menusuk tulang berubah hangat dalam dekapan tubuh serta hangatnya napas adiknya. Timbul sensasi aneh ketika ia melihat rahang bawah pemuda yang mendekapnya itu. Pundaknya yang kokoh tangannya yang kekar dadanya yang bidang membuat Nisa terhanyut dalam sensasi aneh itu.


Nisa semakin menyerudukan kapalanya di balik leher pria itu. Pelan-pelan ia menemukan sebuah kenikmatan, sesuatu yang bergairah yang tiba-tiba membuat tubuhnya memanas. Nisa berusaha menguasainya tapi justru malah dirinya sendiri yang dikuasai oleh sensasi itu.


Nisa berhasil keluar dalam sensasi aneh itu setelah berjuang keras menarik tubuhnya dalam dekapan tubuh Adiknya.

__ADS_1


"Hujannya mulai berhenti. Kita pulang saja." ucap Nisa dengan nada tawar kemudian berpaling dari tatapan pria di depannya tanpa berani lagi memandangnya.


Armanda menatap kakaknya bingung. Seperti ada suatu hal yang membuatnya perasaannya tidak baik.


"Kakak ada apa?"


Nisa tahu sikapnya saat ini akan mengundang pertanyaan adiknya tapi saat ini kebingungan menguasai Nisa yang membuatnya tidak tahu bagaimana harus bersikap yang jelas saat ini Nisa sangat kesal pada dirinya sendiri.


Nisa merestelingkan switer yang kini dipakai adiknya.


"Udaranya dingin sekali, kita harus pergi dari sini."


Nisa mulai melangkah lebih dulu dan


Armanda mengikuti dari belakang ia merasa bingung dengan sikap kakaknya saat ini sepertinya sesuatu sedang terjadi padanya? Armanda menghentikan langkahnya ia menatapi perempuan yang berjalan di depannya itu, biasanya Nisa akan selalu menggandeng tangannya saat ia sedang berjalan tapi saat ini ia seolah ia ingin berlari darinya.


Nisa berbalik ketika ia sadari adiknya berhenti dari langkahnya, Nisa sadar dengan bersikap begini ia telah kasar tak seharusnya ia tidak melepaskan tangan adiknya dan membiarkan dia berjalan di belakangnya sendirian.


"Ayo."


Sepatah kata Nisa keluar tawar untuk adiknya sambil meraih tangan adiknya untuk mengajaknya berjalan namun tiba-tiba tangan kekar itu berbalik menarik tangannya, membuat tubuh Nisa memutar balik dalam sekilat saja tubuh Nisa sudah berada rapat dalam dekapan tubuh Armanda.


Nisa merasakan kedua tangan pemuda itu sudah melingkar di pinggangnya dan tanpa ia sadar kedua tangan Nisa sudah tersimpan di kedua pundak pemuda itu. Kedua mata miliknya tembus pada sepasang bola mata milik pemuda itu. Nisa merasakan jantungnya berdegup dengan kencang sementara ia merasakan hangatnya nafas adiknya menyapu lembut wajahnya.


Armanda tak mampu menyembunyikan ketegangannya. Ia merasa ini gila tapi tak bisa di pungkiri perempuan ini benar-benar sudah membuatnya tergila-gila.


"Maaf."


Armanda buru-buru melepaskan tangannya dari kedua pinggang Nisa sementara Nisa dengan nampak gugup mundur selangkah ke belakang sambil menjatuhkan kedua tangannya dari kedua pundaknya.


Armanda melepaskan switernya yang tadi dipakaikan Nisa untuk menutupi tubuhnya. Tanpa ragu ia memakaikannya ke tubuh perempuan yang nampak rapuh di depannya.


Sekali lagi keinginan itu muncul dalam diri Armanda ketika ia menatapi wajah cantik di depannya. Seolah ada sesuatu yang mendorongnya untuk melanjutkan kegilaannya itu.


Armanda mengangkat satu tangannya dan melabuhkannya di pipi Nisa. pelan tapi pasti telapak tangan itu bergerak lembut dari wajah Nisa, kemudian turun ke bibir dan berakhir di balik leher Nisa yang jenjang dan Armanda melihat sendiri perempuan cantik itu membisu tanpa protesan membuat Armanda semakin berani melanjutkan kegilaannya.


Nisa mulai kembali kesulitan bernapas, ketegangan kembali menerpanya, dentuman jantungnya semakin kencang bahkan sampai ketelinganya ketika jari -jemari kekar pria itu mulai menyusup keleher bagian belakang.


Nisa merasakan kenikmatan yang luar biasa yang membuatnya tak diberi kekuatan sedikitpun untuk protes, namun justru sebaliknya Nisa membalasnya ia mengangkat tangannya dan menumpukan kedua tangannya pada tangan kekar milik Armanda yang menyusup di balik lehernya lalu menekannya dengan pipinya. Nisa menutup kedua matanya dan menikmati sensasi aneh itu, sementara Armanda tersenyum tipis karena  sekarang ia tahu bukan dirinya saja yang menginginkannya tapi perempuan ini juga.


Armanda terpesona dengan kecantikan perempuan ini, Hujan gerimis saat ini memberi kesan rapuh pada kulit perempuan cantik ini, bibirnya yang getir berubah warna memerah ati karena kedinginan, rambutnya yang panjang agak klimis karena terkena basah air hujan namun semakin menambah daya pesonanya.


Armanda tersenyum ketika perempuan itu membuka matanya seolah memberitahunya kalau ia pasrah dengan situasi ini.



Armanda menyerah dan ia akan mengikuti nalarnya, Ia miringkan wajahnya pelan-pelan lalu ia turunkan dan ia dekatkan ke bibir getir perempuan cantik di depannya.


Saat bibir itu menempel, Nisa mulai menikmatinya sambil menangis, bukan karena ia tidak mau tapi karena Nisa tak sanggup menolak keinginannya sendiri.


Nisa balas ciuman itu dengan gairah bahkan ketika kedua tangan Armanda bermain di punggungnya Nisa balas dengan menyimpan kedua tangannya di kedua pinggangnya diantara hujan keduanya seakan melebur jadi satu.


Sebuah gemuruh besar mengguncang Nisa. Menghantam kepalanya seketika Nisa menarik ciuman itu bukan gemuruh yang keluar dari langit melainkan gemuruh yang mengguncang di dalam pikirannya.


Bintang kecil yang memanggil-manggilnya Kakak saat sepuluh tahun, seolah menjadi gemuruh besar yang berhasil menghentikan kekeliruannya.


"Tidak..." Sepatah kata keluar parau dari bibir Nisa. "Ini tidak benar..." sambil menggelengkan kepalanya merasa dirinya telah keliru.


Nisa berlari meninggalkan pria itu namun tubuhnya terasa lemas akhirnya Nisa menjatuhkan tubuhnya ketanah yang basah tangisannya pecah  berbaur dengan air hujan yang mulai reda.


Nisa menyesali dirinya sendiri karena dirinya tak sehebat pernyataan perangnya terhadap Anggraeni tapi justru saat ini ia telah kalah melawan dirinya sendiri.

__ADS_1


Armanda menangis mendekati Nisa sambil menjongkokan tubuhnya di samping belakang Nisa dan berkata.


"Aku pernah bilang kalau aku punya satu rahasia lagi untukmu..?" lirih Armanda sambil melingkarkan kedua tangannya ke pundak dan dada Nisa mendekapnya erat dalam dadanya. Kembali meneruskan kalimatnya dengan menangis. "Inilah rahasiaku yang aku simpan sejak aku menyadari kalau aku telah jatuh cinta padamu."


__ADS_2