
Jantung Nisa berdegup kencang karena ia duduk berhadapan dengan Armanda dan tak berani memandangnya ke depan sedikitpun sementara Mutiara duduk berdepanan dengan sang ayah.
Ridwan Agung merasakan ada hal yang aneh pada orang-orang yang ia lihat di sekeliling meja makan berbentuk persegi ini. Yang paling aneh ketika ia menyaksikan wajah Queen, ia nampak begitu tegang tidak seperti biasanya. Armanda yang duduk di hadapannya tidak berhenti menatapnya. Dan ketika ia menyaksikan wajah putrinya, mimiknya kesal dan gusar.
Ada yang aneh dengan suasana malam ini? Untuk mencairkan ketegangan Ridwan Agung mengeluarkan katanya.
"Ayah senang melihat kalian selalu bersama seperti ini." ujarnya dengan mata saling beralihan pada Mutiara dan Armanda.
Pertanyaan Ridwan Agung sedikit mencairkan suasana setidaknya berhasil menghentikan tatapan Armanda pada Nisa yang membuat suasana jadi terasa panas buat Mutiara.
"Aku dan Manda tidak bisa dipisahkan Ayah. Di mana ada Manda di situ harus ada Aku." menatap Nisa dengan senyuman puas.
"Seperti orang pacaran saja.."
"Apa Tante Queen tidak memberitahumu?"
"Soal apa?"
"Kami sudah resmi pacaran Ayah. Sudah satu minggu ini." Menatap Nisa puas. " Benarkan Tante?"
Nisa merasa gugup dengan lemparan pertanyaan Mutiara. Lalu ia menatap wajah adiknya yang memasang muka murung dan kemudian menatap lelaki paruh baya di sampingnya.
"Saya lupa untuk memberitahumu."
Ridwan Agung tersenyum gembira mendengar ungkapan perempuan di sebelahnya. Kembali menatap putrinya dan Armanda.
"Ini kabar gembira Ayah senang sekali mendengarnya..." kembali menatap Queen tersenyum senang. Tidak bermaksud serius. Ridwan Agung mencandai Nisa dengan mengeluarkan kalimatnya. "Kamu menemukan saingan. Mutiara akan merebut adikmu dari sisimu."
Itu kalimat candaan tapi saat mendengarnya Nisa merasakan nyeri di dadanya yang membuatnya merasa sesak. Nisa tersenyum sakit. Mutiara tersenyum menang dan Armanda merasa ingin menangis.
Ridwan Agung menatap kembali Armanda.
"Nak Armanda. Saya senang dengan hubugan kalian, dengan begitu kita berempat benar-benar akan menjadi keluarga."
Armanda membalasnya dengan senyuman terpaksa. Queen hanya diam murung sementara Mutiara berusaha memperlihatkan kemesraannya di depan Nisa dan ayahnya.
Tangan Mutiara meraih lengan pria di sampingnya setengah menarik lalu berkata.
"Menurut Ayah apa kami serasi?" Mutiara menimpali pertanyaan pada ayahnya.
Ridwan Agung membalas pertanyaan putrinya dengan tersenyum.
"Serasi..," balas sang ayah lalu kemudian tersenyum lucu. "Tapi lain kali tidak boleh berpenampilan seperti itu lagi. Yah?" ujarnya berusaha menghangatkan suasana.
"Ayah.." Protesnya kesal melepaskan lengan Armanda. Sindirian ayahnya semakin merasa membuatnya konyol di hadapan Armanda dan semakin tersingkir di hadapan Queen Agung. "Aku serius Ayah..."
Ridwan Agung kembali tersenyum membalas kekesalan putrinya.
"Iya kalian berdua serasi..," lalu menatap Queen yang duduk di sampingnya. "Kalau menurutmu bagaimana mereka berdua?"
Quinisa merasa dilempar pertanyaan paling ekstrim. Ia merasa gugup dan bingung untuk menjawab sementara Armanda nampak menatapnya menunggu jawabannya?.
"Tentu saja.. ’’ jawab Nisa sambil berusaha memberanikan diri untuk membalas pandangannya adiknya. Mungkin dengan dukungannya saat ini akan membuat adiknya melupakan perasaannya. "Kalian berdua sangat serasi." ujar Nisa menambahkan dan saat itu ia melihat adiknya nampak sedih dan kecewa.
Mutiara tersenyum senang mendengar jawaban Queen meski terdengar murung dari sedih dari nada suaranya. Mutiara mulai mengingatkan tentang rencana di balik acara makan malam ini.
"Sebelum acara makan malamnya di mulai.., bukankah malam ini ada sesuatu yang ingin Ayah sampaikan pada Tante Queen..."
Ridwan Agung mulai merasa gugup ketika putrinya mengingatkan tentang lamaran itu. Dia sudah berjanji pada putrinya untuk melamar Queen malam ini.
"Ayah hampir saja lupa dengan rencana Ayah," membalasnya dengan senyuman lalu menatap Queen yang duduk di sampingnya. Tangan Ridwan Agung menumpukan tangannya di atas punggung tangan Queen. "Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu, mengenai keinginanku yang sudah lama.."
Armanda merasa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi ketika menyaksikan telapak tangan pria setengah abad itu menggenggam telapak tangan kakaknya. Sementara Mutiara diam-diam tersenyum puas. Ridwan Agung meneruskan kalimatnya.
"Queen.." Suara Ridwan menyahut Nisa dengan lembut.
Nisa mulai merasa tidak enak sepertinya ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan Ridwan Agung kepadanya. Ntah apa? Tapi Nisa merasa apa yang akan disampaikannya tidak akan menyenangkan hatinya.
__ADS_1
"Iya." balas Nisa tegang.
"Mungkin apa yang akan ku sampaikan malam ini akan membuatmu terkejut? Kamu ingat yang pernah ku sampaikan enam tahun lalu?" ujarnya mengingatkan dan ia melihat perempuan anggun di sampingnya itu nampak terpaku sepertinya ia mengingat apa yang terjadi enam tahun lalu kembali ia meneruskan, "Aku tahu kamu pasti akan terkejut tapi atas dukungan putriku kali ini, Aku berniat melamarmu kembali." Ridwan Agung menyaksikan keterjutan pada wajah perempuan di sampingnya. Kembali ia melanjutkan katanya. "Bagaimana apa kamu bisa menerimaku?"
Nisa sangat terkejut hingga ia terpaku tak dapat bicara. Nisa tak mengira ucapan yang enam lalu dapat protesan keras dari putrinya kini kembali ia dengar justru atas dukungan putrinya.
Nisa mengerti maksud Mutiara kali ini, dia berniat menjauhkan dirinya dari adiknya. Tapi mungkin ini adalah cara yang memang baik supaya ia dan adiknya bisa melupakan perasaannya masing-masing.
Armanda terkejut setengah mati mendengar lamaran ayah Mutiara untuk wanita yang sangat dicintainya itu. Ia tidak tahu akan terjadi hal seperti ini karena Mutiara tidak mengatakan apapun siang tadi selain undangan makan malam keluarganya.
Armanda mau datang karena ia tahu Nisa ada di sini dan ia ingin melihatnya karena sangat merindukannya setelah beberapa hari ini kakaknya jarang pulang ke apartement.
Nisa mengalihkan pandangannya dari Ridwan Agung dan beralih menatap pemuda tampan yang sangat dicintainya lalu berucap,
"Aku setuju." Suaranya terdengar hampa dan kembali menatap pria paruh baya di sampingnya. "Aku setuju menikah denganmu." ulangnya diperjelas.
Ridwan Agung tersenyum gembira. Mutiara merasa puas sementara Armanda merasa sedih dan marah.
"Tidak boleh!"
Armanda memprotes keras jawaban yang keluar dari mulut Nisa sambil bangkit dari tempat duduknya dan ia tak sadar protesannya memperlihatkan kecemburuannya. Seketika semua mata teralih kepadanya. Ridwan Agung bingung.
"Kenapa? Apa boleh tahu alasannya?" Ridwan tetap berusaha halus.
"Karena.. ?"
Armanda menghentikan katanya saat menyaksikan kedua mata kakaknya mulai berkaca-kaca sambil menggeleng-gelengkan kepala pertanda ia memprotesnya untuk tidak mengakui perasaannya. Padahal baru saja ia hampir mengatakan kalau ia menolak karena ia sangat mencintai Nisa dan tidak boleh orang lain memilikinya.
Mutiara kesal menyaksikan reaksi Armanda seperti itu.
"Karena apa, Boy?" timpal Mutiara gusar.
Armanda duduk kembali dengan perasaan prustasi karena tidak bisa mengatakan alasannya padahal ia ingin mengatakannya.
"Aku sendiri tidak tahu..." Jawab Armanda lesu, kecewa tidak bisa mengatakan perasaannya untuk menjaga perasaan Nisa yang tidak ingin orang lain tahu.
"Maksudmu?" Armanda menyipit menyimak kalimat Tiara. Ia mulai berpikir Mutiara sudah tahu perasaannya pada Nisa. "Apa karena aku menolak kakakku menikah, harus ada alasannya."
"Tentu saja. Nak Armanda." ujar Ridwan Agung yang mulai merasa bingung dengan sikap Armanda dan putrinya. "Katakan saja alasannya. Kamu adiknya. Tentu, saya juga harus meminta persetujuanmu."
"Karena dia cemburu. Ayah." ungkap Mutiara menatap ayahnya lalu menatap wajah Armanda dengan gusar. "Itukan alasannya? Benarkan?"
Armanda terkejut dengan tebakan gadis di sampingnya, sepertinya tebakannya benar Mutiara sudah mengetahui perasaannya pada Nisa.
"Kamu bicara apa aku tidak mengerti?" balas Armanda berusaha menyembunyikannya.
"Kamu sadar tidak reaksimu itu sudah menunjukan itu semua. Kamu cemburu. Itulah alasan kenapa kamu menolaknya, iyakan?"
"Sebenarnya ada apa ini...?" Ridwan Agung semakin bingung karena ia merasa dirinya satu-satunya orang yang tidak mengerti. "Queen ada apa ini?" Menatap Nisa yang sepertinya mulai menitikan air mata yang membuat Ridwan Agung semakin tidak mengerti.
"Ayah mau tahu..?" ujar Mutiara di antara kekesalannya. Lalu meminta pembantunya mengambilkan tas di kamarnya dan tangan Mutiara mengambil sebuah handphone milik Nisa dari dalam tas yang baru diambil bik Minah. "Dengarlah ini." lirih Tiara menatap menatap ayahnya.
Nisa terkejut ketika Mutiara mengeluarkan hp miliknya, sepertinya Mutiara akan membuka perasaan adiknya di hadapan Ridwan Agung. Dan itu tidak boleh, masalahnya akan bertambah rumit.
"Tiara. Tante mohon jangan lakukan itu..." Protes Nisa menangis tapi tangan Mutiara sudah mengklik pesan audio itu.
Kak.. Aku mohon pulanglah.. jangan Kakak hukum aku seperti ini, Aku tahu apa yang sudah terjadi masih sulit untuk diterima, Tapi kita tidak harus terhindar dari kenyataan.. Cinta bukanlah dosa, Tidak ada yang keliru dalam perasaan kita, Jadi biarkan Aku mencintaimu sesuai dengan apa yang kurasakan.. Pulanglah Kak..Aku merindukanmu..
Sekujur tubuh Ridwan Agung seolah mati lemas kala diperdengarkan suara Armanda dalam ponsel itu, Ia tidak pernah menyangka hubungan kakak adik yang selama ini dikoarkan Nisa telah berkembang sejauh ini.
Armandapun tidak bisa protes karena itu memang suaranya namun ia merasa sedih bagaimana perempuan di depannya itu menangis. Dengan gesit Armanda keluar dari kursinya mendekati Nisa dan meraih tangannya.
"Ayo kita pulang."
Armanda meraih tangan kakaknya untuk meninggalkan meja makan ini dan Nisa bangkit mengikutinya. Namun tiba-tiba tangan Mutiara menghentikannya dengan menarik tangan milik Nisa yang sebelahnya lagi.
"Tante Queen akan tetap di sini. Dia milik Ayahku!" protesnya keras.
__ADS_1
"Lepaskan!" teriaknya pada Mutiara. "Dia akan pulang bersamaku!"
"Kamu tidak berhak membawanya pergi! Kakakmu sudah setuju untuk menikah dengan ayahku." protesnya tanpa melepaskan tangan Queen.
"Ku bilang lepaskan!" protes Armanda memaksa Mutiara gusar.
"Gue tidak akan melepaskannya!" Mutiara mulai kasar. "Suka tidak suka Kakak lo akan menikah dengan bokap gue. Dia akan menjadi nyokap baru gue Bukan tidak mungkin suatu saat dia akan jadi ibu Mertua lo juga?"
"Itu tidak akan terjadi, Kakakku tidak akan menikah dengan Ayahmu dan akupun tidak akan pernah mau menikah denganmu." teriak Armanda kesal karena tangan kuat milik Mutiara berhasil menahan tangan kakaknya.
"Lo pikir begitu? Perlu lo tahu Nisa sudah jadi milik bokap gue sejak delapan tahun lalu. Lo tahu kenapa? Karena dia...?"
"Cukup Tiara!" Ridwan Agung memprotes keras dengan memukul meja berhasil menghentikan kalimat putrinya. Ia tahu kelanjutan kalimat putrinya yang selalu merasa Queen adalah miliknya hanya karena ia membelinya dari tangan Melisa delapan tahun. "Lepaskan tangannya." Perintah Ridwan Agung pada putrinya.
"Tapi Ayah mereka terlibat cinta terlarang, Ayah harus menghentikan mereka."
"Ayah bilang lepaskan tangan Queen." Teriak Ridwan Agung lebih keras.
Quinisa tidak pernah membayangkan kalau masalah yang ia hadapi akan melibatkan orang-orang terdekatnya. Nisa merasa bodoh karena tidak bisa mengatasinya. Setelah lepas dari cengkraman Mutiara ia melepaskan diri dari pegangan tangan adiknya kemudian ia melarikan diri membawa air mata kepedihannya. Armanda mengejarnya namun tangan Mutiara mencegahnya dan membiarkan ayahnya yang mengejar Queen.
"Lepaskan aku." Armanda berhasil menarik tangannya dari cengkraman Mutiara.
"Lo enggak perlu mengejarnya." kembali menarik tangan Armanda yang hendak pergi. "Lo kagak berhak atas dia. Yang berhak cuma bokap gue. Lo tahu kenapa...? Karena sejak delapan tahun lalu kakak lo sudah resmi jadi milik bokap gue."
"Aku tidak mengerti magsudmu?" Menarik tangannya kembali mengejar Nisa tapi suara Mutiara berhasil menghentikan langkah kakinya ketika sampai pintu keluar.
"Bokap gue sudah membelinya dari seorang mucikari."
Armanda terpaku menghentikan langkahnya lalu memutar badan berbalik menatap Mutiara.
"Apa maksudmu."
"Seperti yang kau dengar.."
Armanda melesat Memegang kuat lengan Mutiara.
"Cepat katakan apa maksud kata-katamu tadi!" teriak Armanda sangat keras.
"Lo penasarankan?" Menarik tangannya dari cengraman kasar Armanda.
"Cepat jelaskan!"
Kemarahan Mutiara saat ini sudah di titik puncak yang membuatnya berani membuka rahasia Nisa yang ia jaga selama ini.
"Delapan tahun lalu bokap gue sudah membeli Kakak lo dari seorang Mucikari. Lo tahu apa artinya itu? Berarti sebelum bertemu bokap gue dia adalah seorang.., pe-la-cur."
Armanda merasakan seluruh urat dalam tubuhnya terputus dalam sekilat. Seluruh aliran darahnya tiba-tiba berhenti. Oksigen yang mengalir ke jantung sepertinya akan berhenti.
"Tidak mungkin." Suara Armanda hampir tidak terdengar.
Armanda mengembalikan emosinya dalam sekejap. Ia tidak percaya kata-kata Mutiara. dengan sangat marah kedua tangan Armanda menarik lengan gadis itu.
"Kamu bohong kan..?" Menekan kuat lengan Mutiara sementara tatapannya pokus dan menakutkan. Sekali lagi Armanda mengulang kalimatnya dengan keras. "Cepat katakan kamu bohong. Kan?" Sambil menggerakan lengan Mutiara hingga menyakitinya. Armanda semakin kesal dan tersiksa karena ia tidak melihat kebohongan itu, tapi dalam hati ia tekankan ia tidak boleh mempercayainya dan terus berharap gadis ini bohong. Armanda tertawa kecil dalam ketakutannya. "Kamu cemburu, makanya kamu katakan kebohongan itu. Benarkan?" kata terakhir berteriak sambil menggiring dan mendorong tubuh Mutiara ke tembok hingga Mutiara berteriak kesakitan.
"Lepaskan!"
Mutiara merasa ketakutan melihat kemarahan pria yang masih mencengkram tubuhnya ini untung saja kemunculan kembali sang ayah menyelamatkan dari api kemarahan Armanda.
"Ada apa lagi ini?"
Armanda melepaskan tangannya dari Mutiara ia berbalik menghampiri Ridwan Agung.
"Anda yang paling tahu.." Menatap Ridwan Agung penuh kepanikan. "Cepat katakan kalau itu tidak benar. Katakan kalau putrimu bohong. Katakan padaku. Kalau kau tidak membeli dia dari seorang Mucikari!"
Ridwan Agung terkejut bukan karena teriakan pemuda ini namun ia terkejut karena menyesalkan putrinya sudah lancang membuka apa yang terjadi delapan tahun lalu.
Ridwan ingin sekali menjelaskan lebih detil agar pemuda ini tidak salah paham karena apa yang dikatakan putrinya tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya. ia memang membelinya tapi untuk menyelamatkannya dan Nisa bukanlah seorang ******* tapi dijebak. Keperawanannya memang hilang di tempat itu tapi dirampas secara paksa atas perintah Melisa itu yang ingin ia jelaskan tapi tiba-tiba dadanya terasa sesak penyakit Jantung yang menderanya saat ini membuatnya terpaksa membiarkan pemuda itu pergi dengan membawa kesimpulamnnya sendiri.
__ADS_1