
Nisa berusaha menikmati acara ini meski perasaannya tidak enak. Menikmati masakan yang sudah tersaji di meja bersama Armanda yang terus bersamanya tanpa sedetikpun meninggalkannya.
Tatapannya Armanda dan Nisa sesekali menatap ke arah Mutiara yang tengah menikmati acara makan di pesta malam ini bersama kedua sepupu Armanda dari London, ntah sejak kapan mereka menjadi begitu akrab? Sedangkan Nayaka tampak sudah duduk satu meja bersama Anggraeni, Revalina dan suami Revalina.
Nisa dan Armanda melihat Anggraeni maju ke depan menyampaikan pidato di sela-sela acara makan malam ini.
"Para hadirin yang terhormat. Ada hal yang ingin kami sampaikan pada semua para tamu di sini tentang Mutiara Agung, yang kini telah resmi menjadi pemegang saham sepuluh persen Akbar Group. Mengingat Akbar Group adalah perusahaan keluarga maka telah kami sepakati sebelumnya bahwa Mutiara Agung akan masuk dalam keluarga kami sebagai calon istri dari cucu kami. Kemarilah." Pintanya pada Mutiara. Mutiara berjalan ke depan berdiri di samping Anggraeni disusul kedua cucu Anggraeni yang berdiri dekat di belakangnnya.
Armanda dan Nisa terperangah kaget mendengar pidato Anggraeni barusan. Perasaan Nisa tidak enak mengingat kata-kata Mutiara tadi yang menyatakan, akan berusaha mendapatkan Armanda dengan cara apapun, mungkinkah dengan menjual perusahannya pada Anggraeni itu cara yang ditempuh Mutiara untuk mendapatkan Bintang? Tidak semoga bukan! Pekik Nisa dalam hati merasa sangat takut.
Armanda sendiri pokus mendengar kelanjutannya, ia cuma berpikir cucu yang dimaksud pasti bukan dirinya karena dari tadi ia melihat antara omahnya, Mutiara terus berkumpul dalam satu meja bersama kedua cucunya. Yang membuat Armanda kaget karena mantan sahabatnya itu mau menikah dengan salah satu sepupunya. Anggraeni meneruskan pidatonya.
"Mutiara selain cantik, gadis ini juga sangat dekat dengan cucu kami. Saya yakin cucu saya sangat bahagia dengan diadakannya pernikahan ini. Kemarilah, Nak." Anggraeni pada Armanda.
Armada terkejut ketika ia melihat omahnya memintanya ke depan.
"Maksud Omah. Aku?" Armanda terkejut bingung.
"Iya. Kamu. Omah dan seluruh keluarga kita sudah merencanakan kejutan ini. Omah harap kamu senang dengan kejutan ini."
Armanda terbelalak karena ternyata yang di maksud cucunya adalah dirinya. Nisa merasa lemas meskipun ia sudah menebaknya. Tidak seperti peresmian dirinya sebagai kakak dari Armanda, masalah peresmian Mutiara sebagai calon istri Armanda tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
"Tentu saja." jawab Anggraeni. "Kalau bukan kamu siapa lagi?"
Anggraeni tersenyum bingung menyaksikan cucunya nampaknya terkejut, padahal sebelumnya ia sempat berpikir ini akan menjadi kejutan yang menyenangkan bagi cucunya namun reaksinya justru nampak sebaliknya mengingat selama ini ia tahu cucunya yang satu ini dan Mutiara sudah pacaran dari SMP sejak sama-sama masih tinggal di Inggris.
"Bukannya.., seharusnya kamu senang dengan kejutan ini?"
Ternyata Anggraeni sudah salah paham hubungannya dengan Mutiara selama ini. Ia memang pernah pacaran tapi lima tahun lalu dan kedepannya hanya jalinan persahabatan dan tidak ada perasaan khusus lainnya.
"Omah sudah salah paham," protesnya menatap Anggraeni lalu menatap Mutiara yang berdiri di samping Anggraeni. "Mutiara dan aku tidak memiliki hubungan khusus seperti itu," ujar Armanda meski ia merasa tidak tega mengucapkannya saat menyaksikan wajah Mutiara yang mulai berkaca-kaca. "Tak ada kesepakatan di antara kami untuk menikah." Protes Armanda berhasil membisukan semua orang.
Anggraeni cukup terkejut dengan penolakan cucunya yang tadinya ia pikir akan disambut gembira. Pernikahan ini sebagian dari kesepakatannya dengan Mutiara tidak mungkin membatalkan kesepakatan dengan Mutiara gara-gara cucunya menolak untuk menikahinya.
"Setahu Omah kalian sangat dekat." ucap Anggraeni sambil mengingat kembali kedekatan mereka selama ini kemudian menatap gadis di sampingnya sebentar. "Dan Mutiara adalah calon yang sempurna untukmu."
"Itu dulu Omah, saat kami masih sama-sama tinggal di London kami memang sempat pacaran dan setelah itu kami cuma teman. Tidak lebih dari itu. Iyakan Tiara?" Menatap Mutiara berharap mendapatkan pembelaan, namun gadis itu diam dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca. Tak ada jawaban Armanda kembali menatap Anggraeni.
"Aku tidak bisa menikah dengannya, Omah karena hatiku sudah jadi milik orang lain." ungkap Armanda sambil menguatkan pegangannya pada Nisa yang berdiri di sampingnya.
Armanda merasa ini saat yang tepat untuk memberitahu semua orang tentang hubungannya dengan Nisa walau sebenarnya Armanda merasa gugup dan takut, ia juga melihat ketegangan yang serupa pada wajah perempuan di sampingnya.
Nayaka yang merasa tegang dari tadi menyaksikan penolakan keponakannya kini mulai merasa ketakutan, keponakannya sepertinya ingin memploklamirkan hubungannya dengan Nisa saat ini. Itu harus dihindari karena ini akan memancing kemurkaan ibunya dan selebihnya akan mencoreng nama besar Akbar.
Nayaka segera mendekat meraih tangan keponakannya. dengan suara seperti berbisik.
"Jangan bertindak ceroboh."
"Sudah waktunya semua orang tahu, Paman..." balasnya lantang sambil menarik diri dari tangan Nayaka.
"Kamu tidak boleh melakukannya." tegas Naya dengan suara ditekan.
Semua mata saling beralihan antara paman dan keponakan banyak yang tidak mengerti apa yang diperdebatkan mereka namun mereka bisa sedikit menebak sepertinya ada sebuah rahasia penting yang akan dibeberkan Armanda namun ditolak Nayaka. Di antara mereka saling berbisik tentang siapa wanita beruntung yang berhasil memikat pemilik tunggal Akbar Group ini.
Angraeni cukup penasaran tentang siapa wanita yang dicintai cucunya itu, seingatnya, Armanda tidak memiliki perempuan dekat lainnya selain Mutiara? Tentu saja tanpa harus menyebut Nisa di dalamnya karena Nisa adalah seorang kakak bagi cucunya. Ini seperti sebuah misteri yang harus terpecahakan saat ini juga. Kalau bukan Mutiara lalu siapa? Tanya anggraeni dalam hati.
__ADS_1
"Biarkan Naka." ujar Anggraeni tegas pada Nayaka kembali meneruskan katanya pada Armanda. "Tidak masalah kalau memang ada perempuan lain yang lebih kamu sukai. Tapi Omah mau tanyakan padamu beberapa hal saja. Apa dia lebih cantik dari pada Mutiara?" Anggraeni bertanya dengan tenang tanpa memperdulikan perasaan Mutiara. Baginya asal perempuan itu layak dan memiliki kriteria yang bagus, maka Anggraeni tidak akan menolaknya.
"Menurutku begitu." Jawab Armanda tegang sambil mempererat pegangan tangan Nisa.
"Apakah dia lebih kaya dari pada Mutiara?"
"Iya, dia lebih kaya dari Mutiara."
"Apa dia setara dengan kita?"
"Dia. Di atas kita."
Anggraeni mulai tersenyum karena ternyata pilihan cucunya sesuai dengan kriteria yang ia harapkan.
"Satu lagi apakah dia lebih segalanya dari pada Mutiara?"
"Tentu saja, dalam segala hal ia melebihi Mutiara." jawab Armanda tanpa berani menatap Mutiara karena kalimatnya pasti melukainya.
"Kalau begitu dia sanggup mengorbankan semua seperti Mutiara sanggup mengorbankan perusahaannya untukmu?"
"Dia bahkan sanggup menyerahkan nyawanya untukku." Jawab Armanda yakin sementara ia merasakan tangan kakaknya semakin dingin. Sebentar ia menolehnya nampak wajahnya terlihat gugup dan takut Armanda menenangkannya dengan senyuman dan kembali menatap wajah omahnya.
Anggraeni tersenyum puas dengan jawabanya. Para tamu semakin penasaran. Nayaka sangat cemas dan takut. Mutiara kesal merasa sedih dan marah.
Anggraeni kembali menatap cucunya yang berdiri di hadapannya.
"Kalau begitu tak ada alasan bagi keluarga Akbar untuk menolaknya. Benarkan?Di mana perempuan itu? Bukankah ini acara yang tepat untuk memperkenalkan dia pada keluarga besarmu?"
Armanda menatap semua orang disekitarnya. Kedua sepupunya yang berdiri di belakang omahnya, Revalina ibu dari kedua sepupunya juga suami bulenya yang tengah duduk di meja khusus di depan, pandangannya memutar lagi ke arah Nayaka yang berdiri tiga meter darinya dengan wajah cemas dan takut, kembali memutar pada para tamu undangan yang menunggu jawaban, berakhir menatap perempuan di sampingnya yang terus ia genggam memberinya senyum memberitahunya supaya jangan khawatir semua akan baik-baik saja. Kembali menatap Anggraeni.
"Omah sudah mengenalnya. Bahkan semua orang di sini sudah mengenalnya."
Oh..Tidak!! pekik Anggraeni dalam hati ketika ia mulai merasa kalau perempuan itu adalah Nisa. Tapi itu mustahil tidak pernah sedikitpun Anggraeni berpikir sejauh itu. Selama ini mereka memang sangat dekat tapi Anggraeni tidak pernah berpikir tentang hal yang begitu semenakutkan ini.
"Siapa perempuan itu?"
Anggraeni mulai bergetar sama halnya seperti detak jantungnya yang berdentum cepat sambil berharap semoga pikirannya salah. Armanda menatap lembut perempuan di sampingnya yang nampak gugup dan tegang, dengan sedikit senyuman ia berusaha meyakinkannya kalau inilah saatnya untuk memberitahukan pada seluruh keluarga besarnya tentang perasaannya.
Tangan Armanda merengkuh pundaknya wanita di sampingnya hingga menempel kepadanya lalu ia berucap pada Anggraeni dengan penuh keyakinan.
"Inilah Perempuanku. Omah..."
Nisa terpaku dalam rangkulan pria di sampingnya. Nisa terkejut dengan keberaniannya dan juga takut membayangkan apa yang terjadi setelah ini?
Anggraeni terpaku tak dapat bicara kedua kakinya tiba-tiba terasa goyang dalam sekejap ia hampir jatuh mundur kebelakang karena lemas, untungnya kedua cucunya berhasil menahannya agar tidak jatuh.
Ruangan menjadi riuh. pernyataan Armanda dianggap sesuatu yang gila. Mereka berpendapat suatu yang mustahil menjadikan seorang kakak angkat sebagai kekasih, selain itu umurnya berbeda jauh namun sebagian orang lagi bisa memaklumi Armanda yang memang seorang oedipiu complex.
Nayaka merasakan semua energi dalam tubuh berhamburan. Pernyataan keponakannya di depan umum membuat Nayaka tidak bisa berkutik sementara Mutiara menangis dan berkata.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku?" lirih Mutiara sakit menatap Armanda. "Katakan apa yang kurang dariku? Banyak hal yang sudah ku korbankan untukmu. Lihatlah Manda bukankah aku juga sudah cantik seperti dia?" menatap Nisa sebentar. "Tapi kenapa kamu masih saja seperti ini padaku...?" Tangis Mutiara berhasil membuat orang merasa kasihan padanya.
Tidak hanya Nisa yang merasa sedih menyaksikan bagaimana Mutiara menangis, Armandapun merasa demikian mengingat banyak hal yang sudah Mutiara lakukan untuknya tapi Armanda tekankan ia mencintai Nisa bukan karena ia lebih cantik dari pada Mutiara juga bukan karena Nisa mau berkorban untuknya, ia mencintai Nisa bukan yang bisa di jangkau dengan mata tapi dengan hati.
"Kamu tidak akan pernah mengerti. Mutiara," sambil melepaskan tangannya dari pundak Nisa dan beralih meraih telapak tangan Nisa. "Aku mencintai dia dengan hati. Bukan dengan mata." lirihnya menatap Nisa sendu lalu menatap Mutiara lagi. "Maafkan aku..."
__ADS_1
Nayaka tidak bisa membiarkan banyak orang terluka karna ulah mereka ini tidak adil bagi ibunya dan juga Mutiara. Melesat kembali Nayaka menghampiri mereka, kali ini matanya tertuju pada Nisa.
"Kamu cerdas Nisa. Pikirkanlah untuk tidak melakukan ini. Ingat yang sedang kamu pertaruhkan adalah masa depan adikmu. Kumohon hentikan kekeliruan ini..."
"Jangan mencemaskanku. Bersamanya aku akan baik-baik saja." tegas Armanda merasa takut kata-kata pamannya itu akan mempengaruhi kekasihnya. Segera ia mengajak Nisa untuk segera keluar dari tempat ini.
"Kita pergi dari sini, Kak."
Nisa menggangguk dan mengikuti langkah Armanda yang menggandeng erat pegelangan tangannya. Naka menarik tangan sebelahnya.
"Nisa. Aku mohon jangan melakukan ini..."
Armanda kesal lalu berbalik mencengkram kerah kemeja sang paman seperti mau memukulnya.
"Jangan sampai aku mempermalukanmu di depan tamu mu. Aku dan kakak akan pergi dari sini. Kau jangan ikut campur." Sambil melepaskan cengkramannya dari kerah baju Nayaka setengah mendorongnya kesal. Kembali menggenggam pegelangan tangan Nisa mengajaknya pergi. Nayakapun terpaksa pasrah.
Tiba tiba seseorang dari belakang menghentikan langkah mereka dalam sekejap. Mutiara menangis menahan kaki Nisa memohon untuk tidak pergi. Semua para tamu menatap iba. Nayaka dan Anggraeni menatap prustasi.
"Jangan pergi, Tante... Jangan lakukan ini padaku..."
Tangisan Mutiara yang mengisak memohon berhasil menghentikan langkah Nisa. Nisa berbalik menatapnya. Perasaannya ikut terluka menyaksikan kepedihan Mutiara saat ini. Nisa menghadapi dilema yang sangat sulit di satu sisi ia hanya ingin hidup bahagia bersama Armanda saja namun di sisi lain ia merasa sangat sedih melihat tangisan gadis ini. mana yang harus ia pilih Armanda atau gadis ini?
Bukankah meskipun seluruh dunia ini menangis asalkan Armanda tersenyum padanya maka Nisa akan membalas senyuman itu. Mungkin ini sangat kejam bahkan lebih kejam dari pada perlakuan Anggraeni dulu kepadanya. Ia sangat berhutang budi bahkan nyawa pada ayahnya tapi membalasnya dengan melukai putrinya.
Nisa menangis menatapi Mutiara kemudian beralih menatap pria di sebelahnya kedamaian selalu Nisa peroleh dengan menatap wajah kekasihnya, yang kini Nisa pertanyakan apakah kedamaian itu akan terus bertahan jika ia terus mengikutinya? Sementara Nisa akan selalu ingat dengan tangisan Mutiara saat ini. Tapi sekali lagi Nisa harus menentukan pilihan?.
Nisa melepaskan tangannya dari tangan adiknya untuk membungkuk meraih tangan Mutiara dan membantunya berdiri. Mutiara menghentikan tangisannya dan tersenyum, ia merasa tangisannya berhasil memancing rasa kasihan Nisa kepadanya dan menahan kepergiannya. Armanda resah dan khawatir kalau perempuan yang dicintainya akan berubah pikiran karena melihat rengekan Mutiara. Nayaka dan Anggraeni merasa lega karena tangisan Mutiara sepertinya berhasil mengubah pikiran Nisa. Nisa memeluk Mutiara kembali melepaskannya dan tersenyum lembut. Kedua tangan Nisa meraih kedua tangan Mutiara menggenggamnya.
"Jangan menangis. Tante pasti akan mendapat balasannya."
"Apa maksud Tante?"
Maksudnya Nisa akan mendapat balasannya karena sudah membuat Mutiara menderita. Nisa akan mendapat balasannya karena tidak bisa memilih Mutiara padahal ia berhutang nyawa pada ayahnya. Nisa siap mendapat balasan apapun asalkan Armanda tersenyum ia akan membalas senyuman itu. Armanda tersenyum lega karena artinya Nisa tetap memilihnya. Nisa kembali berkata pada Mutiara.
"Maafkan Tante.., Tante tidak bisa memilihmu. Tante hanya ingin hidup bersama Bintang. Asalkan Bintang tersenyum maka Tante tidak peduli dengan yang lainnnya. Tuhan mungkin akan menghukum Tante. Tapi saat ini Tante hanya ingin bersamanya.." meraih kembali tangan kekasihnya. "Tidak perlu memaafkan Tante. Jaga dirimu baik-baik." kembali menatap Armanda.
"Kita pergi. Tempat ini sangat tidak nyaman."
Armanda mengangguk sambil tersenyum bahagia kemudian segera keduanya beranjak keluar menembus kegelapan malam.
Sudah dua hari sejak kejadian itu tersiar di beberapa surat kabar. Berita itu lebih menitik beratkan dengan kisah cinta si pemilik perusahaan di banding dengan perusahaan itu sendiri.
Pikiran Anggraeni kacau seolah merasa dilempari kotoran anjing kemukannya sendiri di depan umum dan yang paling terpukul dari kejadian itu adalah Mutiara. Pemberitaan media membuatnya prustasi. Pengorbanan yang ia lakukan semua sia-sia, tak ada lagi ayah yang dulu menghiburnya tak ada lagi Queen Agung yang dulu selalu memecahkan masalahnya, hanya ada satu cara untuk melepas beban hidup yang kini menjeratnya.
Mutiara mengendarai mobilnya dengan ugala-ugalan sambil mengembalikan pikirannya tentang masalalu bersama Armanda. Dulu ia dan Armanda sangat suka melakukan petualangan ini sudah lama ia tidak melakukan ini tepatnya setelah mengikuti aturan Queen yang selalu menuntutnya selalu bersikap manis.
Mutiara tertawa seperti orang gila ia mengejek dirinya sendiri karena sudah amat ***** telah berkorban banyak untuk pria yang kabur dengan perempuan lain dan juga sudah naif karena selalu mematuhi aturan Queen yang ternyata mereka berdualah yang menggiringnya kelubang kematian.
Mutiara koma setelah menubrukan mobilnya pada mobil kontener yang sedang melaju di depannya namun dunianya masih belum berakhir.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan ia masih belum sadarkan diri dan satu-satunya orang yang selalu berdiri di sampingnya adalah Nayaka.
Dua bulan Nayaka menemaninya dalam koma. Nayaka sangat memahami betul penderitaan gadis ini hingga ia tak tega untuk mengacuhkannya. Menurutnya gadis ini pasti sangat menderita hingga ia menyukai tidur lebih lama di kamar rumah sakit ini, namun Nayaka berharap gadis ini bangun untuk menikmati dunianya, tidur lama seperti ini tidak adil untuknya.
Perasaan Nayaka memang sangat halus ia tidak suka melihat orang disekitarnya menderita karena ketidak adilan. Tapi tahukah kamu, siapa orang yang paling menderita dari kejadian ini..? Dia adalah Nayaka bagaimana tidak ibu yang sangat di sayanginya tega mengusirnya karena ikut menyalahkannya atas kejadian ini. Kesalahannya karena sudah menyembunyikan hubungan Nisa dan Bintang, dan bayangkan bagaimana perasaannya menyaksikan perempuan yang dicintainya selama hampir sebelas tahun melarikan diri bersama keponakan kesayangnya? Dan bayangkan juga bagaimana ia berdiri ditengah keluarganya sebagai pangeran namun dianggap boneka kendali di hati ibunya? Jadi bayangkan penderitaan Nayaka di banding dengan yang lainnya?
__ADS_1
Nayaka diam-diam menitikan Air matanya menatapi Mutiara yang terbaring tidur nampak pucat dan kurus, Nayaka berharap gadis ini bangun meskipun menghadapi kenyataan akan jauh lebih sakit dari pada tidur.
"Bangunlah.., kamu harus bangun. Kamu tidak pantas seperti ini. Apa dengan seperti ini Armanda akan kembali? Dan Nisa akan menyesali perbuatannya? Tiara aku mengerti penderitaanmu. Karena.., keadaankupun tidak lebih baik dari padamu..." lirihnya dan tiba-tiba ia melihat jempol gadis itu bergerak dan ini perkembangan cukup baik, artinya gadis ini mulai mendengar ucapannya. Nayaka meneruskan ucapannya berharap Mutiara mau membuka matanya. "Kamu tahu.., ada dua orang perempuan dalam hidupku yang sangat ku cintai pertama dia adalah Ibuku. Aku selalu mengikutinya padahal aku tahu dia tidak perduli padaku, baginya aku adalah boneka yang bisa di kendalikan olehnya. Tapi aku tetap tidak peduli, aku terus mengikutinya sambil berharap suatu saat ibu mau memelukku..., dan kedua dia adalah..." Berhenti sebentar untuk menelan ludah yang terasa memenuhi tenggorokannya."Nisa." kemudian tersenyum pahit. "Kamu pasti tidak tahu kalau sebenarnya sudah hampir sebelas tahun ini aku sangat mencintai Nisa..." ungkap Nayaka dan ia melihat kelima jari gadis itu bergerak. Nayaka yakin kalau itu kode kalau gadis itu mendengar ucapannya. "Sama sepertimu pada Armanda. Nisa adalah cinta pertamaku. Apa kamu bisa bayangkan bagaimana perasaanku melihat orang yang sangat kucintai selama sebelas tahun lebih memilih kabur bersama keponakan yang paling ku sayangi...?" Nayaka menitikan airmatanya. "Sama sepertimu akupun ingin mati. Tapi apakah itu jalan keluar yang baik? Kalaupun harus ada yang mati itu bukan kita, tapi sumber dari penderitaan kita. Apakah itu Nisa? Bukankah kalau tidak ada Nisa kita semua tidak akan menderita?" lirihnya dan ia melihat alis gadis itu bergerak sebagai tanda kalau gadis itu merespon setiap kalimatnya dengan baik. "Kamu benar tidak perlu ada yang mati. Kalau semua kembali pada tempatnya masing-masing. Bangunlah Mutiara. Aku janji semua akan kembali ketempatnya masing-masing. Ibuku akan kembali mendapatkan cucunya. Nisa akan kembali menjadi Kakak yang baik untuk Armanda. Kamu akan kembali memperoleh banyak kesempatan untuk mendapatkan hati Armanda kembali, dan aku...," Nayaka terhenti karena ia tidak tahu apa yang akan ia dapatkan. Dengan perasaan pahit Nayaka menambahkan kalimatnya pahit. "Aku akan kembali ke rumahku..." Dan seketika Nayaka menyaksikan dari sudut mata gadis itu menitikan airmatanya sebagai tanda kalau sebenarnya ia telah sadar.