
Armanda berhasil menemukan perempuan iblis bernama Melisa, yang delapan tahun lalu sudah menyekap kakaknya, ada keinginan untuk membalaskan dendam saat ini namun ia berusaha mengendalikan untuk tidak bertindak ceroboh.
Dengan berpura-pura sebagai pelanggan baru tempat ini mungkin ia bisa mengetahui keberadaan Nisa saat ini.
"Aku pelanggan baru tempat ini." ujar Armanda pada Melisa tanpa basa-basi Armanda mengeluarkan sejumlah uang yang cukup banyak untuk memancing perempuan ini agar membawakan perempuan yang ia inginkan. "Itu uang muka." ujarnya dan Armanda melihat wajah perempuan tua itu nampak gembira dengan segepok uang yang ia sodorkan. "Aku bisa memberimu dua kali lipat lagi, selama kau memberiku perempuan yang sesuai dengan kriteria yang ku inginkan. Selain cantik aku suka perempuan yang lembut dan lebih dewasa dariku." Menatap sekitar. "Sejak tadi aku berdiri di sini tapi aku belum menemukan perempuan yang sesuai dengan kriteria yang ku inginkan. Apa kau memilikinya?"
Melisa terpancing dengan uang yang dijanjikan pemuda tampan di depannya. Tak perlu berpikir lama karena ia sudah tahu siapa yang memiliki kriteria seperti itu dan ia sudah mendapatkannya tadi pagi?
Untuk yang kedua kalinya Nisa terkurung di tempat ini. Sebuah tempat nista yang membuat keperawanannya terenggut secara paksa delapan tahun lalu oleh orang yang tidak dikenal.
Siksaan yang dilakukan Melisa hari ini tidak lebih besar dari ketakutan yang ia dapatkan delapan tahun lalu. Hal itu tidak boleh terulang lagi, Nisa memilih mati saat ini dari pada kehormatannya harus terampas untuk yang kedua kali.
Melisa kembali datang menghampirinya bukan lagi untuk menyiksanya seperti tadi pagi, melainkan menyerangnya dengan sebuah ancaman yang jauh lebih menakutkan dari pada bertubi-tubi siksaan yang ia dapat ketika wanita itu berkata,
"Aku dengar kamu memiliki seorang adik? Mungkin kamu tidak terlalu perduli dengan nyawamu. Tapi.." tersenyum mengancam. "Bagaimana dengan nyawa adikmu?"
Nisa terpaku lemas mendengar ancaman Melisa pertahanan dirinya patah dengan ancaman paling menakutkan dalam hidupnya. Mungkin dirinya bisa bertahan dengan siksaan kejam Melisa tapi ia tidak mau bermain-main dengan nyawa adiknya.
Nisa pasrah ia mau menuruti apa yang diinginkan Mucikari ini. Nisa membiarkan wanita jahat itu mulai mengendalikannya. Melisa menggiringnya duduk di depan cermin, tangannya mulai mendandani wajah Nisa. Makeup berhasil menutupi lebam di wajahnya dan Nisapun tak protes ketika wanita itu memakaikannya gaun malam berwarna merah yang sangat tipis di tubuhnya. Nisa hanya bisa pasrah tanpa bisa menolak. Ini adalah perngorbanan terbesarnya untuk menjaga keselamatan pemuda yang dicintainya.
Nisa berjalan kaku dalam giringan Melisa. Nisa memasuki sebuah kamar. Astaga... Ini adalah kamar ketika dahulu Melisa menguncinya bersama seorang pria tak dikenal.
"Tunggulah di sini. Nanti seseorang akan datang ke kamar ini. Ingat kamu harus melayaninya dengan baik. Kalau kamu macam- macam, nyawa adikmu taruhannya."
Nisa menangis selepas Melisa mengunci pintunya dari luar. Nisa merasa tubuhnya bergetar ketakutan. Kenangan buruk delapan tahun lalu akan terulang di sini, malam ini.
Nisa menghentikan tangisnya ketika terdengar ke kupingnya membuka kamar ini. pria itu sudah berada di belakangnya namun Nisa tak berani sedikitpun untuk berbalik atau sekedar menoleh yang ia lakukan saat ini adalah berusaha menghentikan tangisnya mungkin ini akan terasa sangat menyakitkan kehormatannya akan kembali terenggut sekali lagi di kamar ini.
Dulu ia dikurung dan pria itu memperkosanya namun saat ini ia harus pasrah karena nyawa adiknya akan jadi taruhannya. Sambil membuka tali gaun di pundaknya Nisa berkata dengan lirih,
"Lakukanlah. Dengan begitu Bintangku akan baik-baik saja.."
Armanda menitikan air matanya tanpa bisa menyahut. Bibirnya terasa berat menyaksikan perempuan di depan tidak berdaya.
Dari ucapan yang ia dengar barusan kakaknya saat ini sedang dalam ancaman Melisa. Demi keselamatan dirinya kakaknya tidak memperdulikan kehormatan dan keselamatannya.
Armanda melesat menarik kain spray yang terpasang di ranjang kamar ini. Dalam sekilat ia membungkus tubuh perempuan di depannya dari belakang ketika ia menyaksikan perempuan itu melepas tali gaun di pundaknya hingga gaun itu terjatuh dari tubuhnya memperlihatkan tubuh bagian belakang kakaknya yang telanjang.
Kedua tangan Armanda melingkar di kedua pundak Nisa memeluknya dari belakang, mendekapnya erat dan menangis.
Nisa terkejut sekali ketika seseorang dari belakang membungkus tubuhnya dan memeluknya dengan begitu erat hingga ia tidak di beri kesempatan untuk bergerak dan menolehnya, Namun dekapan hangat seperti ini hanya Bintangnya yang sanggup melakukannya.
"Bintang... " Sahut Nisa getir dan Nisa merasakan pemuda itu mengannguk di pundaknya.
Armanda menangis. Dengan suara lirih ia mengeluarkan katanya.
"Kakak... ?" Sambil mempererat pelukannya. "Maafkan aku Kak. Maafkan aku... karena sudah salah sangka padamu. Seandainya Kakak mau menjelaskan mungkin saat itu aku tidak akan terpengaruh oleh kata-kata Mutiara, karena aku hanya percaya pada mulutmu saja... "
Nisa menangis bukan karena pria ini sudah mengetahui kebenarannya ia menangis karena ternyata orang yang memeluknya ini benar-benar adiknya orang yang seminggu ini ia rindukan.
Nisa berhasil memutar balik dan saat ini ia melihat dengat kedua matanya, adiknya benar-benar ada di hadapannya.
"Bintang..." satu tangan Nisa meraba wajahnya sementara tangan yang lain memegang kuat kain spray yang membalut tubuhnya agar tidak terlepas. "Satu minggu ini Kakak sangat takut sekali Bintang membenciku..."
"Tidak mungkin aku membencimu. Saat itu aku marah tapi aku tidak bisa membencimu.., Kak. Ayahnya Mutiara sudah menjelaskan semuanya, kenapa Kakak tidak menjelaskannya padaku.., agar aku tidak salah paham."
"Kakak bingung bagaimana menjelaskannya?" Menurunkan tangannya dari wajah adiknya. "Tidak bisa dipungkiri Kakak memang pernah ada di tempat ini delapan tahun lalu dan juga di kamar ini..," Nisa menagis ketika bayangan peristiwa delapan tahun lalu begitu gamblang dipikirannya. Seorang pria tak dikenal memperkosanya di kamar ini dengan membabi buta. "Kesucian Kakak sudah dirampas..."
Armanda kembali memeluknya menenangkannya, Hatinya sakit membayangkan sesuatu yang pahit telah terjadi delapan tahun lalu saat itu dunia pasti seakan runtuh baginya sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Itu cerita yang ia dengar dari ayahnya Mutiara tadi.
"Semua akan baik-baik saja. Jangan menagis lagi.., Aku akan melindungimu. Tak akan ada lagi orang yang akan berusaha menyakitimu lagi." lirih Armanda tanpa melepas pelukannya.
Nisa terharu ia merasakan kenyaman yang luar biasa dalam pelukannya tapi tiba-tiba ia teringat ancaman Melisa? Apa yang akan terjadi kalau Melisa tahu kalau pria ini adalah adiknya sementara ia ingat anak buah Melisa cukup banyak. Tanpa rasa iba mereka akan menyakitinya.
"Bintang harus pergi.. " Suara Nisa panik menarik pelukannya.
"Kenapa..?" tanya Armanda bingung
__ADS_1
"Sebenarnya Melisa telah mengancam Kakak. Melisa tahu Kakak memiliki adik dan dia memampaatkan itu untuk mengancam Kakak. Melisa akan membunuhmu kalau Kakak menolak kenginananya. Itulah kenapa Kakak mau menurutinya. Jika dia tahu kamu adikku. Akan bagaimana nanti?"
Armanda membalas kepanikan kakaknya dengan senyuman santai.
"Tidak apa-apa.. Aku akan baik-baik saja. Kakak jangan khuatir.."
"Bintang tidak tahu siapa Melisa. Kalau dia menyakitimu bagaimana? Kakak mohon pergilah... " Sambil menarik salah satu tangan adiknya menyuruhnya pergi.
"Aku tidak mau..." tolak Armanda menarik tangannya. "Aku datang untuk menolongmu.."
"Di luar bisa minta bantuan. Kakak akan menunggumu di sini."
"Tidak mau.., Kak.." Tolaknya terdengar seperti rengekan manja. "Apa Kakak tidak percaya padaku?"
"Bukannya tidak percaya. Tapi jumlah anak buah Melisa cukup banyak."
"Disuruh apapun aku mau. Tapi.., kalau disuruh untuk meninggalkan Kakak di sini sendirian aku tidak bisa."
"Kenapa kamu ini senang sekali membuat Kakak khuatir..?" keluh Nisa cemas sementara ia melihat adiknya malah tersenyum lagi seolah menikmati kepanikannya.
"Kakak sangat mencemaskanku. Yah.. ?" ujarnya dengan nada menggoda. "Kakak jangan khwatir. Aku bisa melindungimu tanpa bantuan orang lain. Lupa yah, Aku ini Spiderman?"
"Bintang.., Kakak tidak sedang becanda.." protes Nisa mulai kesal.
"Aku serius.. " Sambil mengangkat jarinya dan melingkarkan antara jempol dan telunjuknya meyakinkan dan menurunkannya kembali beralih memegang kedua lengan Nisa. "Aku tahu kenapa Kakak begitu mencemaskan aku? Itu karena Bintang kecilmu sangat manja dan selalu membutuhkan penjagaan Kakaknya tapi lihatlah aku sekarang.., Bintang Kecil sudah tumbuh besar yang sanggup menjaga Kakaknya. Bintangmu tidak takut mati atau apapun yang terjadi di dunia ini. Karena Bintangmu hanya takut pada dua hal saja. Takut pada Tuhan dan takut wanita yang dicintainya meninggalkannya."
Nisa terpaku haru mendengar pernyataannya tapi ia tak boleh terlena karena itu adalah sebuah pernyataan cinta.
Cinta itu terlalu rumit dan temboknya terlalu kokoh untuk sanggup di rubuhkan. Walau berusaha untuk merubuhkannya mungkin ia dan adiknya akan terluka lebih dulu sebelum berhasil dirubuhkan dan Nisa menghindari itu.
"Kakak mohon jangan bicara seperti itu.."
"Apa yang salah dengan kata-kataku? Coba aku tanya padamu." Memegangi kedua pundak wanita di depannya. "Apakah Kakak tidak pernah mencintaiku seperti layaknya aku mencintaimu? Katakan padaku, kalau Kakak hanya menganggap aku sebagai adikmu saja.., Aku mohon jawablah dengan jujur..."
Armanda tidak mendengar perempuan di depannya itu menjawab namun ia menyaksikan tiba-tiba tangisan perempuan di depannya pecah, sebagai tanda ia mengaku perasaannya. Segera Armanda mendekapnya dan ia mendengar perempuan itu berkata dalam pelukannya.
Armanda tersenyum puas melepas pelukannya dan berkata dengan penuh keyakinan.
"Jangan takut.., Aku akan melompatinya untuk sampai kepadamu."
"Bagaimana kalau terjatuh?" lirih Nisa.
"Aku akan bangkit. Tidak akan menyerah untuk berusaha meraihmu. Dan kalau aku kesulitan aku tahu Kakak akan menolongku. Untuk memegang kuat tanganku." Armanda meraih satu tangan Nisa dan menggenggapnya erat. "Kita harus terus bersama sampat maut memisahkan kita."
"Tidak. Kakak tidak mau berpisah. Kematianpun tidak boleh memisahkan kita. Kakak ingin hidup dan mati bersamamu."
Nisa meyakinkan diri mulai hari ini ia akan mengikuti pria ini, kemanapun tak ada yang sanggup memisahkan meskipun itu maut. Armanda tersenyum bahagia.
"Aku mencintaimu. Kak."
Nisa segera mendekapnya dan berkata,
"Aku juga mencintaimu." lirihnya menagis. "Bahkan terlalu mencintaimu..."
Armanda membalas pelukan itu lebih erat lagi. Rasanya ia puas dengan yang terjadi saat ini, kalimat yang ingin ia dengar dari mulut kakaknya sejak ia menyadari kalau ia sudah jatuh cinta pada perempuan ini.
Armanda melepaskan pelukannya ketika terdengar kekupingnya wanita dalam pelukannya itu mengaduh kesakitan.
"Kakak kenapa?"
Armanda tatapi wajah di hadapannya yang agak pucat dan nampak menyembunyikan sesuatu di dadanya itu bisa di lihat bagaimana ia memperkuat pegangan kain di dadanya seolah berusaha tidak ingin di ketahui orang lain.
"Tidak apa-apa cuma sedikit sakit. Tadi Kakak terjatuh." balas Nisa menyembunyikan luka goresan luka di dadanya akibat di dorong Melisa pagi tadi.
"Kakak. Terluka..?"
"Sedikit.."
__ADS_1
"Biar aku liat lukanya."
Nisa berbalik berusaha menyembunyikan. Armanda bergerak mengikuti dan berdiri di depan kakaknya.
"Apa Melisa menyakitimu."
Nisa terdiam tidak menjawab. Armanda merasa yakin ada luka di dada Nisa akibat ulah Melisa.
"Kakak biarkan aku melihatnya."
Armanda menumpukan tangannya di tangan Nisa yang sedang menahan erat kain spray di bagian dadanya. Tangan Nisa perlahan mengedur. Armanda berhasil membuka bagian dada perempuan di hadapannya.
Betapa sakitnya hati Armanda ketika ia melihat dengan kedua matanya ada goresan luka serpanjang lima senti di dada kiri kakaknya.
Nisa menangis bukan karena pria ini melihat bagian dadanya melainkan karena Nisa merasa untuk pertama kalinya ia merasa butuh pelindungan itu.
"Tidak apa-apa... Jangan menangis..."
Armanda berusaha untuk tersenyum meski sebenarnya saat ini kemarahannya sedang berada di posisi puncak pada Melisa. Wanita itu telah menyiksanya, ini buka kali pertama cerita delapan tahun lalu dan hal paling kejam pernah wanita itu lakukan pada kakaknya. Bagaimana ketika wanita itu mengurungnya bersama seorang laki-laki hidung belang delapan tahun lalu dan pria itu merenggut kehormatannya secara paksa.
Armanda memasukan jempol kiri tangannya ke mulutnya membasahinya dengan air liurnya lalu mengusapkannya pada luka di dada Nisa sepanjang lima senti.
"Ini akan baik-baik saja, Iya kan... ?" ucap Armada menenangkan sambil tersenyum sementara hatinya sangat sakit hingga rasanya ingin segera membunuh wanita bernama Melisa itu.
Tangan Armanda meraih gaun yang tergeletak di lantai dan menyodorkannya pada Nisa.
"Pakailah. Aku tidak akan melihat."
Armanda memutar badannya berbalik dari hadapan Nisa dan ketika ia berbalik lagi Nisa sudah memakai gaunnya.
Armanda menilai Gaunnya terlalu tipis memeperlihatkan sedikit bagian dalamnya tubuh kakaknya. Tak ada pilihan lain untuk menutupinya. Armanda membuka kaos bajunya dan memakaikannya ke tubuh Nisa hingga berhasil menutupinya, sementara ia sendiri membiarkan tubuhnya hanya memakai kaos dalam berwarna putih yang melekat bagus di tubuhnya yang kekar dan ramping.
Armanda menyodorkan telapak tangan kirinya pada perempuan di depannya sambil tersenyum tipis dan langsung mendapat sambutan dengan senyuman serupa.
"Kakak jangan takut.., Aku akan melindungimu."
Setelah menggandeng erat tangan Nisa, Armanda memulai langkahnya. Nisa cemas kemana adiknya akan membawanya?.
"Bintang.., kita akan kemana?" Tanya Nisa ketika pemuda ini membawanya keluar dari ruangan ini.
"Kakak jangan melepaskan tanganku. Saat ini juga aku akan membuat Melisa menyesal telah melakukan ini padamu..."
Nisa semakin cemas mendengar kalimat adiknya.
"Jangan lakukan itu.., Kakak mohon.."
Nisa cemas hal yang paling ia takutkan sepertinya akan terjadi. Pria ini akan membalas dendam seperti dugaannya dan yang Nisa cemaskan bagaimana kalau pria ini terluka sementara ia tahu bodigar Melisa tidak hanya satu tapi ada hampir sepuluh orang. Bagamana cara adiknya akan melawannya?
Pintu ruangan Melisa ditendang hingga menjeblak terbuka. Pengawal Melisa langsung bereaksi tanpa aba-aba bosnya. Perkelahian bagi Armanda adalah perkara biasa tekwondo, karate, judo dan tinju adalah sesuatu yang sudah ia pelajari sejak umurnya tiga belas tahun.
Satu persatu berhasil Armanda hajar meskipun tak luput Armanda juga terkena pukulan mereka tapi ia masih berusaha melindungi perempuan yang masih dipegangnya itu dengan sangat erat agar tidak tersentuh sedikitpun oleh mereka.
Nisa panik suasana menjadi kacau dengan teriakan-teriakan orang yang menyaksikan perkelahian ini. Armanda baku hantam setiap orang yang menyerangnya meski sedikit merasa kesulitan karena hanya menggunakan satu tangan tapi ia memiliki kedua kaki yang kuat sehingga berhasil membuat mereka lumpuh tak bergerak dan hal itu membuat Melisa panik dan melarikan diri.
Armanda melepaskan tangan kekasihnya untuk menangkap Melisa berusaha melawan tapi tiba-tiba terdengar suara senjata api.
Dor...rrrr.
Armanda tertembak di bagian pundak sebelah kirinya, setelah salah satu bodiguar Melisa yang tak berdaya berhasil mengangkat pistol tapi ketika orang itu mempelatukannya yang kedua Armanda menarik tubuh Anggraeni kedepan, dan peluru itupun tepat menembus dahi Melisa seketika tubuh Melisapun ambruk.
Armanda melompat ketika pistol itu beralih pada Nisa. ia dekap tubuhnya ia sembunyikan kepalanya ke dalam dadanya dan peluru terakhirpun menembus punggung Armanda.
Nisa merasakan getaran pada seluruh tubuhnya ketika ia melihat darah membasahi tangannya dan darah segar itu sudah mengucur deras di punggung kekasihnya.
"Tidak.., tidak..," suara Nisa hampir tak terdengar ketika menyaksikan tubuh adiknya lunglai tak bergerak dalam pelukannya.
Nisa menjatuhkan tubuhnya yang lesu duduk di lantai tanpa melepaskan pelukannya. Ia pandangi wajah adiknya yang tak bergerak. Nisapun menangis histeris.
__ADS_1