
Armanda melihat guratan kemarahan pada wajah pamannya saat ini yang sedang duduk di balik mejanya. Nayaka mulai bertanya setelah keponakannya duduk di depannya.
"Bisa kamu jelaskan tentang apa yang Paman lihat tadi.. ?"
Armanda meyakinkan diri kalau sudah saatnya pamannya tahu tentang hubungannya bersama Nisa saat ini. Tak ada lagi yang perlu disembunyikan, meski keterus terangannya akan menghasilkan masalah yang lebih rumit.
"Apa yang Paman lihat dan Paman dengar tadi semuanya benar. Aku mencintainya dan aku ingin menikah dengannya."
"Armanda!" protes Nayaka memukul meja. Kemarahannya dipicu karena keberaniannya mengungkapkan sesuatu yang memalukan dan sangat beresiko bagi dirinya sendiri, padahal Naya lebih berharap kalau keponakannya berbohong dengan begitu mungkin akan lebih aman bagi dirinya dan juga Nisa. "Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan..?" Menarik napas berusaha menenangkan diri. "Akan banyak masalah yang timbul karena ucapanmu dan omahmu tidak akan pernah membiarkan itu terjadi..."
"Aku akan menghadapinya. Jangankan hanya seorang Anggraeni meskipun seluruh dunia menentangku. Aku akan tetap menghadapinya..."
"Kamu tidak waras! Bukankah dia Kakakmu..?"
"Aku masih menganggapnya begitu."
"Lalu?"
"Tapi aku ingin lebih..."
"Kamu gila!" ucap Nayaka dengan nada tinggi. Karena menurutnya ini benar-benar sesuatu yang gila dan lebih gilanya lagi keponakannya seolah menantang dengan sesuatu yang bisa mengancamnya dari kegilaannya ini. "Kurasa kamu harus diperiksa ke psykiater..." ujarnya kesal.
"Menurutmu aku gila?" tersenyum mendengus. "Kalau begitu aku tidak membutuhkan Psykiater atau dokter untuk menyembuhkanku. Karena aku sangat menikmati kegilaanku ini, Paman." jawab Armanda tetap tenang sementara jawaban itu semakin membuat pamannya gusar.
"Armanda pikirkanlah..." Suara Nayaka mulai terdengar ketakutan karena merasa takut kegilaan keponakannya akan menghancurkan masa depannya. "Semua orang tahu kalau kamu adalah pemilik syah Akbar Group, dan mereka juga tahu kalau Queen Agung adalah anak angkat papamu. Kalau kalian menjalin hubungan lebih dari itu, apa pandangan mereka? Mungkin semua akan hancur. Kalau kamu tidak memikirkan keluargamu khususnya omahmu.., maka pikirkanlah masa depanmu!"
"Aku tidak peduli dengan orang lain. Masa depanku ada bersama Kakakku."
__ADS_1
"Jangan seperti papamu!" teriak Nayaka bangkit dari kursinya, tak bisa mengendalikan emosi menyaksikan ketenangan keponakannya yang seolah tidak takut apapun.
"Memangnya apa yang salah dari papaku?" Suara Armanda lebih keras emosinya mulai terpancing. Mengikuti pamannya berdiri. "Apa karena dia lebih memilih mamaku dari pada Anggraeni?"
"Jaga bicaramu!" protes Nayaka kesal karena mendengar keponakannya tidak sopan dalam memanggil omahnya sendiri.
"Kau pikir apa yang sudah didapat dengan selalu mengikutinya? Tidak lebih selain dijadikan boneka miliknya. Kau kaku dan terkendali. Aku muak melihatmu seperti itu!"
Nayaka membungkam ucapan keponakan seperti peluru kendali karena tak ada yang bisa dibantah, kenyataannya benar dirinya lebih mirip boneka kendali ibunya yang harus mengesampingkan perasaan dan berusaha hidup dengan tatakrama yang kaku dan membosankan yang menyisakan luka dan penderitaan.
Waktu berjalan cukup singkat. Anggraeni secara mendadak pulang pagi ini berhasil membuat Armanda dan Nisa terkejut dan tegang ketika menyaksikan perempuan itu sudah berdiri di pintu rumah ini.
Kedatangannya tiga hari lebih cepat dari yang direncanakan, padahal tadinya dua hari lagi Nisa akan segera meninggalkan rumah ini sebelum monster itu datang dan mengetahuinya kalau selama ini ia telah tinggal di rumahnya.
Armanda terpaku tak dapat bicara ketika wajah omahnya yang menurutnya menakutkan itu menatap Nisa, tak ada sepetah katapun yang keluar namun pandangannya nampak dingin dan marah? Nisa sendiri berusaha untuk tampil tenang sementara perasaannya sebenarnya jauh lebih kacau daripada adiknya.
"Bagaimana kalau besok saja? Aku memulai kuliahnya?" ujar Armanda tidak mau melepas tangan kakaknya karena merasa cemas meninggalkannya sementara ia tahu kalau saat ini omahnya sudah kembali dari jepang dan ia khawatir omahnya akan menyakiti kakaknya dan mengusirnya.
"Ayolah.., Bintang sudah banyak ketinggalan pelajaran.." Nisa memaksa, sebenarnya ia tahu adiknya saat ini sedang mencemaskannya.
"Tapi aku sangat mengkhawatirkanmu.." suaranya terdengar lesu tapi kemudian terpukau setelah mendapat sebuah ide yang menurutnya sanggup menyelamatkan kakaknya. "Atau begini saja Kakak antar aku kuliah. Kakak bisa menungguku di taman atau di kantin saat aku belajar. Bagaimana?"
"Bintang benar-benar mencemaskanku. Yah..?" ucapnya tersenyum dan ia melihat pria itu mengangguk murung. Nisa tersenyum lagi. "Sebenarnya Kakak ingin ikut bersamamu, Tapi..," terdiam sebentar, "Kakak harus menghadapi omahmu dulu.., coba Bintang bayangkan hanya karena Kakak ketahuan berada di sini, itu sudah membuat cemas, lalu bagaimana kelak kalau omahmu tahu tentang hubungan kita yang sebenarnya? Sepertinya Kakak harus mulai menghadapinya.., kalau Bintangku saja sanggup menghadapinya dengan menentang Naka maka Kakakpun seharusnya belajar untuk bisa menghadapi dan membuang rasa takut itu. Bagaimana apa Bintang mengerti maksud Kakak?" ungkap Nisa memberikan alasan yang ia sendiri bingung bagaimana harus menghadapi Anggraeni. Nisa memang tidak takut dengan wanita itu namun itu menjadi lain setelah hubungan terlarangnya dengan adiknya terjalin. Karena kalau sampai wanita itu tahu bukan dirinya yang ia pikirkan tapi Armanda apa yang akan dilakukan wanita itu pada Armanda, itu yang Nisa khawatirkan?
Nisa kembali masuk kedalam setelah berhasil memberi pemahaman pada adiknya hingga dia mau menurutinya untuk pergi kuliah. Perasaan Nisa tidak enak karena mungkin Anggraeni saat ini sedang menunggu penjelasannya kenapa dirinya ada di rumahnya saat ini? dan betapa terkejutnya Nisa ketika orang itu sudah berada di kamarnya. Perempuan tua itu mulai berkata,
"Saya banyak mendengar dari Naya, katanya kau sudah membantu Armanda memulihkan kondisinya? Saya pikir profesi ini jauh lebih cocok untukmu dari pada seorang pemimpin perusahaan. Benar kan?" kemudian tangan Anggraeni melempar amplop kearahnya, "ambilah. Itu cukup untuk gaji seorang perawat dan saya tidak perlu berhutang budi padamu."
__ADS_1
"Hutang budi?" dengus Nisa meremehkan mengingat kembali kejadian sepuluh tahun lalu saat di penjara di mana saat ini Anggraeni memberinya cek satu milyar untuk membayar hutang-hutangnya termasuk hutang budi karena telah mengurus Bintang kecilnya selama sepuluh tahun dan saat itu Nisa menolaknya dan sampai detik ini hutang lama itu saja masih belum dibayar. Nisa lebih suka selama hidupnya Anggraeni selalu merasa berhutang padanya dan satu milyar tidak cukup untuk menebus penderitaan yang ia alami saat itu.
Hari ini perempuan ini melemparinya uang untuk yang ketiga kalinya, dengan berkata tidak mau barhutang budi dan Nisa merasa perempuan ini sangat konyol menginngat dulupun ia masih belum sanggup membayarnya? Apa tidak ia bisa menarik kesimpulan saat dulu ditolak uang satu milyarnya? Bagi Nisa hutang budi tidak bisa dinilai apalagi diuangkan.
"Kau sudah mengulang tiga kesalahan yang sama Anggraeni, Apa kau lupa ini yang ketiga kalinya kau melempari uang seperti ini. Pertama..," mengangkat satu jari kelingkingnya. "Kau memberiku uang satu milyar sepuluh tahun lalu sebelum persidangan. Memintaku untuk menyerahkan Bintang Kecil dan saat itu aku menolaknya. Dan kedua..," mengangkat satu jari manisnya. "Kau memberiku uang satu milyar saat di penjara untuk membayar hutang-hutangmu padaku tapi saat itu akupun menolaknya. Dan.., mengangkat jari tengahnya. "Sekarang..," senyuman Nisa semakin meremehkan diiringi geleng-geleng kepala merendahkan. "Anggraeni.. Anggaeni..," menutup kembali ketiga jarinya. "Kau tahu apa artinya itu? Kau sudah mengulangi tiga kesalahan yang sama. Menurutku apabila seseorang melakukan kesalahan pertama itu adalah manusiawi tapi apabila kesalahan yang sama diulang untuk yang kedua kalinya berarti orang itu bodoh. Lalu, menurutmu sebutan apa yang pantas untuk seseorang yang melakukan kesalahan sampai ketiga kalinya. Apa kau tahu Anggraeni..?" senyum Nisa puas meyaksikan kebisuan wanita di depannya itu nampak terlihat sekali urat wajahnya memerah. "Kau benar-benar bodoh. Aku beri tahu.., Aku akan selalu menolaknya karena hutang budi tidak dapat di uangkan. Nyawamu saja tidak akan pernah cukup membayar seluruh hutang-hutangmu padaku, Apa lagi hutang budi? Aku akan terus membiarkan sepanjang hidupmu akan terus berhutang padaku. Sampai matipun kau tidak akan mampu membayarnya."
Anggraeni selalu merasa lemah di hadapannya. Menurutnya wanita ini terlalu pintar ia selalu memiliki kata-kata tajam untuk memancing emosinya.
"Keluar dari rumahku." Perintah Anggraeni tidak sanggup membalas kata-katanya.
Nisa tersenyum puas menyaksihan kekesalan pada wajah Anggeaeni lalu segera angkat kaki dari kamar ini setelah membereskan semua barang miliknya dan memasukannya kedalam koper. Nisa berpapasan dengan Naya ketika menuruni tangga. Pria yang sepuluh tahun lalu pernah jadi pacarnya itu berkata,
"Ibuku masih belum tahu apa-apa. Setidaknya untuk saat ini. Tapi aku mohon sebelum itu terjadi, pikirkanlah Nisa.., jangan mengubah apapun karena itu justru hanya akan semakin memperdalam jurang yang sudah ada."
Nisa meneruskan langkahnya untuk keluar dari rumah ini tak ada sepetah katapun yang ia keluarkan untuk memprotes ucapan Naya karena dalam hati ia membenarkan hubungan yang ia jalin bersama adiknya saat ini bukan sesuatu yang lumrah dan sederhana.
Armanda panik ketika pulang kuliah ia tidak menemukan kakaknya di rumah ini. Di kamarnya ia menemukan amplop berisi uang. Dari amplop itu Armanda sudah bisa menebak kalau kekhawatirannya tadi pagi benar omahnya akan melakukan sesuatu pada kakaknya. Segera ia melesat menaiki mobilnya dan meminta supir pribadi rumah ini meluncurkan mobilnya dengan cepat menuju Akbar Group.
Armanda menjeblak pintu ruangan kantor omahnya yang kini sudah mengisi ruangan yang dulu ditempati Queen Agung. nampak ia sedang duduk di kursinya.
"Katakan apa yang sudah Omah lakukan pada kakakku...?" Teriak Armanda keras. "Kenapa kakak bisa pergi? Omah mengusirkan?" Lalu melempar uang ini kemeja di hadapan omahnya dan berkata, "dan uang itu. Apa artinya uang itu? Aku menemukannya di kamar kakakku."
Cukup banyak pertanyaan yang dilemparkan Armanda pada omahnya. Anggraeni tetap berusaha tenang karena ia tahu cucunya ini akan datang. Seolah ia sudah menyiapkan jawaban dari setiap pertanyaannya, dengan tenang tanpa bangkit dari tempat duduknya Anggraeni menjawab,
"Omah tidak mengusirnya. Hanya saja Omah tidak suka dia terlalu lama di rumahku. Lagipula kamu sudah sembuh Omah pikir kamu tidak membutuhkan perawatannya lagi. Dan uang ini..," sambil mengambil amplop di depannya, "Kurasa ini lebih dari cukup sebagai gaji perawat yang sudah mengurus pasiennya..."
"Keterlaluan!" Suara Armanda ditekankan. Ia merasa marah mendengan pengakuan omahnya yang kembali mulai meremehkan kakaknya. "Seharusnya Omah malu padanya. Kau tidak bisa duduk di kursi itu kalau bukan karena kakakku? Baiklah. Kalau ini mau Omah. Aku tidak akan membuat Omah meremehkan kak Nisa lagi. Karena hari ini..," tersenyum gusar. "Aku akan mencarinya dan kupastikan seluruh harta dan Akbar Group yang dia berikan padaku. Hari ini aku akan mengembalikannya. Dan ku pastikan juga dia kembali ke perusahaan ini dan Omah akan tersingkir..." Tegasnya berhasil mengubah mimik muka Anggraeni yang tenang berubah gusar.
__ADS_1