Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
RIDWAN AGUNG


__ADS_3

RIDWAN AGUNG yang saat ini jadi Patner bisnis perusahaan Akbar group menyaksikan sesuatu yang mengerikan pada diri Queen Agung ketika ia melihatnya berbicara langsung dengan Anggraeni melalui telepon.


Jemari tangan kanannya nampak mengepal kuat hingga pencil yang dipegangnya patah. Tatapannya aneh, dingin serta nyalang seolah sedang membayangkan masa lalunya yang pahit dan panjang.


"Baiklah untuk kali ini saya tidak akan menolak undangan Anda, tapi saya harap Anda bisa lebih sabar menunggu saya karna perlu Anda ketahui saya tidak memilki banyak waktu untuk hal-hal yang kurang penting."


Bisa dibayangkan wajah Anggraeni saat ini ketika mendengar langsung kalimat Queen yang angkuh? Sudah cukup menyimpulkan sosok Queen Agung yang dominan dan superior. Namun Ridwan  mewajarkan sikap Queen sebagai orang yang terluka.


"Sejak mereka kembali kamu sengaja berpetak umpat, kurasa kamu sudah berhasil membuatnya sangat penasaran padamu." ujar Ridwan Agung setelah Queen menutup telponnya.


"Kurasa begitu." Senyum Queen menang. "Jadi pertemuannya denganku malam ini, mereka akan tahu siapa sebenarnya yang sedang mereka hadapi?"


"Kamu yakin akan bertemu Anggraeni malam ini?"


Sorot mata Queen yang tadi berapi-api seketika berubah lesu ketika dilempari pertanyaan demikian. Sementara Ridwan Agung sengaja melemparkan pertanyaan itu karna ia tidak merasa yakin kalau Queen siap melihat lagi perempuan dari masalalunya itu.


Delapan tahun ia mengenal perempuan cantik ini, menurutnya Queen memang sosok yang kuat dan hebat dalam mengendalikan perusahaan tapi ia selalu kalah dalam mengendalikan perasaannya.


Queen membutuhkan waktu banyak untuk persiapan bertemu mereka kembali, itu sebabnya selama ini ia berusaha berpetak umpat karna menurutnya bertemu mereka kembali artinya mengoyak luka sepuluh tahun lalu yang masih belum juga kering, dan Queen akan terluka lagi karna dengan melihat mereka akan membawanya pada masa-masa tersulit yang harus ia jalani.


"Aku hanya butuh persiapan diri saja."


Queen berusaha mengenyahkan keraguannya karna di hatinya yang paling dalam, ia merasa takut karena dengan melihat mereka kembali segala emosi di masa lalu tak dapat ia kendalikan.

__ADS_1


Untuk persiapan malam ini Queen pulang lebih awal, namun ia memberhentikan mobilnya ketika melihat sebuah perkelahian di dekat Bundaran Hotel Indonesia.


Nampak sebuah perkelahian remaja. Seseorang dikeroyok oleh sekumpulan gank motor. Polisi nampak mengamankan mereka salah satu dari yang diamankan  nampak seorang pemuda tampan berambut panjang bercucuran darah di pelipisnya.


Perasaan Queen merasa sedih ketika melihat pemuda itu. Pemuda itu tidak terlihat kesakitan seolah itu hal biasa baginya, ia hanya nampak mengusap darahnya dengan jempol tangannya yang sudah ia jilati kemulutnya hal itu mengingatkan pada adiknya dulu.


Tak terasa Queen menitikan air matanya ketika meyaksikan pemuda itu, ntahlah kenapa bisa Queen yang dingin hatinya untuk orang lain tiba-tiba merasa sakit hatinya melihat pemuda itu.


Bintang kecil selalu menjilati setiap ia terluka pada bagian tubuhnya, si kecil menirunya hanya karna Nisa mengatakan padanya kalau air ludah bisa menyembuhkan luka, itulah yang melukai hati Queen saat ini.


Tapi, wajah pemuda itu mengingatkannya pada seseorang? Wajah yang tampan dengan bola mata tajam dan ekpresip. Dan bola mata itu mengingatkannya pada seseorang tapi entah siapa?


Queen terus berpikir namun pikirannya berhenti ketika lelaki yang duduk bersebelahan dengannya berkomentar yang menambah kacau perasaannya.


"Kasihan sekali pemuda itu?" ujar Ridwan Agung tampa beralih wajahnya memandang pemuda yang penuh luka pada tubuhnya itu.


"Mutiara mengingatkanku pada Bintangku, dia sangat manis aku sangat menyukai putrimu." Menatap kembali pemuda yang tengah digiring polisi menuju mobil.


Saat perasaannya kacau Queen meneruskan kalimatnya tadi dengan menatap penuh harap lelaki di sebelahnya. "Semoga adikku selalu mendapat perhatian dan bimbingan yang baik di sana," ujarnya penuh harap. "Saat kecil Bintang Kecil anak yang baik dan manis, aku yakin Bintang kecilku akan baik-baik di sana. Iyakan?" Queen berusaha menenangkan hati tentang rasa takutnya kejadian yang menimpah pemuda itu akan terjadi juga pada adiknya di belahan dunia sana.


Sudah sepuluh tahun adiknya hidup tanpa perhatian dan bimbingannya Queen merasa mulai takut kalau nasib adiknya akan sama seperti kelompok pemuda itu. Perasaannya kali ini membuatnya sesak, sedemikian ia yakinkan diri kalau itu tidak akan terjadi tapi rasa takut berhasil menggeroti perasaan Queen.


TIDAK MUNGKIN!!!  teriak Queen dalam hati berusaha mencegah pikiran itu datang, adiknya tidak mungkin seperti kelompok pemuda itu. Itu sangat mengerikan. Adiknya sangat manis ia pasti akan tumbuh dengan baik, keluarga Akbar akan menjaganya dengan baik penuh kasih sayang seperti yang ia lakukan dulu. Queen terus bermonolog, sampai ia merasa yakin dalam hatinya kalau saat ini Bintang kecil sudah tumbuh besar, tumbuh menjadi pemuda yang sangat baik, memiliki aturan dan sudah masuk Universitas terkenal di luar sana.

__ADS_1


Dengan balutan busana yang cantik dan elegan berwarna dasar hitam dipadu dengan sepatu hak tinggi berwarna senada, Queen keluar dari dalam mobil mewahnya bersama Ridwan Agung. Setelah melihat perkelahian tadi di depan matanya membuat Queen ingin melupakan kejadian tadi dengan menyinggahi kafe favoritnya.


Ketika seorang Queen berjalan ia bak super model yang sedang berjalan anggun memamerkan hasil rancangan desainer ternama.


Queen memiliki gaun-gaun cantik serta busana kerja yang modern serta indah dipandang mata, semua yang ia kenakan tidak dimiliki orang lain itu karna Queen kadang-kadang ia ikut mendesain busananya sendiri karna kepandaiannya menggambar.


Reflek Queen hampir terjatuh mundur ke belakang, ketika sampai di pintu masuk kafe secara tak sengaja ia bertubrukan dengan seseorang yang berjalan di depannya. Dalam sekejap kedua tangan orang itu sudah melingkar di kedua pinggangnya seolah menahannya untuk tidak jatuh. Namun..


Queen terpaku menatapi wajah yang berada di hadapannya itu, wajahnya tampan apik dan clasik tampa noda, wajah yang pernah hadir di masa lalunya. Yah.., inilah wajah itu? Wajah tampan  rupawan yang tak akan mungkin ia lupakan, wajah yang ramah dan selalu tersenyum kepadanya.


Itu topeng karna dari balik segala kebaikannya sosok malaikat, Queen pernah menemukan hal yang sangat buruk darinya, pria ini mencampakannya saat ia membutuhkannya, pria ini membiarkannya masuk tahanan padahal ia tak bersalah, pria ini yang membawa pergi Bintang Kecil ke bandara tanpa menghiraukan panggilannya. Yah.., pria ini, saat melihatnya lagi kebencian Queen menjulang tak terkendali.


Buru-buru Queen melepaskan diri dari pria itu dan berusaha melarikan wajahnya sebelum pria ini mengenalinya, ini bukan saat yang tepat, tapi nanti malam ia butuh persiapan ektra untuk bisa bertemu kembali dengan ******** ini.


Nayaka Akbar menyipit menyelidik menyaksikan perempuan cantik di depannya,  perempuan itu nampak aneh ia berusaha menyembunyikan wajahnya tapi walau sebentar Nayaka sempat melihat wajahnya dengan jelas, wajahnya cantik, kedua matanya teduh dan anggun hidungnya mancung dan kecil bibirnya mungil dan seksi dan saat ia ingat, Ya Tuhan! Bukankah dia..?


"Nisa.. ?"


Suara Nayaka hanya didengar oleh kupingnya sendiri sementara ia melihat perempuan itu buru-buru pergi memasuki kafe.


Naya memasuki kembali kafe itu untuk meyakinkan diri tentang apa yang dilihatnya, Nayaka memutar matanya mencari perempuan itu dan ia melihatnya perempuan itu nampak sudah duduk bersama seorang lelaki yang tadi bersamanya.


Nayaka mendekatinya untuk meyakinkan, tapi saat ia sudah berdiri di depannya, Nayaka jadi terpaku bisu, ia merasa sulit berkata-kata.

__ADS_1


Wajahnya sangat cantik, dengan polesan mikup yang dibuat anggun namun terlihat exotis, rambutnya panjang seperti anak panah, tubuhnya ramping di balut dengan busana yang cantik yang melekat indah di tubuhnya.


Wanita yang ia lihat saat ini nampak seperti sebuah maha karya seni yang paling sempurna, cantik dari sudut manapun dan enak untuk terus di pandangi. Tapi.. benarkah ini Nisa perempuan manis yang selama sepuluh tahun ini tidak tergantikan di hati dan jiwa Naya?.


__ADS_2