Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
MALAIKAT PELINDUNG


__ADS_3

Malam  ini Armanda berdiri di balkon Apatemen kakaknya, ia menatapi  balkon sebelah milik Mutiara mengingat kembali saat malam ulang tahunnya ia berdiri di balkon itu sambil berharap ia bisa kembali bertemu Kakaknya, dan ternyata saat itu juga Tuhan langsung mengabulkan harapanyanya. Di balkon di mana saat ini ia berdiri, saat itu muncul sosok cantik yang membuatnya terpesona dan siapa sangka kalau perempuan itu adalah kakaknya yang selama ini sangat ia rindukan.


"Memikirkan sesuatu?"


Armanda menoleh berbalik kearah suara lembut kakaknya yang kini sudah berdiri di sampingnya menggunakan gaun malam berwarna merah.


"Aku sedang berpikir seandainya malam itu aku tahu kalau yang berdiri di sini itu adalah Kakak.., pasti kita bertemu lebih awal."


"Bintang benar. Coba saja saat itu Kakak memaksakan diri untuk masuk ke dalam apartemen Mutiara untuk menukar kue pesanan Kakak yang tertukar dengan Mutiara, pasti kita akan bertemu saat itu juga."


"Maksud Kakak?" Mengingat kembali kue ulang tahun saat itu yang diberikan Mutiara untuknya. Kue tart berbentuk Bintang kecil yang berhasil membuatnya terharu. "Jadi itu kue milik Kakak?" Armanda kaget dan ia melihat perempuan di sampingnya itu menggangguk. "Dasar ginsul dua padahal aku sempat terharu kupikir dia yang memesannya."


"Ginsul dua?" Nisa mengulang. "Memanggilnya seperti itu apa dia tidak marah?"


"Kalau dia marah dia akan memukulku, Kak. Dia itu seperti laki-laki. Lihat saja sama Kakak mana ada perempuan dengan buah dada rata seperti itu..." ejeknya menyeringai lucu dan Nisa membalasnya dengan tertawa kecil.


"Kita masuk, yuk. Di luar dingin." ajak Nisa memegang tangan adiknya.


"Sebentar lagi, Kak..." Menatap wajah Nisa lembut.  "Aku sedang menunggu sesuatu..." Beralih memandang langit yang biru pekat berawan hitam dan belum satu Bintangpun muncul malam ini. "Seseorang bilang padaku kalau Bintang pertama itu muncul dia adalah peri penjagaku. Katanya kalau aku merindukan peri penjagaku aku harus menunggunya."


Nisa tersenyum haru kalimat yang barusan ia dengar adalah kalimat yang dulu ia ucapkan.


"Suka melakukannya?"


Armanda menatap wajah kakaknya sendu.


"Setiap malam aku selalu menunggumu, Kak..."


"Sekarang Kakak bersamamu..."


Armanda mengingat kembali hari-hari yang rapuh ia jalani tanpa Nisa di sampingnya dan itu mimpi buruk yang ia jalani selama sepuluh tahun dan saat ini mimpi buruk itu telah berakhir dan Armanda tak akan lagi membiarkan Bintang pertama itu  pergi lagi.


"Kumohon jangan hilang lagi. Jangan jadi Bintang pertamaku lagi. Kembalilah seperti dulu jadi malaikat pelindungku lagi, dengan begitu Kakak akan selalu di sampingku. Tidak meninggalkanku lagi. Kakak mau kan?"


Nisa tersenyum pahit ia terharu dengan kalimatnya sekaligus juga sangat sedih karna ia mendengar itu bukan sekedar permintaan tapi nampak seperti sebuah ketakutan. Ketakutan setelah pertemuan ini akan terjadi lagi perpisahan dan Nisa akan berusaha mencegah itu terjadi, ia berjanji dalam hati mulai saat ini ia akan selalu berdiri di sampingnya, sepuluh tahun yang hilang sudah cukup bagaimana ia sengsaranya hidup tanpa adiknya.


Nisa mengangguk menggantikan jawaban yang seharusnya keluar dari mulutnya dan pria tampan ini tersenyum lega.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan mengucapkan selamat tinggal padanya." Menatap lagi kelangit berwarna biru hitam. "Itu dia, Kak." jari Armanda menunjuk ketika bintang pertama yang sejak tadi ia tunggu muncul. Dan kembali menurunkan tangannya. Armanda menatap Nisa lembut. "Kakak, boleh aku berteriak?"


"Apa harus berteriak?" balas Nisa terpukau.


"Tentu saja. Seseorang mengajarkanku kalau aku merasa sedih.., senang.. atau memiliki uneg-uneg terpendam, harus dikeluarkan dengan cara berteriak."


Nisa tersenyum lagi karena kalimat itu juga adalah bagian dari kata-katanya.


"Itupun Bintang masih ingat."


"Semua yang Kakak ajarkan dulu semua masih ingat." Menatap lagi wajah Nisa. "Termasuk keharusan kita mencintai Tuhan. Mungkin Kakak tidak akan percaya? Kakak tau, meskipun banyak orang mengatakan aku ini bar-bar, badung, liar, tapi.., banyak yang tidak tahu kalau sebenarnya aku ini..." Berbisik ke kuping Nisa. "Lumayan taat." Senyumnya bangga.


"Iya. Kakak pernah mendengarnya."


Nisa sempat mendengar mengenai sisi positif sosok Armanda. Dikenal sebagai pemuda yang cukup Agamis, meski tinggal di luar negeri yang penduduk negerinya mayoritas non muslim tapi pemuda ini kabarnya tak pernah meninggalkan sholat bahkan dia puasa di bulan Ramadhan meski waktu puasa di sana lebih panjang, itu emang kewajiban setiap muslim di seluruh dunia, setiap orang yang mengaku muslim wajib melakukannya meski penjahat sekalipun. Hanya saja Nisa sudah tidak sependapat lagi dengan hal itu, kepercayaannya pudar ntah sejak kapan.


"Katanya mau berteriak?" Nisa mengingatkan. Mengalihkan pikirannya tentang Tuhan. Yang ia yakini Tuhan itu tidak ada.


"Yakin tidak akan bermasalah?" Menatap sekeliling.


"Kakak, rasa tidak. Semua orang pasti sudah tidur."


"Baiklah. Kalau begitu aku akan memulai." pokus menatap bintang pertama yang muncul.  "Hei...!" Armanda menyahut bintang pertama itu dengan berteriak . "Kamu dengar aku... Mulai sekarang aku tidak akan menunggumu lagi... Aku tidak memerlukanmu lagi.... Karena aku sudah menemukan malaikat pelindungku..., Kamu mengerti....! Selamat tinggal...!"


Sepatu tiba-tiba meluncur ke arahnya berhasil mengagetkan mereka. Sepatu skat itu milik si ginsul dua sepertinya dia terganggu dengan suaranya.


Armanda dan Nisa hanya tertawa-tawa mendapat serangan itu sambil berlari masuk ke dalam dan tawa keduanya terhenti ketika sadar mereka sudah berbaring di dalam ranjang yang sama.


Nisa menatap wajah adiknya yang terbaring di sampingnya.


"Harus menunggu sepuluh tahun baru Kakak bisa tidur lagi bersamamu."


Armanda terpaku menatapi tempat tidur di kamar ini. Ia tidak berpikiran kalau kakaknya akan mengajaknya tidur di kamarnya dengan satu tempat tidur, ternyata kakaknya benar-benar lupa kalau dirinya saat ini bukan lagi anak kecil yang saat kecil suka tidur dalam pelukannya.


Armanda bangkit dari ranjangnya. Sebenarnya ia tidak ingin menolak tapi saat ini kalau dilakukan akan terasa canggung dan aneh pikir Armanda dalam hati.


"Kakak... Aku tidur di sopa saja."

__ADS_1


"Kenapa?" balas Nisa mengubah posisinya menjadi duduk.


"Maksudku..."


Suara Armanda terhenti menurun karna tidak berhasil menemukan alasan bagus untuk menolaknya, tidak mungkin kalau harus mengatakan sekarang ini aku adalah pria dewasa dan kakak seorang wanita, coba apa yang akan terjadi kalau kita tidur bersama?


Dasar kwalat, pantas nih kalau dikutuk. Kenapa bisa berpikiran mesum seperti itu... Armanda bermonolog memurkai diri dalam hati.


Nisa membalas kebingungan adiknya dengan tersenyum menghilangkan rasa kecewanya, berusaha memakluminya bagaimanapun waktu sepuluh tahun adalah jangka yang panjang untuk membuatnya menjadi canggung, meskipun dulu Bintang Kecil hanya akan tidur jika Nisa memeluknya.


"Baiklah. Tidak apa apa..." ucap Nisa lembut.


Armanda keluar dari kamar kakaknya dan membaringkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan ini dan kemudian Nisa muncul membawakan bantal dan selimut. Dengan kedua tangannya Nisa memasangkan bantal di kepala adiknya yang sudah berbaring dan menyelimuti tubuhnya. Lalu Nisa duduk menempel di sisinya sambil menyingkapkan rambut di keningnya, Nisa melihat luka lain lagi di keningnya yang tadi tertutup rambut. Ini bekas goresan luka yang sudah lama yang menyisakan noda. Saat melihat luka itu Nisa merasakan ada jarum kecil menusuk tepat di hatinya, rasanya pedih sekali.


"Kakak akan menemanimu sampai kau tertidur..." ucap Nisa menyembunyikan rasa sakitnya ketika milihat semua luka pada wajah adiknya.


"Kakak.., malam ini aku benar-benar bahagia. Aku tidak merasa sepi lagi. Jangan pernah tinggalkan aku lagi. Yah, Kak..."


Tergoreslah hati Nisa dengan kalimat yang adiknya sampaikan barusan, karena itu mengingatkannya akan penderitaan selama sepuluh tahun yang ia jalani, ungkapannya adalah pengakuan kalau selama sepuluh tahun ini adiknya hidup dalam kesepian mungkin kenakalannya saat itu adalah obat baginya untuk mengatasi rasa kesepiannya.


"Tidak.., tentu saja tidak.., Kakak tidak akan meninggalkanmu lagi. Selamanya Kakak akan menemanimu. Kakak janji."


"Demi Tuhan, yah, Kak..."


Nisa mengangguk untuk menenangkannya meskipun sebenarnya sudah tak ada lagi ruang Tuhan di hatinya.


"Demi langit dan bumi dan demi rasa cinta kakak pada papah dan mamah dan yang utama demi rasa sayang kakak padamu. Kakak janji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." lirih Nisa sambil mengusap pipinya. Dan ia melihat adiknya tersenyum tenang. "Sekarang tidurlah, Sayang.., Kakak akan menunggumu sampai Bintang tertidur. Mau Kakak nyanyikan lagu seperti dulu?"


"Tidak." Armanda tersenyum lucu karna ternyata kakaknya masih menganggapnya anak kecil. "Cukup pegang saja tanganku seperti ini." Meraih jemari kakaknya menggenggamnya erat. "Aku pasti akan tertidur."


Tak berapa Armanda menutup kedua matanya pelan-pelan. Saat seperti inilah Nisa mulai menilai kembali wajah adiknya, Wajah yang sangat tampan namun sedikit tergores, bekas luka lama di bagian alis kirinya membuktikan selama ini ia hidup bar-bar, rambutnya yang gondrong dan acak acakan seolah membantahkan kalau dirinya seorang Akbar, Nisa menangis pedih saat mengingat kembali sebutan keluarga Akbar yang terakhir gagal melekat pada dirinya terlebih lagi  pengakuannya akan penderitaanya selama sepuluh tahun ini seolah menyeret Nisa sebagai tersangka yang menjadikan adiknya sebagai korban.


Nisa tidak akan merasa tenang selama Anggraeni masih hidup, kapanpun wanita tua itu bisa merampasnya lagi seperti dulu kecuali ia harus membuat kesepakatan.


Nisa perlahan melepaskan jemarinya dari tangan adiknya dan melesat ke kamar ia buka brangkas yang isinya surat-surat berharga salah satunya adalah surat kepemilikan Akbar Group. Menurutnya ini bisa di jadikan sebuah kesepakatan yang sanggup membuat adiknya kembali padanya sesuai apa yang di inginkan ayah angkatnya tanpa harus di ganggu gugat bagaimanapun seperti apa kata Nayaka, Akbar Group adalah napas bagi seorang Anggraeni.


Nisa keluar dari Apartement meninggalkan adiknya yang sedang tertidur lelap dan menguncinya dari luar dan bergegas menggunakan mobilnya menuju kediaman keluarga Anggraeni Akbar.

__ADS_1


__ADS_2