Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Nisa Dan Nayaka


__ADS_3

Nisa dan Nayaka mengejar Armanda yang berlari menuju kolam renang setelah mereka tahu kalau Armanda  hendak menghampiri Mutiara, dalam keadaan kacau mereka khawatir akan membuatnya menyakiti Mutiara.


Armanda berdiri lesu sekitar dua meter di depan Mutiara. Air matanya tiba-tiba menitik ketika menyaksikan Mutiara dari dekat, tak pernah sedikitpun Armanda membayangkan gadis periang ini akan duduk di kursi roda dengan keadaannya sangat memilukan seperti ini, tatapan gadis itu nampak kosong, kepalanya lesu dan miring tubuhnya lemah tak bergerak hanya matanya yang sesekali berkedip, antara sedih dan marah bercampur di hati Armanda namun jika ini yang membuat istrinya meninggalkannya Armanda tetap tidak akan membiarkan ini terjadi.


"Kenapa bisa begini..?" Tangis Armanda lesu.


Nayaka lega menyaksikan reaksi keponakannya yang mencair saat melihat Mutiara. Tapi tentu saja siapapun akan bersikap sama jika dihadapkan dengan seseorang dengan kondisi menkhawatirkan seperti itu.


"Dua hari setelah pesta itu. Mutiara stres berat." Ungkap Nayaka mulai memberitahukan kejadian yang menimpa Mutiara tiga bulan lalu. "Dia menabrakan mobilnya pada mobil kontener yang berjalan cepat di hadapannya. Lebih dari dua bulan dia sempat koma." Tuturnya dan ia melihat keponakannya menangis. Kembali meneruskan, "baru sebulan lalu ia bisa bangun. Namun seperti yang kamu lihat keadaannya seperti ini. Dokter bilang hanya cinta orang terdekatlah yang bisa memotipasinya untuk hidup. Dalam hal ini kamu harus mengerti. Di dunia ini hanya kamu dan Nisalah yang mungkin akan sanggup menyembuhkannya."


Tangis Armanda memecah mendengar penjelasan itu, rasa bersalah menyeruak di hatinya tapi sekaligus ia merasa sangat marah karena itu menyulitkannya.


"Ada begitu banyak pria di dunia ini tapi kenapa harus aku?" Tangisnya getir sambil berjalan gontai mendekat membungkukan tubuhnya, dengan kedua tangan memegangi tangan kursi roda, kembali meneruskan kalimatnya. "Aku membencimu." Suara Armanda diperkeras ia menghujatnya karena merasa kasihan padanya dan juga marah. "Bangunlah! Cepat bangunlah! Kubilang bangun!" Teriaknya sambil menggerak-gerakan kursi rodanya dengan kencang hingga tubuh Mutiara bergoyang-goyang tak karuan.


Nisa khawatir kalau reaksi Armanda saat ini akan menyakiti Mutiara. Ia mendekat untuk menolong tapi tangan Nayaka mencegahnya.

__ADS_1


"Bintang bisa menyakitinya..." ujar Nisa pada Nayaka yg menahan gerakannya.


"Jangan khuatir. Armanda hanya sedang meluapkan rasa bersalahnya." balas Nayaka menatap Nisa.


Menurut Nayaka yang dikeluarkan keponakannya adalah luapan  kekesalan dan rasa bersalahnya mamun Nisa khawatir hal itu akan menyakiti Mutiara sementara Armanda semakin putus asa walau sudah berusaha ia menggerak-gerakan tubuh sahabatnya itu dan berteriak-teriak dengan keras, tubuh gadis itu tetap lemah tak bergerak tatapannya hampa dan kosong seperti mayat hidup.


"Aku mohon sadarlah." Tangis Armanda semakin kencang dan panik. "Kamu harus tahu cintamu menyusahkanku!" Teriaknya lebih kencang. "Jangan seperti ini bangunlah! Kalau kau seperti ini bagaimana denganku.., kau tahu, aku tidak mau berpisah dengan kakak.., jadi kau harus bangun..." Tangis Armanda mulai lemah karena putus asa, dalam sekejap berubah jadi tawaan ringan dan sakit. "Aku tahu kamu sedang pura-pura, benarkan?" ujarnya berharap ini memang pura-pura dengan begitu Armanda tidak tersiksa seperti ini. "Cepat bangun. Bodoh!" Suara Armanda kembali mengencang. "Kubilang bangun...!" Sambil mendorong kursi roda itu hingga tubuh Mutiara meluncur masuk ke dalam air bersama rodanya.


Nisa dan Nayaka terkejut ketika menyaksikan Armanda mendorong gadis itu masuk ke dalam air dan bergerak-gerak sementara mereka menyaksikan Armanda berteriak-teriak seperti orang gila.


Armanda terpaku lemas ketika melihat pelan-pelan tubuh itu turun dan menghilang. Nisa panik ketika melihat tubuh itu tenggelam dan hilang dari pandangan segera Nisa meminta pertolongan pada Nayaka supaya mau menolong Mutiara.


"Cepat tolong dia Naka. Kau harus menolong Mutiara. Mutiara bisa mati...!" Teriak panik Nisa pada pria di sebelahnya.


Nayaka menatap Armanda dan menurutnya sekarang waktu yang tepat membuat Armanda untuk memutuskan hidupnya sendiri.

__ADS_1


"Sekarang keputusan ada padamu apa kamu akan berdiri seperti itu? Apa kamu tega membiarkan dia mati? Ingat sebelum Nisa kembali, Mutiara adalah orang yang paling dekat denganmu, banyak hal yang sudah ia korbankan untukmu, tapi sekarang kau akan membiarkan dia mati di tanganmu. Apa kamu mau diliputi rasa bersalah seumur hidupmu? Sekarang keputusan ada di tanganmu, Nisa atau Mutiara?"


Ini genting Nisa tak bisa membiarkan nyawa Mutiara melayang karena menunggu Armanda berpikir, akibatnya justru akan lebih buruk kalau Mutiara meninggal berarti Armanda akan di tuduh sebagai pembunuh. Nisa menepis cengkraman Nayaka. Ia akan melompat untuk menolongnya meskipun Nisa sadar dirinya tidak bisa berenang, tapi Nisa tidak akan membiarkan itu terjadi, Mutiara adalah adik kedua setelah Bintang Kecil, Nisa harus menyelamatkan Mutiara dari kematian sekaligus memyelamatkan kekasihnya karena kalau sampai Mutiara meninggal Armanda bisa di cap sebagai pembunuh.


Nisa melesat ke bibir kolam, namun ketika hendak melompat tangan Armanda menariknya dari belakang hingga tubuh keduanya memutar balik. Dan ketika Nisa sadar posisinya sudah berbalik dan sekarang justru Armandalah yang berdiri di ujung kolam dengan posisi membelakangi kolam renang, wajah menatap ke arah Nisa dan memegang tangan Nisa.


Armanda menatap wajah istrinya dengan tatapan tidak berdaya. Setitik air mata menetes untuk Nisa beriring dengan senyuman yang senantiasa selalu lembut. Armanda tidak akan membiarkan orang dicintainya melompat sementara ia tahu kekasihnya tidak bisa berenang.


"Aku tidak akan membiarkan Mutiara mati. Tapi aku lebih tidak ingin melihatmu tenggelam." ucap Armanda lalu melepaskan tangannya dari tangan Nisa. Armandapun terjatuh ke air kolam dengan punggung lebih dulu.


Armanda berhasil menolong tubuh Mutiara naik ke atas, membaringkannya di bibir kolam kemudian dengan kedua tangannya ia menggembus-gembuskan dadanya, dalam sekejap mukjijat datang, Mutiara sadar, tubuhnya bisa bergerak bangkit memeluk Armanda dan menangis sambil berucap,


"Boy..., Aku tahu kau pasti kembali.., jangan tinggalkan aku lagi. Aku takut sendirian..."


Ini permulaan yang baik, Mutiara telah benar-benar sadar dan Armanda memang harus kembali kepadanya itu juga yang diinginkan Nisa tapi kenapa saat melihat Armanda membalas pelukan Mutiara, Nisa merasa seperti ada pisau belati yang menikam jantungnya.

__ADS_1


__ADS_2