Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Sesuatu Terjadi di hati Nisa


__ADS_3

Ketika ia terbangun dari tidurnya pagi ini. Armanda tidak menemukan kakaknya di sampingnya namun ia mendengar obrolan kakaknya dengan seseorang? Sepertinya itu suara yang sangat ia kenal?


Armanda bangun walau sebenarnya tubuhnya masih malas untuk bergerak. Namun ketika ia menekan gagang pintu..., tangannya terhenti untuk membuka pintunya lebih lebar lagi, ketika ia mendengar dirinya telah menjadi topik pembicaraan antara kakaknya dan seseorang. Seseorang itu ternyata adalah Mutiara, pagi-pagi sekali dia sudah ada di sini.


"Dari kecil Bintang itu sudah sangat Manis." ucap Nisa sambil menggoreng roti berbalut tepung roti yang isinya ayam dan sayur-sayuran kesukaan adiknya.


"Benarkah." pukau Mutiara tersenyum. "Ceritakan dong, Tante,  mengenai masa kecilnya, aku ingin tahu sedikit saja." ujarnya dengan kalimat yang sopan dan manis setiap ngobrol sama Nisa.


"Saat kecil dia sangat manja sekali.., dia tidak pernah mau makan kalau tidak Tante suapin dan kalau tidur dia harus dinyanyikan lagu sambil memeluk Tante baru bisa tidur."


"Merepotkan sekali..."


"Tidak." Mengambil piring.  "Sama sekali dia tidak pernah merepotkan." Mulai menyajikan risol roti itu kedalam piring.


"Itu sih menurut Tante, tapi menurutku anak kecil itu semuanya merepotkan."


Mutiara mengingat ketika dirinya masih di Inggris, tinggal bersama tantenya yang memiliki dua orang anak kecil, setiap kali dititipin anak-anak itu, mereka selalu mengerjainya tanpa ampun, bagi Mutiara itu sangat menjengkelkan.


"Kenapa?" tanya Nisa.


"Waktu aku tinggal sama Tanteku dulu di Inggris anak-anaknya itu sering sekali menyiksaku, Tan. Kalau aku marahin, mereka malah menangis. Mereka itu seperti monster mengerikan yang terdapat di muka bumi ini."


Nisa tertawa kecil mendengar ucapan Mutiara di sampingnya. Pada dasarnya gadis tomboy ini memang tidak begitu menyukai anak kecil, Nisa tahu itu.


"Itu karena mungkin kamu tidak begitu memahami mereka." Berjalan membuka kulkas, menyimpan sisa sayuran. "Sebenarnya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengurus anak kecil, pertama kita harus tahu dulu apa yang menjadi keinginan mereka?" Menutup kulkasnya. "Kedua, semua anak di dunia ini sama, mereka semua sangat suka sekali dimanjakan." Berjalan kearah meja makan sambil menuangkan saos tomat ke dalam piring kecil. "Tapi memanjakan bukan berarti kita harus menuruti semua keinginan mereka jika kita merasa tidak mampu, kita bisa menggantinya dengan rayuan atau sebuah pelukan itu sudah sangat cukup bagi mereka."


"Oh... Begitu yah?"


Mutiara terkagum-kagum dengan penuturan wanita cantik di dekatnya hingga ia langsung berpendapat Armanda sangat beruntung memiliki kakak yang sanggup memahami anak kecil seperti ini.


"Iya. Begitu. Dekati mereka baru kamu akan paham."


"Kini aku mengerti kenapa dulu Armanda sangat merindukanmu."


Nisa tersenyum membalas ucapan Mutiara.


"Ayo, duduk. Tante akan bangunkan dulu Bintang."


Baru saja selesai katanya, tiba-tiba seseorang sudah memeluk tubuhnya dari belakang.


Nisa berhasil menoleh, Bintang Kecil sudah berada di belakangnya memeluk tubuhnya manja.



"Bintang sudah bangun."


"Terima kasih, Kak..." Suara Armanda  lirih, Armanda sangat terharu sekaligus bahagia karna pernah mengalami masa kecil yang begitu menyenangkan ketika diurus olehnya. "Terima kasih karena sudah memberiku masa kecil yang begitu indah."


Armanda mendekapnya semakin erat tak peduli saat ini Mutiara menyaksikan kemanjaannya. Sementara Mutiara menjadi merasa tidak enak menatap kemesraan mereka baru pertama ia melihat Armanda nampak semanis ini.


Nisa berhasil memutarkan badannya melepas dekapan erat adiknya lalu meraba wajah adiknya sambil tersenyum, sepertinya adiknya mendengar percakapannya tadi dengan Mutiara jadi terlihat begitu sensitif.


"Ayo, cuci muka, kita sarapan. Lihat..'' Menoleh ke meja sebentar. "Kakak sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Dibantu sama Mutiara."


"Aah, Aku tidak percaya dia bisa membantu Kakak memasak. Merebus mie instan saja dia enggak bisa."

__ADS_1


"Apa lo bilang." Mengasongkan  tangannya dengan kepalan seperti mau meninju.


"Aku kan cuma bilang kenyataan, kamu itu tidak bisa memasak, kenapa marah."


Armanda seketika melihat wajah Mutiara menekuk kesal. Diam-diam Armanda tersenyum karena selalu berhasil mencandainya yang berujung membuatnya manyun. Menurutnya gadis ini lebih lucu kalau lagi marah.


Armanda mencuci muka di wastafel kamar mandi. Kembali keluar mencari handuk biasanya jam begini handuk sudah nongkrong di balkon. Kedua tangan Armanda mengelap wajahnya dengan handuk yang sudah dipegangnya, tapi ketika ia melepaskan handuk itu dari wajahnya, pandangannya terkunci pada sekuntum mawar merah yang sangat indah nampak tumbuh di dekat jendela kamar Apartemen sebelah.


Armanda berniat mengambil mawar itu untuk diberikan kepada kakaknya, banyak orang yang memberi bunga pada hari kasih ibu atau hari ayah sedunia, tapi Armanda tidak pernah memberi bunga pada siapapun. Tidak ada yang akan protes kalau hari ini di jadikan hari kakak sedunia.


Astaga.. Armanda akan berusaha mengambil bunga itu dengan cara merayap seperti tokoh jagoan idola masa kecilnya.


Kedua kakinya mulai menaiki pagar dan mencari jalan kakinya untuk sampai kesana. Seolah mengikuti petualangan Spiderman tubuh Armanda mulai merayap dengan kedua kaki berjalan di atas tembok kecil yang menopangnya selebar satu kaki orang dewasa.


Seperti sebuah adegan berbahaya yang di mainkan Tokoh super dalam Film ia seolah sedang bermain-main dengan nyawanya, namun ketika ia hendak sampai untuk memetik bunga itu tiba-tiba terdengar sebuah jeritan ketakutan yang keluar dari mulut seseorang.


Nisa terkejut setengah mati ketika mendapati adiknya sedang menempel jauh di tembok yang menghubungkan apartement ini dengan apartement sebelah.


Armanda hampir kehilangan konsentrasi ketika ia lihat kakaknya panik menyaksikan adegannya saat ini, kepanikan kakaknya membuatnya nyaris terpeleset.


"Kakak tenang yah.., Aku akan baik-baik saja." Teriak Armanda berusaha menenangkan kakaknya yang tampak pucat dan panik. "Kakak sebaiknya masuk ke dalam." Teriaknya lagi.


Konsentrasinya hampir kabur melihat kakaknya sepanik itu. Nisa tidak bisa kemana-mana kedua kakinya bergetar, detak jantungnya berdebar cepat dari biasanya, pikiran Nisa kacau bayangannya terlintas bagaimana kalau ia terpeleset dan jatuh dari ketinggian dua ratus meter, sementara di bawahnya tempat palkiran mobil yang sedang keluar masuk.


Nisa seolah sedang berada dalam ketakutan terbesarnya. Mutiara sudah berdiri di dekatnya, ia ikut panik namun bukan karena ia melihat Armanda yang sedang bermain-main dengan nyawanya melainkan ia panik menyaksikan kondisi Queen saat ini?


Tubuhnya bergetar kedua tangannya sangat dingin dan berkeringat dengan wajah pucat pasi. Melihatnya seperti itu Mutiara segera meneriaki Armanda untuk kembali.


"Dasar gila cepat kembali!" teriak Mutiara.


"Berhasil...!"


Mutiara terpaku ketika ia mendengar teriakan Armanda yang nampak berhasil memetik sekuntum mawar merah yang tergantung di depan jendela dekat apartement sebelah. Ini benar-benar konyol ia bermain-main dengan nyawanya hanya demi sekuntum mawar.


Nisa tak sanggup bepikiran apapun selain adiknya kembali dengan selamat. Armanda berhasil kembali dengan selamat dan ia melompat kedepan kakaknya sambil menyodorkan bunga mawar itu ketangan Nisa namun.


Nisa melempar bunga itu kemudian ia menangis sambil memukul-mukul dada adiknya.


"Keterlaluan. Kenapa kamu lakukan ini. Apa kamu senang kalau kamu mati? Bagaimana kalau tadi kamu jatuh? Kamu pikir nyawamu tidak ada artinya."


Nisa marah diantara tangisnya dan segera berlari dari hadapan adiknya dengan tubuh masih terasa bergetar karena ketakutan membayangkan bagaimana kalau tadi kakinya terpeleset.


Armanda terpaku menyesal menyaksikan kemarahan kakaknya saat ini, ia benar-benar menyesal karena saat melakukanya tidak memikirkan persaaan kakaknya terlebih dahulu dia begitu khawatir hingga semarah itu padanya.


Armanda mengejarnya masuk nampak kakaknya sudah duduk di kursi makan menghadap meja Armanda duduk di kursi sebrangnya.


"Aku minta maaf..." Memegangi  kedua jemari tangan Nisa yang tersimpan di meja. "Aku tahu aku bersalah padamu.., karena tidak memikirkan perasaanmu lebih dulu. Aku janji tidak akan melakukannya lagi." ujarnya menyesal sambil merasakan telapak tangan kakaknya begitu dingin karena panik.


Nisa menatap adiknya yang nampak murung penuh penyesalan. Nisa segera menyunggingkan senyumannya sebagai balasan permintaan maafnya.


"Jangan membuat Kakak panik lagi yah? Tadi Kakak benar-benar panik, bagaimana kalau kamu jatuh." lirih Nisa dan ia melihat wajah pria di hadapannya tersenyum mengangguk.


Mutiara datang menyodorkan mawar yang tadi dilemparkan Nisa tapi bunganya sudah rusak.


"Untukmu saja." ujar Armanda pada Tiara.

__ADS_1


"Sudah rusak. Gue buang saja."


Tangan Nisa segera mengambil alih sayang kalau bunga ini harus terbuang, adiknya sudah mempertaruhkan nyawanya demi bunga ini memampaatkanya jauh lebih baik.


Nisa beranjak ke wastapel dan mencucinya dan kembali duduk.


"Ini masih ada gunanya." ucap Nisa menatap adiknya yang sudah duduk di kursi sebelahnya.


Tangan Nisa mulai melepas setiap layang bunga itu dan memasukannya ke piring kecil. "Apa kalian tahu bunga mawar sangat baik untuk jantung?"


"Benarkah?" ujar Mutiara terpukau sambil menyaksikan bagaimana Queen memasukan helaian bunga itu ke mulutnya dan ia nampak menikmatinya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Armanda menatapi wajah kakaknya.


"Lumayan. Mau coba?" jawab Nisa pada adiknya yang langsung mengambil satu layang dari setumpuk piring kecil mawar di hadapannya dan memasukannya ke dalam mulutnya.


Pertama Armanda mengunyahnya, awalnya rasanya sepet terus pahitnya menempel di lidah. sekejap Armanda memuntahkannya.


"Pahit rasanya. Apanya yang lumayan. Ini sangat tidak enak." Menyeka-nyeka mulut dan bibirnya lalu mengambil risol memasukannya ke dalam mulut dan mengunyahnya. "Nah ini, baru enak. Sudah jangan dimakan lagi, Ini pahit." menarik piring kecil berisi mawar itu dari dekat Nisa lalu menyodorkan bunganya ke depan Mutiara. "Kamu saja yang habiskan, kamu harus mencobanya." Lalu menarik sepiring risol menjauh darinya Mutiara dan mendekat ke arahnya. "Risol ini biar aku habiskan, kamu makan saja mawar itu."


"Tidak mau! '' protesnya sambil menarik kembali piring risolnya yang ditarik Armanda.


"Ini tidak baik untukmu." Merebut kembali piring risolnya kedekatnya. "Bunga mawar itu lebih pas denganmu, biar Jantungmu sehat."


"Lo pikir jantungnya gue penyakitan apa?" protes kesal Mutiara berusaha mengambil risol dari tangan Armanda yang berusaha menyembunyikannya dari jangkauannya.


"Jantungmu kan memang bermasalah dari dulu. Buktinya ketika aku menatap wajahmu, jantungmu suka berdebar-debar. Iyakan?" Sambil tertawa menyeringai. "Ayo mengaku sajalah..." ejeknya tapi tiba-tiba sebuah sendok menghantam kepalanya. "Sakit tau..." protes Armanda kesal lalu menatap Nisa. "Kak.. lihat di depanmu saja dia berani menyiksaku."


Nisa tersenyum-senyum lucu melihat kekonyolan keduanya.


"Sudah, cepat makan, jangan berantem terus."


"Dia yang duluan memukulku, Kak."


"Lo yang duluan bicara omong kosong." protes Mutiara kesal.


"Siapa yang omong kosong, kamukan pernah sangat jatuh cinta sekali padaku, makanya jantungmu masih suka berdebar-debar."


"Itu dulu saat gue masih bodoh."


Mutiara berusaha menyembunyikan perasaan yang sebenarnya tak ingin diketahui oleh siapapun karena sebenarnya di hati yang paling dalam ia tidak bisa melupakan Armanda dari ia SMP hingga saat ini Armanda adalah Cinta pertamanya.


"Benarkah?perlu aku buktikan."


"Buktikan saja, kalau bisa." Tantangnya sambil memasukam risol itu ke dalam mulutnya.


Armanda yang nakal mendekatkan wajahnya pada Mutiara. Tiba-tiba ia menarik sisa risol di bibir Mutiara dengan Mulutnya.


Mutiara terpaku seperti patung dengan wajah memerah karena malu. Pria di depannya menarik risol yang berada di bibirnya dengan mulutnya.


Armanda seketika tertawa dengan lebar karena berhasil membuat gadis tomboy di depannya memucat pasi.


"Hei mau kemana..?" sahut Armanda sambil tertawa ketika Mutiara keluar dari mejanya.


"Mau pulang." ujar Mutiara berusaha melarikan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas.

__ADS_1


Nisa sangat terkejut hingga ia terpaku tak sanggup berkata-kata ketika di depan matanya menyaksikan sendiri bagaimana adiknya menarik makanan dari bibir Mutiara dengan mulutnya, meski itu dianggap sebagai candaan bagi adiknya namun Nisa merasa tidak suka melihatnya. Entahlah perasaan apa itu? Tapi perasaan itu datang secara tiba-tiba seperti kilat yang menyambar yang tak sanggup ia cegah.


__ADS_2