
Mutiara kembali masuk membuka pintu teras balkon nampak sosok pria paling Wow di matanya sedang duduk di kursi menyantap kuenya. Dan ketika ia lihat?
Astaga nagaaaa...! Kue itu sudah habis hanya menyisakan noda krim disekitar mulutnya, membuatnya seperti kucing liar yang kelaparan. Padahal di momen ini Mutiara ingin merayakan ulang tahunnya dengan tiup lilin meminta permohonan dan bernyanyi lagu selamat ulang tahun. Wanita itu benar-benar mengganggu rencananya, padahal untuk menunggu hari ini ia membutuhkan waktu yang sangat panjang. Dua tahun Bro.....
"Ulang tahun macam apa ini?Mutiara kesal sambil menjatuhkan pantatnya di kursi santai berdepanan dengan Armanda. Pria di depannya malah tersenyum tanpa dosa.
"Kuenya sangat enak, aku lupa tak menyisakan untukmu. Kamu marah?"
Armanda menatap wajah sahabatnya itu menekuk, terlihat sekali aroma kekesalan pada wajah manis perempuan di depannya.
"Baiklah nanti aku membelikanmu kue yang lebih besar, kamu bisa menghabiskanya sendiri, tak perlu menyisakannya untukku."
"Tentu saja gue kesal. Apa begini caranya merayakan ulang tahun! Tidak ada tiup lilin tidak ada permohonan, tak ada nyanyian. Dua hari dua malam gue rencanain ini. Eeehhh akhir ceritanya malah begini. Dasar kampret."
Armanda terdiam mendengar ocehan temannya itu mengingat selama ia tak suka ulang tahunnya dirayakan bersama orang lain, tak ada nyanyian apalagi tiup lilin. Selain bersama kakaknya ia tak mau merayakan ulang tahunnya bersama orang lain kalau ia melakukannya Armanda akan merasa sudah menduakan kakaknya bersama orang lain, sementara di hatinya, kakaknya adalah sosok malaikat pelindung yang tak akan pernah tergantikan, hal itu tidak akan pernah berubah meskipun sepuluh tahun telah berlalu. Itulah kenapa ia menghabiskan kue itu.
"Kamu kan tahu sendiri, selama ini aku tidak mau merayakan ulang tahunku bersama orang lain. Aku selalu menerima kue mu sebagai hadiah, tapi masih seperti tahun-tahun sebelumnya, Aku masih tak suka ulang tahunku dirayakan. Sorry.., Kamu tidak marah, kan?"
Mutiara terpaku hampir lupa kalau selama ini Armanda tak pernah mau merayakan tiup lilin dan nyanyian ulang tahun bersama siapapun selain dengan kakaknya, Armanda pernah mengatakan itu saat masih SMP ketika masih sama-sama sekolah di Inggris.
"Sorry... Boy. Gue lupa."
Kejujuran yang menyakitkan sebenarnya, tapi Mutiara tidak mau pria itu tahu kalau ia merasa kecewa dengan pernyataannya itu, bagaimanapun itu masalah pribadinya yang tak bisa ia tembus ketika saat-saat ia bersama kakaknya dulu.
''Kakak lo beruntung punya adek kaya lo." ujar Mutiara berusaha memahami.
"Aku yang lebih beruntung."
"Kalian sama-sama beruntung." tukas
Mutiara sambil meraih tisu di meja dan menyodorkannya ke tangan Armanda.
"Seka mulutmu. Aiiihh joroknya...," ujarnya pura-pura geli menyaksikan kotoran krim disekitar mulut Armanda. "Asli heran gue bagaimana bisa lo jadi pria rebutan dengan cara makan lo yang seperti itu." ledeknya sedikit tertawa berhasil mengalihkan perasaannya yang kurang nyaman.
Pemuda ini selalu jadi idola di manapun dia berada, dia memiliki ribuan follower, tak ada yang tahu kalau sebenarnya dia seperti anak bayi yang baru belajar makan.
"Benarkah?'' Menyeka mulutnya dengan tisu yang disodorkan Mutiara. "Harusnya kamu menjilati bibirku, masih baik aku menyisakan krimnya di mulutku." ujar Armanda bercanda sengaja untuk menetralkan suasana hati Mutiara.
Tangan Mutiara langsung mendarat di kepalanya hingga Armanda berteriak.
''Kenapa kamu suka sekali memukulku, tanganmu itu lebih mirip tukang tinju dari pada tangan perempuan." Sambil mengusap-usap kepalanya pura-pura sakit.
Tampolan tangan Mutiara dikepalanya sebenarnya cukup memancing Armanda keluar dari zona tidak nyaman, dan Armanda sendiri tahu Mutiara selalu suka ejekannya.
Armanda teringat seseorang yang mengetuk pintu tadi yang berhasil membuat Mutiara panik dan menyembunyikannya di balkon.
"Ngomong-ngomong siapa tadi yang memanggilmu?"
"Yang pernah gue ceritain ke lo waktu itu..."
Armanda menyipit mengingat tapi ia lupa cerita yang mana?.
"Siapa?"
"Seorang terdekat bokap gue, yang ganggu hidup gue dua tahun ini."
"Hah. Serius?" Mata Armanda terbelalak.
"Iya. Seriuslah. Makanya gue panik dia akan sangat menakutkan kalau tahu gue bawa cowok ke apartmen gue."
"Lah kenapa, kalau cuma teman kan tidak masalah."
"Dia akan berpikiran lain."
"Ibu-ibu biasanya begitu kalau sudah khawatir."
"Ibu-ibu apa, dia masih muda usianya baru dua sembilan tahun."
"Benarkah? Apa dia cantik?"
"Iya, sangat cantik, Miss univers saja lewat."
"Really..? bikin penasaran saja. By the way siapa namanya?"
"Queen."
"Queen?" Armanda mengulang bingung.
Armanda merasa bingung dengan sebuah nama itu, sebuah nama yang tidak asing bahkan akhir -akhir ini di rumahnya nama itu menjadi bahasan utama, dan sekarang Queen yang lain muncul. Armanda menyeringai lucu.
"Sepertinya di Indonesia ini banyak sekali orang bernama Queen. Kamu tahu ibukupun bernama Quin dan kakak ku memiliki nama depan yang sama, dan sekarang orang-orang di rumahku disibukan dengan nama Queen juga."
__ADS_1
Mutiara tertawa menyaksikan pemuda tampan di sampingnya nampak bingung.
"Queen yang dibicarakan keluarga lo di rumah, dengan Queen yang baru saja lo dengar suaranya di sini barusan, adalah satu orang yang sama."
SERIUSSS....
Armanda merespon terpukau.
"Maksudmu Queen Agung? Pemilik enam puluh persen Akbar Group?"
"Hmmm.'' Mutiara jawab dengan santai.
"Oohh my god.." ucap Armanda tertegun kaget. "Kenapa Kamu gak pernah bilang?"
"Lo kagak pernah nanya."
"Aku ingin sekali mengenalnya, selama ini aku penasaran, wanita seperti apa yang berhasil membuat nenekku tak berdaya. Setiap kali mendengar namanya?"
"Sangat beresiko." balas Mutiara setengah berbisik.
"Maksudmu?"
"Dia sangat Introper tak pernah mengijinkan pria manapun mendekatinya, tentu saja selain bokap gue..., itu karna bokap gue sudah lama mengenalnya sebelum wanita itu seperti sekarang ini?"
"Aku hanya ingin mengenalnya saja, tak mungkin dia berpikiran aku tertarik padanya. Lucu sekali meskipun mereka bilang aku seorang odiepus complex tapi aku tidak mungkin tertarik pada perempuan dengan arogansi seperti itu.Yang benar saja, kamu tahu sendirikan tiveku bagaimana, cewek yang lembut dan keibuan bukan yang mengerikan seperti itu, nenekku saja sampai bergetar setiap mendengar namanya."
"Setelah melihatnya akan berbeda. Dia sangat cantik, semua laki-laki mengagumi kecantikannya."
"Tidak peduli seberapa cantik, Aku tidak akan tertarik dengan perempuan modelnya mirip nenekku."
"Yakin."
"Yakin dong. Dari pada dia aku lebih pilih kamu."
"Masa...?" balas Mutiara diiringi senyuman simpul.
"Iya. Masa aku bohong, kamu itu lucu seperti anak b*bi."
Mutiara mengubah mimik wajahnya seketika kesal sambil mengangkat tangannya seperti kepalan seorang petinju.
"Mau gue tampol lagi yah."
Armanda tertawa sambil mengangkat tangan pura-pura takut.
"Yang lain kek," teriaknya kesal. "Masa b*bi..."
"Terus apa maunya? Tikus? Bayi tikus juga warnanya pink."
Iiiiiih cowok ini nyebelin banget siih..
"Banyak yang laen. Kenapa harus b*bi dan tikus?"
"Contohnya apa?"
"Ambil contoh artis kek, misalnya," tersenyum malu-malu. "Agnes mo, gtu.."
Armanda tertawa ngakak mendengar ucapan Mutiara yang menurutnya lucu karena selalu pingin di miripin dengan Artis idolanya padahal nggak ada mirip-miripnya, jauh bagai langit dan bumi.
Tawaannya Armanda terhenti ketika tangan Mutiara meraih sapu yang kebetulan ada di dekatnya berhasil mengancamnya.
"Iya. Iya deh Agnes. Agnes Mooo..." Kata terakhir bernada panjang seperti suara sapi.
Tuk...
"Auww...." teriak Armanda ketika dalam sekejap gagang sapu menimpuk kepalanya. "Sakit. Tau.."
"Rasain." ujar Mutiara puas. "Sekali lagi, habis kau." Melempar sapunya ke sudut lalu Mutiara berdiri berjalan ke pagar balkon menatapi suasana malam yang mulai larut.
"Kan cuma bercanda." ujarnya ikut berdiri mengekori.
Pandangan Mutiara terhenti pada balkon apartmen sebelah. Seseorang yang ia kenal baru muncul, wanita itu yang sudah mengganggunya selama dua tahun ini.
"Itu dia."
"Apa?" Armanda tidak mengerti maksud Mutiara.
"Liat di balkon sebelah."
Armanda memutar matanya ke sebelah kiri, ke arah balkon yang ditunjuk Mutiara, seseorang sudah berdiri di atas balkon.
"Apa itu Queen." tanyanya pada gadis di sampingnya yang dibalas dengan anggukan.
__ADS_1
Armanda menatap lagi perempuan dalam bentuk bayangan gelap itu, cuaca malam ini cukup gelap karena bulan masih tertutup awan tebal bahkan tak ada satupun bintang yang bersinar jadi Armanda tidak bisa melihat jelas perempuan itu.
"Kenalkan aku sama dia."
"Untuk apa?"
"Penasaran saja, Selama ini keluarga kami cuma mengenal namanya tapi tidak tahu wajahnya. Tapi baru mendengar namanya saja, nenek ku sudah gemetaran."
"Gue sih tidak heran. Saat lo ketemu dia, kedua kaki lo akan bergetar. Astaga.. Lo tahu selain menyebalkan dia juga sangat menakutkan kalau dia bicara tampak seperti dekrit presiden. Suaranya harus didengar dan semua akan bertekuk lutut di hadapannya.''
"Benarkah?" Armanda terpukau sekali lagi. "Jangan-jangan kamu bicara begitu karna dia calon ibu barumu."
"Jangan ngomong sembarangan lagi. Gue kagak mau dia jadi nyokap gue, tambah kacau nanti. Menyebalkan."
"Kamu sangat membencinya?"
"Membencinya?" ulang Mutiara menatap Armanda. "Itu tidak benar. Gue memang enggak mau dia jadi ibu tiri gue karena itu pasti akan sangat merepotkan. Menolak bukan berarti gue membencinya. Selama dua tahun dia memang mengawasi gue, mengganggu gue, campuri hidup gue. Tapi...,"
"Tapi?" Armanda mengulang menunggu kelanjutannya.
"Tapi. Gue sangat menghormatinya, kadang dia emang menyebalkan tapi gue merasa dia bersikap keras karna dia peduli ma gue, cuma yah caranya itu bikin gue kesal. Awalnya gue gak menerimanya saat dia mengatur hidup gue tapi dua tahun bersamanya gue mulai terbiasa, hanya saja gue tetap menentang memiliki nyokap baru, siapapun itu, gue tidak mau bokap gue menikah lagi."
"Yakin bukan karna kamu membencinya?"
Mutiara memang tidak terlalu menyukainya, karna dua hal, Pertama? Wanita itu telampau cantik, dengan kecantikannya itu setiap laki-laki akan siap bertekuk lutut di hadapannya, termasuk ayahnya yang dua tahun lalu pernah melamarnya. Kedua? Wewenangnya? Sikapnya yang keras dan disiplin selalu berhasil membuat orang mematuhinya, termasuk dirinya yang tak pernah bisa menolak dengan aturan ketatnya yang ia buat. Karisma dan wibawa wanita itu sangat melekat hingga ia selalu nampak seperti seorang Ratu Agung.
"Sejujurnya, Gue sangat mengaguminya."
Kekaguman yang menghasilkan rasa iri, membuat Mutiara tidak menyukai dia. Dia telampau cantik, cerdas, berkarisma, dan pandai mengendalikan sesuatu sesuai seperti apa yang dia inginkan? Jujur saja Mutiara iri dengan semua itu.
"Selain sangat cantik, Gue juga kagum cara dia mengelola perusahaan."
"Yah.. , Aku sudah mendengar banyak mengenai kehebatannya, benar-benar mengagumkan."
"Tapi dia juga..." Berbisik pelan ke kuping Armanda. "Aneh."
"Aneh?" Armanda menyipit bingung
"Iya aneh." kembali berbisik. "Lo gak akan percaya, Gue sering memergokinya diam-diam menangis."
"Menangis?'' Mengulang menatap Mutiara aneh. "Why?"
"Mana gue tahu? Gue tak pernah menanyakannya. meskipun gue tanya belum tentu dia mau jawab, sudah gue bilang dia sangat Introver."
Armanda mengernyitkan dahinya berpikir tentang perempuan itu. Mereka bilang dia sangat kejam dan ambisius dan tak berperasaan, sangat aneh kalau Mutiara bilang ia suka diam-diam menangis...?
Armanda kembali menatap perempuan itu yang masih berdiri di balkon sebelah.
"Mungkin saja ada hal yang menyedihkan dalam hidupnya, yang sulit ia lupakan?" kembali menatap langit yang masih biru hitam.
"Gue kagak tahu? Tapi..'' Menyipit mengingat kembali masa lalu Queen Agung.
Di tempat seperti apa dulu saat pertama kali ayahnya menemukan wanita itu. Di tempat bordil, mungkin saja masalalu itu yang selalu membuatnya diam-diam menangis, tapi ayahnya sendiri tak pernah memberitahu secara detil tentang masa lalu wanita itu? Mutiara sendiri telah berjanji pada ayahnya ia akan menutup mulut tentang apa yang terjadi delapan tahun lalu saat itu ia masih SMP kelas satu, dan ia pun tidak boleh mengatakan hal ini meski pada Armanda.
"Tapi.. ?" ulang Armanda menunggu kelanjutan.
Mutiara segera berbalik menolak melanjutkan ceritanya karena itu sebuah rahasia yang tidak boleh orang lain tahu.
"Gue tidur duluan. Ngantuk..." ujarnya sambil berjalan cepat meninggalkannya, menghindari pertanyaan pria itu.
"Hei ginsul dua. Tapi, apa..?" teriak Armanda menatapi kepergian gadis itu menuju pintu masuk menghiraukan teriakannya.
Armanda masih belum beranjak dari balkon ini, ketika ia tatapi balkon sebelah perempuan dalam bentuk bayangan gelap itu sudah menghilang. Armanda menatapi sekitarnya, pilar-pilar yang kokoh, lampu-lampu bola kristal yang berjejer menghiasi taman di dasar bawah Apartemen.
Suasana kota yang nampak sepi dari kejauhan, jauh dari hingar-bingar karna sekarang sudah menunjukan jam sebelas malam.
Satu jam sendirian di balkon ini menunggu Bintang pertama muncul. Sepertinya Bintang tidak akan muncul, awannya terlalu tebal. Hampir setiap malam Armanda menunggu bintang pertama muncul karena baginya Bintang pertama yang muncul adalah kakaknya, yang setiap malam ia rindukan.
Armanda tersenyum ketika bintang pertama yang selalu ia tunggu setiap malam baru saja muncul dengan terang.
"Kakak.., Kakak masih ingat tidak, malam ini adalah malam ulang tahunku. Sekarang aku sudah besar, usiaku sudah dua puluh tahun, tapi kakak masih saja seperti itu, kapan kakak kembali? Aku mohon turunlah, jangan jadi bintang pertamaku lagi, Aku ingin kakak benar-benar datang padaku jadi malaikat penjagaku, jadi aku bisa setiap saat melihatmu tanpa harus menunggu gelap seperti ini."
Baru ia menyelesaikan kalimatnya, sudut mata Armanda kembali melihat sosok tadi muncul lagi di balkon sebelah. Armanda memutar kepalanya kearah itu, menyaksikan sosok perempuan cantik namun sebagiannya masih dalam bentuk bayangan gelap.
Perempuan itu berdiri dengan posisi sama seperti dirinya saat ini. Menyenderkan perutnya ke tembok dan tatapannya mendongak kelangit menatap Bintang. Rambutnya yang panjang nampak berterbangan tersapu angin. Tanpa mau beralih menatap langit Armanda merasa saat ini langit berubah cerah pasti ribuan bintang muncul, awan pekat yang tadi ia lihat pasti sudah enyah memperlihatkan bulannya, itu bisa ia pastikan ketika melihat sosok yang tadi masih terlihat sedikit bayangan gelap sekarang mulai nampak bersinar indah dan cantik.

Armanda terpana hingga ia tidak berani berkedip menyaksikan perempuan itu. Wajah yang ia lihat dari samping itu benar benar memiliki lekukan wajah yang sangat cantik, rambutnya yang terbang memperlihatkan garis rahangnya dan lehernya yang indah, gaun malam yang panjang dan cantik membuatnya nampak seperti bidadari turun dari langit.
__ADS_1
Itu bukan bidadari namun sosok yang akhir-akhir ini jadi perdebatan di rumahnya, Tapi..., dalam keadaan seperti ini wanita itu nampak sekali tidak angkuh kejam atau ambisius tapi Armanda menyaksikan ia nampak lembut dan hampa.
Armanda buru-buru melarikan pandangannya ketika wajah perempuan itu memutar mengarah kepadanya. Tapi kenapa jantung Armanda tiba-tiba berdentum dengan cepat ketika perempuan itu berusaha menyelidik kearahnya?.