Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
PESTA ULANG TAHUN


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian kediaman rumah ini sudah penuh oleh para tamu undangan. Malam ini adalah malam ulang tahun perusahaan sekaligus merayakan ulang tahun Armanda, walau sebenarnya ulang tahun Armanda sudah terlewat beberapa bulan yang lalu, namun di identitas perusahaan Armanda lahir bertepatan dengan ulang tahun Akbar Group.


Seperti sebuah reuni keluarga besar Akbar semua turut menghadiri acara ini. Revalina putri Anggraeni yang datang bersama suami bulenya dan kedua putranya langsung dari Inggris, yang selama ini telah menjadi orang tua Armanda di data identitas.


Bagi mereka ini sangat penting karena akan ada penobatan Armanda Akbar sebagai pemilik tunggal, selain keluarga Akbar ada juga beberapa pimpinan perusahaan lain, beberapa tokoh pejabat sampai rekan media dari majalah bisnis turut menghadiri acara ini.


Armanda datang ke kamar Nisa dengan pakaian yang sudah rapi, namun ia merasa heran karena saat buka pintu nampak kakaknya masih belum apa-apa. Handuk mandi berwarna putih masih membalut tubuhnya yang ramping. Ia duduk di depan lemari rias wajahnya nampak gelisah. Armanda menutup pintu kamar ini dan menghampirinya berdiri dibelakang Nisa.


"Kakak kenapa?"


"Kakak cuma merasa tidak enak hati saja."


"Ada yg Kakak pikirkan?"


Nisa terdiam sebntar mengingat malam ini Anggraeni akan mengumumkan dirinya sebagai anggota baru di rumah ini, dan adiknya belum tahu.


"Kakak merasa akan terjadi sesuatu malam ini.., Kakak merasa cemas.., Nayaka sudah tahu hubungan kita namun omahmu belum tahu, Kakak sangat takut.."


"Kakak jangan cemaskan itu. Semua akan baik-baik saja." Memeluk Nisa dari belakang. "Aku bantu Kakak berias yah." sambil menegapkan kembali tubuhnya menatap Nisa melalui cermin.


"Emang bisa?"


"Bisalah setiap harikan aku melihat Kakak berias." ujarnya sambil mengeringkan rambut Nisa yang basah dengan handuk kecil.



Armanda mulai menyisir rambut kakaknya seperti seorang penata rambut dan mengeringkannya dengan hairdryer. Setelah itu ia duduk di depan Nisa dan mulai merias wajah Nisa. Dari mulai bedak, mengukir alis dengan pensil dan terakhir lipstik mengoles di bibir Nisa dengan lembut.


"Beatiful..."


"Masaa..."


"Lihat deh di cermin." ujar Armanda sambil beranjak berdiri di belakang Nisa.


Nisa terpukau nenatap wajahnya.


"Kakak tidak percaya Bintang bisa melakukan ini..."


"Kan sudah ku bilang setiap hari ku menyaksikan Kakak berias, masa aku tidak bisa melakukannya, tidak sebagus Kakak merias sih.., tapi setidaknya aku bisa membantu meringankan pekerjaan Kakak malam ini."


"Bener sih, tangan Kakak malas untuk bergerak. Untung ada Bintang..."


"Hehe..," Armanda tertawa kecil. "Percayakan semua padaku. Aku pilihkan gaunnya yah."

__ADS_1


Armanda melesat membuka lemari pakaian Nisa. nampak gaun-gaun bagus tergantung indah di dalamnya. Nisa menolak beli gaun karena dia masih memiliki banyak gaun yang jarang terpakai.


"Yang warna biru belum pernah Kakak pakai. Yang itu saja." ujar Nisa menyaksikan adiknya dari dalam kaca rias di depannya.


"Yang ini saja, Kak." Mengambil gaun cantik warna putih. "Kakak pasti menjadi perempuan paling cantik malam ini dengan gaun berwarna putih ini."


"Kalau Bintang suka itu. Boleh, Kakak akan memakainya."


Armanda membawakannya pada Nisa.


"Ayo pakai. Aku ingin melihatnya."


"Sekarang?"


"Iya sekarang masa besok?"


"Tapi Bintang berbalik yah." Nisa berdiri dari bangkunya. "Jangan melihatnya soalnya Kakak harus membuka handuknya."


"Okee. Aku tidak akan mengintip. Akukan sudah pernah melihatnya..." Armanda berbalik dari hadapan Nisa sambil senyum-senyum.


"Melihat apa?" Nisa memutar menghadap adiknya untuk meminta pertanggung jawaban ucapannya barusan.


"Yaah melihat itu.." balasnya malu-malu.


"Enggak kok. Aku enggak sengaja pas Kakak buka baju saat mau mandi.." balasnya malu-malu.


"Iih, dasaar...," Nisa mencubit pinggangnya dan menggelitiknya.


Armanda berteriak sambil berusaha melepaskan diri dari glitikan kakaknya. Nisa terus menggelitik dan menangkapnya ketika adiknya berusaha menyelamatkan diri ke tempat tidur.


Nisa menghentikan glitikannya ketika ia sadar ia sudah menindih tubuh adiknya dengan tali ikatan handuk yang sudah telepas. Kulit tubuhnya yang hanya mengenakan bra dan celana dalam menempel ke tubuhnya adiknya.



Nisa segera berdiri mengangkat tubuhnya dengan wajah memerah karena malu sambil mengikat kembali ikatan handuknya. Armanda ikut merasa gugup namun dalam hati merasa bahagia karena kecelakaan kecil barusan berhasil memancing gairahnya. ketika tubuh itu menyentuh tubuhnya rasanya ada sesuatu yang membuatnya berpikir ingin segera melakukannya.Tapi harus dengan cara menghalalkannya Armanda baru ingin melakukannya.


"Awas Bintang jangan mengintip. Kakak akan memakai gaunnya sekarang." ujarnya bernada pura-pura mengancam setelah berusaha menetralisir keadaan dirinya lebih tenang.


"Baiklah. Aku akan menutup mataku.." Sambil berbalik menghadap tembok.


Nisa membuka handuknya menghadap cermin sementara Armanda berdiri menghadap tembok sambil menutup matanya.


Kreekeetttt...

__ADS_1


Pintu kamar ini tiba-tiba terbuka. Nayaka sudah berdiri menatap Nisa yang hanya memakai pakaian dalam saja. Nisa spontan menutupi tubuhnya dengan gaun yang dipegangnya. Armanda berbalik melesat berdiri di depan Nisa berusaha menutupi tubuh Nisa dari pandangan Nayaka yang menatap ke arah kakaknya.


"Kau...! Kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum membukanya." Armanda protes kesal pada Nayaka yang berdiri di depan pintu.


Nayaka terkejut dia tidak berpikir akan mendapati Nisa dengan memakai pakaian dalam saja. Nayaka berusaha menghilangkan perasaan gugupnya.


"Paman mencarimu. Tadi Paman ke kamarmu. Paman cuma ingin memberi tahu kalau sodara-sodara kita, sepupumu dan para tamu undangan sudah hadir di bawah. Turunlah mereka semua menunggumu."


"Iya nanti aku ke bawah. Menyusul." ujar Armanda masih berusaha berdiri di depan Nisa menutupi tubuhnya.


Nayaka segera menutup pintunya merasa tegang. Armanda melesat mengunci pintunya lalu berbalik menyender pada pintu.


"Tidak sopan. Bagaimana bisa dia masuk kamar orang tanpa mengetuk pintu. Menyebalkan." ujarnya merasa kesal. Kemudian menatap Nisa yang masih memegangi gaunnya menutupi bagian depan tubuhnya.


Nisa membalas kekesalan adiknya dengan senyuman lucu karena reaksi adiknya lebih panik dibanding dirinya.


"Sudah tidak apa-apa, Naka tidak sempat melihatnya kok, Kakak menutupinya dengan ini."


Armanda menatap Nisa dari atas sampai bawah menilai, dada bagian atasnya nampak terbuka lebar memperlihatkan sedikit belahan dadanya, gaun itu hanya berhasil menutupi sampai ************ memperlihatkan paha dan kakinya yang telanjang. Ada perasaan kesal karena pamannya pasti sempat melihatnya seperti apa yang ia lihat sekarang. Nampak polos dan sexi.


"Ya sudah. Kakak pakai gaun nya dulu kita ke bawah."


"Bintang duluan saja nanti Kakak menyusul. Semua orang sudah menunggumu.."


"Tidak apa-apa aku duluan?"


"Iya, Omah nanti marah. Sebentar lagi Kakak menyusul."


"Ya sudah. Cepet yah. Aku tunggu di bawah."


"Iya sana. Cepat."


Nisa memakai gaunnya dan menatap dirinya dalam cermin besar di depannya. Merasa gugup membayang sebentar lagi dirinya akan ikut diresmikan sebagai kakak Armanda Akbar. Armanda tidak tahu soal ini.


Armanda ikut menghibur para tamu yang sudah memenuhi lantai dasar rumah ini. Sesuruh keluarga Akbar yang jarang bertemu dengannya beriring memeluknya dan semua tamu memberi selamat untuknya karena akan diresmikan sebagai pemilik tunggal.


Sudah banyak pidato yang Anggraeni dan Nayaka sampaikan mengenai kemajuan perusahaan saat ini namun Armanda tidak tertarik untuk mendengarnya, selama Nisa belum turun ia lebih suka bercengkrama dengan dua sepupunya dari Inggris. Dulu Armanda anti menyamakan diri dengan kedua sepupunya itu yang selalu berpenampilan pormal dan bangsawan, Armanda selalu merasa beda dari mereka, menurutnya mereka terlalu kaku seperti Nayaka dan Armanda tidak begitu nyaman dekat dengan mereka.


Lihatlah Armanda saat ini. Rambut yang sudah ditata rapi dan diberi sentuhan minyak rambut jadi nampak klimis seperti habis dijilati anjing cihua-hua. Jas hitam yang dipakainya membuatnya terasa seperti kembaran dengan para bapak-bapak yang ada di sini. Mereka terpukau dengan ketampanannya kali ini tapi Armanda sendiri lebih suka penampilan dirinya yang seperti biasanya terkesan cuek namun tetap mempesona kalau bergaya seperti ini seperti berusaha menyaingi Nayaka pikirnya dalam hati.


Setelah merasa cukup terbelenggu dengan keresahan menunggu perempuannya, Armanda mulai bisa bernapas lega ketika pandangannya tertuju pada sosok perempuan cantik yang sudah berdiri di tangga paling atas dengan gaun berwarna putih pucat. Terbuat dari sutra yang bagian bawahnya melebar nampak jatuh di bawah betis dipadukan dengan sepatu haq tinggi berwarna senada serta rambut panjang dibiarkan bergerai kedepan seolah daya pesona yang Nisa miliki saat ini menebar keseluruh penjuru rumah ini. Tiba-tiba saja semua mata tertuju padanya tapi memang seperti itulah kekuatan pesona Queen Agung.


__ADS_1


__ADS_2