
Armanda tersiksa dengan keadaan ini semua orang mengharapkannya bersikap manis pada Mutiara bahkan istrinya sendiri menuntut untuk itu, tak bisa dipungkiri Mutiara memang membutuhkan itu, dengan dorongannya itu terbukti dalam dua minggu Mutiara bisa kembali tersenyum meski kadang ia sering menangisi diri karena kelumpuhan kedua kakinya.
Armanda berharap kaki Mutiara bisa sembuh dengan begitu tidak ada alasan bagi kekasihnya untuk menolaknya. Mutiara lumpuh ini memang tidak adil baginya tapi menurutnya ini lebih tidak adil lagi kelumpuhan Mutiara melumpuhkan kebebasan ia dan istrinya.
Sudah beberapa hari ini Nisa menolak menemuinya, saat ia protes Nisa akan diam saat ia mengingatkan kalau ia sudah jadi istrinya maka Nisa akan menangis, setiap kali ia bertanya setiap kali juga reaksinya seperti itu.
Setiap malam datang ia selalu berharap istrinya datang menemuinya di kamar, membayang setiap malam penuh gairah di rumah rahasia di kota bogor dan kejadian terakhir di danau yang penuh kehangatan membuat malam berikutnya sangat tersiksa dalam kehampaan, tidak bisa di pungkiri ia sangat membutuhkan kehangatan itu lagi.
Nisa merasa keterbatasannya bersama suaminya saat ini sangat berat dirasakan, Mutiara sudah kehilangan kedua kakinya dan Nisa merasa sudah tak punya pilihan lain lagi untuk mempertahankan statusnya kali ini.
"Mutiara sudah kehilangan kakinya. Apa pantas kita mempertahankan hubungan kita sementara Mutiara tersiksa dengan kursi rodanya? Mulai sekarang belajarlah untuk mencintainya. Kamu pasti bisa." Tutur Nisa ketika Armanda tiba-tiba muncul memasuki kamarnya.
"Aku tidak mungkin bisa, Kak..." Kemudian meraih kedua tangan Nisa berusaha meyakinkan. "Yakinlah Mutiara pasti sembuh. Kalau perlu kita membawanya ke luar negeri. Aku yakin dia pasti sembuh dan kita akan bahagia tanpa harus memikirkan Mutiara lagi..." Menyentuh kedua rahang pipi Nisa yg berdiri di hadapannya lembut. "Aku mohon jangan menyiksaku seperti ini Kak, Aku sangat membutuhkanmu lebih dari yang kau tahu." ujar Armanda sambil mendekatkan wajahnya lebih dekat, pelan-pelan Armanda menciumnya dengan penuh perasaan.
Disaat ciuman mesra, hampir mempengaruhi Nisa, tiba-tiba Nayaka muncul memasuki kamar ini berhasil melepaskan ciuman Armanda dari Nisa.
"Tidak ada kemungkinan lagi bagi Mutiara untuk bisa sembuh? Hampir semua dokter mengatakan itu." Tegas Nayaka berusaha meyakinkan keduanya.
"Dokter bukan Tuhan." Tegas Armanda menatap Nayaka. "Aku yakin suatu saat Mutiara pasti sembuh."
"Sampai kapan Nisa harus menunggu?"
Armanda membungkam karena ia tak memiliki kepastian itu hanya keyakinan dalam ketidak pastian. Armanda membenarkan kalimat Nayaka sampai kapan Nisa akan menunggu dalam ketidak pastian? Kebisuan keponakannya segera dimampaatkan Nayaka.
"Kamu tak punya pilihan lain. Lepaskanlah Nisa dan kembalilah pada Mutiara, dia sudah banyak berkorban banyak untukmu. Tidak berlebihan kalau kamu mengorbankan dirimu untuk menggantikan kedua kakinya sebagai penopang ia berjalan ke depan dan kembalilah kepada Nisa sebagai adik yang baik. Bukankah itu lebih baik?"
Armanda menatap Nisa sambil bertanya dalam hati benarkah ia harus melepas perempuan ini, sementara ia sangat mencintai perempuan ini, dan apa mungkin hubungannya bisa kembali seperti dulu lagi sementara ia pernah memperlakukannya sebagai seorang istri, menyentuhnya, membelainya dan memuaskan birahinya, kejadian di rumah rahasia serta di danau itu tak mungkin bisa dilupakan.
"Aku tetap tidak akan sanggup." lirihnya memandang wajah Nisa tanpa mau melepaskan kedua tangannya.
Nisa sangat terluka menyaksikan orang yang paling dicintainya itu terlihat kacau dan sedih, padahal dulu ia selalu menekankan asalkan pria ini tersenyum kepadanya maka Nisa akan membalas senyuman itu meskipun seluruh orang di dunia ini menangis, tapi Nisa tidak bisa lagi mengabaikan Mutiara yang hidup sebatangkara dengan kedua kaki yang lumpuh.
"Lepaskan Kakak..." Tangis Nisa menatap wajah suaminya putus asa.
"Kakak tidak akan bahagia tanpaku. Percayalah..."
"Kakak akan berusaha bahagia."
"Caranya?"
__ADS_1
Nisa terdiam membisu karena ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa bahagia tanpa pria ini? Tapi ia harus tetap meyakinkan kalau berpisah adalah jalan terbaik.
Anggraeni tiba-tiba muncul dan berkata,
"Nisa harus menikah. Itu caranya."
Armanda dan Nisa sangat terkejut dengan ucapan perempuan tua di hadapan mereka termasuk Nayaka yang tidak percaya ibunya mengeluarkan gagasan yang pastinya akan di tolak Nisa dan Armanda.
"Kakak sudah menikah denganku, saat ini dia masih istriku." Armanda menolak gagasan oma nya.
"Tidak ada seorangpun yang tahu kalian sudah menikah, Kalian menikah di bawah tangan dan kami tidak mengakui itu, lepaskan Nisa dan kembalilah pada Mutiara, dia masa depanmu. Dan Nisa," beralih menatap Nisa menyentuh pundak Nisa dengan tatapan penuh harap. "Lepaskan Armanda. Dalam kartu keluarga, kami sudah cantumkan namamu. Kembalilah sebagai kakak yang baik untuk adikmu. Aku sudah menerima hal ini." Menjatuhkan tangannya kembali.
"Tapi aku menolaknya, Oma. Kakak sekarang sudah jadi istriku, Kalian berdua tidak bisa memisahkan kami."
"Tidak ada yang percaya itu. Orang yang menikahkan kalianpun kupastikan tidak akan bicara. Kami seluruh keluarga besar Akbar tidak mengakui adanya pernikahan itu."
"Aku tidak peduli. Yang kutahu Kakak adalah istriku," menatap Nisa. " benarkan, Kak?"
Nisa membalas tatapan pria di sampingnya dengan berkaca-kaca, dalam hati ia mengakui dia adalah suaminya meski di dunia ini semua orang menolaknya namun penderitaan Mutiara dan hutang budi pada Ridwan Agung membuat Nisa tidak boleh memilih.
"Oma mu benar, kita adalah saudara bahkan itu sudah tertulis dari sejak kau lahir, jadi anggaplah kita tidak pernah menikah." lirih Nisa meneteskan air matanya dan melepaskan tangannya dari genggaman Armanda.
Armanda menitikan air matanya, hatinya pedih sekali bahkan istrinya sendiri mulai tidak mengakui pernikahan itu. Anggraeni tersenyum puas diikuti Nayaka merasa senang dengan jawaban Nisa karena menurutnya hanya perpisahan mereka itu adalah keadilan untuk semua orang, semua harus kembali pada status semula itu rencana Nayaka dari awal.
"Benarkah Kakak akan bahagia tanpaku?" Armanda Menatap Nisa getir.
"Sudah ku bilang Kakak akan berusaha bahagia. Jangan pikirkan Kakak." lirih Nisa.
"Beri tahu aku bagaimana caranya, beri tahu aku, Kak, kalau memang ada, Aku ingin menirunya..." lirih Armanda menangis karena ia tahu tak ada satupun cara untuk bisa saling melupakan.
Nisa terdiam karena seberusaha mungkin ia mencari tapi tidak menemukan caranya, Nisa tidak tahu bagaimana caranya bahagia tanpa pria ini. Armanda tersenyum pahit karena ia tahu betul Nisa tidak akan bahagia tanpanya sama seperti dirinya yang tidak akan pernah bisa menemukan jawaban itu. Anggraeni segera melepaskan jawaban membantu Nisa menjawab pertanyaan Armanda.
"Caranya, Saya sudah memikirkan caranya," menatap Armanda lalu menatap Nisa. "Menikahlah dengan Nayaka."
Armanda dan Nisa terkejut mendengar ucapan Anggraeni, Nayaka lebih terkejut lagi karena tidak pernah memikirkan hal ini terlebih lagi ini ibunya yang bicara seseorang yang sebelas tahun lalu pernah menentang hubungan cintanya dengan Nisa. ntahlah apa yang dipikirkan ibunya tapi Nayaka sangat senang dengan ide ini. Armanda segara menolak cara oma nya memisahkannya dari Nisa karena ini sudah terlalu kejam.
"Tidak bisa. Aku tidak setuju. Oma tidak boleh bertindak sesuka hatimu."
"Hanya cara ini yang paling baik, nama keluarga Akbar sudah tercoreng dengan ulahmu jadi biarkan kami memperbaikinya, pernikahan Nisa dan pamanmu akan baik bagi semuanya, untukmu, untuk Nisa dan untuk keluarga ini."
"Aku menolak!" tegas Armanda.
__ADS_1
"Aku menerima." timpal Nisa berhasil mengarahkan mata semuanya pada Nisa. Nisa menatap pria di sampingnya dengan kemampuan yang masih tersisa untuk menatapnya. "Kakak akan menikah dengan Nayaka. Bukankah ini ide bagus.."
Armanda dan Nayaka terkejut. Anggraeni tersenyum puas. Armanda merasakan sakit yang luar biasa di ulu hatinya.
"Aku tahu selain aku di hatimu. Tidak ada pria lain.."
"Kamu tidak lupakan, Nayaka adalah pacar pertama Kakak? Tidak sulit bagi Kakak untuk mencintai Nayaka lagi, Jadi posisi kita sama, Bintang kembali pada Mutiara dan Kakak akan kembali pada Nayaka." Setelah mengucapkan kata-katanya Nisa segera pergi meninggalkan kamar ini untuk tidak terlihat kalau dirinya saat ini sangat prustasi.
Pernikahannya ternyata bukan omong kosong. Anggraeni mengumumkan secara khusus pada media tentang pertunangan Nisa dan Nayaka padahal secara agama Nisa masih istrinya, tidak ada perceraian karena pernikahannya dengan Nisa dulu tidak ada yang mengakuinya bahkan ibu asuhnyapun saksi pernikahannya mendadak hilang.
Anggraeni menjadi orang yang paling bahagia dengan pertunangan ini, menurutnya pertunangan putranya dengan Queen akan mengembalikan citra keluarga dan perusahaannya setelah dibuat malu oleh hubungan terlarangnya antara cucunya dan Queen yang tersiar di beberapa media beberapa bulan lalu, selain itu tak ada cara lain lagi yang sanggup membuat cucunya bisa melepaskan Nisa.
Armanda menjadi orang paling menderita dengan pertunangan mereka yang akan terjadi minggu ini, walau ia berusaha mengembalikan posisinya seperti dulu sebagai adik kesayangannya, tapi kenyataan setiap kali melihat Nisa hatinya sangat sakit dan sangat merindukannya sebagai kekasihnya. Armanda sangat membutuhkan gairah dan kehangatannya dan itu adalah nalurinya sebagai seorang pria dewasa.
"Setelah kupikirkan, aku akan kembali ke London..." Armanda mengumumkan rencananya pada saat makan malam dan seketika ia menyaksikan perempuan yang duduk di hadapannya nampak terlihat terkejut, itu bisa di lihat tiba-tiba ia menyaksikan Nisa menjatuhkan gelas di tangannya dan Armanda merasa tidak tega melihatnya karena ia tahu bukan dirinya saja yang merasa menderita tapi perempuan ini juga.
Nisa merasa gemetar mendengar ucapan adiknya malam ini di meja makan, tidak pernah Nisa berpikir adiknya akan pergi lagi meninggalkannya.
"Maaf..," sepatah suara Nisa gugup dan gemetar.
Nayaka mengerti kepedihan Nisa saat ini begitupun Anggraeni karena mereka sendiri merasa terkejut dengan keputusan yang diambil Armanda saat ini.
Nisa sadar ia tidak bisa menutupi kerapuhannya. Nisa memang menginginkan pria ini untuk melupakannya namun tak pernah berharap kalau adiknya ini akan meninggalkannya lagi ke luar negeri seperti dulu. Nisa sangat takut penderitaan selama sepuluh tahun tanpa adiknya akan terulang lagi hidupnya hampa dan kesepian.
Segera Naya memegangi tangannya erat membantunya menguatkan hatinya, Nayaka merasakan kepalan tangan Nisa dingin membuktikan kalau saat ini Nisa sangat shock.
"Sudah tidak apa-apa." Sambil meremas telapak tangan Nisa, kemudian menatap pelayannya. "Bik tolong bereskan." Kembali menatap Nisa yang nampak tegang terlihat sekali penderitaan tergambar di wajahnya yang nampak rapuh.
Armanda hampir ingin meralat kembali keputusannya menyaksikan perempuan di hadapannya nampak terlihat shock namun ketika ia menyaksikan perhatian Nayaka kepadanya saat ini membuatnya harus memutuskan ini. Armanda tidak merasa kuat kalau saat ini ada pria lain di dekat Nisa yang ingin rasanya segera pergi dari sini saat ini juga.
"Aku akan menyelesaikan kuliahku di sana." ujar Armanda meneruskan tanpa berani melihat wajah Nisa dan kembali pokus pada wajah oma nya yang duduk di kursi utama meja makan ini. "Dan mengenai Mutiara," menatap gadis di sampingnya, "Aku akan mencarikannya dokter untuk mengobatinya. Aku yakin dia pasti sembuh."
"Oma juga berharap begitu." Menatap wajah Mutiara sebentar kembali menatap cucunya. "Kapan kamu akan pergi?"
"Secepatnya."
Selepas Armanda mengeluarkan katanya seketika itu juga Nisa menitikan air matanya, dalam hati Nisa tidak menginginkan pria ini pergi namun Nisa tak memiliki kemampuan untuk protes meskipun saat ini ia sudah jadi kakaknya lagi.
"Maaf. Aku kurang enak badan. Aku akan istirahat dulu di kamar." Suara Nisa parau kepalanya sedikit menunduk berharap semua mata tidak menyaksikan kepedihannya saat ini, walau ia tahu itu tidak berhasil.
"Aku akan mengantarmu..." ujar Nayaka segera berdiri mengikuti Nisa dan menggiringnya berjalan.
__ADS_1
Armanda merasakan sakit yang luar biasa menghadapi situasi seperti ini dan tak tahan rasanya melihat perlakuan Nayaka pada Nisa yang mengambil posisinya.
HAII HAII HAI PARA PEMBACA SETIA TETAP DUKUNG NISA DAN BINTANG YAH DENGAN CARA LIKE, KOMEN DAN KASIH VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA, CERITA HAMPIR SELESAI SAAT INI SUDAH SAMPAI MENUJU EMPAT EPISODE TERAKHIR, TERUS BACA YAH AKANKAH NISA DAN BINTANG BERSATU ATAU MEMANG HARUS BERPISAH???