
Nisa dan Anggraeni duduk bersama dalam satu mobil bagian belakang, sementara Nayaka di depan menyetir mobilnya sendiri. Saat mobil berhenti di depan lampu merah saat itulah Nayaka diam-diam menyaksikan dua wanita paling berpengaruh dalam hidupnya melalui kaca mobil yang terpangpang di depan. Yang satu muda dan cantik wajahnya pucat serta panik, ia nampak tersiksa dengan adanya lampu merah. Yang satu tua dan apik walau ia nampak berusaha tenang namun Nayaka melihat jelas bongkahan kekhawatiran pada kedua bola matanya.
Nayaka tersenyum pahit membayangkan seandainya ia menjadi Armanda tentunya ia akan merasa menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini, atau paling tidak seandainya ia bisa mendapat cinta Nisa sedikit saja dari cintanya untuk Armanda atau seandainya ia dapat sedikit saja kepedulian ibunya meski hanya setitik dari kepeduliannya yang diberikan untuk Armanda, Nayaka yakin hidupnya tidak akan sehampa ini.
Nayaka berhasil keluar dari lampu merah. Ia naikan kecepatan mobilnya secepat keponakannya ketika sedang balapan di jalan raya. Ini kecepatan tertingginya dalam sejarah nyetir selama hidup Nayaka, itu karena Naka merasa muak dengan dirinya. Julukan sosok pangeran tampan dan baik hati yang mereka arahkan padanya tidak semujur julukannya, bukankah pangeran sosok yang dipuja dan dicintai semua orang dan diliputi banyak keberuntungan tapi kenapa justru kebalikannya.
Nayaka selalu kesepian dan tidak beruntung dalam hidupnya bahkan menurutnya pangeran buruk rupa sekalipun beruntung bisa mendapatkan cintanya, tapi justru kenapa orang-orang seperti kakaknya dan Armanda menjadi sosok yang paling dipuja dan dicintai? Ini sangat tidak adil menurutnya.
Queen keluar dari mobilnya paling terburu-buru ketika mobil yang ditumpanginya sudah sampai di depan rumah milik Anggraeni. Ia berlari melupakan tuan rumahnya sendiri sementara Naka dan ibunya hanya bisa terpaku dan mengakui dalam hati kalau tidak ada cinta yang melebihi cinta Nisa pada Armanda.
"Bagaimana keadaannya, Bik.. ?" tanya Nisa panik pada pelayan yang dijumpainya ketika menaiki tangga menuju lantai atas.
"Den Manda sudah siuman tapi sekarang Den Manda lagi ngamuk. Menolak semua dokter untuk memeriksa keadaannya." bik Kasih menjelaskan dengan panik sambil ikut berjalan menggiring Nisa yang berjalan setengah berlari.
Nisa meneteskan air matanya ketika ia membuka pintu kamarnya menyaksikan sendiri bagaimana keadaan adiknya saat ini. Keadaannya nampak kacau ia merangkak terguling di lantai bawah tempat tidurnya. Seorang dokter dan beberapa perawat berusaha mengendalikannya tapi ia mengamuk. Lantai sudah kotor berantakan dengan makanan dan obat-obatan.
Nisa melangkah gontai menghampirinya menjatuhkan tubuhnya di dekatnya. Nisa menangis ketika pria itu menatapnya dan menyadari keberadaannya dirinya saat ini. Pria itu menyambutnya dengan senyuman yang lebih mirip tangisan. Kedua telapak tangan Nisa menyentuh kedua pipinya yang nampak dingin dan pucat. Nisa menangis sambil mendekap pria itu namun dalam sekejap pria itu berusaha melepaskan diri dari tubuh Nisa.
Nisa membiarkan dirinya menjadi tempat muntahan adiknya. Armanda mengeluarkan semua makanan yang berada di dalam perutnya mengotori pakaian Nisa, padahal ia berusaha mendorong pelukan Nisa untuk menjauh, namun perempuan itu sedikitpun tidak bergeser.
"Kenapa tidak menjauh?" lirihnya parau menatap baju Nisa yang terkena muntahannya dan berusaha membersihkannya dengan tangannya sambil berucap, "menjijikan sekali..."
"Tidak apa-apa.." Nisa mengangkat satu tangannya dan mendaratkannya di bibir adiknya dengan jari jemari. Nisa menyeka mulut adiknya yang basah bekas muntahan mungkin bagi orang lain akan merasa menjijikan tapi tidak bagi Nisa. "Sekarang, Kakak bantu ketempat tidur yah...?" ujar Nisa parau sambil mengarahkan tangan kekasihnya memutar ke bahunya, membantunya berdiri dan memapahnya ke tempat tidur dengan hati-hati.
Nisa membantunya membaringkannya terlentang di ranjang ia sendiri duduk menempel di sampingnya, lalu menatap dokter yang masih berdiri di ruangan ini dengan beberapa suster. "Dok, tolong periksa keadaannya..."
Armanda sendiri membiarkan dokter itu memeriksa keadaannya tak ada lagi alasan dirinya untuk menolak lagi? Orang yang ingin ia lihat sudah berada di sisinya menggeggam tangannya, semangatnya tumbuh ketakutannya hilang dan ia ingin sembuh.
"Bagaimana, Dok..?" Tanya Nisa serius setelah dokter itu memeriksannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Ini hanya reaksi dari kurangnya pemasukan makanan selama berhari-hari. Kalau sudah makan pasti akan membaik."
"Terimakasih. Dok." Kembali menatap wajah adiknya sambil mengusap kening dan rambutnya. "Kenapa begini. Bintang tidak boleh menyiksa diri seperti ini.."
"Aku sangat merindukanmu. Kak.., Aku takut tidak bisa melihatmu lagi.."
"Kakak sekarang sudah ada di sini. Tidak akan kemana-mana. Sekarang Bintang makan dulu yah. Maukan..?" lirih Nisa dan ia meluhat pria yang sedang terbaring lunglai itu mengangguk. Nisa beralih menatap bik Kasih yang masih berdiri di belakangnya. "Bik. Tolong buatkan bubur ayam dan teh agak manis..." pinta Nisa pada bik Kasih yang langsung mengikuti perintahnya. Kembali Nisa mengeluarkan kalimatnya. "Tolong semua tinggalkan kami berdua." ujarnya tanpa beralih pandangannya dari Armanda.
Tak ada satu orangpun yang menolak perintah Queen. Semua orang yang berada di ruangan ini meninggalkan kamar ini termasuk Nayaka dan Anggraeni yang terpaksa mengakui secara pahit kalau cucu kesayangannya itu hanya membutuhkan Nisa saja.
Nisa mengganti pakaiannya dengan kaos milik adiknya sekaligus membantu kekasihnya menggantikan pakaiannya karena sedikit terkena muntahan, beberapa saat kemudian bik Kasih datang membawa bubur dan teh manis pesanan Nisa tadi.
Nisa menyuapi pujaan hatinya makan setelah tiga hari ini ia dengar dari bik Kasih pemuda ini menolak semua makanan dan selalu membantingnya. Setelah makanannya habis, Nisa membantunya meminum obat dan dalam beberapa menit ia tertidur karena pengaruh obat tidur yang di berikan dokter. Nisa menegok ke samping belakang ketika ia mendengar suara langkah bik Kasih datang lagi ke kamar ini.
"Ada apa, Bik?"
Nisa terdiam sesaat tapi bukan berpikir untuk menemukan alasan kenapa Anggraeni ingin menemuinya melainkan Nisa berpikir tentang kejadian hari ini dan Nisa membutuhkan penjelasannya.
"Ada apa kau memanggilku?" Tanya Nisa ketika sudah berada di ruangan kerja Anggraeni yang ada di rumah ini. "Apa kau mau menjelaskan, kenapa sampai ada kejadian ini?"
Anggraenni tahu Nisa menyalahkannya atas kejadian yang terjadi hari ini pada Armanda, tapi iapun tidak merasa ada yang perlu dijelaskan dalam hal ini.
"Tidak ada yang perlu ku jelaskan dalam hal ini? Tapi ku pastikan hal semacam itu tidak akan terjadi lagi." Ungkap Anggraeni dan ia melihat perempuan yang sedang duduk bersebrangan dengannya itu nampak menyelidik. Kembali Anggraeni meneruskan kalimatnya. "Mulai hari ini saya akan membiarkannya dekat denganmu. Saya melakukannya demi masa depan Armanda karena Armanda sangat penting untukmu dan juga untukku. Saya yakin kau juga akan melakukan apapun untuk Armanda. Jadi saya ingin mengadakan kesepakatan denganmu."
"Kesepakatan apa?" Nisa menyelidik wajah Anggraeni.
"Tepat di ulang tahun perusahaan nanti saya akan menjadikan Armanda sebagai pemilik tunggal Akbar Group. Kamu mengertikan maksudku..?"
Nisa memahami maksudnya. Tanpa di mintapun ia pernah menyerahkan perusahan itu pada Armanda, hanya saja saat itu adiknya menyerahkannya kembali, Anggraeni sepertinya kuatir kalau dirinya akan kembali menggeser tempatnya di sana, maka dia bertindak untuk mengadakan kesepakatan ini. Dalam hati Nisa menerima kesepakatan itu dengan sangat gembira, artinya perempuan tua ini tak akan bersusah payah lagi untuk berusaha memisahkan ia dari Bintangnya.
__ADS_1
"Apa ada jaminannya?"ucap Nisa pura-pura angkuh padahal hatinya bergembira ria, kesepakatan ini sebagai pembuktian perempuan itu menyerah.
"Tentu saja. Tepat di hari ulang tahun perusahaan nanti saya akan mengumumkan statusmu dalam keluarga ini. Saya akan menjadikanmu sebagai bagian dari keluarga ini dan saat itu akan saya resmikan dirimu sebagai Kakak dari Armanda. Bagaimana? Kamu puas?"
Kegembiraan hati Nisa menyusut ketitik nol hingga ia terpaku tak mampu untuk berkata. Seharusnya itu adalah penawaran yang baik namun ada hal lain yang wanita tua ini belum tahu yaitu hubungannya yang sedang terjalin saat ini? Artinya kalau ia menyetujuinya dirinya harus menyingkirkan perasaan lainnya yang ia rasakan pada Armanda tapi kalau ia menolaknya ini akan menjadi pertanyaan besar bagi Anggraeni.
Menurut Nisa, Anggraeni belum waktunya tahu, kecurigaannya harus dihindari demi keamanan Bintangnya. Terpaksa Nisa menyetujuinya.
"Iya. Baiklah aku setuju."
Setelah terjadi kesepakatan Nisa keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju kamar adiknya dengan lesu. Bik Kasih masih menjaganya sesuai permintaannya tadi. Nisa menghampirinya dan duduk menempel di tempat tidurnya sambil meraba wajah adiknya yang masih tidur tampak begitu damai dan polos. Nisa meraba wajah itu dengan perasaan bingung dan sedih.
"Dia begitu tampan yah, Bik?" ucap Nisa parau tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan yang sedang tertidur pulas di dekatnya.
"Benar. Mbak." balas bik Kasih ikut melihat wajah tampan tuan kecilnya yang tertidur lelap. "Adiknya Mbak Nisa memang sangat tampan."
"Adik..."
Nisa mengulang murung perkataan pembantu yang berdiri di sampingnya itu seolah menegaskanya tentang status dirinya sebagai kakak. Sudah telambat untuk meralat semuanya, orang sudah tahu kalau pria ini adiknya bahkan seorang Anggraeni yang sekeras batu akhirnya mencair dan mengakui status ini. Nisa bertanya dalam hati apakah ini yang disebut takdir? Tak ada satupun di dunia ini yang sanggup mengubah takdir meskipun ia sangat ingin mengubahnya.
"Menurut Bibik, sampai kapan Armanda akan jadi adikku, Bik?" lirih Nisa pahit dalam hati ia sudah tidak menginginkannya lagi. Ia ingin jadi istrinya bukan lagi kakaknya.
"Tentu saja selamanya, Mbak. Walau nyonya menolak tapi dalam hukum Mbak tetap adalah seorang kakak yang dipilihkan Tuan Bintang Akbar untuk menjadi kakak bagi Den Manda. Mbak jangan khuatir Den Manda akan tetap menjadi adik Mbak sampai mati."
Nisa tiba-tiba meneteskan air matanya mendengar perkataan bik Kasih. Dalam hati Nisa membenarkannya namun Nisa menangis merasa hancur karena bukan itu jawaban yang ingin ia dapatkan.
"Adik..," tangis Nisa pahit sambil menyimpan kepalanya menempel di kepala Armanda. Nisa menghentikan tangisnya lalu mengangkat kedua kakinya di tempat tidur dan memeluk pemuda yang sedang tidur itu sambil berkata. "Sampai kapanpun Bintang kecilku akan selalu menjadi adikku. Benarkan, Bik." lirih Nisa namun hatinya tersiksa dengan kebenaran itu.
__ADS_1