
Setelah kejadian itu Nisa mengurung diri di salah satu rumah kecil yang ia beli beberapa waktu lalu. Di hari ke enam Nisa baru keluar lagi dari rumah itu untuk menemui pengacaranya, bukan menuntut hak atas Armanda lagi melainkan ia ingin mengalihkan semua aset kekayaan yang ia kumpulkan dari mulai rekening pribadi yang berjumlah miliyaran rupiah, Investasi rumah mewah, semua mobil mewah sampai apartemen yang selama beberapa tahun ini ia tinggali serta enam puluh persen Akbar group dialihkan menjadi atas nama Armanda Akbar.
Berita pengalihan sudah tersebar di hari berikutnya dan yang paling terkejut adalah keluarga besar Akbar sendiri terutama Anggraeni Akbar dan putranya. Keputusan Queen dianggap tidak masuk akal dia menyerahkan semua harta bendanya tanpa menyisakan sedikit saja untuknya.
Nayaka protes bagaimanapun harus diakui Akbar Group lebih membutuhkannya dari pada keluarga Akbar sendiri.
"Jangan lakukan itu Nisa..." pinta Nayaka pada Queen.
"Aku tidak membutuhkan pendapatmu." balas Nisa angkuh sambil menurunkan buku-bukunya dari rak dan memasukannya ke dalam koper kecil.
"Aku mohon pikirkan lagi. Akbar Group sangat membutuhkanmu. Kalau kamu punya masalah, katakan saja, mungkin aku bisa membantumu?"
Nisa terdiam tiba-tiba matanya berkaca-kaca, membayangkan masalah yang menimpahnya terlalu rumit. Hubungan kakak beradik dengan adik kesayangannya retak karena perasaan yang tidak boleh diungkapkan.
Sebenarnya Nisa ingin berbagi masalahnya dengan orang lain dan orang itu bisa memahaminya perasaannnya saat ini, tapi apa yang sedang terjadi pada dirinya tidak mungkin ada satu orangpun di dunia ini yang sanggup memahaminya. Perasaan yang ia rasakan pada adiknya terlalu rumit untuk bisa di pahami apalagi oleh Nayaka.
"Ini masalahku," balas Nisa berusaha tetap angkuh menatap Nayaka. Beralih menatap meja dan mengambil sebuah pigura kecil yang selalu ia letakan di meja kerjanya.
Nisa mengingat kembali kejadian di poto itu, berpoto di taman belakang kampus saat mengantarnya berangkat kuliah. Saat itu terkejut ketika di poto tiba-tiba bibir adiknya yang duduk di sebelahnya mendaratkan sebuah ciuman di pipinya. Dan cekreek... Poto selfie paling romantis antara kakak adikpun mulai nangkring di meja ini sejak hari itu.
Sejak awal pertemuan, ia dan adiknya memang sangat dekat dan selalu mesra tak peduli orang melihat kemesraan mereka seperti apa, namun saat itu perasaannya masih murni belum tersentuh oleh kontaminasi virus cinta yang lain di hati ia dan adiknya.
Nayaka melihat kesedihan yang mendalam menyaksikan perempuan di depannya menatap hampa poto dalam pigura kecil yang dipegangnya.
"Apa kamu memiliki masalah dengan adikmu."
Nisa menyimpan potonya dalam koper, lalu menatap Nayaka.
"Apa.. Bintang baik-baik saja."
"Tidak ada yang baik. Sejak ia pulang ke rumah kami lagi seminggu lalu. Dia sangat murung. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
Nisa menitikan air matanya namun segera menghapusnya. Dan mengambil berkas-berkas dalam sebuah map.
"Tolong berikan ini padanya." menyodorkan map itu pada Nayaka.
"Apa ini?" Tangan Nayaka mengambil alih.
"Itu semua harta yang ku miliki. Sudah ku alihkan semua atas nama Armanda. Termasuk enam puluh persen perusahaan ini."
"Kau mau kemana."
"Aku tidak kemana-mana."
"Lalu kenapa kamu mengalihkan semua hartamu atas nama Armanda bahkan saya sudah mendengar kamu tidak menyimpan sedikit saja untuk bekalmu."
"Semua harta yang ku miliki, dari awal aku memang sengaja mengumpulkannya untuk Bintang Kecil. Aku tidak membutuhkan apapun."
"Sebenarnya masalah berat apa yang sedang kalian berdua hadapi, Nisa katakanlah, mungkin aku bisa membantumu."
"Sudah ku bilang ini masalahku."
"Ini menyangkut keponakanku, juga perusahaan ini. Perusahaan ini akan bagaimana kalau kamu tinggalkan. Nisa jika ada masalah yang sedang kamu hadapi bersama keponakanku. Aku mohon selesaikanlah dengan cara baik-baik. Bukan dengan cara seperti ini. Itu bukan jalan terbaik dan itu bukan sikap seorang Queen yang aku kenal. Aku mohon pikirkan lagi. Kalau memang terlalu berat biarkan aku membantumu."
Nisa terdiam sebentar menatap Nayaka lalu berkata,
"Aku tidak pernah membutuhkan orang lain untuk membantuku. Aku pasti akan keluar dari masalahku tanpa bantuan siapapun." balasnya pura-pura tegar tapi sebenarnya dalam hati ia sangat membutuhkan orang lain untuk meringankan penderitaannya.
"Seperti itulah Queen Agung yang ku kenal di perusahaan ini. Queen yang hebat dan selalu sanggup mengatasi semua masalahnya. Harus ku akui kehebatanmu dalam mengatasi masalah perusahaan ini. Jadi tak ada salahnya kamu memikirkannya lagi. Akupun merasa perusahaan ini lebih membutuhkanmu dari pada keluarga Akbar sendiri. Apabila kamu keluar karena ingin mengatasi masalahmu. Itu bukan caramu..."
Nayaka menyaksikan keangkuhan pada wajah perempuan di depannya itu mulai nampak surut, sepertinya masalah yang sedang di hadapi Nisa saat ini benar-benar bukan masalah biasa hingga membuatnya nampak prustasi.
"Aku tidak tahu apa masalahmu. Yang ku tahu keponakanku saat ini, sangat menderita. Saya percaya padamu. Carilah solusi yang tepat untuk kebaikan semua."
Setelah mengeluarkan kata-katanya Nayaka keluar dari ruangan ini. Nisa menangis pecah setelah kepergian Nayaka. Nisa tak sanggup pura-pura kuat sementara ia yakin keadaan adiknya mungkin jauh lebih menyedihkan. Nisa prustasi karena tidak sanggup mengatasi masalahnya.
__ADS_1
Pada akhirnya Nisa menyadari Anggraeni tetap menjadi pemenang mutlak atas diri Bintang Kecil. Nisa benar-benar telah merasa kehilangan adiknya. Itulah alasan kenapa ia mengalihkan semua harta kekayaannya untuk adiknya saat ini sekaligus untuk mematahkan prasangka adiknya. Nisa ingin membuktikan kalau uang bukanlah segalanya.
Nayaka pulang ke rumahnya namun langkahnya terhenti ketika ia melihat keponakan nampak sedang duduk di taman depan rumah ini.
Nayaka mendekat, ia menyaksikan keponakannya sedang melakukan sesuatu yang menurutnya aneh. Cukup mengherankan ketika ia melihat keponakan kesayangannya ini sedang memasukan helaian bunga mawar ke mulutnya dan mengunyahnya.
"Apa itu enak?" sahut Naka sambil mengikutinya duduk di sebelahnya.
Armanda membalas pertanyaannya dengan tawaan kecil.
"Pahit sekali.." mengernyitkan hidungnya. "Paman tahu sepertinya Kak Nisa menipuku.., dia bilang mawar ini rasanya lumayan. Apanya yang lumayan ini pahit sekali. Rasanya benar-benar tidak enak.." Meludah untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya.
"Benarkah Nisa bilang begitu.." Nayaka terpukau lucu.
"Hmmm.." Armanda mengangguk. "Coba deh.." menyodorkan mawar di tangannya pada Nayaka.
Nayaka mengambil alih dengan tersenyum lalu memasukan sehelai mawar itu ke dalam mulutnya dan pelan-pelan mengunyahnya dalam sekejap memuntahkannya.
"Kamu benar. Ini pahit."
"Tuh kan benar.., pahit." Armanda tersenyum kecil.
"Nisa melakukannya. Untuk apa? Ini terlalu pahit untuk jadi cemilan..."
Dalam sekejap raut wajah Armanda berubah murung. Sebenarnya saat ini ia sangat menderita karena merindukan Nisa, itulah kenapa ia memakan mawar ini. Kakaknya bilang mawar ini sangat baik untuk jantung dan saat ini ia merasa jantungnya terus berdentum tak karuan hingga dadanya terasa sesak. Armanda yakin keadaannya saat ini pasti karena pengaruh hatinya yang sangat sakit dia berharap mawar ini akan sanggup mengobati kepedihan hatinya saat ini.
"Katanya ini baik untuk Jantung. Sepertinya itu juga bohong, saat ini rasanya dadaku masih terasa sesak padahal aku sudah banyak memakannya.." ungkapnya sedih tanpa sadar sudah membuka perasaannya pada Nayaka.
Nayaka terpaku. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut keponakannya seolah membukakan perasaannya saat ini. Ia tidak hanya sedang merindukan Nisa tapi juga memberitahukan kepedihan hatinya, itulah alasan kenapa ia memakan kuntum mawar ini karena ia pikir mawar bisa mengobati sakit hatinya saat ini. Tawaan yang keluar sebenarnya tangisan yang ingin ia keluarkan.
"Dadamu terasa sesak hingga merasa jantungmu akan berhenti berdetak. Itu alasanmu memakan bunga ini. Benarkan..?" ujar Nayaka berhasil menitikan air mata keponakannya. Dan sepertinya tebakannya benar kembali Nayaka meneruskan. "Kamu berharap bunga itu bisa mengobati perasaamu saat ini. Benar begitu?"
Armanda segera menyeka air matanya. Tebakan pamannya benar, saat ini ia sedang merasa hancur, dadanya terasa sakit hingga tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Armanda merasa akan segera mati karena sudah seminggu berpisah dari Nisa.
Nayaka tidak mau berkata-kata lagi hatinya sudah ikut sakit melihat kerapuhan keponakannya saat ini. Naka mengeluarkan sebuah map berisi surat-surat penting yang diberikan Nisa. Tangan Nayaka menyodorkan map itu pada Armanda.
"Berkas-berkas seluruh kekayaan Nisa termasuk surat kepemilikan enam puluh persen Akbar Group. Nisa menyerahkan semuanya untukmu. Semua harta Nisa sekarang sudah jadi milikmu." ungkap Nayaka dan ia melihat keponakannya nampak kaget dengan penuturannya. Kembali Nayaka meneruskan, "entah ada masalah apa yang membuat kalian berdua seperti ini. Nisa memutuskan keluar dari Akbar Group hari ini."
Armanda tidak sanggup lagi menutupi kesedihannya. Armanda terkejut setengah mati ia tidak menyangka kakaknya akan melakukan langkah ini.
Pertanyaan besar hinggap di kepalanya. Kenapa kakaknya menyerahkan seluruh kekayaannya? Apa ini sebagai pembuktiannya kalau uang bukan segalanya ataukah ini berarti dia akan benar-benar pergi meninggalkannya.. ?
TIDAK!!!
Armanda tidak akan membiarkan itu terjadi meski ia sangat kecewa dengan Nisa tapi di hatinya yang paling dalam ia tidak mau berpisah dengannnya. Ia mau bersama selamanya tak peduli seperti apa masa lalunya, jika memang kakaknya milik ayah Mutiara maka sekuat tenaga ia akan meraih kembali dengan cara apapun.
Armanda berlari meninggalkan Nayaka. Ia mencari ke apartementnya namun tidak menemukannya lalu ia mencari ke rumah Ridwan Agung berharap ia bisa menemukannya di sana, paling tidak ia bisa bertanya keberadaan kakaknya saat ini pada ayah Mutiara.
Armanda terkejut lesu ketika ia menyaksikan ayah Mutiara sedang duduk di sebuah kursi roda. Wajahnya pucat memperlihatkan garis tua di keningnya, di lehernya nampak melilit mantel kecil. Sepertinya kejadian pada saat makan malam itu mengantarkan pria sedikit tua itu pada sebuah kursi roda. Armanda merasa bersalah padanya.
"Maaf.. Masalah yang terjadi karena aku, sudah membuat Anda seperti ini. Aku bersalah pada Anda." ujar Armanda namun ia melihat lelaki itu malah tersenyum padanya.
"Ini bukan salahmu. Nak.."
Ridwan Agung membalasnya dengan suara parau karena sakit lalu melihat map kuning di tangan Armanda dari sana ia menebak kedatangannya pasti mencari Nisa. Dari berita yang tersebar Nisa sudah menyerahkan seluruh daptar kekayaannya pada pemuda ini termasuk Akbar Group.
"Apa kamu datang untuk mencari Kakakmu?"
"Iya. Aku ingin mengembalikan ini padanya." Menunjukan mapnya.
"Jangan lakukan itu. Nak.." protes Ridwan Agung sedih. "Queen pernah memberitahuku tentang masa lalunya, kalau ia dan Anggraeni Akbar pernah memperebutkanmu di pengadilan. Saat itu ia merasa hukum tidak adil kepadanya. Ia harus kehilanganmu karena ia tidak memiliki uang untuk menjamin kehidupanmu. Kamu harus tahu kenapa ia menyerahkan semua hartanya untukmu. Semua memang ia kumpulkan untukmu, jauh sebelum ia bertemu denganmu lagi."
Armanda membisu lesu dan sedih membayangkan sebesar itukah penyesalan kakaknya akibat peperangannya dengan omahnya dulu? Armanda terharu dengan perjuangan Nisa namun demi uang dia menjual kehormatannya itu tidak patut dibenarkan.
"Tapi demi uang ia sempat menjual diri. Itu tidak patut dibenarkan." ujarnya sedih tapi ia malah melihat pria yang duduk di kursi roda itu tersenyum.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sudah terpengaruh oleh kata-kata Mutiara? Semua itu tidak seperti apa yang kamu bayangkan..."
"Tapi Kakakku tidak menyangkalnya? Dia sudah mengakui semuanya."
"Apa yang dia akui? Apa dia bilang dia dijebak?"
"Maksud Anda?" Armanda menyipit bingung.
Ridwan Agung memulai cerita tentang kejadian delapan tahun lalu yang menimpah Queen. Berawal ketika ia diajak seorang teman datang kesebuah tempat bordil. Saat itu ia merasa sangat kacau istrinya belum lama meninggal keadaan perusahaan yang hampir bangkrut. Sekedar menenangkan pikiran ia pergi ke tempat laknat itu. Di sanalah untuk pertama kalinya ia melihat Nisa.
Keadaan Nisa saat itu sangat menyedihkan. Di depan matanya seorang Mucikari memaksa dan mempermalukannya hanya karena Nisa menolak melayani tamu, meski siksaan setiap hari menderanya Nisa tetap berusaha menjaga kehormatannya.
Hingga pada suatu hari Melisa memaksanya melayani tamu dengan menguncinya dalam kamar saat itulah dengan secara paksa Nisa di rampas kesuciannya oleh orang yang tidak dikenal.
Nisa berusaha bunuh diri. Nisa sangat terpukul karena keperawanannya hilang di tempat itu secara tragis. Saat itu ia datang tepat waktu berhasil menghentikannya aksi bunuh dirinya. Dari situ muncul bagaimana menyelamatkan kehidupan gadis itu hingga akhirnya terjadi kesepakatan antara ia dan Melisa dengan cara dibeli akhirnya ia berhasil menyelamatkan kehidupan gadis malang itu.
Seperti ada batu besar yang menghantam kepalanya ketika Armanda mendengar penjelasan ayah Mutiara secara detil tentang kehidupan yang terjadi pada kakaknya delapan tahun lalu.
Penyesalan kemarahan kesedihan bersatu mengisi setiap inci tubuhnya, mengoyak bathin dan jiwanya. Armanda memurkai diri karena pernah menganggap dewi langit, bidadari surga, sumber cinta kasihnya sesuatu yang sangat ia dewa-dewakan selain Tuhan adalah wanita pendosa yang mencari kesenangan di dalam kegelapan.
Air matanya meleleh, itu sudah cukup membuktikan sebuah penyesalan bagi Ridwan Agung. dan ia bisa bernapas lega karena bisa meredakan kembali kesalah pahaman yang diakibatkan putri semata wayangnya.
"Pergilah. Temukan Queen, karena pintu hati Queen selalu terbuka untukmu."
Armanda tersenyum sebagai balasan ungkapan pria paruh baya itu dan segera ia melesat untuk mencari keberadaan Nisa saat ini, namun saat keluar dari pintu Mutiara sudah berdiri di hadapannya dengan menyunggingkan seutas senyuman sinis.
"Lo cari Nisa? Lo tidak akan bisa menemukannya."
"Kenapa?"
Armanda merasa cemas, dari cara Mutiara tersenyum terlihat begitu menakutkan. Armanda merasa gadis yang selalu dianggap sahabatnya ini sudah melakukan sesuatu terhadap perempuan yang dicintainya.
Mutiara menjawab.
"Gue sudah mengembalikan dia ke tempat yang seharusnya dia berada."
"Apa maksudmu?" Armanda melesat. Mencengkram tangan gadis di depannya dengan perasaan cemas. "Cepat katakan apa yang sudah kamu lakukan padanya?" Suara Armanda kencang dan panik.
"Sudah gue bilang, gue sudah mengembalikan dia ke tempat seharusnya dia berada." Menarik diri dari cengraman Armanda.
"Kemana?" Teriak Armanda.
"Ke tempat yang cocok buat dia."
"Di mana..." Teriak Armanda kembali mencengkram lengan Mutiara hingga bahunya terangkat.
"Menurut lo kemana? Tempat yang cocok buat dia cuma rumah bordil. Gue sudah balikin dia ke tempat mucikari itu."
Armanda merasakan tubuhnya mendadak lemas. Mutiara berhasil keluar dari cengkraman Armanda.
"Seharusnya dari dulu perempuan itu tidak pernah keluar. Dengan begitu hidup gue akan baik-baik saja. Tempat bordil Melisa lebih cocok untuknya."
Baru selesai Mutiara bicara tiba-tiba Ridwan Agung sudah berdiri di antara mereka. Dari wajahnya nampak ia sudah mendengar semuanya.
"Apa maksudmu, Tiara?" Suara berat menatap putrinya. "Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Queen..?" teriaknya marah sambil berusaha berdiri dari kursi rodanya. "Cepat katakan?" suaranya menurun serak tiba-tiba dadanya terasa sakit dan Ridwan Agung jatuh dari kursi rodanya dengan wajah yang sangat pucat.
Armanda melesat segera menolongnya mengangkat tubuhnya dari kursi roda dan membawanya ke sopa membaringkan tubuhnya yang sangat lemah sementara Mutiara menangis panik menyaksikan sang ayah terbaring di sopa tidak berdaya.
"Tenanglah, Pak. Aku akan menolongmu..." ujar Armanda di tengah kepanikannya memikirkan Nisa.
Ridwan Agung berusaha menggerakan tangannya untuk meraih tangan Armanda yang duduk menempel di sopa. Dengan mulut yang berat menahan rasa sakit yang teramat sangat Ridwan Agung berkata dengan suara parau.
"Pergilah.. " ucapnya dengan napas tersengal-sengal. "Cepat, temukan Nisa."
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Bapak seperti ini?"
__ADS_1
"Saya mohon.. Nak." Ridwan Agung semakin menekan kuat cengkramannya menahan sakit. "Melisa.., akan.., menyakitinya, dia pasti akan..., balas dendam pada Nisa, karena..., telah membuatnya di penjara.., delapan tahun lalu, Bapak.. mohon.. pergilah." Ridwan Agung berhasil mengeluarkan kata demi kata dengan terbata-bata.
Armanda merasa sangat kacau kalimat yang keluar dari bibir kering ayahnya Mutiara membuatnya ketakutan setengah mati. Tak ada pilihan lain meski ia sangat ingin menolong lelaki ini namun Armanda sangat takut kalau ia akan terlambat menolong Nisa.