
Terpaku kaget namun dalam hati gembira ketika sosok perempuan cantik yang Armanda rindukan sudah berdiri di depannya dengan sosok yang nyata bukan lagi dalam bentuk khayalan seperti yang sering ia lihat akhir-akhir ini.
Rasanya ia ingin sekali menjatuhkan mangkok mie yang ia pegang saat ini dan berlari kearahnya untuk memeluknya, tapi jangankan untuk itu, tiba-tiba saja untuk menyahutnyapun bibirnya terasa amat berat dan memerlukan perjuangan keras untuk membukanya.
"Ha..,i.." Hanya untuk sepatah kata itu saja keluar terbata-bata.
Nisa menyaksikan ketegangan dan kegugupan pada pemuda jangkung di depannya, persis keadaan yang sama terjadi pula pada dirinya saat ini hanya saja Nisa berhasil menyembunyikannya dan berusaha tersenyum.
Nisa menghampirinya membantunya membawakan mangkuk berisi mie kuah yang sejak tadi dipegang di kedua tangannya. Menyaksikannya terpaku seperti itu Nisa khawatir mie panas dalam mangkuk itu akan tumpah mengenai kakinya.
"Ayo duduk.."
Nisa membuka kursinya setelah menyimpan mie kuah panasnya di meja kemudian ia duduk di depannya seolah berusaha tidak pernah terjadi apa-apa padahal jantungnya saat ini berdegup dengan sangat..... Kencang.
"Tidak baik sarapan mie pagi-pagi."
Nisa menasehati ketika adiknya sudah duduk di depannya nampak mengaduk aduk mie nya yang masih panas. "Hati-hati mie nya panas!" ujar Nisa setengah berteriak ketika melihat adiknya hendak memasukan mie panas itu ke mulutnya tanpa meniupnya lebih dulu.
Armanda menghentikan memasukan mie itu dan menatap Nisa dengan senyuman senang karena sedetil ini kakaknya masih memperhatikanya. Kembali ia meniup-niupnya.
"Kakak sudah sarapan?" tanya Armanda lembut setelah memasukan mienya ke dalam mulutnya.
"Sudah." Nisa berbohong karena sebenarnya dia belum makan apapun sejak kemarin selain minum air putih.
"Syukurlah, Aku senang." balas Armanda senang karena selama seminggu ini terus khawatir kakaknya males makan seperti dirinya.
"Kenapa tidak mesan makanan. Mie instan tidak baik dimakan pagi-pagi."
"Kemarin-kemarin aku pesan tapi.., tidak ada kakak.., sayang makanan itu banyak kebuang. Jadi sekarang sarapan yang ada saja." balasnya lalu memakan mie kembali.
"Bintang.. "
Nisa menyahutnya terasa berat ketika melihat adiknya sudah memasukan suapan keduanya dan Nisa merasa sangat grogi ketika pandangan pria itu mengarah pada kedua mata miliknya.
Nisa buru-buru melarikan pandangannya saat itu juga karena merasa takut tidak sanggup untuk mengatakan apa yang akan di sampaikannya saat ini. Segera Nisa menarik napas panjang seolah bersiap-siap untuk melakukan tugas penting.
"Tadi Kakak..., sempat ngobrol dengan Mutiara.." Suara Nisa terbata-bata dan mulutnya terhenti ketika mata pria itu nampak menyelidik seolah menebak mengenai apa yang akan ia sampaikannya. Dengan gugup dan berat Nisa berusaha meneruskan sambil menatap wajahnya. "Sepertinya Mutiara..,dia..., sangat, menyukaimu."
Armanda berusaha menebak dalam hati mengenai apa inti dari pembicaraan wanita di hadapannya saat ini. Tiba-tiba saja perasaan Armanda menjadi sangat tidak enak mengingat baru kemarin si ginsul dua itu menyatakan perasaannya dan sepertinya Mutiara menjadi objek dari pembicaraan ini? Membuat Armanda merasa takut mendengar kelanjutannya.
__ADS_1
"Oh." ucapnya singkat terdengar malas lalu memasukan kembali mie yang sudah berada di depan mulutnya.
"Menurutmu.., bagaimana Mutiara?"
Tepat seperti dugaannya, kakaknya saat ini berusaha menghindarinya dengan menjodohkan dirinya dengan Mutiara. Perasaanya benar-benar tidak enak sekali, Armanda kembali memakan mienya berusaha menghiraukannya.
"Tidak enak sekali." ucapnya bernada kesal.
Sebenarnya bukan rasa mienya yang tidak enak melainkan perasaannya. Ada perasaan pahit yang ia rasakan saat ini tapi bukan di lidah melainkan di hatinya.
Nisa menyaksikan adiknya mengalihkan pembicaraannya sebagai tanda ia tidak menyukai bahasannya. Tapi Nisa harus melakukannya.
"Menurut Kakak.., Mutiara adalah gadis yang manis."
"Menyebalkan, dari kemarin setiap apa yang ku makan rasanya pahit." ujarnya kesal.
Nisa merasakan hatinya sangat sakit menyaksikan orang yang ia cintai di hadapannya nampak terlihat sedih dan kesal, dari cara ia mengalihkan sepertinya ia sudah bisa menebak inti dari pembicaraan ini, itu bisa dilihat bagaimana ia berusaha tidak mau mendengar saat dirinya bicara.
Nisa teguhkan hati kalau ia harus melakukannya sepertinya bukan hanya untuk Mutiara tapi juga untuk kebaikan dirinya dan juga adiknya.
"Dari dulu Kakak sangat suka sekali dengannya. Jadi kakak ingin..,"
"Dengarkan Kakak kalau sedang bicara." protes Nisa pedih menyaksikan bagaimana pria itu berusaha menghiraukannya padahal ia nampak terlihat begitu terluka. "Kakak mohon, pacaranlah dengan..."
"Cukup, Kak!" protes Armanda memotong, tidak keras tapi berhasil menghentikan kalimat Kakaknya. "Aku tidak mau mendengarnya. sambil bangkit membawa mangkoknya keluar dari meja itu.
"Kakak minta berpacaranlah dengan Mutiara."
Armanda menjatuhkan mangkoknya hingga pecah berantakan dan melukai kakinya hingga berdarah, dan Nisa menyaksikan bagaimana darah itu keluar di kulit kakinya. Hati Nisapun ikut terluka, ia melesat berusaha menolongnya tapi kedua tangan adiknya menangkapnya dan menggiringnya berdiri hingga saling berhadapan muka.
"Kupikir kau tidak akan tega mengatakannya..." lirih Armanda menangis.
"Bintang Kecil. Kakak mohon, mengertilah..."
"Mana yang harus aku mengerti, Kak..?" lirih Armanda menelan ludahnya yang terasa berat. "Yang aku mengerti satu hal saja.., dari aku kecil hingga saat ini aku tidak bisa hidup tanpamu."
"Hentikan!" teriak Nisa menangis sambil menarik diri dari pegangan Armanda dan mundur selangkah ke belakang sementara kedua matanya menyaksikan kaki adiknya yang terluka. "Biar Kakak obati lukamu dulu.."
Nisa berjongkok hendak menyentuh kaki adiknya yang terluka namun kedua tangan adiknya dan kembali menahannya.
__ADS_1
"Luka seperti ini aku sudah biasa.., Kakak tidak perlu mengkhawatirkannya. Yang harus Kakak khawatirkan bagaimana sakit di hatiku saat ini...?" lirihnya menangis.
"Bintang Kecil. Kakak mohon jangan seperti ini." balas Nisa lirih.
"Stop untuk panggil aku Bintang Kecil! Aku bukan Bintang kecilmu lagi. Aku sekarang adalah Armanda dan aku pria dewasa dan saat ini aku sedang menyukaimu. Jadi hargailah!" teriak Armanda menangis.
"Terserah padamu! Tapi Kakak minta kamu pacaran dengan Mutiara. Dan ini perintah!"
"Hentikan..!" Teriak Armanda mendorong meja makan di dekatnya hingga terguling.
Nisa terkejut setengah mati hingga tubuhnya terasa kaku saat menyaksikan pemuda di depannya mengamuk dengan mendorong meja hingga terguling berantakan.
Kedua kaki Nisa terasa bergetar merasa tegang karena inilah pertama kalinya adiknya yang selalu manis padanya nampak begitu marah kepadanya.
Nisa melepaskan ketakutan dan ketegangannya dengan menangis, dan sepertinya tangisannya berhasil melemaskan saraf-saraf Armanda yang kacau.
Armanda menyesali tindakannya sambil mengutuki diri karena sudah berbuat sekasar itu pada wanita paling dipuja selama hidupnya itu.
Dengan gesit Armanda menggiring punggung Nisa kedalam dekapannya dan menangis menyesal.
‘’ I’m sorry..’’ lirihnya sambil megelus rambut Nisa bagian belakangnya.
"Tak seharusnya aku membantah kata-katamu.., Karena Bintang kecilmu tidak pernah membantah. Asalkan Kakaknya senang Bintang kecilmu pasti akan melakukannya. Benarkan..?" lirihnya lalu melepas pelukannya mempertemukan kedua mata miliknya dengan perempuan cantik di depannya yang menangis sedih. "Sudah.. Jangan menangis..." Menyeka airmata Nisa yang membasahi pipinya dengan kedua tangannya, kemudian untuk menenangkannya Armanda tersenyum lembut di antara tangisnya. "Bisa kacau kalau omahku tahu Kakak menangis seperti ini?" Armanda berusaha bercanda padahal hatinya sangat terluka. "Sudah.., jangan menangis.." ujar Armanda lagi sambil memeluknya karena merasa tidak tahan melihat kakaknya masih menangis. "Setelah ini aku akan menemui Mutiara. Sebenarnya ini tidak sulit kok.., sebelumnya aku pernah pacaran dengannya." Melepas pelukannya kembali menyeka air mata kakaknya yang masih basah. "Lagian Kakak pasti pernah mendengarnya, saat di Inggris dulu aku ini..," mengangkat kedua jari dan menggerakannya seperti kuping kelinci. "Playboy." bisik Armanda tersenyum dan ia menyaksikan perempuan di depannya sedikit tersenyum dalam tangisnya.
Setelah melihatnya tersenyum Armanda mengangkat mejanya kembali berdiri dan membersihkan pecahan mangkuk sementara hatinya sangat terluka dan ingin sekali berteriak kalau saat ini ia merasa hancur terpuruk. "Baiklah aku akan menemui si ginsul dua sekarang." ujarnya setelah selesai membersihan lantainya.
Armanda berjalan hendak meninggalkan ruangan ini meninggalkan Nisa dan ketika ia membuka pintunya.
Armanda terpaku si ginsul dua sudah berdiri di hadapan ketika ia membuka pintunya. Entah ini kebetulan atau sebuah kesengajaan gadis yang hendak ia temui sudah berdiri di depannya. Bukan waktunya untuk bertanya kenapa? Yang ia tahu saat ini mungkin adalah waktu yang tepat untuk menyatakan,
"Kita pacaran lagi?"
Mutiara terpaku bukan karena ia merasa terharu dengan pernyataan itu melainkan ia berpikir sedalam itukah rasa cintanya pada Nisa hingga ia menerima cintanya saat ini. padahal Tiara tahu saat ini ia begitu terluka itu terlihat jelas di kedua matanya.
Tiara menyambut pernyataan pemuda yang sangat dicintainya itu dengan pelukan. Nisa diam-diam menangis dan menatapnya prustasi.
__ADS_1