
Quinisa mengobrak-abrik brangkas di kamarnya yang berisi surat-surat penting. Ia panik saat tidak menemukan salah satu kertas yang dicarinya. Tapi tiba-tiba tangan seseorang menyodorkannya.
"Apa ini yang Kakak cari?"
Nisa mendongak, adiknya sudah berdiri di dekatnya. Tangan Nisa mengambil alih kertas yang disodorkan adiknya lalu mengikutinya berdiri.
"Bintang benar..." ujarnya menatapi kertas surat yang kini dipegangnya. Nisa mengajak adiknya duduk di ranjang. "Ini adalah surat wasiat papa. Lihatlah..." Menunjukan isi surat itu pada adiknya. "Di sini tertulis penyerahanmu pada Kakak sampai usiamu dua puluh satu tahun dan penegasan kalau papa bukan keturunan keluarga Akbar. Sepertinya Kakak harus berusaha membuktikan itu kembali." ujarnya kemudian beralih memandang adiknya yang sejak tadi hanya pokus pada kertas yang dipegangnya. "Kenapa..?" tanya Nisa heran ketika ia melihat adiknya nampak murung. "Apa Bintang tidak suka Kakak menempuh cara ini?" tanya Nisa lesu dan ia menyaksikan adiknya terdiam seolah kediamannya adalah pembenaran ketidak setujuannya dan Nisa merasa sedih karena sepertinya adiknya tidak merasa senang. "Apa Bintang sudah tak menginginkan Kakak lagi?"
"Tidak, bukan itu."
Armanda segera menolak tuduhan itu mencegah kakaknya berpikiran hal yang membuatnya sedih.
__ADS_1
"Kakak mengerti Bintang pasti bingung dan bertanya kenapa Kakak melakukan ini lagi padahal tanpa harus berhadapan dengan omahmu, Kakak sudah bisa memilikimu. Itukan yang sedang Bintang pikirkan?"
Nisa menebak dan ia melihat pemuda tampan di depannya itu mengangguk sedikit dan Nisapun tersenyum.
"Sebenarnya Kakak ingin membuktikan apa yang tertulis dalam surat wasiat papa, Kakak harus bisa membuktikan kalau papa bukan keturunan keluarga Akbar. Kalau Kakak berhasil membuktikannya, Bintang bisa kembali bersama Kakak tanpa merasa takut lagi Anggraeni akan merampasmu seperti dulu, sekaligus Kakak juga ingin mewujudkankan rencana papa yang tertulis dalam surat terakhirnya yang menginginkan kamu bersama Kakak hingga umurmu dua puluh satu tahun. Kakak masih memiliki satu tahun untuk mewujudkan rencana itu, Bintang mengertikan maksud Kakak?"
Armanda tersenyum sebagai tanda ia mengerti maksudnya namun sebenarnya ia tidak menyetujui tindakannya karena ia merasa khawatir kakaknya akan kalah lagi seperti sepuluh tahun lalu. Kakaknya tidak memiliki cukup bukti kalau ayahnya bukan keturunanan Anggraeni Akbar selain itu ada hal lain yang mengganggu pikirannya tentang kejadian siang tadi.., saat ia melihat bagaimana pamannya begitu bebas mengatakan perasaan cintanya pada Nisa. Dari sana Armanda menyadari kalau ia ingin mendapatkan kebebasan yang sama untuk mengutarakan perasaannya, tidak terbelenggu oleh perasaan seorang adik, intinya Armanda ingin sesuatu yang lebih, entahlah apa itu yang jelas perasaannya sebagai seorang adik sepertinya mulai terkikis dengan perasaan yang lebih besar lagi.
"Apakah setelah umurku dua puluh satu tahun, Kakak akan.., berhenti jadi Kakakku?"
Nisa tersenyum sambil meyentuh pipi adiknya membalas pandangannya.
__ADS_1
"Kenapa Bintang bertanya seperti itu?" Melepas tangan dari pipinya beralih mengaitkan jari jemarinya ke jemari adiknya. "Tentu saja tidak, Bintang akan selalu menjadi adikku hanya saja saat itu Kakak tidak memiliki hak apa-apa lagi atas dirimu. saat itu Bintang bebas, Bintang bisa menentukan jalan hidupmu sendiri, karena saat itu Bintang cukup dewasa untuk bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk untuk Bintang. Hanya saja..." Berhenti sebentar tatapannya berubah getir. "Kakak mohon Bintang mau tetap tinggal bersama Kakak, minimal sampai waktu sepuluh tahun lagi, karena Kakak masih punya hutang padamu. Waktu sepuluh tahun yang hilang Kakak ingin membayarnya. Jadi Kakak mohon Bintang jangan tinggalkan Kakak. Meskipun Bintang menikah kelak Kakak ingin tetap mengurusmu. Boleh kan?"
Armanda tersenyum getir mendengar permintaannya yang begitu tulus namun terdengar sangat menyedihkan. Sebenarnya tanpa dimintapun Armanda ingin hidup bersamanya bukan hanya sepuluh tahun tapi selamanya tidak terpisahkan, hanya saja Armanda sedih karena sampai kapan ia harus menahan perasaan lain yang muncul sementara perasaan itu lebih kuat dari perasaannya sebagai adik.
"Aku tidak akan menikah."
"Kenapa bicara begitu? Bintang harus tetap menikah." Sementara dalam hati ia tidak sanggup membayangkan bagaimana kelak kalau pria ini menikah. "Cari istri yang baik yang mau berbagi sedikit saja dengan Kakak." lirih Nisa sementara dalam hati ia tidak ingin berbagi sedikitpun mengenai pria ini dengan orang lain.
"Bintangmu tidak akan membagikan hatinya dengan orang lain. Dari aku kecil hingga saat ini, aku hanya milikmu, bukan milik Anggraeni apalagi orang lain. Aku hanya akan mengabadikan hidupku untukmu saja."
Nisa terpaku mendengar apa yang di sampaikan adiknya, lewat kedua bola mata itu Nisa menemukan keganjilan pada diri adiknya namun Nisa menolak keganjilan itu dan menolak memahaminya, karena sebenarnya keganjilan yang terjadi ia temukan dalam perasaannya sendiri, entah sejak kapan tapi ia merasa hal itu muncul seperti kilat yang menyambar datang tak terduga, namun Nisa tidak ingin pria ini tahu atau siapapun tahu karena baginya perasaan sebagai seorang kakak jauh lebih penting dari pada perasaan yang baru muncul.
__ADS_1
"Tidak perlu seperti itu. Kelak Bintang harus menikah. Memiliki anak. Kakak hanyalah seorang Kakak, yang tidak bisa memenuhi semua kebutuhanmu. Kelak kamu akan membutuhkan pasangan hidupmu yang akan meneruskan garis keturunanmu, dan itu sudah kodrat manusia memiliki pasangannya masing-masing."
Setelah mendengar ucapan kakaknya yang nampak seperti sebuah penegasan membuat Armanda tak bisa tidur malam ini, Armanda sangat sedih karena ia tidak sebebas Nayaka yang bisa mengutarakan perasaannya tanpa terkendali oleh status yang lain. Status itu seperti sebuah tembok besar yang sulit dirubuhkan.