Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Undangan Makan Malam


__ADS_3

Mutiara tidak sedikitpun merasakan gembira sejak Armanda menjadikannya pacar seminggu lalu. Armanda memperlakukannya dengan dingin, beda sekali dengan lima tahun lalu ketika ia menjadi pacarnya dulu saat di London, walau tidak pernah memperlakukannya dengan romantis setidaknya dulu Armanda berlaku manis padanya.


Mutiara ingat saat umurnya lima belas tahun Armanda adalah sosok yang dingin dan pendiam, berusaha sekeras apapun untuk mendekatinya ia selalu menolak dan berkata tajam. pada suatu hari ia merasa kesal karena tidak berani memakinya dalam bahasa inggris, karena takut dimengerti, saat itu Mutiara memakinya dengan bahasa Indonesia yang kasar.


Mutiara sendiri tidak tahu dari negeri mana dia berasal dari sikapnya yang menyebalkan ia berpikir mungkin dia bukan dari planet bumi. Sesudah memaki dengan umpatan dan kata-kata kasar yang di alamatkan kepadanya, sesuatu yang mengejutkan terjadi saat itu.


Armanda berjalan ke arahnya lalu tersenyum manis, sangaaat manis, yang membuat jantung Mutiara berdebar saat itu. Dan si sombong itu berkata seperti ini,


"Ternyata kamu orang Indonesia. Kalau boleh aku ingin sekali berteman denganmu."


Mutiara saat itu terkejut, kalimat umpatan dan kasar yang ia lontarkan dibalas dengan kalimat manis, dari situ pula Mutiara tahu kalau anak sombong itu ternyata berasal dari negeri yang sama. sejak saat itu ia mulai dekat dengannya sebulan kemudian jadi pacarnya seiring waktu sikapnya berubah, hangat namun bar-bar, serampangan dan memiliki banyak pacar dimana-mana dan Mutiara memilih putus saat itu. Ingat memutuskan bukan diputuskan terdengar lebih keren bukan?


Tapi kali ini.. semua terasa menyebalkan..! Sikap Armanda tidak semanis dulu, semua gara-gara wanita itu, dan itu yang membuat Mutiara semakin membenci Nisa.


Akhirnya sebuah ide bagus muncul ketika ia bangun  pagi setelah semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan si badung paling mengagumkan itu.


Mutiara menemui ayahnya di kantor, karena menurutnya hanya ayahnya yang sanggup membereskan masalahnya? Enam tahun lalu ia pernah menolak Queen jadi ibu baru baginya, hingga saat itu ia kabur ke luar negeri memilih tinggal bersama tante angkatnya di London, hal itu sebagai pemberontakannya menentang pernikahan ayahnya dengan Queen. Tapi sepertinya kali ini ia harus mewujudkan mimpi ayahnya itu, dengan begitu semua akan beres, Armanda jadi miliknya dan Queen kembali pada ayahnya.


"Aku serius Ayah." ujar Mutiara ketika ia melihat ayahnya seolah menganggap permintaannya untuk melamar kembali Queen seperti enam tahun lalu dianggapnya sebagai candaan yang menurutnya lucu.


"Kamu ini aneh..." balas Ridwan Agung tertawa kecil. "Dulu kamu paling menentang saat Ayah melamarnya. Dan sekarang kamu sendiri yang memaksa Ayah melamarnya. Bagaimana Ayah tidak tertawa..."


"Itu karena dulu aku tidak tahu Tante Queen itu adalah Kakaknya Armanda."


"Oh.. jadi semua karena Armanda nih..."


Sindirannya itu berhasil membuat wajah putrinya berubah malu. Ia hampir lupa kalau saat ini putrinya sudah cukup dewasa untuk bisa menyukai seseorang dan pilihan itu sepertinya jatuh pada sosok Armanda Akbar dan itu sangat bagus menurutnya karena akan membuat hubungannya dengan Queen bertambah baik.


"Baiklah. Ayah akan pikirkan."


"Bukan hanya dipikirkan, tapi aku mau Ayah melamar kembali Tante Queen."


"Bagaimana kalau dia menolak?"


Ridwan merasa khuatir, bagaimanapun saat ini keadaannya sudah tidak seperti dulu? Hanya Queen yang tahu kalau saat ini dirinya sakit Jantung kematian mendadak bisa saja datang kapanpun.


Mutiara menegaskan.


"Tak ada alasan baginya untuk menolak? Bukankah Tante Queen itu milik Ayah sejak delapan tahun lalu. Dia berhutang budi pada Ayah, keterlaluan kalau berani menolak lamaran Ayah."


"Kamu selalu saja berpikiran seperti itu, ingat Tante Queen banyak menolong Ayah kalau tidak ada dia, mungkin perusahaan kita hanya akan tinggal nama saja."

__ADS_1


"Tapi budi Ayah lebih banyak darinya, Ayah mungkin berhutang mengenai perusahaan padanya, tapi dia berhutang nyawa pada Ayah, kalau Ayah tidak membiarkan dia bunuh diri saat itu mungkin nama Queen Agung tidak akan pernah ada sekarang ini. Kalaupun saat itu dia masih hidup karena Ayah tidak menolongnya keluar dari tempat itu, mungkin saat ini dia masih terkungkung di tempat itu selamanya? Jadi budi Ayah menurutku lebih besar dari pada dia."


Ridwan Agung menyimak perkataan putrinya namun Ridwan Agung selalu tidak suka dengan cara pemikiran putrinya yang selalu seperti itu.


"Kalau kamu terus berpikiran seperti itu, Ayah tidak mau melamar Tante Queen."


"Baiklah, Ayah menang, Aku tidak akan membahasnya. Yang penting Ayah mau melamarnya. Oke?"


Tiga hari kemudian Mutiara menyiapkan segala persiapan untuk malam ini sesuai rencana yang ia dan ayahnya sepakati bersama.


Malam ini akan menjadi kejutan buat Queen dan juga buat Armanda yang mungkin tidak akan terlupakan bagi mereka. Pikir Mutiara dalam hati.


Malam ini Mutiara akan memperkenalkan secara khusus pada ayahnya hubungannya dengan Armanda. Ayahnya masih belum tahu kalau ia dan Armanda sudah resmi pacaran.


Semua sudah siap. Menu makan malam sudah tersaji lengkap di meja makan dan ia sendiri yang melakukannya dibantu beberapa pelayan rumah ini. Sekarang ini hanya tinggal menunggu Armanda datang sesuai waktu yang sudah dijanjikan siang tadi.


Mutiara memandang dirinya sendiri melalui cermin. Malam ini akan menjadi malam spesial. Wah... Gawat! Tidak mungkin ia makan malam dengan dandanan seperti ini?celana jins dipadu kaos oblong, sementara ia yakin Queen akan keluar dari kamarnya seperti bidadari turun dari khayangan, sementara dirinya lebih mirip babunya bidadari.


Wanita itu tidak berdandanpun sudah seperti Dewi sementara dirinya harus disulap dulu atau dibedak setebal dua meter baru bisa cantik, ini benar-benar tidak adil keluhnya dalam hati.


Makeup dan gaun. Mutiara mendadak bingung di mana dia bisa menemukan kedua benda yang sangat asing itu? Di rumah ini hanya Queen yang memilikinya dan mustahil baginya untuk meminjamnya, sementara ia masih memiliki masalah dengan wanita itu? Apa harus menguntitnya diam-diam untuk mengambil makeupnya? Tapi kalau ketahuan.. ? Bisa malu seumur hidup.


Aaah benar-benar menyebalkan!!!


Sekarang Gaun? di mana ia harus menemukan gaun? Tiara ingat ayahnya pernah bercerita tentang sebuah gaun yang dipakai ibunya saat berjumpa pertama kali, dan gaun itu yang membuat ayahnya jatuh cinta pada pandangan pertama pada ibunya.


Gaun itu masih disimpan ayahnya hingga saat ini. Tak ada waktu lagi baginya untuk membeli gaun tapi sepertinya gaun itu bisa membantunya untuk menjadi istimewa malam ini.


Mutiara memakai gaun itu setelah mengambilnya di lemari koleksi ibunya. Gaun berbulu berwarna pink di atas lutut yang bagian pinggang sampai ke bawah mengembang sementara bagian dadanya rendah.


Gaun ini dikhiasi dengan bulu-bulu tapi tidak begitu jelas ini bulu apa, bisa jadi ini bulu bebek bisa juga bulu ayam yang jelas bukan bulu kucing karna bisa bengek dan tidak mungkin juga bulu ketek ayahnya, hiiiiy


Mutiara berdiri di depan cermin ada sesuatu yang agak aneh ketika ia melihatnya dalam cermin.



Kembali ia bertanya dalam hati apa benar ayahnya jatuh cinta pada ibunya karena gaun ini? Apa Armanda akan berlaku seperti ayahnya ketika ia mengenakannya? Ini tampak aneh. Tapi.., ia pernah melihat Queen memakai gaun yang ada bulu-bulunya seperti ini, saat ia mengenakannya nampak begitu indah.


Tapi sudahlah tak cukup banyak waktu untuk memikirkannya, yang harus ia pikirkan berikutnya adalah makeup. Di mana ia harus menemukannya? Mengambil diam-diam di kamar Queen itu sudah tidak mungkin, Tapi.., bagaimana kalau diam-diam pinjam ke kamar pembantunya? Kalau ketahuan...? Pembantu tidak akan berani marah kalaupun marah tinggal pelototin aja, bik Minah pasti langsung jadi patung.


Hanya ada satu batang lipstik yang berhasil ia temukan di kamar bik Minah. Mutiara jadi pusing bagaimana ia harus melukis wajahnya hanya dengan satu batang lipstik sementara ia sering melihat Queen kadang kelopak matanya berwarna biru dan hari berikutnya berwana hijau atau coklat pipinya kadang berwarna pink dan Mutiara merasa pusing tujuh keliling bagaimana cara menghias wajahnya hanya dengan satu batang lipstik?

__ADS_1


Ah....Mutiara tidak mau tahu ia yakin satu batang lipstik akan sanggup melukis wajahnya seperti Queen. Ia mulai mewarnai bibirnya dengan lipstik berwarna merah jambu, jadi perempuan memang agak sedikit menggelikan bibirnya tiba-tiba terasa setebal sepuluh meter gara gara liptik itu. Tidak mau kalah dengan Queen ia mewarnai kelopak matanya dan ketika ia mau mewarnai pipinya dengan liptik itu juga syukurlah... Bik Minah pembantu rumah ini masuk memberi tahukan kalau Armanda sudah menunggu di ruang tamu.


Segera ia menyembunyikan lipstiknya dari bik Minah, kalau ketahuan bisa turun harkat martabat dan derajat.


Sempurna. Itu kata yang keluar dari mulut Tiara ketika ia kembali menatap dirinya dalam cermin besar, sementara dalam hatinya ia bertanya apa benar ibunya dulu berpenampilan seperti itu hingga membuat ayahnya jatuh cinta? Tapi anehnya kenapa saat ia menatap dirinya kembali di depan cermin, ia merasa penampilannya saat ini konyol???


Tak ada pilihan lain Armanda sudah menunggu di bawah selain itu mustahil ayahnya salah lihat, setahu ia kedua mata ayahnya masih normal dan selera dalam memilih perempuanpun sangat bagus jadi penampilannya saat ini pasti benar.


"Hai.."


Mutiara menyahut manis ketika ia sudah berdiri di depan Armanda yang sedang duduk di ruang tamu.


Ya Tuhan ini pasti bukan mimpi pikirnya ketika ia menyaksikan Armanda bangkit berdiri mengunci pandangannya ke arahnya.


Armanda terpaku dengan bibir agak menganga...? Itu adalah tanda seseorang yang sedang terpesona ketika menyaksikan sesuatu yang mengagumkan di depannya. Reaksi seperti itu yang sering ia lihat ketika orang menatap Queen.


Mutiara yakin saat ini Armanda terpesona dengan penampilannya malam ini? Rasanya pantes orang seperti Queen menjadi tinggi hati karena merasa dirinya cantik, karena saat ini ia merasa sedang mengalaminya.


"Kenapa..? Senyum Mutiara puas. "Baru sadar kalau gue ini sangat menawan..?’’ ujarnya penuh keyakinan.


"Tiara apa yang kamu pakai, Sayang?"


Mutiara memutar ke arah suara itu, Ayahnya sudah berdiri tiga meter di samping belakangnya.


"Kenapa Ayah?" Mutiara mulai resah melihat reaksi ayahnya.


"Tiara apa yang kamu pakai? Bukannya itu gaun yang pernah di pakai ibumu waktu pestipal karnaval tahun sembilan puluhan? Astaga apa yang kamu pakai di bibirmu?"


Kepercayaan diri Mutiara jatuh ke dasar ketika mendengar ucapan ayahnya.


"Ayah..." Mutiara benar-benar terkejut melihat reaksi spontan ayahnya. Reaksi ayahnya berhasil membuatnya merasa gila dan di permalukan dan ketika ia lihat lagi Armanda sedang mentertawainya namun berusaha di tahan.


Oh Tuhan pantes saja tadi saat melihat di cermin dirinya merasa konyol ternyata bukan konyol lagi, tapi... Konyol! Konyol! Konyol!


Rasanya ia ingin melompat ke planet delapan mungkin di sana tidak akan ada orang yang memperhatikan kebodohannya saat ini.


Armanda menghentikan tawaaannya ketika dari tangga  atas telah muncul seseorang yang akhir-akhir ini jarang dijumpainya. Perempuan itu selalu nampak cantik dengan gaun apapun dan Armanda terpesona sampai ia tidak berani sedikitpun untuk berkedip ketika perempuan itu berdiri berhadapan dengannya.



Cara Armanda menatapnya saat ini dan Nisa tersenyum gugup padanya menjadi pemandangan yang sangat menjijikan bagi Mutiara.

__ADS_1


__ADS_2