
Nisa terpaku kaget ketika ia melihat ibu Dewi Purnama sudah berdiri di antara para tamu.
"Ibu..," sahut Nisa parau dan ia melihat perempuan dengan kaca mata minus tiganya itu berkata,
"Kamu seorang istri dan Ibu adalah saksi pernikahanmu dengan Bintang. Hentikan ini."
Nisa menangis mendengar penuturan ibunya. Nayaka merasa cemas dengan kedatangan Dewi Purnama padahal tempo hari Anggraeni sudah mengancamnya untuk tidak bicara mengenai pernikahan Nisa dan Bintang tapi sepertinya dia membantah perkataan Anggraeni dan bermaksud menghentikan pertunangan ini. Anggraeni marah mendengar penuturannya, penikahan Nisa dan Bintang tidak boleh diketahui baginya ini aib besar.
"Berani sekali kamu mengganggu pertunangan putraku!" Aggraeni merah padam menatap Dewi Purnama.
"Nisa anak asuhku, Aku tidak akan biarkan Nisa bertunangan dengan pria lain. Ini dosa besar, Armanda adalah suaminya. Kalian tidak boleh melakukan ini padanya." Kembali menatap Nisa yang menangis. "Kejarlah Bintangmu dan hancurkan tembok yang memisahkanmu darinya. Kamu hanya mencintai Bintang seorang, dari kamu mengenal cinta sampai detik ini di hatimu hanya ada satu nama yaitu Bintang. Dia suamimu, jangan meninggalkannya, hanya kematian yang boleh memisahkan kalian berdua. Berlarilah menuju Bintang hatimu sekarang. Rubuhkan tembok yang selama ini memisahkan kalian. Kejarlah, Nisa. Kejar suamimu."
Nisa mengangguk menangis dan tersenyum membalas penuturan ibu asuhnya. Nayaka menahan tangan Nisa untuk tidak pergi namun tangan Nisa menepisnya dan ia berlari mengejar kekasihnya saat ini juga.
Nayaka marah ia ikut melesat pergi dari taman ini disusul oleh Anggraeni yang merasa geram terhadap Dewi Purnama yang berhasil mempengaruhi Nisa. Anak perempuan Anggraeni dan kedua cucunya berusaha menenangkan para tamu dari situasi yang cukup memalukan bagi keluarga ini.
Anggraeni terkejut ketika melihat putranya mengambil pistol kecil dalam laci.
"Apa yang kamu lakukan dengan benda itu?" Suara Anggraeni terdengar takut.
"Maaf, Bu, Nisa memaksaku untuk memakai cara ini? Aku tidak punya pilihan lain?"
Tamparan keras meluncur ke pipi Nayaka, inilah pertama kalinya Anggraeni semarah ini pada putranya yang menurutnya paling sempurna ini. Bagaimana tidak Nayaka yang dianggapnya pangeran paling sempurna di dalam keluarga besar Akbar, punya pemikiran sedangkal itu dan Anggraeni sangat mencemaskannya.
__ADS_1
"Apa kamu mau menghabiskan hidupmu di penjara..?" ucap Anggraeni cemas, "kamu mau meninggalkan Ibu sendirian?"
Nayaka terpaku haru hatinya tersentuh karena untuk pertama kalinya ia menyaksikan ibunya nampak mencemaskan dirinya.
"Apa Ibu mencemaskanku, Bu, Benarkah Ibu mencemaskanku?" lirih Nayaka sambil berjalan mendekatinya dan Nayaka melihat air mata ibunya tiba-tiba menitik. Jemari Nayaka mengambil air mata ibunya dan ia tersenyum. Sepanjang hidupnya untuk pertama kalinya Nayaka melihat ibunya menangisinya. "Bahkan sekarang aku melihat Ibu menangis untukku.., Ini bukan mimpikan, Bu?" Kembali mengusap airmata yang menetes di pipi ibunya. Sekali lagi Nayaka mengulang, "benarkah Ibu mencemaskanku?" Nayaka terharu hingga menangis karena untuk pertama kali dalam seumur hidupnya sesuatu yang ia tunggu baru kali ini ia mendapatkannya.
"Tentu saja Ibu mencemaskanmu. Kamu anakku.
"Anakku?" Nayaka mengulang lirih karena ini pertama kalinya ia mendengar dari mulut ibunya sendiri mengeluarkan kata itu, ini kata yang Nayaka tunggu sejak ia kenal ibu namun setelah usianya tiga puluh empat tahun Nayaka baru mendengarnya. Ini pertama kalinya Nayaka merasa benar-benar memiliki seorang ibu, bukan seorang diktator dan Nayaka merasa benar-benar telah jadi seorang anak bukan lagi boneka. "Kupikir selain Bintang dan Armanda tidak ada anak lain di hatimu?"
"Kenapa kamu berpikir begitu, Nak, itu tidak benar..."
"Tapi aku selalu merasa begitu, Bu?" lirih Naya. "Bukankah aku juga sama dari rahimmu tapi kenapa aku merasa ibu lebih memperhatikan Kak Bintang dari pada aku. Bahkan Ibu lebih memperdulikan Armanda dari pada aku?"
Anggraeni menangis sedih karena ia tidak pernah berpikir kalau putranya ini akan memiliki perasaan seperti itu, tapi ia tak bisa membantah karena tak bisa di pungkiri ia memang lebih memperhatikan Bintang dan Armanda di banding Nayaka tapi Anggraeni memiliki alasan kenapa ia bersikap seperti itu?.
Ya Tuhan... Nayaka hampir tak dapat bicara lagi. Ternyata hanya masalah kesempurnaan saja yang sudah membuat hidup dirinya merasa terbengkalai tapi bagaimana bisa seorang ibu yang selalu tegas dan arogan bahkan menyeramkan memiliki pemikiran senaif itu?.
Nayaka tertawa pahit.
"Sepanjang usiaku aku selalu merasa kesepian kupikir kenapa? Ternyata ini masalahnya, Aku mengerti sekarang, Ibu memberiku alasan bagus, kenapa aku harus membunuh mereka. Bukankah dengan begitu aku tidak sempurna lagi?" Mengisi peluru ke dalam pistolnya. Menatap ibunya getir. "Aku benci kesempurnaan."
"Jangan lakukan itu, Nak. Bukan begitu maksud Ibu.." lirih Anggaeni menangis cemas.
__ADS_1
"Aku tidak mau jadi manusia sempurna lagi dalam pandanganmu atau siapapun? Aku bosan jadi orang baik. Aku benci disebut pangeran dalam keluargamu. Karena aku merasa mereka sedang mengolok-olokku. Ibu tahu kenapa?" lirihnya sakit sambil menelan ludahnya. "Karena pangeran selalu diliputi banyak keberuntungan dan dicintai banyak orang sedangkan aku.., jangankan untuk bisa mendapatkan orang yang dicintainya? Ibuku sendiri seolah menganggapku seperti sebuah boneka kendalinya."
"Maafkan Ibu.." Anggraeni menangis pilu karana ia tak bisa memungkiri kalau selama ini ia selalu mengendalikan hidup Nayaka, Kemudian menghampirinya dan memeluknya menangis.
Nayaka menangis terharu untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia memperoleh pelukan ini. Baginya satu pelukannya saja sudah cukup dalam hidupnya.
"Satu pelukan sudah cukup. Ibu tahu selama ini aku menunggu ini. Selama tiga puluh empat tahun aku menunggu ini, sekarang aku merasa puas." lirih Nayaka sambil melepas pelukan ibunya lalu tersenyum padanya dan berkata, "sekarang aku tidak takut masuk penjara. Nisa dan Bintang harus kembali ke semula, mereka tidak boleh bersama, salah satu di antara mereka harus mati, kalau bukan Nisa berarti Bintang atau mungkin keduanya."
"Jangan, Nak..."
"Banyak orang menderita karena mereka, Aku hanya berusaha mencari keadilan untuk semuanya."
"Ibu mohon jangan lakukan itu.., Nak."
"Maaf.., Bu rencanaku tidak bisa dirubah. Aku mencintaimu. Ibu"
Nayaka melesat meninggalkan ibundanya yang menangis mencemaskannya. Tapi keputusan Nayaka sudah bulat, rencana harus berjalan yaitu memisahkan Nisa dan Bintang.
Nayaka sanggup memplatukan pelurunya tepat ke titik sasaran dalam jarak seratus meter dia tidak pernah salah membidik, Nayaka pernah memburu kujang dengan jarak seratus meter dalam sekali tembak, Kujang itu mati dengan busurnya padahal kujang sedang dalam keadaan berlari, Nayaka juga sering latihan menembak dengan jarak lima puluh meter, dari jarak yang cukup jauh seperti itu Nayaka belum pernah sekalipun meleset meski seujung kuku, peluru yang ia platukan selalu tepat ke titik sasaran, itulah keahlian Nayaka selama ini, berbeda dengan keponakannya yang selama ini belajar, karate, judo, tinju dan cara memukul namun Nayaka lebih memilih membidik untuk melindungi diri. Nayaka belajar cara membidik dengan senjata dan busur dan itu sudah ia pelajari dari umurnya delapan tahun.
Nayaka berlari dan berdiri di depan Armanda dan Nisa yang sedang berpelukan dengan jarak lima meter saja, hanya lima meter, bisa dibayangkan dengan kemampuannya menembak, dari jauh saja ia mampu sampai ke titik sasaran lalu bagaimana dengan jarak hanya lima meter saja? Mengambil satu nyawa atau keduanya itu pilihan Nayaka saat ini.
DOOORRRRRRRRRR.
__ADS_1
Peluru itu tembus tepat ke titik sasaran. Dugh dugh dugh.., Denyut Jantung segera berhenti, Nisa, Bintang atau keduanya???
TETAP SEMANGAT YAH PARA READERKU, MENURUT KALIAN SIAPA YANG DI TEMBAK NAYAKA, NISA, BINTANG ATAU KEDUANYA? APA BENAR HARUS BERAKHIR SAD ENDING? KITA TUNGGU SAJA KELANJUTANNYA, EPISODE TERAKHIR MINGGU DEPAN. TETAP STAY DI TEMPAT. SAD ATAU HAPPY ITU TAKDIR YANG SUDAH DIGARISKAN. JANGAN LUPA KUMPULKAN POIN YAH UNTUK EPISODE TERAKHIR MINGGU DEPAN.