Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
BINTANG MENYUKAI SESEORANG?


__ADS_3

Untuk yang kesekian kalinya Nisa dipertemukan kembali dengan Anggraeni Akbar dan Nayaka yang kini jadi sering muncul di perusahaan ini. Anggraeni masih punya power di sini meskipun perusahaannya di sini sudah atas nama Armanda tapi di surat perjanjian yang ia buat pada pengacaranya tertulis dia tidak akan meninggalkan perusahaan ini sebelum cucunya sanggup menggantikan posisinya sebagai salah satu dewan direksi di sini.


Perang dingin antara mereka tak jarang terbawa saat mengadakan dialog perusahaan seperti hari ini bagaimana Nisa menentang pendapat Anggraeni yang ingin menghentikan perluasan cabang pemasaran produksi dan Nisa menentangnya dengan alasan menghentikan pemasaran walau sementara hanya akan memberi kesempatan pada konsumen untuk membeli barang baru dan seperti biasa pendapat Queen selalu lebih di terima dari pada pendapat Anggraeni.


Sore ini ketika hendak pulang mereka bertemu lagi dalam satu lift dan Nayaka seperti biasa nampak seperti wasit yang selalu berdiri ditengah mereka.


"Kurasa memang bukan sesuatu yang buruk bekerjasama denganmu." ujar Anggraeni tanpa menatap Queen. "Jadi hal yang tepat sekali saat itu saya menolak tawaranmu." Tambah Anggraeni lalu menoleh. "Kamu tahu kenapa saya menolak tawaranmu?" berhasil membuat langkah Nisa berhenti menatapnya. "Karena kita memiliki satu tujuan yang sama yaitu, Armanda. Saya tahu kamu akan berusaha memajukan perusahaan ini demi Armanda. Itulah alasan saya menolak tawaranmu dan ternyata pilihan saya menolak itu adalah keputusan yang benar karena dalam hukum Armanda tetap tidak bisa kau miliki sebagai adikmu. Pada akhirnya kamu tidak bisa melakukan keinginan terakhir ayah angkatmu. Putraku telah salah mempercayakan Armanda padamu karena bagiku dari awal kamu hanya seorang kakak yang tidak berguna."


Nisa terpancing kalimat ejekan dari mulut Anggraeni terdengar sangat menyakitkan ketika ia disebut sebagai kakak yang tidak berguna. Dalam hati Nisa mengakui Anggraeni telah menang karena ia tidak bisa menghancurkan Akbar Group lagi seperti keinginannya padahal Nisa bisa dengan mudah membuat Anggraeni terkapar tidak bisa bernafas dengan menghancurkan perusahaan ini seperti rencananya. tapi Nisa tidak bisa melakukannya, Akbar Group adalah masa depan adiknya Nisa tidak bisa menghancurkannya, saat Anggraeni menolak tawarannya Nisa sudah merasa kalah karena terpaksa ia memberikan nafas Anggraeni dengan berusaha memajukan perusahaan ini seperti dulu.


Tapi Queen selalu tahu bagaimana membalasnya, seperti biasa Queen Agung akan memainkan mimik mukanya yang cantik itu dengan pura-pura tersenyum meski hatinya pedih.


"Tentu saja. Setelah kupikirkan kembali. Betapa bodohnya aku sudah mengadakan kesepakatan yang begitu merugikan. Bukankah tanpa kesepakatan itupun Bintangku tetap kembali padaku. Selama dua minggu ini apa dia pulang ke rumahmu? Dia terus bersamaku. tanpa hukumpun aku masih tetap bisa bersamanya. Benarkan Anggraeni?"


Balasan yang Nisa lontarkan seketika itupula ia melihat wajah Anggraeni berubah pahit mengingat sejak pertemuannya dengan Nisa hingga saat ini Armanda belum pernah ia lihat lagi.


Pintu lift terbuka Queen keluar sejajar dengan langkah Anggraeni sementara Nayaka tetap berjalan ditengah keduanya namun selangkah lebih mundur di belakang.


Langkah ketiganya terhenti ketika mereka melihat nampak sosok tampan menggendong tas di punggungnya sudah berada di pintu utama gedung besar Akbar Group ini.


Queen tersenyum. Kembali menatap Anggraeni yang berjalan di sampingnya.


"Lihatlah tentunya kau tentu tahu siapa yang sedang dicarinya? Kebetulan sekali kau sedang berdiri di sampingku dan kalian sudah cukup lama tidak bertemu. Menurutku sudah sepantasnya dia menyapamu lebih dulu dari pada aku? Kau pasti ingin tahu seberapa nilaimu di hatinya. Kalau dia menyapamu lebih dulu. Maka aku akan bilang kau cukup berharga baginya tapi jika tidak menyapamu lebih dulu berarti nilaimu nol. Kau tidak berarti apa-apa untuknya."


Nisa menantang namun seperti sedang mengejeknya kembali ia menatap adiknya yang sedang berjalan mulai mendekat.


Tiba-tiba jantung Anggraeni berdentum dengan cepat ketegangan menyelimutinya ketika kembali kedua bola matanya pokus pada cucunya yang sedang berjalan kearahnya seperti mendapat tantangan terberatnya berharap dalam hati semoga cucunya menyapanya lebih dulu karena itu yang sewajarnya mengingat lebih dari dua minggu ini ia tidak pulang.


Armanda terhenti dari langkahnya ketika ia melihat kakaknya sudah berada di hadapannya dan di sampingnya adalah omahnya orang yang sudah dua minggu ini ia tinggalkan, Armanda hendak menyapanya omahnya, tapi yang keluar dari mulutnya adalah...


"Kakak...."


Anggraeni kalah telak, mulutnya membisu, ia merasa marah dan tersisihkan ketika mendengar kata sahutan dari mulut cucunya justru memanggil perempuan di sampingnya.


Nisa tersenyum puas, ia menoleh Anggraeni sebentar dengan pandangan yang meremehkan dan kembali menatap Armanda dengan perasaan senang.


"Bagaimana hari pertama kuliahmu?"

__ADS_1


Tanya Nisa memegangi kedua tangan adiknya.


"Membosankan." ujarnya pura-pura mengeluh.


"Kenapa..?"


"Karena tidak ada Kakak..." balasnya singkat namun terdengar seperti candaan yang berhasil membuat Nisa tersenyum. "Aku kangen sekali padamu. Aku lebih suka membuatkan kopi untukmu dari pada belajar."


"Kau ini.., mana boleh bicara seperti itu..." Nisa pura-pura protes. "Tadi Kakak lihat di hari pertamamu kuliah sudah banyak di idolakan gadis-gadis. pasti bangga sekali?"


"Tidak ada yang secantik Kakak." keluhnya kecewa. "Kakak melamar jadi dosenku saja. Biar aku semangat belajar. Bagaimana?"


"Lalu apa yang harus Kakak lakukan dengan perusahaan ini?" Nisa pura-pura masang wajah bingung.


"Serahkan saja pada..."


Tidak sengaja Armanda menatap wajah omahnya padahal dia tidak bermaksud menunjuknya. Apa yang ia sampaikan tadi hanya candaan saja, tak mungkin sekarang baginya melarikan tatapannya lagi sementara omahnya sedang menatap kearahnya dengan wajahnya yang menurutnya selalu menyeramkan itu. Tadi sebenarnya saat melihatnya sempat ia ingin menyapanya tapi melihat mukanya yang seram Armanda berubah pikiran.


Terpaksa  keluarlah tiga patah kata dari bibir Armanda.


"Apa kabar, Omah?" sahutnya kaku.


"Omah tunggu malam ini untuk makan malam di rumah."


Setelah mengucapkan kalimatnya pada Armanda, Anggraeni segera angkat kaki dari pandangan paling menjengkelkan ini sementara itu Nayaka menghampiri Armanda dengan lembut ia berkata pada keponakannya sebelum ia ikut beranjak mengekori ibunya.


"Pulanglah, Omahmu sangat merindukanmu."


Armanda menyimpulkan kalimat omahnya itu bukan sekedar ajakan makan malam tapi lebih terdengar seperti sebuah perintah untuk pulang berbeda dengan kalimat yang terdengar dari mulut pamannya, terdengar seperti permohonan untuk pulang.


Nisa melihat Armanda menantap lesu ke arah Anggraeni dan Nayaka yang sudah menjauh.


"Kenapa?" Apa Bintang akan datang menemuinya?"


"Menurut Kakak bagaimana?" sambil berjalan pelan bergandengan tangan.


"Kakak tidak tahu."

__ADS_1


Armanda mendengar jawaban murung segera ia menoleh wajah kakaknya yang berjalan di sampingnya. Armanda menyaksikan kemurungan pada raut wajah Nisa seolah tidak menginginkan dirinya pergi. Segera Armanda berubah pikiran untuk meminta pendapatnya.


"Ya Tuhan... Sudahlah lupakan. Aku tidak mau datang." ucapnya mendesis diantara tawaan kecilnya.


"Kenapa...? Bintang boleh kok pulang malam ini. Kakak akan menunggumu di rumah."


Nisa mengizinkannya, bagaimanapun selama ini Armanda menganggap Anggraeni adalah omahnya. Selama sepuluh tahun wanita itu mengurusnya walau Armanda tidak memperlihatkan perasaannya untuk omahnya selama ini, Nisa yakin di hati kecil adiknya, ia memiliki perasaan sebagai seorang cucu pada Anggraeni. Nisa tidak mau bersikap jahat dengan tidak mengizinkannya meski itu akan membuatnya merasakan takut adiknya tidak akan kembali.


Armanda menghentikan langkahnya sebentar untuk menoleh wajah kakaknya lagi. Kemurungan pada wajah Nisa hilang dalam sekejap. Ia nampak tersenyum kembali.


"Yakin tidak apa-apa?" Armanda memastikan.


"Iya. Tidak apa-apa. Kakak akan menuggumu." balasnya dengan senyuman untuk meyakinkan adiknya kalau ia tulus mengizinkannya.


"Kalau begitu baiklah..., karena Kakak mengizinkannya, Aku akan datang walau sebenarnya...." menjatuhkan dahinya di pundak kiri Nisa manja." Aku lebih suka menghabiskan malam bersama Kakak dari pada sekedar makan malam bersama mereka, tapi kalau tidak..'' mengangkat kembali dahinya untuk menatap Nisa  mengeluarkan kalimatnya dengan nada kesal. "Omah akan memakanku seperti sosis panggang." keluhnya bercanda berhasil memancing tawa kecil perempuan cantik di depannya. Kembali keduanya berjalan saling bergandengan keluar dari gedung besar ini.


"Kita akan kemana dulu sekarang?" tanya Nisa pada adiknya ketika menaiki mobil mewah miliknya.


"Ke salon. Aku mau cukur rambut, Kak."


"Hah, serius.."


" Iya biar lebih rapi, panjang seperti ini keliatannya berantakan."


"Pasti sedang naksir seseorang. Nih?"


Armanda terdiam sebentar. Benar juga kenapa saat ini ia peduli pada penampilannya padahal dulu seberantakan apapun tidak peduli. Benarkah ada perempuan yang ia taksir seperti apa kata kakaknya? Ntahlah tapi Armanda melakukan ini agar ingin terlihat rapi di mata kakaknya.


"Emang pingin kelihatan lebih rapi harus itu alasannya."


"Biasanya begitu. Jangan bilang sudah punya pacar di tempat kuliah."


"Idih. Enggak kok. Enggak ada yang secantik kakak." protes Armanda berhasil membuat tawaan Nisa.


Nisa dan Armanda keluar dari dalam mobil masuk ke dalam Mall menuju salon langganan Nisa.


Setelah menunggu satu jam, Armanda keluar dari ruangan salon. Untuk sesaat Nisa tertegun menatapnya, karena adiknya  nampak lebih tampan dan dewasa dengan jas yang tadi ia belikan untuknya. Sengaja Nisa belikan untuk acara formal seperti pertemuan-pertemuan perusahaan.

__ADS_1



__ADS_2