
Pertemuan kembali cucunya dengan Nisa sebenarnya sangat memukul perasaan Anggraeni apalagi perubahan saat ini yang ia lihat dari cucunya seolah menyisihkan Anggraeni sebagai pemilik tunggal.
Lihatlah sekarang saat ia datang ia nampak jauh dari kesan serampangan, biasanya ia lebih suka mengenakan T sheet dipadu dengan Jacket dan Jeans belel tapi saat ini ia terlihat lebih baik dengan kemeja hitam dan celana panjang, rambutnya yang tadi siang masih panjang sekarang sudah dipotong pendek membuatnya nampak semakin tampan dan yang paling sulit dipercaya dia mau kuliah padahal dulu ia lebih suka dimasukan ke kandang Singa dari pada harus belajar.
Nayaka sendiri merasa sangat gembira dengan perubahannya itu kabarnya keponakannya itu selain daptar kuliah iapun sudah berhenti ugal-ugalan di jalan raya.
"Paman senang kamu pulang. Ayo duduk." ujar Naka pada keponakannya yang baru saja datang.
"Maaf. Aku baru bisa datang." ujar Armanda setelah duduk di meja makan dengan tatapan antara paman dan omahnya.
"Kamu benar. Paman dan omahmu sangat merindukanmu." sambil membuka piring yang ada di hadapannya. "Paman dengar kamu sudah mulai kuliah?"
"Iya." jawab singkat Armanda sambil membukakan piringnya sementara jantungnya masih berdebar saat menatap omahnya yang tidak bicara sepatah katapun. "Bik. Sedikit saja." pinta Armanda pada bik Kasih yang mengambilkan nasi ke piringnya, setelah itu tangan Armanda mengambil lauknya sendiri.
"Coba kamu dari dulu seperti ini, kami pasti akan sangat senang." kembali Nayaka berbicara sambil mengambil lauk kesukaannya.
"Kak Nisa yang memintaku."
"Ngambil jurusan apa?" tanya Naka lagi.
"Menejemen bisnis."
"Benarkah?" Nayaka terpukau
__ADS_1
"Kenapa mengambil jurusan itu?"
"Aku ingin mengikuti jejak kak Nisa."
"Oohh." balas Nayaka merasa tidak enak karena keponakannya terus menyebut nama Nisa di depan ibunya.
"Kak Nisa bilang suatu saat aku harus bekerja di perusahaan untuk menggantikannya, jadi dia memintaku untuk melanjutkan sekolah. Demi kak Nisa aku harus banyak belajar lagi supaya nanti bisa menggantikan kak Nisa. Sepertinya kak Nisa sudah lelah di perusahaan dia ingin aku menggantikannya."
"Cukup!" protes Anggraeni keras.
Armanda dan Nayaka terkejut ketika seorang Anggraeni mengeluarkan sepatah katanya sambil memukul meja sepertinya dia sangat marah dan itu tertuju pada Armanda.
"Omah tegaskan. Omah tidak suka kamu menyebut-nyebut nama dia di depanku dan satu lagi wanita itu bukan kakakmu jadi kamu tidak perlu memanggilnya kakak. Kamu mengerti!"
Anggraeni tak bisa mengendalikan emosinya karna kemarahannya pada Nisa perubahan yang terjadi pada cucunya adalah sesuatu yang seharusnya menggembirakan karena dari dulu ia selalu berusaha menuntutnya untuk berubah tapi ia tidak pernah mau melakukannya sementara hanya beberapa minggu saja bertemu wanita itu cucunya sudah berubah menjadi seperti yang ia harapkan dulu. Dan Anggraeni benci ketika cucu kesayangannya ini terus menyebut-nyebut nama Nisa di hadapannya.
"Dia bukan Kakakmu!" suara Anggraeni memuncak.
"Aku menyesal kembali ke sini."
Armanda berdiri membanting sendok dan garpu yang di pegangnya kembali berkata menatap Anggraeni.
"Perlu Omah tahu bagiku dari dulu satu-satunya yang aku anggap keluarga hanya kakak dan sampai kapanpun dia akan menjadi kakakku minimal sampai aku menyukai dia sebagai kakakku dan Omah tak perlu ikut campur." beranjak keluar dari meja.
__ADS_1
"Mau kemana? '' tanya Naka sambil berdiri.
"Aku mau pulang."
"Ini rumahmu." balas Nayaka tenang.
"Kalian adalah rumahku selama sepuluh tahun. Kakakku mungkin akan membuktikan kalau aku bukan keturunan kalian." ucap Armanda tenang.
"Kamu benar-benar sudah di pengaruhi olehnya." Anggraeni semakin emosi hingga tubuhnya terasa payah. "Pergilah padanya. sampai kapanpun dia tidak akan pernah sanggup membuktikannya."
Armanda merasa sangat marah tanpa mau membalas lagi segera ia angkat kaki dari rumah ini.
Armanda kembali ke Apartemen milik kakaknya. Ketika ia memasuki ruangan nampak kakaknya sedang tidur di sopa sepertinya ia ketiduran saat menunggunya pulang.
Armanda mendekatinya berjongkok di bawah sopa. Armanda mulai menilai saat sedang tidur seperti ini wajah kakaknya terlihat lebih polos.

Tangan Armanda mulai bergerak lembut di wajah kakaknya yang terlelap ia terpesona dengan kecantikannya ada keinginan dalam hatinya untuk menciumnya diam diam. Tapi tiba tiba Armanda merasa mendapat dentuman keras di kepalanya yang memberitahu kalau ini gila.
Armanda segera menarik tangannya dari wajah Nisa dan membopongnya pelan-pelan ke kamar tidur dan membaringkannya di ranjang.
__ADS_1
Selama dua minggu ini Armanda masih tidur di ranjang yang sama dengan Nisa, sempat keinginan untuk beli tempat tidur baru dan memiliki kamar sendiri, tapi apartement ini kecil cuma memiliki satu ruang kamar tidur saja, jadi untuk sementara ia tetap tidur di sini sebelum kakaknya menemukan tempat tinggal baru yang lebih besar dan ia bisa memiliki kamar sendiri, itu sudah terencanakan sejak seminggu lalu.
Sebentar Armanda memandang wajah kakaknya kembali, ntahlah perasaan apa ini, Armanda terhanyut dalam pesonanya lebih lama, tapi segera ia menyadarkan dirinya kalau ini salah. Segera Armanda bergeser menjauh ke pinggir sambil memutarkan tubuhnya membelakangi Nisa.