
Membutuhkan waktu setengah jam bagi Nayaka untuk sampai ke kantor polisi namun hanya butuh waktu Lima menit saja ia berhasil mengeluarkan keponakannya dari tahanan, tentu saja nama besar Akbar jadi jaminannya.
"Jangan diulangi lagi." tegas Nayaka ketika mobil yang ia setir bersama keponakannya meluncur di jalan raya. "Di sini kamu harus menjaga tingkah lakumu karna akibatnya akan buruk bagi citra perusahaan, dan satu lagi jangan sampai omah mu tahu mengenai kejadian ini, karna dia akan marah. Paham.?"
"Aku tidak perduli. Biarkan saja omah tahu dengan begitu ia bisa membandingkan kemarahannya atas sikapku, dengan kemarahanku yang ia buat sepuluh tahun lalu."
Nayaka akan membisu setiap kali keponakannya mengendalikan perasaannya dengan cara menyudutkan ia dan ibunya tentang kenangan gelap di masa kelam, Nayaka menyadari apa yang keponakannya lakukan selama ini adalah bentuk dari emosinya.
Dipisahkannya ia dari kakaknya dulu adalah hal yang paling buruk yang masih belum ia terima meski itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Kenakalannya saat ini upaya balasan terhadap keluarganya karna sudah memisahkan ia dari Nisa, ugal-ugalan adalah penampakan kekesalannya, di tilang adalah perkara biasa, berkelahi adalah obat mujarab mengatasi kesepiannya, masuk tahanan sengaja untuk mempermalukan keluarganya, dan Nayaka tahu itu adalah jalan pemikirannya.
"Kalau dengan cara seperti itu bisa meringankan emosimu pada kami. Lakukanlah." menatap keponakannya yang duduk di sebelahnya. "Lihatlah kondisimu," menatapi wajah keponakannya yang babak belur dengan darah masih menetes di pelipisnya, bagian tangannya yang terluka nampak sedang dijilati air liurnya, itu adalah kebiasaan buruknya yang tak bisa hilang sejak ia masih kecil. "Hentikan kebiasaanmu itu." protes Nayaka karna menurutnya jorok dan tidak sopan. "Sampai di rumah bik Kasih akan mengobatimu." kembali menatap jalan raya.
Armada menyandarkan kepalanya di badan jok tidak lagi menjilati lagi lukanya. Armanda menutup kedua matanya mengingat hal-hal yang indah di masa kecilnya yang masih gamblang, ketika kecil jika ia terluka maka kak Nisa akan sangat panik lalu tindakan pertama yang akan dia lakukan adalah mengobati tangannya dengan air liurnya setelah itu tindakan kedua dia akan menutupi luka itu dengan perban, dari situ ia tahu kalau air ludah bisa menyembuhkan luka, dan yang paling ia ingat dan tidak bisa ia lupakan adalah bagaimana kak Nisa selalu memberikannya kenyamanan dan perhatiannya yang tidak ia dapat selama sepuluh tahun tinggal bersama keluarganya yang sekarang. Mereka pikir uang bisa membuatnya nyaman dan mereka pikir cukup dengan menyelesaikan masalahnya dengan uang adalah bentuk perhatiannya, tapi sebenarnya bukan itu yang Armanda mau..?
Nayaka tahu keponakannya tidak sedang tidur ia hanya sedang memutar kembali memorinya ke masa lalu saat bersama Nisa karna dengan begitu ia akan terlihat lebih tenang. Adakalanya Nayaka selalu berpikir mungkin keadaannya tidak akan seperti ini kalau saja dulu keluarganya tidak memisahkan ia dari Nisa karna mungkin kerinduannya tidak akan menyiksanya seperti ini.
"Apa kamu benar-benar sangat merindukan Nisa?"
Nayaka melempar pertanyaan dengan lesu dan ketika ia menunggu jawaban tiba-tiba air mata keponakan yg duduk di sampingnya itu menetes dari sudut matanya yang tertutup. Itu adalah bukti kuat kalau keponakannya benar-benar sangat merindukan Nisa.
Terlintas dalam pikiran Nayaka untuk memberitahunya kalau tadi ia sudah bertemu Nisa dan ingin mengatakan kalau Nisapun sama dia sangat merindukannya. Tapi...,
Nayaka meralat kembali pemikiran itu, ibunya akan menentang, lalu akan kembali mempersulit Nisa lagi seperti dulu, dan buruknya lagi Nisa akan tahu kalau adiknya saat ini bukan lagi anak yang manis seperti dulu tapi sudah menjadi sosok yang liar pembangkang dan putus sekolah.
Nayaka yakin Nisa akan kecewa dan bersedih hati.
Hari sudah menjadi malam ketika mereka sampai di rumah besar tempat kediamannya. Namun ada yang istimewa malam ini, beberapa pelayan nampak sibuk menyajikan sebuah hidangan makan malam mewah.
__ADS_1
Armanda tersenyum mengejek ketika ia ingat malam ini akan ada acara makan malam menyambut pemilik enam puluh persen Akbar Group.
Ini lucu, mengingat selama ini Anggraeni tidak pernah bersusah payah seperti ini untuk menyambut tamunya bahkan biasanya ia selalu mengadakan perjamuan di luar jika memiliki tamu penting.
Wanita bernama Queen Agung itu sepertinya berhasil menjadi sosok yang paling penting untuk Anggraeni saat ini, dibuktikan bagaimana cara ia mengadakan penyambutannya untuk kedatangan perempuan itu malam ini dengan cukup istimewa.
Armanda memandang ini hal paling lucu yang ia lihat dari sosok Anggraeni yang notabene bersikap kaku dan dingin. Bisa dibayangkan apabila di acara jamuan makan malam ini di khususkan untuk orang yang paling penting bagi Anggraeni, namun apa yang akan terjadi jika orang yang sengaja disambut secara istimewa oleh Anggreni tidak jadi datang?
Armanda berpikir seperti itu mengingat selama ini wanita bernama Queen Agung itu selain susah ditemui dia juga seolah-seolah sengaja sedang mempermainkan omahnya karna sering memutuskan pertemuan secara sepihak melalui telephon.
Armanda tersenyum-senyum sendiri membayangkan seorang Anggraeni pasti akan nampak seperti Mumy yang mengeluarkan api dari mulutnya kalau perempuan itu kembali tidak jadi datang.
Armanda berhenti tersenyum ketika ia melihat nampak perempuan tua itu sudah berdiri tiga meter darinya dan menyelidik pada wajahnya.
"Kenapa dengan wajahmu?"
Nayaka segera mewakili dengan mencari jawaban yang tepat supaya ia dapat melindungi keponakannya dari amarah ibunya.
"Maaf, Bu. Tadi...,"
"Tadi aku berkelahi." Armanda memotong bicara Nayaka.
Nayaka terpaksa diam, seperti biasa keponakannya ini tidak suka dibela. Armanda lebih suka keadaan jadi kacau karna keterus terangannya karna itu memang yang dicarinya.
Pernyataan Armanda berhasil memancing kekesalan Anggraeni.
"Sudah berkali-kali Omah tegaskan, kalau kamu masih mau tinggal di sini sebaiknya hentikan kebiasaan buruknmu itu. Ingat setiap tingkah lakumu bisa berakibat buruk bagi cintra perusahaan. Jadi Omah tegaskan sekali lagi beretikalah selayaknya sebagai seorang Akbar kamu mengerti, Manda?" Suara Anggraeni tenang namun tegas.
__ADS_1
"Etika." Armanda mendengus merasa jijik mendengarnya.
Anggraeni selalu saja memerintahkannya bersikap baik, tapi Armanda bingung sikap baik yang mana yang harus ia tiru dalam keluarga ini. Apa membentengi status orang itu adalah etiket yang baik? Apakah memasang muka dingin tanpa senyuman bila disapa orang apakah etiket yang baik? Apakah merendahkan orang disekitarnya merasa dirinya paling tinggi adalah sesuatu yang baik? Jadi Armanda bingung etika baik manalah yang harus ia tiru?
Armanda berjalan pelan mendekati perempuan tua itu yang berdiri di lorong yang memisahkan ruangan ini dengan ruangan keluarga.
"Katakan padaku, etika mana yang harus aku tiru dalam keluarga ini? Apakah Omah bisa menjelaskannya? Kupikir tidak? Karna selama aku hidup bersamamu aku tidak menemukan sedikitpun kebaikan yang ada pada keluarga ini, selain berusaha untuk kaku."
ungkapan yang sinis menatap wajah Anggraeni yang kaku, Armanda tertawa kecil lagi mengejek melihat kebungkaman seorang Anggraeni. Armanda berjalan lagi melewati rorong di mana omahnya berdiri, kembali berbalik menatap omahnya dan tersenyum puas lalu berkata,
"O-ya mengenai wanita itu, Aku tidak yakin dia akan datang."
Armanda berasumsi dan itu berhasil memutarkan wajah Anggraeni kepadanya.
"Tidak ada alasan lagi baginya untuk tidak datang malam ini."
"Baiklah, bagaimana kalau kita taruhan?" senyumnya mengejek.
"Armanda jaga sikapmu!" protes Nayaka tegas.
Nayaka memprotes kekurang ajaran keponakannya terhadap ibunya, setiap kali keponakannya menyakiti perasaan ibunya, hati Nayaka merasa pilu. Seperti apapun Anggraeni bagi Nayaka dia adalah ibu yang sangat ia hormati.
Nayaka memanggil seorang pelayan terdekat keponakannya.
"Bik Kasih..., bantu dia membersihkan luka-lukanya setelah selesai membersihkan diri ajak Armanda turun untuk makan malam." Perintahnya halus pada pelayannya.
Bik Kasih pelayan berusia sekitar tujuh puluh tahun ini memang sangat dekat dengan Armanda, menurut bik Kasih, tuannya yang satu ini berbeda dengan keluarga Akbar yang lainnya yang cenderung angkuh dan juga kaku sementara tuan kecilnya ini adalah sosok yang hangat tidak pula sombong dan juga menyenangkan meski kadang ia akan nampak seperti anak kecil yang kurang perhatian dan kasih sayang.
__ADS_1
Armanda selalu bertindak sesuka hatinya tak memiliki aturan, liar dan serampangan namun kenapa orang seperti ini bisa menjadi rebutan banyak orang? Karna Armanda adalah sosok yang hangat meski hatinya sangat hampa, ia sosok yang perhatian meskipun ia kurang perhatian, ia terbilang jenaka padahal dalam hatinya sangat kesepian.