Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
QUEEN DAN MUTIARA


__ADS_3

Nisa sadar kalau dirinya saat ini telah jadi pusat perhatian semua mata, namun yang ia cari adalah sosok Armanda. Nisa tersenyum ketika ia melihat Armanda sudah berdiri di bawah tangga.


Bak seorang pangeran yang menjemput sang putri impian, Armanda mengasongkan tangannya ketika perempuan pujaannya sudah berdiri satu tangga di atasnya. Semua menyambut dengan tepuk tangan karena dalam acara ini mereka adalah pemeran utamanya.


Acara puncak Armanda dijadikan sebagai pemilik tunggal setelah Queen mengalihkankan enam puluh persen miliknya disambut dengan meriah. Armanda sendiri menyambutnya dengan biasa-biasa saja yang penting setelah ini omahnya tidak akan berusaha lagi memisahkannya dari Nisa.


Memiliki perusahan Akbar Group Armanda tidak begitu berharap, apa lagi sebagai pemilik tunggal, selama ini Armanda tidak mengerti soal perusahaan. Naik atau turunnya harga saham ia tak pernah paham dengan semua itu, namun ia menerima semua itu asal omahnya mau bersikap baik pada Nisa.


Armanda terkejut menatap omahnya ditengah pidatonya ia menyampaikan sesuatu di luar dugaannya, yaitu peresmian Nisa sebagai anggota baru keluarga ini dengan menyatakan Nisa adalah putri angkat Bintang Akbar dan sebagai kakak dari dirinya.


Armanda terkejut dengan ucapan Anggraeni, mungkin ini akan disambut baik kalau saja status Nisa masih seperti dulu namun saat ini Nisa adalah kekasihnya. Peresmian Nisa sebagai kakaknya justru akan menutup ruang geraknya bersama Nisa.


Armanda hendak memprotesnya, menurutnya ini adalah saat yang tepat mengemukakan hubungan yang sebenarnya dengan Nisa. Tiba-tiba seseorang muncul di tengah pidato Anggraeni.


perempuan cantik dengan gaun sepanjang mata kaki berwarna merah, rambutnya panjang dan indah dia nampak anggun dan cantik juga angkuh. Gaya dan penampilan perempuan itu ketika berjalan mengingatkannya pada sosok Queen Agung.



Armanda dan Nisa mempertanyakan siapa perempuan cantik yang baru datang dan nampak menghampiri Anggraeni itu? Akhirnya melalui pidatonya Anggraeni menyebut nama perempuan itu.

__ADS_1


"Inilah tamu penting malam ini. Kita sambut pemilik PT Mulya Agung. Mutiara Agung."


Ya Tuhan.., Armanda dan Nisa terpaku kaget mengetahui kalau perempuan itu adalah Mutiara. Ini mustahil Mutiara yang ia lihat saat ini nampak berbeda karena Mutiara Agung yang mereka kenal adalah sosok cuek dan tidak suka berdandan, dia memiliki rambut yang selalu pendek dan berantakan, selain T sheet yang dipadukan dengan Jeans atau celana pendek Mutiara tidak pernah cocok memakai gaun, apabila berdandan dia akan terlihat konyol dan jadi bahan tertawaan tapi kali ini?


Tidak akan ada yang menyangka bahkan Nisa sendiri merasa ini kejutan luar biasa. Ada perasaan senang melihatnya cantik seperti itu namun ada perasan takut di hati Nisa mengingatnya kembali terakhir kali bertemu di rumah sakit. Mutiara berkata "Aku akan sepertimu untuk melawanmu"


Perasaan Nisa mulai tidak enak dengan mengingat kembali perkataan gadis itu sekitar tiga bulan lalu. Setelah pernyataan itu ia hilang kabarnya pergi ke luar negeri dan saat melihatnya kembali gadis itu sudah berubah dari gaya dan penampilanya nyaris sama dengan sosok dirinya sebagai seorang Queen Agung. Yang membuat Nisa semakin tidak enak adalah keakrabannya dengan Anggraeni...?


Anggraeni berdiri berdampingan dengan Mutiara. Ada hal yang mengejutkan yang disampaikan Anggraeni saat ini yaitu penggabungan Akbar group dengan PT Mulya Agung, Mutiara hendak menandatangani perjanjian penjualan perusahaan miliknya pada Anggraeni dan ia hanya menyimpan sepuluh persen saham saja.


Nisa terkejut. Nisa tak pernah berpikir kalau gadis itu akan menjual seluruh Aset ayahnya yang sudah diwariskan kepadanya. Nisa harus mencegah itu terjadi. Ia segera menghampiri gadis itu.


"Katakan saja sekarang," senyumnya angkuh. "Apa kamu ingin mengatakan pendapatmu tentangku..."


Nisa menyipit, ia menilai tidak hanya penampilan saja yang berubah pada dirinya tapi gaya bicaranyapun nampak sinis dan angkuh hal itu mengingatkannya pada dirinya sendiri. Nisa berpikir gadis ini pasti sangat terluka hingga merubah dirinya menjadi seperti sekarang ini.


Perubahan Mutiara mengingatkan dirinya dulu penderitaan berhasil mengubahnya menjadi sosok Queen Agung. Nisa tidak ingin gadis ini berubah seperti ini. Perubahan seperti ini bukan yang Nisa harapkan dari gadis ini sekali lagi Nisa tekankan bukan seperti ini!!.


Queen dan Mutiara saling berpandangan, semua mata terpokus pada mereka. Dua perempuan cantik dengan gaya dan penampilan yang hampir sama.

__ADS_1


Dengan jarak sedekat ini Nisa mulai bisa menilai lagi lebih jelas, tak melihat sedikitpun dalam dirinya terdapat sosok Mutiara. Kulitnya yang dulu agak gelap sekarang lebih putih seperti kulit miliknya, rambutnya yang pendek berantakan tiba-tiba panjang teratur rapi seperti rambut miliknya, sepertinya tidak hanya itu yang berhasil ia rubah, hidungnya sekarang lebih mancung dan lancip, giginya yang dulu ginsul di kedua sisinya sudah hilang padahal dengan gigi itu dulu dia nampak sangat manis, dan yang paling terlihat adalah perubahan dadanya yang dulu kecil sekarang lebih besar dan menonjol, Nisa merasa perubahannya saat ini bukan hanya hasil lukisan salon kecantikan tapi lebih menitik beratkan hasil pahatan para Medis. Entahlah tapi Mutiara saat ini sangat sulit di kenali lagi.


"Tarik kembali rencana bodohmu itu." Tegas Nisa setelah berhasil menggiring Mutiara ke sebuah ruangan tertutup.


"Kenapa?" Tersenyum angkuh, "PT Mulya Agung sudah jadi miliku dan aku berhak melakukan apa saja pada perusahaan itu termasuk menjualnya pada Akbar group. Lagipula kau dengarkan tadi Anggraeni Akbar mengatakan, dia mengizinkanku untuk menyimpan sepuluh persen saham di Akbar Group? Aku bisa mendapat mata pencaharianku dari sana. Dan kau jangan khawatir. Karena aku muak melihatnya." ucap Mutiara kesal.


Mutiara tahu perempuan ini memang memikirkan masa depannya tapi Mutiara tidak butuh perhatian itu justru dari orang yang sudah menghancurkan masa depannya. Nisa sangat cemas dengan ucapan gadis di depannya, Nisa yakin Mutiara telah mengadakan perjanjian dengan Anggraeni tidak tahu keuntungan yang diberikan Anggraeni kepada Mutiara apa? Nisa cemas karena Mutiara tidak tahu siapa Anggraeni.


"Tiara Tante mohon.., masa depanmu ada pada perusahaan itu. ayahmu akan sedih. Dia pasti kecewa jika tahu kamu melakukan ini."


"Ayahku sudah meninggal. Dan masa depanku bukan pada perusahaan itu, tapi tergantung padamu..," suaranya mulai terdengar parau. "Tergantung kebaikanmu. Aku hanya ingin Armanda kembali padaku tapi kenapa kau begitu serakah. Bukankah sudah cukup bagimu menjadikan dirimu Kakak untuk selalu bersamanya, tapi kenapa kau menginginkan yang lainnya? Seandainya kamu mau berbagi denganku? Aku tidak perlu melakukan semua ini." Nenitikan air matanya tapi kemudian mengusapnya segera lalu tersenyum sinis. "Tapi aku tidak akan menyerah sama sepertimu. Akupun akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Armanda kembali ke sisiku "


Setelah mengeluarkan kalimatnya Mutiara membuka pintunya untuk keluar dari ruangan ini. Mutiara terpaku ketika ia buka pria yang sangat ia cintai sudah berdiri di depannya tampaknya ia mendengar obrolannya dengan Nisa tadi.


Armanda masuk mendekati Nisa yang menangis sepertinya penuturan Mutiara tadi membuat Nisa sangat sedih bagaimanpun Armanda tahu gadis itu sudah dianggapnya adik setelah dirinya.


"Jangan menangis. Mutiara pasti akan baik-baik saja." ucap tersenyum murung.


Nisa menatap wajah adiknya di hadapannya sambil menekankan diri kalau ia hanya boleh memikirkan pria ini saja. Biarkan saja semua orang menangis asalkan pria ini tersenyum kepadanya ia akan membalas senyuman itu meski ini akan sangat kejam bagi orang lain termasuk Mutiara orang yang selama ini ia sayangi sebagai adik setelah Bintang kecilnya namun tentu saja dengan kadar yang berbeda, karena Bintang kecil dari dulu adalah nyawa bagi Nisa.

__ADS_1


__ADS_2