
Perasaan Armanda sangat kacau ia tak sanggup membayangkan perempuan yang selama ini di anggapnya Bidadari surga.. Malaikat penjaga.. Dewi langit.. Cahaya bumi.. Sumber cinta kasihnya atau apalah itu ternyata adalah perempuan murahan yang yang bisa diperjual belikan.
Tapi Armanda tetap menekankan diri kalau ia tidak boleh mempercayai itu? Hanya satu orang saja yang boleh ia percaya yaitu mulut kakaknya sendiri. Baginya asalkan kakaknya bilang Tidak maka ia pasti mempercayainya meski seluruh dunia mengatakan itu benar.
Sudah setengah jam Armanda menunggu Nisa di depan pintu ruangan kamar apartemen. Posisinya duduk memeluk kedua kakinya dengan menyembunyikan wajah di atas lututnya ia berharap malam ini Nisa pulang dan menolak tuduhan itu dan masalah akan selesai.
Geseran suara pintu dan dentingan suara sepatu hak tinggi terdengar ke kuping Armanda. Segera ia mengangkat wajahnya dan nampak kakaknya sudah berdiri di depannya.
Armanda mengangkat tubuhnya yang terasa lemas untuk berhadapan dengan perempuan yang ia tunggu sejak tadi. Ia butuhkan hanya penyangkalan saja itu sudah cukup.
"Katakan kalau itu tidak benar..." ucapnya dengan suara berat. "Aku yakin Mutiara sudah berbohong. Katakan kalau itu tidak benar. Katakan kalau Kakak tidak dibeli oleh ayahnya Mutiara dari seorang mucikari. Itu tidak benar kan... Kak..?" kalimat terakhir serak dan hampir menangis hanya sebuah penyangkalan saja yang ia tunggu maka semua akan beres.
__ADS_1
Sakit hati Nisa menyaksikan wajah sedih dan penuh ketakutan di depannya. Nisa ingin menjawab kalau itu tidak benar tapi ia bingung bagaimana harus menjelaskannya kalau pertanyaannya seperti itu? Di akui atau tidak ia memang telah dibeli Ridwan Agung delapan tahun lalu dari seorang mucikari meski Nisa menolak tegas kalau dirinya bukan ******* tapi ia tidak bisa berbohong kalau keperawanannya terenggut di tempat pelacuran itu. Jadi bagaimana caranya harus menyangkal? Nisa tak ingin menjawab ia membuka gagang pintu kamarnya untuk masuk.
Tangan dan tubuh adiknya mencegahnya untuk masuk.
"Aku mohon sangkallah..." Armanda menangis. hatinya terasa sakit sarapnya merasa kacau kebungkamannya seolah membenarkan kata-kata Mutiara. Tapi Armanda yang Armanda butuhkan cukup hanyalah sebuah penyangkalan maka ia akan percaya. Sekali lagi Armanda memohon. "Cepat sangkallah." Tangisnya terus memohon. Bantahlah Kak.., asalkan Kakak bilang tidak aku akan percaya jadi aku mohon bantahlah..." tangisnya memaksa.
Pedih hati Nisa menyaksikan tangisan adiknya saat ini pria ini hanya menunggu satu jawaban saja yaitu Tidak. tapi bagaimana ia harus berkata tidak kalau keperawanannya terenggut di tempat itu.
Nisa menyaksikan adiknya terpaku lesu mendengar jawaban yang tidak ingin ia dengar, bahkan mungkin ia lebih suka dirinya menyangkalnya walau berbohong dari pada mendengar pengakuannya.
Nisa berhasil membuka pintu kamarnya setelah tangan adiknya terlepas dari lengannya. Namun tiba-tiba tangan adiknya menariknya tubuh dan tangannya dalam sekilat ia sudah menempel di tubuhnya tanpa bisa bergerak karena apitan pintu di belakangnya.
__ADS_1
Dengan perasaan marah, sedih dan kecewa Armanda meluapkan emosi dan kemarahannya dengan menarik wajah Nisa dan memaksa menciumnya.
Armanda berhasil menciumnya dengan gusar. Nisa berusaha keluar dari situasi ini dan ia berhasil keluar dalam apitan itu tapi tangan Armanda menarik tubuhnya dan dalam sekilat tubuh Nisa terdorong dan jatuh ke tempat tidur.
Ntah bagamana caranya kini posisi Armanda sudah menindih penuh tubuh Nisa.
"Berapa dia menghargaimu..?" Suaranya dingin tatapannya tidak meremehkan justru nampak sedih dan kecewa. "Apa nilai uangku saat ini cukup untuk membelimu kembali? Kau tahu betul saat ini uangku tidak sebanyak dirimu? Katakan bagaimana caraku harus membelimu? Apa dengan sex, cukup?"
Menitiklah air mata Nisa jatuh menelusuri pelipis matanya ketika keluar kalimat penghinaan yang keluar dari mulut adiknya. Nisa marah hingga ia berpikir tak perlu lagi ada penjelasan apapun lagi dengan pemikiran adiknya yang sudah sekotor itu sementara hati Armanda langsung memurkai dirinya sendiri karena sudah menghina perempuan yang selalu dicintainya itu hingga ia menangis.
__ADS_1