
Selama lima hari di rumah sakit ini. Nisa menjaganya terus menerus seperti seorang suster sementara Nayaka selalu menjenguknya setiap pagi dan sore hari dan mempercayakan sepenuhnya pada Nisa, karena banyaknya pekerjaan kantor yang harus ia urus setelah kepergian ibunya empat hari lalu ke Jepang dalam memperluas jaringan Akbar Group di Tokyo.
Pagi ini Nisa dan Armanda dikejutkan dengan kedatangan Mutiara. Ia datang dengan nemakai hoodie hitam, di tangannya memegangi sebuah map kuning. Mata gadis itu nampak nanar dan bengkak seperti sudah banyak menangis. Tatapan gadis itu tampak marah tertuju pada Nisa.
Mutiara sangat membenci Nisa karena menurutnya Nisa yang sudah menghancurkan hidupnya. Mutiara melemparkan map kuning itu pada Armanda yang yang duduk bersila di ranjang rumah sakit sementara nampak Nisa memegangi piring sedang menyuapinya makan duduk saling berhadapan.
Armanda mengambil map itu yang dilempar Mutiara kearahnya. Map beberapa waktu lalu tertinggal di rumah Mutiara. Masih ada perasaan kesal dan marah pada gadis itu masih belum hilang karena hampir mencelakai kakaknya beberapa waktu lalu dengan cara menjebak.
Nisa menjelaskan dua hari lalu Mutiara mengajak kakaknya untuk berunding di suatu tempat. Kakaknya datang dan betapa terkejutnya Melisa dan beberapa bodigarnya tiba-tiba ada disana. Kakaknya tidak sempat berteriak karena dalam sekilat anak buah Melisa membekap mulutnya dengan obat bius. Setelah itu kakaknya sudah berada di tempat bordir Melisa. Itulah cara Mutiara menjahatinya. Mungkin kakaknya bisa melupakan hal ini dengan tidak melaporkannya ke polisi tapi Armanda tidak bisa melupakan kejadian itu.
"Terima kasih sudah mau mengantarkan ini." Mengambil map itu. Kembali mengeluarkan katanya dengan dingin. "Keluarlah aku tidak ingin melihatmu lagi."
Mutiara berkaca-kaca ketika mendengar ucapan Armanda yang dingin di alamatkan padanya. Nisa menatap iba Mutiara. Kemarahan pada gadis ini hilang sejak ia melihat ayahnya meninggal. Nisa menghampiri Mutiara.
"Tante turut berduka cita."
Armanda terpaku kaget ketika mendengar ucapan duka cita dari mulut kakaknya pada Mutiara. Itu artinya ayahnya Mutiara sudah tiada, dan kakaknya belum menceritakan ini. Kemarahannya pada Mutiara hilang dalam sekejap. Nisa kembali meneruskan kalimatnya bernada sedih.
"Bagaimana keadaanmu? Maaf Tante belum sempat ke kuburan ayahmu. Nanti Tante ke sana.."
"Tidak perlu memasang wajah empati seperti itu. Apa kau tidak sadar ayahku meninggal gara-gara kamu. Kamu yang sudah membuatnya meninggal. Aku benci padamu. Dari ujung rambut sampai ujung kaki aku benci....." Teriak Mutiara pada Nisa. Karena menurutnya Perempuan di hadapannya ini akar dari masalahnya, kalau saja ia tidak membuatnya marah, Ayah sampai saat ini pasti masih hidup.
Armanda bangkit menghampiri.
"Kenapa melemparkan kesalahanmu pada kakakku. Ayahmu meninggal karenamu. Kau yang membuatnya marah sampai dia meninggal."
Mutiara menangis mendengar ucapan Armanda. Ia benci ketika pria ini membela perempuan ini padahal saat ini kondisinya lagi sangat terpuruk. Mutiara butuh penenangan bukan hardikan.
"Lo juga sama. Lo ikut andil dalam kematian ayah. Apa lo lupa. Lo meninggalkan ayah saat ayah lagi sekarat. Kalian berdua sama saja. Gue benci kalian berdua.., terutama lo..," menatap Nisa.
__ADS_1
Setelah menegaskan kalimatnya sambil menangis Mutiara berlari keluar dari ruangan ini. Nisa mengejar.
"Mutiara. Tunggu..." meraih lengannya. Sekilat Mutiara berbalik, dan...
"Plaaaakkk."
Sebuah tamparan mendarat ke pipi Nisa. Cukup sakit tapi Nisa tidak marah sedikitpun. Dia mengerti perasaan Mutiara saat ini. Masalah yang sedang di hadapi sangatlah berat dan Nisa ikut bersalah dalam kondisi Mutiara saat ini.
"Tante mengerti perasaanmu saat ini, tapi percayalah kamu tidak sendiri, Tante masih sangat peduli padamu..."
Situasi Mutiara saat ini mengingatkannya pada dirinya di masa lalu, saat ia harus kehilangan semuanya. Anggraeni mengambil adiknya di mana dirinya merasa hancur. Dan saat ini gadis ini telah mengalaminya dan Nisa merasa sudah berlaku kejam padanya karena sudah mengambil Armanda yang selama ini menemaninya.
Tiara menghentikan tangisnya kemudian ia tersenyum sinis. Tiara tidak membutuhkan perhatian itu dari orang yang membuat hidupnya 360 derajat kacau.
"Kalau benar kamu masih peduli padaku? Aku minta satu hal saja padamu?" ucapnya sinis.
"Apapun akan Tante lakukan untukmu selama Tante sanggup melakukannya?’’ balas Nisa lirih.
Quinisa terpaku tanpa bisa bicara lagi terpaksa ia membiarkan gadis itu pergi membawa kemarahannya tak ada yang bisa di lakukan untuk membantunya keluar dari masalahnya, semua rencana yang ia susun selama dua tahun ini gagal total. Sikap kemandirian yang ia tanamkan, didikan keras yang ia lakukan sebagai pembekalan untuk digunakan saat ayahnya tiada, pada akhirnya kacau balau, dan Nisa merasa ia yang sudah mengacaukan perencanaan yang ia buat untuk kehidupan Mutiara saat ini.
Nisa memang sangat peduli pada Mutiara apapun ia akan lakukan demi kebahagiannya sebagai balasan kebaikan ayahnya selama ini kepadanya, namun jika permintaan itu akan melukai Armanda, Nisa tidak akan pernah sanggup karena meski ia lebih peduli pada Mutiara dibanding kepeduliannya pada diri sendiri, tapi ia lebih peduli lagi pada Bintangnya dibanding pada apapun yang ada di muka bumi ini. Baginya walau seisi dunia ini menangis selama Armanda tersenyum ia akan membalas senyumannya, dan menghiraukan yang lainnya.
Nisa kembali masuk ruangan dengan murung. Armanda meraih tangannya ketika Nisa sudah duduk di dekatnya.
"Aku ikut merasa bersalah, Kakak.. , Aku tidak menolongnya saat dia dalam sekarat. Mutiara pantas marah."
Nisa tersenyum kemudian memeluknya.
"Tidak. Bintang sama sekali tidak salah. Ayah Mutiara memang menderita sakit jantung. Kematian mendadak kapanpun bisa terjadi..." lirih Nisa menitikan air matanya karena dalam hati berusaha menghilangkan perasaan bersalah adiknya namun sebenarnya dalam hati justru Nisa yang merasa bersalah pada Mutiara.
__ADS_1
Nisa dan Armanda melepaskan pelukannya ketika Nayaka membuka pintu memasuki ruangan ini.
"Ada kabar baik untuk kalian hari ini," menatap Nisa dan keponakan saling beralihan. "Sore ini kamu boleh pulang."
"Benarkah?" Armanda terpukau senang. Kabar baik yang ia tunggu akhirnya datang jua.
"Iya. Kamu diijinkan pulang. Boleh di rawat di rumah. Dokter akan memilihkan perawat terbaik untuk merawatmu setelah di rumah."
"Aku tidak mau, Paman.." lalu menatap perempuan di sampingnya. "Aku mau Kakak yang merawatku.. " menatap kembali wajah pamannya. Dan ia melihat pamannya tersenyum.
Nayaka nenatap Nisa. Dan sebenarnya Nayaka merasa lega kalau Nisa yang merawat karena tidak ada yang sebaik Nisa dalam merawat keponakannya.
"Gimana Nisa, Kamu bisa?" Tanya Naya pada Nisa disisipi senyuman.
Nisa membalas dengan senyuman senang karena ia memang ingin merawatnya dan selalu dekat dengan adiknya.
"Baiklah." Menatap Armanda. "Kakak akan merawatmu. Tapi jangan bandel yah. Kakak akan terus memaksamu minum obatnya. Kalau tidak.." menyentuh tulang iganya, sambil tertawa kecil. "Kakak akan menggelitikmu."
"Iya. Iya. Iya.., Aku akan minum obatnya. Yang penting setiap hari, setiap jam, setiap detik selalu melihat kakak."
Nayaka tersenyum melihat sikap keponakannya yang memang selalu bersikap manja pada Nisa. Sekilas kedekatan mereka emang bisa dikatakan berlebihan tapi Nayaka sudah terbiasa dengan kemesraan mereka dan memaklumi dari kecil keponakannya memang selalu seperti itu pada Nisa
"Ya, sudah. Paman akan nelpon bik Kasih untuk membereskan kamar di sebelahnu untuk Nisa."
"Kok ke sana, Aku mau pulang ke rumah kakak.."
Nisa juga berpikir begitu ia akan merawat adiknya di rumahnya tapi ternyata pemikiran Nayaka berbeda. Nayaka menjelaskan.
"Kalau di rumah Nisa, Paman akan kesulitan melihatmu. Kamu tahukan omah setiap hari telepon menanyakan kabarmu dari Tokyo. Omah kembali dari Tokyo bulan depan. Paman rasa tidak masalah kalau Nisa merawatmu di rumah. Bagaimana?"
__ADS_1
Nisa memutuskan menerima tawaran itu karena ia sudah tidak memiliki tempat tinggal yang nyaman, rumah yang dibelinya selain kecil lingkungannya terlalu ramai, tidak bagus untuk pemulihan adiknya.