Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Rahasia Anggraeni


__ADS_3

Hari berganti hari Nisa terbaring lemah di tempat tidurnya. Matanya sembab dan nanar tatapannya lepas seolah menembus langit-langit atap kamar ini. Tubuhnya seakan terkunci pada sebuah kotak yang pengap, jika siang debu-debu seolah menari-nari di atasnya sementara jaring laba-laba mulai merambat di pojok ruangan seolah ikut menemaninya dalam kesesakan hidup, dan ketika malam datang kegelapan datang dengan pekat, kesunyian datang mendera dan kelemahan mentertawai.


Sinar matahari menyusup masuk melalui lubang pentilasi tepat menyinari wajahnya yang rapuh. Sinar itu seolah membimbingnya untuk membuka mata. Dan yang pertama kali ia ingat saat ia membuka matanya adalah map kuning yang di tinggalkan Armanda di rumah ini tiga hari lalu. Seperti memberi kekuatan Nisa untuk bangkit ia beranjak dan berlari menuju meja di ruangan tamu.


Map kuning itu masih ada, sepertinya ia mulai membenarkan kata-kata Armanda tiga hari lalu yang memintanya untuk kembali jadi sosok Queen Agung, jika memang bisa membuat Armanda kembali Nisa tidak akan ragu ia akan kembali mengikuti permintaan adiknya.


Nisa duduk di depan cermin besar. Ia tatapi wajahnya nampak rapuh kacau dan polos tak terlihat ada Queen Agung yang menempel pada dirinya saat ini.


Nisa tahu bagaimana cara mengembalikan Queen Agung. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengembalikan kemilau dirinya. Nisa mulai merias wajahnya sendiri dari mulai makeup dan penataan rambut ia pastikan tidak ada yang berubah, terakhir adalah busana kerja yang cantik dan modern yang selalu di kenakan Queen Agung hingga membuatnya selalu tampil seperti wanita kelas atas yang superior.


Nisa keluar dari dalam taxi setelah sampai di depan gedung Akbar Group satu jam kemudian. Nisa mulai melangkah seperti super model yang bejalan anggun seperti sedang memamerkan busananya.


Langkahnya sedikit tergesa-gesa namun sangat anggun, kepalanya tegak seperti terpusat pada satu inti. Ketika ia melangkah semua terhipnotis menatapnya. Mereka selalu terpesona karena kecantikannya namun selebihnya mereka terhipnotis karena pengaruh dan karismanya.


Pintu ruangan Anggraeni yang dulu adalah ruangannya dibuka tanpa seorangpun berani memprotesnya bahkan sekertaris Anggraeni sendiri ia nampak gugup dan takut ikut menggiringnya masuk dan berkata pada Anggraeni.


"Maaf. Bu... Saya tidak berani memprotesnya. Karena..,"


Anggraeni merah padam ketika orang yang paling tidak ingin ia temui berhasil menobos ruangan kerjanya dan ia hanya bisa murka pada sekertarisnya karena membiarkannya masuk.


"Kau ku pecat!''


Nisa mendekati meja Anggraeni lalu menegaskan.


"Kau tidak memiliki wewenang untuk memecat siapapun, karena aku akan menduduki kursiku kembali. Sekarang juga." Sambil mengangkat map kuning, menampakannya di hadapan Anggraeni seketika Nisa menyaksikan wajah perempuan tua itu terpaku. "Kau kaget kenapa aku bisa kembali. Benar kan?" Menurunkan kembali map kuning di tangannya namun tatapannya tetap pokus pada Anggraeni yang masih duduk terpaku di balik mejanya. "Tiga hari lalu Armanda yang memintanya. Dia mengembalikan semuanya dan sekarang sudah atas namaku lagi. Jadi saya masih memiliki wewenang di dalam perusahaan ini, kau tahu kenapa aku kembali?" Nisa tersenyum menang. "Untuk menyingkirkanmu."


"Apa mau mu..?"


Nisa tersenyum puas karena itulah kalimat yang ia tunggu, kalimat yang bisa diartikan kalau ia tak memiliki jalan keluar dan Nisa selalu memampaatkannya untuk menyatakan keinginannya.


"Kamu boleh keluar." Perintah Nisa pada sekertaris Anggraeni sementara tatapannya yang tajam tetap pokus pada Anggraeni. Kembali Queen meneruskan kalimatnya setelah terdengar suara pintu menutup. "Aku tahu saat ini Bintang Kecil ada bersamamu. Jangan pernah menyakitinya. Kalau tidak.., Aku tak ada kompromi bagimu."


"Kamu mengancamku?" Anggraeni berdiri. "Armanda adalah cucuku. Saya berhak melakukan apa saja pada cucuku dan kamu tidak perlu ikut campur."


"Kau selalu bersikeras mengatakan dia cucumu. Sampai kapan kau akan menutupi kebohongan kalau Bintang Akbar bukan putramu?"

__ADS_1


"Kamu tidak pernah sanggup membuktikannya..." Anggareni berusaha tetap tenang sementara dalam hati ia benar-benar merasa sangat marah.


"Kalau kau mau aku bisa membuktikannya? Bukankah pernah aku bilang, sudah lama aku menemukan catatan kesehatan suamimu? Dari data itu tak sedikitpun aku menemukan kesamaannya dengan riwayat kesehatan papa Angkatku. Jadi itu bisa dijadikan bukti kuat kalau Armanda bukan cucumu.." ungkap Nisa dan ia melihat perempuan itu membisu nampak terlihat takut. "Kenapa kau diam?'' senyum Nisa menang.


"Sampai matipun kamu tidak akan sanggup membuktikannya. Sekarang keluarlah dari hadapanku!" Anggraeni terpancing Emosi.


"Kau yang harusnya keluar Anggraeni! Di sini ruanganku. Maka enyahlah dari hadapanku!"


Anggraeni tak bisa lagi menahan emosinya segera ia angkat telepon di mejanya.


"Naka. Kemarilah."


Dalam dua menit Nayaka datang dan ia nampak terkejut melihat Nisa sudah berada di ruangan ini. Belum selesai dari rasa terkejutnya terdengar suara lantang dari mulut ibunya yang terlihat sedang marah.


"Keluarkan Perempuan ini. Naka!"


"Aaaah.. '' Nadanya agak panjang dan mengejek, senyumannya mentertawakan, tatapannya merendahkan pada Anggraeni. "Kau menyuruh Nayaka mengusirku, karena kau tahu betul Sekurity atau atau siapapun tidak ada yang berani padaku dan kau menyuruh putramu yang berpangkat JM untuk mengusirku.., kasihan sekali kau Anggraeni.." Tersenyum kembali lebih puas. "Di mana wibawamu sebagai pemimpin perusahaan?"


"Cepat Naka!!'' teriak Anggraeni dengan emosi yang memuncak.


Nayaka bingung dengan situasi ini, bagaimana bisa ia mengusir Nisa, bagaimanapun Nisa masih ada hubungannya atas perusahaan ini bukankah dia kakak angkat keponakannya, tapi iapun tidak mungkin menolak perintah ibunya. Tak ada pilihan lain untuk terhindar dari suasana yang semakin panas ia berkata,


"Bukan aku yang harus pergi.." Menatap Nayaka kembali pada Anggraeni. "Tapi dia yang harus keluar dari ruanganku, karena aku akan mengambil alih lagi posisiku sebagai pemilik enam puluh persen perusahaan ini. dan satu lagi kau harus bersiap, tidak hanya untuk perusahaan ini, aku juga akan membuktikan kembali kalau Armanda bukan keturunanmu."


"Sudah ku bilang kau tidak akan sanggup membuktikannya! Karena..,"


Anggraeni terhenti dari ucapannya, sepertinya ia tidak bisa untuk mengunci rapat lagi bibirnya dan mungkin memang sudah waktunya meluruskan kesalah pahaman ini dengan begitu Nisa akan berhenti mengatakan kalau Armanda bukan cucunya.


"Karena apa Anggraeni!" Balas Nisa keras.


"Karena Bintangmu adalah cucuku."


"Kau bohong!" timpal Nisa. "Bintang bukan cucumu karena ayah angkatku bukan putramu!"


"Bintang Akbar memang bukan putra suamiku tapi dia putraku..! Putra kandungku! Aku yang melahirkannya! Aku ibunya!"

__ADS_1


Nisa terpaku bisu. Nayaka sendiri merasa bingung apa maksud kalimat ibunya yang menyatakan Bintang Akbar bukan anak suaminya, kalau bukan anak suaminya lalu siapa sebenarnya Bintang Akbar?


"Apa maksud ibu?" Tanya Nayaka menyelidik wajah ibunya.


Anggraeni melihat dua orang di hadapannya nampak terpaku bingung mendengar pengakuannya. Mungkin sudah saatnya Nisa dan Nayaka tahu kebenarannya tentang siapa sebenarnya Bintang Akbar?


Anggraeni akan memulai cerita yang ia simpan selama bertahun-tahun mungkin dengan menceritakan kembali akan terasa mengoyak luka lama. Masa mudanya tentang mantan kekasihnya yang sangat dicintainya kemudian pria itu mencampakannya hingga dia bertemu dengan Gandi Akbar.


"Sebelum Ibu menikah dengan ayahmu..," menatap Nayaka. "Ibu sudah memiliki hubungan dengan pria lain..," kemudian beralih menatap Nisa. "Kami berdua pada awalnya saling mencintai namun keluargaku menetangnya karena dia dia orang biasa. Namun cinta sudah membutakan mataku, dengan mengikutinya Ibu merasa yakin akan bahagia. Tapi..'' Anggraeni terdiam sebentar mulutnya terasa berat untuk meneruskan mengingat kembali bagaimana pria itu mencampakannya setelah dirinya hamil. Menatap kembali wajah putranya. "Pria itu mencampakan Ibu ketika Ibu sedang mengandung dan pergi dengan perempuan lain. Sementara Ibu bingung apa yang harus Ibu lakukan dengan hidup Ibu saat itu?" Menatap Nisa. "Kedua orang tuaku memang bersedia menerimaku lagi namun tidak dengan bayi dalam kandunganku setelah aku melahirkan mereka memaksaku untuk membuang bayi itu ke panti asuhan. Tak berapa lama kemudian kedua orang tuaku menjodohkanku dengan Gandi Akbar..," menatap Nayaka lagi. "Ayahmu. Namun Ibu tidak berani untuk memberitahu tentang masa lalu Ibu karena Ibu takut kehilangan ayahmu. Gandi Akbar adalah pria yang sangat baik dan Ibu sangat menghormatinya. Namun dia sangat menginginkan anak Laki-laki untuk meneruskan Akbar Group, tapi saat itu Ibu hanya bisa melahirkan seorang bayi perempuan. Karena Ibu tidak kunjung hamil lagi, akhirnya suamiku berniat mengadopsi anak Laki laki, muncul dalam pikiran Ibu untuk mengadopsi putra kandung Ibu sendiri tanpa sepengetahuan ayahmu. Hanya butuh waktu sebentar saja setelah aku mengadopsi putraku sendiri, ayahmu sangat menyukai anak itu kami menamai dia Bintang agar kelak dia akan selalu memberi cahaya pada keluarga kami. Suamiku berusaha merahasiakan pada siapapun kalau Bintang adalah anak adopsi bahkan pada keluarga Akbar sendiri kami berdua sepakat untuk menutupinya agar tidak terjadi perbedaan hak waris, Bintang tumbuh dengan kasih sayang yang penuh dan seluruh keluarga Akbar mencintainya, setelah itu baru kau lahir dan ayahmu sama sekali tidak membedakan kasih sayangnya dia tetap menyayangi Bintang seperti anak kandungnya sendiri hingga munculah wanita bernama Quin? Keluarga Besar Akbar menentang hubungannya dengan Quin karena Quin hanyalah orang biasa yang besar di panti asuhan. Termasuk juga ayahmu dia menolak karena takut Bintang akan dicoret dari pewaris utama Akbar Group yang saat itu masih milik mendiang Kakekmu. Tapi cinta membutakan mata putraku ia lebih meninggalkan keluarga demi perempuan itu, suamiku sangat sedih dan kecewa anak yang ia besarkan dengan setulus hati, dia memilih pergi bersama wanita bernama Quin hingga tanpa sadar suamiku mengucapkan padanya kalau dia adalah anak adopsi yang tidak tahu terima kasih dan sejak itulah pintu keluarga kami tertutup untuk Bintang. Tapi tidak ada yang tahu.., Bintang adalah putraku. Putra yang aku lahirkan. Aku minta pada suamiku untuk memaafkan Bintang tapi permintaanku malah memancing sebuah pertengkaran yang hebat di antara kami dan tanpa bisa ku kendalikan aku mengatakan pada ayahmu, kalau Bintang adalah anak kandungku, anak di luar pernikahanku bersama pria lain yang ku titipkan di panti asuhan. Tapi kebenaran membuat keadaan bertambah kacau suamiku terkena serangan jantung dan ia meninggal dunia dengan membawa rahasiaku. Kematian suamiku membuatku tak bisa memaafkan Bintang. Ibu membenci Quin tak ada lagi keinginanku untuk menjelaskan pada Bintang kalau sebenarnya dia adalah putra kandungku. Ibu membiarkan Bintang tetap salah paham sampai dia meninggal. Bintang tidak pernah tahu kalau aku adalah ibunya. Ibu kandungnya.. " Anggraeni menitikan air matanya lalu menatap Nisa yang nampak terpaku bisu. "Sekarang kamu tahukan.., siapa yang paling berhak atas Armanda?"


Nisa terpaku dengan penuturan panjang lebar Anggraeni, tak terlihat kebohongan pada wajah wanita tua itu malah untuk pertama kalinya Nisa melihat perempuan itu menitikan airmatanya. Tuduhan yang berusaha ia buktikan bertahun-tahun karena pokus pada surat wasiat sang ayah akhirnya hanya sebuah kesalah pahaman.


Bintang Akbar memang bukan putra Gandi Akbar tapi dia adalah putra kandung Anggraeni Akbar artinya dia memiliki hak penuh atas Bintang kecilnya sementara Nayaka terpaku karena ini sulit dipercaya ia tidak pernah menyangka kakaknya yang dulu dianggap anak emas dalam keluarga besarnya, dianggapnya sebagai putra mahkota ternyata bukan keturunan ayahnya? Banyak hal yang ingin Nayaka tanyakan salah satunya kenapa ibunya lebih mencintai Bintang yang bukan keturunan Akbar dari pada dirinya yang keturunan asli keluarga Akbar? Ketika ingin ia tanyakan telepon genggam memanggil.


Nayaka terpaku lemas ketika di dalam telepon, bik Kasih pembantu di rumahnya memberitahukan kalau keponakannya saat ini tak sadarkan diri. Nisa menatap Nayaka  merasa cemas, sesuatu yang buruk telah terjadi pada adiknya?.


"Ada apa Naya?" Tanya Nisa panik setelah tahu kalau yang meneleponnya barusan adalah pembantu di rumahnya.


"Armanda..," suaranya lesu menatap Nisa yang nampak menunggu jawaban. "Dia sakit, bik Kasih menemukan Armanda sudah pingsan di kamarnya."


Nisa merasakan tubuhnya mati rasa. Airmatanya menetes, bibirnya ingin menghujat pada biang keladi yang membuat adiknya sakit, tapi bibirnya terasa berat dan Nisa hanya bisa bergumam,


"Apa yang sudah kalian lakukan..?"


"Tenanglah Nisa adikmu akan baik-baik saja..."


"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" Suara Nisa parau dan marah ditujukan pada Anggraeni.


"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan." Jawab Anggraeni yang juga terlihat cemas.


"Dengan cara menyakitinya..." hujat Nisa tak bisa menyembunyikan kemarahan dan kesedihannya.


"Kau yang membuatku melakukannya.." Suara Anggraeni tetap tenang meski terlihat di wajahnya sangat cemas.


"Kini aku mengerti kenapa papa lebih memilih mama dari pada memilihmu. Karena kau tidak memiliki perasaan seorang Ibu. Kau adalah Ibu yang gagal, Anggraeni."

__ADS_1


Tangan Anggraeni mengangkat hendak meluncur ke wajah Nisa namun tangan Naya berhasil menahannya.


"Cukup, Bu!" inilah pertama kalinya Nayaka bersikap keras pada ibunya tapi Demi Tuhan ia tidak bermaksud seperti itu. Nayaka hanya ingin kedua orang ini berhenti untuk saling menuduh. "Aku mohon hentikan..," suara Naka parau sambil melepaskan tangan ibunya. "Kenapa kalian berdua selalu seperti ini?" lirihnya saling beralihan menatap keduanya. "Kalian berdua selalu bertikai memperebutkan Armanda karena dia sangat penting untuk kalian. Tapi apa kalian tidak sadar, apa yang terjadi pada Armanda saat ini adalah kesalahan kalian berdua, karena kalian selalu merasa paling berhak atas dia. Aku mohon untuk saat ini, sekali ini saja hentikan peperangan ini. Demi dia..," menelan ludah yang terasa memenuhi terggorokannya.  "Demi Bintang kalian."


__ADS_2