
Nisa menepati janjinya jam lima pagi ia sudah sampai di gerbang rumah besar milik Anggraeni Akbar. Ia melewati perjalanan dari daerah terpencil kawasan puncak bogor hingga Jakarta tanpa membangunkan si kecil yang masih terjaga dalam tidurnya.
Tiba-tiba seseorang bertubuh tinggi besar sudah berdiri di depan mobilnya. Lelaki itu menghampiri Nisa mengetuk kaca mobil dan ketika ia buka lelaki berwajah kasar itu menyeret tubuh Nisa keluar dan berkata.
"Kamu di tangkap atas laporan pencurian mobil dan penculikan anak."
Tidak mungkin jerit Nisa dalam hati tubuhnya tiba-tiba terasa payah ketika sadar kalau lelaki itu adalah polisi.
"Lepaskan aku pak, ini salah paham...." teriaknya ketakutan.
Nisa berhenti berteriak ketika dua orang pemilik rumah ini nampak berjalan kearahnya, dialah Anggraeni Akbar dan putranya. Nisa berteriak pada Nayaka minta bantuan untuk meyakinkan kalau ini salah paham. Matahari masih belum muncul dan ia merasa tidak melanggar janji.
"Ini tidak benar Naya. Aku sudah menepati janjiku. Lihatlah...."
Menatap langit yang masih biru tua kembali menatap Nayaka.
"Matahari masih belum muncul. Aku
mengembalikan Bintang dan mobil ini pada kalian, jadi tak ada alasan kalian untuk memperlakukanku seperti ini...."
"Jelaskan itu nanti di kantor polisi."
Nisa panik dan takut ketika Polisi itu menyeret tubuhnya dan memborgol kedua tangannya kebekakang seperti seorang penjahat.
"Katakan Naya kalau aku tidak bersalah...." teriak Nisa sekali lagi berharap Naya mau menjelaskan kesalah pahaman ini.
"Aku sudah mengingatkanmu kemarin, inilah kesulitan itu, dan kamu bilang akan menerimanya." tutur Naya datar.
Nisa terpukul dengan kalimatnya sendiri ketika Nayaka mengingatkan kejadian kemarin saat Naya mencegahnya untuk membawa pergi si kecil. Nayaka sempat mengingangatkan, kalau sampai ibunya tahu ia akan mendapatkan kesulitan itu, tapi saat itu ia tak peduli justru mengatakan akan menerimanya. Inilah maksud dari kalimat Nayaka barusan, yang membuatnya merasa di pukul dengan kalimatnya sendiri.
"Tapi aku sudah berjanji padamu kalau, kalau aku akan membawa Bintang dan mobil ini padamu sebelum matahari terbit, dan aku menepati janjiku, kamu harus menolongku." Nisa menangis memohon supaya Nayaka menolongnya agar terlepas dari kesulitan ini.
Perbuatan Nisa kali ini membuat Nayaka tak bisa lagi menolongnya, meski sangat ingin ia menolongnya. Ibunya marah besar atas perbuatan Nisa kali ini, andai saja Nisa tidak melakukn ini mungkin kejadian ini tidak perlu terjadi dan ia masih bisa menolak kesepakatan rencana kepindahan ibunya waktu itu, tapi karna perbuatan Nisa membuat Nayaka tak bisa berbuat apa-apa namun justru kepergiannya kali ini yang akan menyelamatkan Nisa nanti di kantor polisi.
Nisa menangis ketika melihat Nayaka begitu dingin tak menghiraukannya, Ia malah pergi dari hadapannya menuju mobil yang di dalamnya si kecil masih tertidur lelap.
Entah kemana Nayaka membawa mobil itu? tapi Nisa melihat mobil itu keluar gerbang dan Nisapun menjerit menangis memanggilnya.
__ADS_1
BINTAANG..... !
Perpisahannya dengan Bintang kecil menjadi puncak penderitaan Nisa, Bintang kecil tidak pernah tahu apa yang terjadi jam Lima subuh itu.
Selama tiga hari ini Nisa melewati harinya di sel tahanan. Nisa terus menangis hingga matanya bengkak. Saat ini Nisa sangat menyesal karna tidak mengikuti keinginan Bintang Kecil, bukankah membawa lari si kecil lebih baik, penjara hanya resiko apabila diketemukan tapi sekarang apa yang ia dapat?
Nisa berdiri di depan terali besi ketika tiba-tiba sore ini sosok perempuan cantik paruh baya sudah berdiri di luar terali besi. Tatapan wanita itu sangat dingin seperti gunung es, pada aura wajahnya nampak kaku seperti mummy dialah Anggraeni Akbar wanita yang otoriter dengan kekuasaannya, ambisius dengan hartanya, dan arogan dengan tindakannya, dan dia jarang tersenyum meskipun pura-pura, hati Anggraeni terlalu beku sama bekunya dengan nada suaranya yang kaku.
"Kamu tahu kenapa saya sangat tidak menyukaimu? Karna kamu seperti ibumu, dan saya membenci orang-orang sepertimu, orang sepertimu seperti batu sandungan yang harus disingkirkan.''
Anggraeni tidak akan melupakan bagaimana gadis ini berusaha membuka masa lalu keluarganya tentang putranya yang sudah meninggal di pengadilan, demi membuktikan kalau Bintang Akbar bukan putra kandungnya.
Berusaha membuktikan Bintang Akbar bukan keturunan Akbar, itu adalah penghinaan besar. Anggraeni tidak akan pernah melupakan bagaimana gadis ini mempermalukannya.
Nisa tidak merasa perduli dengan apa yang diucapkan perempuan paruh baya di hadapannya. Yang ia perdulikan cuma satu bagaimana kabar Bintang Kecil tiga hari ini?
Setelah dengan diam-diam ia sudah mengembalikannya, padahal si kecil tidak menginginkan itu.
"Bagaimana kabar Bintang Kecil? Apa dia baik-baik saja?" lirih Nisa menangis.
"Lupakan Bintangmu, karna kami sudah membawanya pindah ke luar negeri.''
Nisa tidak mengerti kenapa perempuan itu mengatakan pindah, tempo hari Nayaka mengatakan akan membawanya sekedar liburan saja? Kenapa Anggraeni mengeluarkan kata pindah?
''Bukankah untuk sekedar liburan? Kenapa Anda mengatakan kata pindah? Aku tak mengerti?" ucap Nisa terdengar panik dan takut.
''Tak ada liburan. Inilah hari terakhir kamu melihatku di sini. Sementara Nayaka sudah lebih dulu membawa keponakannya pergi tiga hari lalu. Kamu ingat subuh itu? Nayaka membawanya ke Bandara."
Nisa merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga, mengingat kembali bagimana subuh itu Nayaka menyetir mobil membawa si kecil pergi, ternyata saat itu Nayaka membawa pergi si kecil menuju Bandara.
Oh tidaaaak!!! Jangan lakukan ini padaku dan Bintang, Tuhan Toloooglah. Nisa tak boleh dipisahkan dari Bintang, Ini wasiat papa, tak berhak siapapun melanggarnya. Tuhanku tolong Nisa.
Nisa menangis bermonolog pada Tuhan, berharap pertolongan datang. Takdir seperti ini bukan yang Nisa inginkan.
Kini Nisa hanya bisa menyesal, kalau saja ia tahu Anggraeni akan mengubah rencananya mungkin ia akan lebih memilih tinggal di rumah rahasia itu, tanpa diminta si kecilpun Nisa akan melakukannya, karna Nisa tak pernah sanggup hidup tanpa melihat lagi si kecil, begitu pula si kecil ia akan merasa kesulitan mengingat selama ini hidupnya banyak tergantung padanya, karna selama hidupnya Nisa telah memanjakannya secara mati-matian dan si kecil akan kesulitan menjalani hidup tanpa Nisa.
''Aku mohon jangan lakukan itu. Pikirkanlah Bintang kecil dia sangat membutuhkanku. Kembalilah...." Nisa menangis memohon pada Anggraeni. "Walau satu tahun tidak apa-apa. Aku akan menunggu.''
__ADS_1
Hati Anggraeni telah mati sejak lama, Ia tak merasa perduli dengan perasaan orang lain meskipun gadis di hadapannya terus menangis, memohon bahkan sampai mengeluarkan air mata darahpun Anggrarni akan tetap dingin dan mati rasa.
''Berharaplah terus, bukankah manusia itu perlu harapan untuk bisa bertahan hidup." nadanya tawar dan dingin.
Anggraeni mengambil sebuah kertas cek uang bernilai dua milyar, nilai dua kali lipat dari yang pernah di sodorkan beberapa bulan lalu ketika perempuan ini membuat dua pilihan untuknya sebelum perangnya di pengadilan.
"Ambilah kamu membutuhkan ini untuk bisa mengejar kami ke luar negeri. Cek ini bernilai dua milyar. Kamu bisa hidup mewah dengan uang ini setelah keluar dari sini. Ambilah."
Anggraeni melihat tangan gadis itu mengambilnya dan Anggraeni merasa puas karna itu lebih baik, dengan begitu hutangnya pada gadis itu sudah bisa dianggap lunas, dari mulai kebakaran rumah dan toko rotinya, juga sebagai imbalan karna telah mengurus cucunya.
Dua milyar lebih dari cukup untuk membayar hutang-hutangnya pada gadis ini. Intinya keangkuhan Anggraeni yang memaksanya utuk memberinya upah, bukan untuk berterima kasih tapi karna Anggraeni tidak suka balas budi.
"Begitulah seharusnya. Dengan uang itu kamu bisa membeli tiket untuk bisa mengejar Bintangmu.''
Anggraeni lega seolah ia memberinya kesempatan dengan keharusan menyuruhnya mengambil uang itu, tapi sebenarnya itu tidak akan terjadi karna sejak memutuskan pindah Anggraeni merahasiakan ke negara mana ia dan keluarganya akan pindah? Gadis ini tak akan pernah tahu.
Kembali Anggraeni melanjutkan kalimatnya dengan nada dingin.
"Anggap saja itu gaji mu karna telah merawat cucuku selama sepuluh tahun, sisanya untuk rumah dan toko rotimu yang terbakar. Uang itu kurasa lebih dari cukup untuk membayar hutang-hutangku padamu.''
Nisa terpaku kaget hingga ia tak sanggup berkata. Jadi inilah maksud perempuan ini memberikannya uang dua miliyar, ternyata sebagai balas budi karna telah mengurus si kecil juga untuk rumah dan toko rotinya yang terbakar. Itu bisa di katakan sebuah pengakuan kalau kecurigaanya benar, bahwa ia yang sudah membakar rumah dan toko rotinya.
"Jadi tuduhanku benar, kalau Anda di balik kebakaran rumah dan toko rotiku. Kenapa begitu? Kenapa Anda begitu kejam...?" ucap Nisa menangis.
"Kamu masih harus banyak belajar. Dunia ini memang tidak adil. Seseorang harus kejam untuk bisa memenangkan dunia."
Nisa merasakan sakit di dalam dadanya. Rasanya ia ingin mencekik perempuan ini. Anggraeni Akbar yang sudah menghancurkan kebahagian bersama keluarganya, rasanya ingin sekali Nisa membalas kekejaman Anggraeni saat ini juga, tapi apa daya, seekor kucing melawan harimau apa bisa menang, rakyat jelata melawan orang berpengaruh di negeri ini apa itu mungkin? Nisa merasa untuk saat ini Tuhan mengabaikan penderitaannya, takdir sangat kejam, Nisa berjanji suatu saat ia akan membalas perlakuan Anggraeni akan penderitaannya saat ini, dan jika takdir Tuhan seperti ini, Nisa akan menentang Tuhan.
Nisa mendengus tersenyum di antara tangisnya.
''Lihatlah apa yang akan kulakukan dengan cek ini....'' Nisa menyobek-nyobek cek bernilai dua milyar itu menjadi potongan kecil dan melemparnya ke wajah Anggraeni.
"Anda tidak akan pernah sanggup membayar hutang-hutangmu padaku. Dan aku berjanji suatu saat aku akan membuat Anda kembali, untuk membayarnya? Ingat itu."
Janji Nisa pada Anggraeni saat itu cukup membuat urat syaraf Anggraeni menegang tapi anehnya hari itu juga tiba-tiba Nisa dibebaskan, karena pihak Angraeni mencabut tuntutannya, tapi saat itu Anggreni sudah lepas landas dan Nisa menangis di depan gerbang rumah besar milik Anggraeni di bawah kolong langit yang suram seolah turut berduka dengan penderitaan Nisa kala itu.

__ADS_1