Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Pembatalan Kesepakatan


__ADS_3

Hari ini Armanda diperkenalkan sebagai Bintang Kecil kepada seluruh kariawan perusahaan. Berita sudah tersebar bahkan diliput di stasiun televisi  tentang pertemuan Queen dengan adiknya.


Ada berita penting lain yang di umumkan Queen hari ini yaitu pengunduran dirinya di perusahaan dan Armanda sendiri tidak tahu akan hal ini. Namun semua terjawab ketika tiba-tiba Anggraeni muncul ditengah pidato kakaknya.


Anggraeni menyodorkan map kuning tempo hari yang diberikan Nisa. Dengan tegas hari ini Anggraeni menolak tawaran Nisa pada malam itu.


"Kamu tidak perlu mengundurkan diri. Saya berubah pikiran untuk menerima tawaranmu. Ambilah. Saya lebih memilih cucuku dari pada Perusahaan ini."


Nisa terkejut dengan pembatalan kesepakatan yang sudah disepakati Anggraeni malam itu. Nisa menolak keputusan Anggraeni bagaimanapun Anggraeni harus menerima tawaran itu. Status Armanda sebagai adiknya harus kembali dan itu sudah disepakati.


"Kau sudah menyepakatinya. Dan..."


Nisa memprotesnya marah tapi ia langsung mengendalikannya karena saat ini adiknya sedang berdiri diantaranya.


Bagaimanapun selama sepuluh tahun ini Anggraeni Akbar adalah seorang nenek bagi adiknya meskipun Nisa membantah hal itu.


Nisa menatap adiknya yang berdiri di dekatnya.


"Bintang tunggu di sini sepertinya ada hal penting yang harus kakak bicarakan dengan omah mu." ujarnya lembut menatap adiknya, kembali menatap Anggraeni. "Kita bicarakan hal ini di ruanganku."


Nisa berjalan menuju ruangangannya diikuti Anggraeni mengekori.


"Kau harus pikirkan." ujar Nisa setelah duduk di kursinya berhadapan bersama Anggraeni. "Ini adalah penawaran yang bagus." ujar Nisa meyakinkan. "Perusahaan ini adalah nyawamu. Kau harus pikirkan karena kapanpun aku sanggup melenyapkan perusahaan ini. Kau tidak maukan satu tahun ke depan Akbar Group hanya tinggal sebuah nama."


"Silahkan saja ini perusahaanmu dan bukan perusahaan saya lagi karena saya sudah menemui notaris, dan memutuskan empat puluh persen perusahaan saat ini sudah menjadi milik Armanda. Artinya sekarang kamu sudah tahu kalau Armanda adalah pemilik sebagian perusahaan ini, dia bukan lagi pewaris tapi pemilik sah empat puluh persen Akbar Group. Sekarang terserah padamu apa yang akan kamu lakukan dengan perusahaan ini. Kehidupan Armanda ke depan tergantung padamu."

__ADS_1


Quinisa merasa mendapat peluru kendali, tiga hari yang lalu ia masih bisa mengancam Anggraeni dengan melenyapkan perusahaan ini tapi saat ini ancaman itu sepertinya memang sudah tidak berlaku. Bagaimana mungkin Nisa bisa menghancurkanya kalau adiknya adalah pemilik empat puluh persen perusahaan ini.


"Kamu harus menerimanya satu tahun saja." Nisa mulai panik.


"Apa maksudmu dengan satu tahun? ''


"Iya satu tahun? Aku hanya perlu satu tahun. Seperti yang tertulis dalam surat wasiat papah. Aku berhak mengurusnya sampai umurnya dua puluh satu tahun. dan aku masih punya waktu mengembalikan statusnya dalam setahun ini. Aku mohon beri aku kesempatan untuk memenuhi wasiat papa."


"Lalu setelah itu, apa yang akan kamu lakukan setelah itu?"


"Aku akan mengembalikan statusnya sebagai Armanda padamu."


"Setelah satu tahun itu artinya kamu akan meninggalkannya?"


"Tidak." Jawab Nisa pelan. "Aku tidak bisa meninggalkannya seperti halnya perusahaan ini adalah nyawamu, Bintang Kecil adalah napasku, Aku tidak bisa meninggalkannya. Tapi saat itu aku sudah tak memiliki kewenangan apapun lagi atas dia."


"Kalau begitu lakukanlah demi Putramu yang sudah meninggal. Papa menginginkan aku mengurus Bintang sampai usianya dua puluh satu tahun. Lakukanlah demi dia, setidaknya itu bisa menebus dosa-dosamu pada putramu yang sudah meninggal."


Anggraeni meremaskan kepalan tangannya menahan marah. Hatinya pedih bagai tersayat sembilu nama putranya dijadikan tameng untuk menerima tawarannya, boleh jadi setiap orang menuduhnya sebagai orang yang menimpah kemalangan putranya tapi apakah mereka tahu siapa orang yang paling menderita karena harus kehilangan putranya?.


"Saya tidak akan menerima tawaranmu. Apalagi demi  mewujudkan wasiat dari orang yang sudah lama mati dan mustahil saya lakukan kalau itu hanya akan menyenangkanmu. Paham?"


Kau akan menyesal Anggraeni." teriak Nisa. "Aku masih punya cara lain untuk bisa mendapatkan status Bintang kecil kembali padaku. Kau tahu? Aku sudah menemukan riwayat asli kesehatan suamimu, dari situ aku akan membuktikan kebenarannya dan yang terjadi sepuluh tahun lalu itu karna kau curang."


Anggraeni terpaku ancaman Queen mengingatkan kembali tentang status anak keduanya yang bernama Bintang Akbar. Sebuah rahasia besar yang hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu tentang siapa sebenarnya Bintang Akbar.

__ADS_1


Anggraeni sendiri memastikan rahasia itu tidak akan pernah terbongkar meskipun seorang Queen akan berusaha membongkarnya tapi sampai kapanpun itu tidak akan pernah berhasil.


"Lakukanlah bukankah kamu ini sangat hebat."


Anggraeni menantang, memperlihatkan kalau ia tidak takut dengan ancamannya.


Nisa menjatuhkan pantatnya ke sopa yang ada di ruangan ini setelah kepergian Anggraeni. Seolah energi dalam tubuhnya buyar, Nisa kecewa dengan penolakan Anggraeni hingga ingin menangis menjerit sekeras-kerasnya karena ia merasa sudah mengalami jalan buntu.


Sepuluh tahun lalu Nisa pernah berusaha membuktikan kalau ayah angkatnya bukan putra kandung Anggraeni tapi itu tidak berhasil, tidak ditemukan kecurangan tapi saat itu Nisa yakin Anggraeni telah curang entah membayar hakim atau mengubah hasil lab yang jelas Nisa akan terus berpegang teguh pada surat wasiat yang dibuat ayah angkatnya, kalau ayah angkatnya bukan anak kandung Anggraeni otomatis Bintang Kecil tidak memilki darah keturunan Anggraeni.


Nisa mengangkat wajahnya ketika seseorang sudah berdiri di hadapannya. Wajahnya nampak murung seolah ia sudah tahu apa yang baru saja terjadi? Pemuda tampan itu menempelkan lututnya di depannya hingga saling berhadapan muka.


"Aku sudah mendengarnya. Apa Kakak perlu bantuanku?"


Nisa tersenyum getir, ia tak bisa menahan perasaannya. Ketakutan kehilangan pria ini lagi yang membuatnya tak bisa menahan kesedihannya.


"Kakak harus bagaimana? Apa yang harus Kakak lakukan sekarang?"


Armanda melihat kakaknya menangis putus asa, keputusan omahnya untuk tidak menerima tawarannya berhasil membuat perasaan kakaknya sangat prustasi.


"Kakak jangan khuatir, meski omah menolak tawaranmu, jangankan satu tahun aku akan bersamamu selamanya."


Nisa membalas perkataan adiknya dengan senyuman yang mirip tangisan kemudian memeluknya erat.


"Asalkan Bintang dipihak Kakak, itu sudah cukup."

__ADS_1


"Aku akan selalu dipihakmu. Kakak jangan sedih, selamanya aku hanya ingin bersamamu." ucap Armanda membalas pelukan Nisa lebih erat.


__ADS_2