
Dinding ruang tunggu rumah sakit berwarna kuning gading, lantainya berwarna putih. Nisa duduk lusuh dengan tatapan hampa tak bertepi, sementara Nayaka duduk disebrangnya nampak gelisah.
Anggraeni diikuti Asisten pribadinya baru datang. Wajahnya yang dingin seperti gunung es kutub utara terpokus pada Nisa.
Seorang dokter berpakaian hijau keluar dari ruang operasi.
"Pasien kritis. Denyut jantungnya lemah. Kemungkinan siuman sangat kecil. Kita semua berdoa saja."
"Apa maksudmu dokter?" Nayaka panik. "Kau harus menyembuhkannya, keponakanku harus hidup. Dia tidak boleh mati." ujar Nayaka panik.
Nisa merasa tubuhnya akan segera ambruk mendengar perkataan dokternya. Anggraeni marah karena menurutnya apa yang terjadi pada cucunya saat ini adalah kesalahan Nisa. Seharusnya yang saat ini berada diruangan ICU adalah Nisa namun untuk melindungi wanita ini cucunya rela menggantikan peluru itu tembus pada dirinya, itu keterangan yang ia dapat dari polisi tadi malam.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada cucuku? Kalau sampai dia meninggal, Aku tidak akan membiarkanmu hidup."
Kecintaan cucunya pada wanita ini sudah membuatnya gila, itu yang membuat Anggaraeni sangat marah, padahal selalu ditekankan Nisa bukanlah kakaknya tapi dia tetap memperlakukan Nisa seperti sesuatu yang harus dipuja.
Kalimat Anggraeni menambah siksaannya hingga terasa menjalar kesetiap aliran darahnya. Tidak bisa dibantah apa yang terjadi pada adiknya saat ini memang salahnya seharusnya ia berusaha mencegah pria itu untuk melindunginya dengan begitu yang seharusnya ada diruang ICU adalah dirinya dan bukan adiknya.
Nisa bangkit dari tempat duduknya dengan keadaan kacau balau. Ia mulai berjalan dengan lusuh. Matanya sembab, tatapannya kosong tak bertepi. Kemarahan ketakutan dan kepanikan berdiri dalam satu inti.
Nayaka melihat penderitaan Nisa ia merasa sangat kasihan.
"Kau mau kemana?" Menarik lengan Nisa. "Adikmu masih hidup. Dia belum mati."
Nisa menatap Nayaka kosong kemudian menarik diri dari genggamannya. Kembali berjalan seperti orang yang kehilangan akal. Nayaka mengejar meyakinkan sekali lagi saat ini keputus asaan sedang meliputi Nisa.
"Armanda masih hidup. Dia tidak akan mati. Tunggulah di sini." ujar Nayaka meyakinkan meski iapun sebenarnya merasa putus asa
Nisa kembali melangkah lunglai tidak ingin mendengar apapun. Terpaksa Nayaka
mengikutinya berjalan dari belakang karena sangat mengkhawatirkanya keadaannya. Keadaan Nisa saat ini mungkin lebih menderita dibanding Armanda sendiri yang sedang berjuang di ruang oprasi.
Nisa menghentikan langkahnya yang lusuh ketika ia sadar dari depan lorong kalidor, ia melihat Mutiara menangis histeris mengejar kereta pendorong pasien. Nampak terbujur sosok jenazah yang ditutup kain berwarna putih digiring empat orang suster. Kini ekpresi wajah Nisa yang nyalang terkunci pada seseorang yang terbaring di dalamnya. Yang jadi pertanyaan siapakah orang itu?
Nisa menghentikan para suster mendorong tempat tidur jenajah di depannya dengan perasaan tak bisa dibayangkan. Pelan tapi pasti Nisa membuka kain penutup wajah itu dan.., dugaannya benar.
Nisa terpaku tak berdaya hingga ia merasa tubuhnya akan segera runtuh ketika ia melihat dengan kedua matanya seseorang yang sangat dikenalnya, dan seseorang inilah yang saat ini sedang ditangisi Mutiara.
Ridwan Agung sudah terbujur kaku tak bernyawa wajahnya putih pucat seperti kapas saat ia sentuh wajahnya, kulitnya sudah dingin seperti es. Nisa ingin menangis tapi air matanya sudah tidak keluar lagi, Nisa ingin menjerit tapi suaranya sudah habis. Syarafnya semakin kacau. Kematian orang terdekatnya menambah ketakutannya.
Nisa merasa kalau saat ini ia sedang berada pada sebuah dimensi ketakutan yang tidak terbatas. Nisa takut kalau malaikat maut yang mencabut nyawa orang terdekatnya akan segera menghampiri pria yang paling di kasihinya.
__ADS_1
Nisa menjatuhkan tubuhnya ke lantai, energi dalam tubuhnya hampir seluruhnya terasa hilang. Nisa merasa kejadian yang menimpanya saat ini akan membuatnya gila. Pikirannya kacau balau dalam keadaan normal mungkin ia masih bisa menenangkan Mutiara dan ia akan menangisi kepergian Ridwan Agung dan mengucapkannya selamat jalan, tapi yang mendominasi pikirannya saat ini adalah ketakutan yang sulit dilukiskan.
Nisa berdiri bangkit dari lantai keramik putih rumah sakit ini ketika ia ingat kata dokter. Berdoalah.
Nisa mengumpulkan energi dalam tubuhnya. Ia berlari dan terus berlari sepanjang rumah sakit ini ketika dalam ketakutan terbesarnya justru mengingatkan kembali dirinya pada Tuhan.
Nisa merasa kalau saat ini Tuhan sedang menghukumnya. Nisa berhasil berdiri di tempat paling tinggi di gedung rumah sakit ini di mana di atas gedung ini tidak terdengar suara apapun lagi selain hembusan udara pagi serta mentari yang mulai naik di upuk timur.
"Tuhan.. " Suara Nisa parau dan menitikan kembali air matanya yang tadi terasa kering. Inilah pertama kalinya lagi setelah sekian lama ia melupakannya.
Nisa melupakan Tuhan selama bertahun-tahun karena menurutnya, Tuhan tidak ada untuknya padahal dulu Nisa cukup dekat dengan Tuhan dan selalu mengajarkan untuk selalu dekat dengan Tuhan pada adiknya.
Penderitaan terlalu lama membuat ia melupakan keberadaan Tuhan dan saat ini penderitaan pulalah yang mengingatkannya kembali pada Tuhan.
"Aku mohon padamu jangan Kau ambil Bintangku. Tuhan..." lirih Nisa menangis serak. "Sudah cukup Kau tidak pernah memperkenalkan aku dengan kedua orang tua kandungku. Sudah cukup Kau mengambil mama dan papa yang mencintaiku. Sudah cukup Kau memisahkan aku selama sepuluh tahun dengan adikku hingga aku tersiksa selama bertahun-tahun. dan sudah cukup Kau mengambil seseorang yang selalu menolongku hari ini. Tapi.., Aku mohon Tuhan jangan ambil Bintang dariku hari ini.." tangisnya mulai pecah kembali meneruskan dengan suara yang lebih berat dan pelan. "Kau tahu Tuhan.., banyak hal yang belum ku berikan padanya.., Aku masih berhutang waktu sepuluh tahun padanya. Tuhan ku mohon ijinkan aku untuk mengganti waktu yang hilang itu. Ijinkan adikku hidup lebih lama lagi. Ini bukan saatnya dia untuk pulang bersamaMu. Kau jangan mengambilnya dariku.."
Nayaka yang sejak tadi berdiri di belakangnya diam-diam ia menangis menyaksikan ketidak berdayaan Nisa saat ini tak ada lagi kehebatan keangkuhan dan kebencian pada dirinya saat ini yang ada hanya sebuah kerapuhan.
Nayaka mengangkat ponselnya ia memperoleh kabar gembira dari dokter rumah sakit.
"Ini mujijat yang luar biasa, Keponakan Anda sudah lepas dari masa kritisnya. Keinginan untuk hidup sangat tinggi. Dan ia berhasil melewatinya. Kami akan segera memindahkannya ke ruang biasa."
"Doamu terkabul. Nisa... ’’ ungkap Nayaka menolehkan wajah Nisa kearahnya. "Bintangmu selamat. Dan dia segera dipindahkan ke ruangan biasa."
Nisa tersenyum dalam tangisnya. Nisa menatap langit. Di atas sana Tuhan ada dan ia mendengar doanya. Tiba-tiba saja energi positif yang tadi berhamburan kembali masuk ke tubuhnya.
Nisa melesat untuk menemui belahan jiwanya. Nisa mengatur nafas dalam keharuannya, ketika ia sampai Armada sedang di dorong menuju ruangan biasa oleh para suster dan seorang dokter. Setengah jam kemudian setelah menunggu dengan cemas dan tidak sabar. Seorang dokter keluar.
Nisa , Anggraeni dan Naya melesat mendekati dokter itu.
"Bagaimana cucuku dokter?"
Dokter menatap Anggraeni memutar menatap Nisa dan Nayaka.
"Mana kakaknya pasien.."
"Saya dokter." balas Nisa
"Sejak di ruangan operasi dia terus memanggil-manggil Anda. Sekarang pasien sudah siuman. Temuilah dia."
Anggraeni merasa cemburu mendengar kalimat dokternya sementara Nisa tersenyum haru dan Nayaka ikut merasa senang.
__ADS_1
"Masuklah. Sebentar lagi kami menyusul." ujar Nayaka pada Nisa.
di ruangan itu. Ia dekati tubuh itu yang nampak pucat pias. Nisa berusaha menahan tangisnya agar suaranya tidak keluar dengan menutup mulut dan hidungnya ketika menyaksikan banyak perban yang menempel pada kekasih hatinya. Pelan-pelan Nisa sentuh wajah tampan itu dengan jari jemarinya dan sentuhannya berhasil membukakan kedua mata kekasihnya dan nampak bibirnya yang kering mulai memanggilnya parau.
"Kakak.."
Nisa menangis dan membiarkan tangisannya bebas keluar tanpa menahannya, ia sentuh halus wajahnya dengan kedua tangannya sambil berkata lirih.
"Ini Kakak, Sayang.., Kakak ada bersamamu.."
Armanda tersenyum kering menatap wajah Nisa tapi kemudian senyuman itu berubah menjadi tawaan kecil dan berat ketika ia menilai wajah kekasihnya. Kedua matanya lebam dan nanar seperti banyak menangis, rambutnya kusut pakaiannya berantakan, sepertinya kejadian yang menimpanya saat ini telah membuat pikirannya kacau.
"Kakak.., jelek, sekali.."
Armanda pura-pura mencemoah dengan suara lemah dan terbata-bata menahan rasa sakit bekas operasi di punggungnya. Ia menyaksikan perempuan itu tiba-tiba menangis pecah sepertinya kejadian yang menimpanya saat ini membuatnya sangat ketakutan.
"Jangan menangis.., Aku, tidak.., apa-apa.., ini cuma, sakit sedikit. Kakak jangan khawatir..." ucapnya berusaha menenangkan dengan suara amat lemah.
"Kakak mohon jangan seperti ini..." balas Nisa di antara tangisannya sementara kedua tangannya memeluk satu tangan Armanda. "Tidak perlu melindungiku seperti itu, karena hal itu malah justru menyiksaku.., Kakak sangat takut bagaimana kalau kau mati..." Tangisnya semakin kencang. "Kakak benar-benar sangat ketakutan.."
Armanda ingin bergerak bangkit untuk memeluk dan menenangkannya tapi tubuhnya yang digulung perban tidak mungkin bisa digerakan, tapi ia masih bisa menggunakan tangan kirinya yang saat ini sedang dipeluk kakaknya yang berdiri membungkuk di dekatnya. Armanda menggerakan tangannya menyusup kebalik leher perempuan itu dan menggiring wajah Nisa menempel kedalam dadanya.
"Sudah. Jangan menangis.., selama Kakak.. bersamaku.. dan doa mu selalu menyertaiku, Aku.. akan hidup abadi untukmu.." lirihnya lemah sementara kedua matanya ia melihat Anggraeni akbar dan Nayaka tiba-tiba sudah berdiri di ruangan ini menatapnya.
Nayaka menatap keponakannya berdiri di sebrang Nisa.
"Syukurlah. Kamu sudah siuman..."
Nisa mengangkat kepalanya dari dada adiknya melihat ke arah suara itu. Nayaka dan Anggraeni sudah berdiri di sebrangnya. Anggraeni menatap Nisa dengan dingin dan Nisa membalasnya dengan tatapan murung karena masih merasa bersalah.
"Syukurlah kamu sudah bangun, karena kalau tidak Omah akan membalas orang yang sudah membuatmu seperti ini.." ujar Anggraeni menatap cucunya dan beralih menatap Nisa karena menurutnya cuma Nisa yang pantas disalahkan atas kejadian ini.
Armanda tidak tahu kalau Anggraeni menyalahkan Nisa atas kejadian yang menimpahnya.
"Bagaimana, Melisa?" Tanya Armanda dengan suara lemah.
"Melisa sudah meninggal. Anak buahnya semua sudah di tangkap." Nayaka mewakilinya menjawab.
"Melisa, pantas mendapatkannya. Semoga Tuhan, mengampuninya." balas Armanda dengan suara masih lemah. Armanda meraih tangannya Nisa. "Kakak.. Aku janji pada diriku, mulai hari ini, aku akan selalu menjagamu, dari semua orang yang berniat menyakitimu..."
Nisa membalasnya dengan menangis karena dalam keadaan sakitpun adiknya hanya memikirkannya. Nisa terharu tapi Nisa tidak ingin karena adiknya melindunginya, ia akan terluka lagi seperti ini, itu sangat menyiksanya. Sementara Nayaka tersenyum haru karena ia tahu Nisa pantas mendapat kasih sayang keponakannya dibanding yang lainnya. Dan Anggraeni merasa cemburu karena di hati cucunya dari kecil sampai sebesar ini, Nisa menjadi orang yang paling penting jauh lebih penting dari nyawanya sendiri dan itu yang membuatnya tak pernah bisa menang dari Nisa.
__ADS_1