
Langit suram mengeluarkan air hujannya. Mobil yang ditumpanginyapun mogok terjebak kubangan lumpur di tengah perjalanan. Armanda berlari untuk sampai ke tempat Nisa namun ia berusaha menyelamatkan map kuning yang ia bawa ke dalam bajunya agar tidak terguyur air hujan.
Armanda tersenyum getir ketika sosok perempuan cantik yang ia cari membukakan pintunya. Tanpa sepatah katapun ia langsung memeluk perempuan cantik itu sambil berjanji dalam hati kalau ia akan melindungi perempuan ini jangankan Anggraeni nyamukpun akan berurusan dengannya apabila berani menghinggapinya.
Nisa tahu pria ini akan datang mencarinya. Ada perasaan sedih di hati Nisa saat melihat ekpresi wajah pemuda di depannya. Wajahnya nampak lusuh dan rapuh, tubuhnya basah menggigil kedinginan, tatapannya getir namun ia nampak tetap memberinya senyum. Senyuman macam apakah itu ketika Nisa melihatnya Nisa merasa ingin menangis?.
Nisa segera membuatkan secangkir susu hangat untuk menghangatkan tubuh kekasihnya sementara Armanda di kamar mandi mengganti pakaiannya yang basah dan keluar dengan memakai piyama tidur berwarna biru tua miliknya yang ada di sini. Nisa menyodorkan susu hangat itu setelah kekasihnya duduk di sampingnya.
"Minumlah. Ini akan membuat tubuhmu hangat."
Tangan Armanda mengambil alih cangkirnya. Kedua tangan Nisa mulai mengeringkan rambut Armanda dengan handuk kecil. Dan ketika Nisa hendak beranjak lagi untuk menyimpan handuk tangan pemuda itu meraih tangannya menahannya pergi.
"Ada hal yang ingin ku sampaikan padamu.." ujarnya lembut.
"Ada apa?"
Nisa merasa kuatir mengenai apa yang akan disampaikan kekasihnya saat ini. Wajahnya begitu murung dan sedih sepertinya ada hal penting yang harus Nisa dengar.
Armanda menyimpan cangkirnya setelah meminumnya lalu mengambil map kuning dan menyodorkannya pada tangan Nisa.
"Aku mohon kembalilah jadi Queen Agung..."
"Itu adalah milikmu. Kakak sama sekali tidak membutuhkannya. Kakak merasa sudah cukup memilikimu. Kamu hartaku yang lain Kakak tidak memerlukannya. Kakak hanya mau jadi Nisa yang selalu menjagamu."
"Tapi Kak. Demi aku. Aku mohon kembalilah ke Akbar Group..."
"Tapi kenapa?" tanya Nisa bingung dan Nisa melihatnya nampak sangat murung.
__ADS_1
"Sebenarnya.., Aku mencemaskanmu.." ungkapnya sedih. "Aku sudah tahu hari ini omah sudah berani mengusirmu dari rumah. Aku tidak mau dia meremehkanmu lagi. Saat Kakak jadi Queen Agung, Aku merasa dia takut padamu jadi aku mohon.., kembalilah jadi Queen Agung."
Nisa membisu lesu mendengar alasan pria itu mengembalikan berkas-berkas miliknya yang sudah dialihkan atas nama adiknya itu. Nampak kekhawatiran yang besar pada dirinya membuat Nisa merasa bersalah karena pria ini telah menjadi obyek permusuhannya dengan Anggraeni, bahkan mungkin pria ini orang yang paling menderita karena terbebani oleh sengketa keluarga.
Nisa tersenyum getir sambil menyimpan map kuning itu di meja dan beralih meraih kedua tangan adiknya.
"Bintang jangan khawatir, selama Bintangku ada bersamaku, Kakak akan selalu baik-baik saja dan mengenai omahmu, Kakak masih bisa menanganinya."
Armanda tersenyum tapi bukan berarti dia tenang, ia tersenyum karena meski ia berdiri di dua pihak yang bersengketa, dari dulu dan sampai ia matipun ia akan selalu berdiri di pihak Nisa tapi baginya itu masih belum cukup, ia ingin memberikan semuannya. Kenyamanan dan perlindungan dan ikut mengatasi masalahnya bersama-sama.
"Kita menikah saja yah..."
Nisa terpaku untuk yang kedua kalinya. Ia mendengar ajakan itu, namun dari cara ia berkata Nisa mendengar sebuah bentuk kecemasan. Mungkin baginya menikah adalah jalan keluar yang baik untuk melindungi dirinya, tak bisa disangkal sebenarnya seluruh kekuatan yang dulu ia genggam semakin hari kian pudar, bahkan Nisa sekarang merasa tidak punya kekuatan apa-apa lagi untuk bisa mengatasi masalahnya.
Nisa akui cinta sudah menjadikan dirinya lemah. Dalam hati ia ingin menerima ajakan itu namun ia kembali mengingat kalimat Nayaka hubungan yang terjadi saat ini hanya akan memperdalam dan memperluas jurang yang sudah ada. Nisa mengkhawatirkan justru yang akan terperosok ke dalam jurang itu adalah orang yang paling tidak ingin ia lihat terluka sedikitpun.
"Itu tidak mudah, Sayang.." jawab Nisa sambil bangkit dari duduknya.
"Ini terlalu rumit.." balas Nisa berbalik hingga saling berhadapan.
"Rumit apanya? Menurutku sederhana saja," meraih kedua tangan Nisa. "Kakak dan aku saling mencintai. Seperti halnya orang lain kita perlu sebuah ikatan. Sederhana. Bukan?"
"Apa Bintang tidak berpikir kalau kita menikah akan banyak kesulitan. Kakak tidak mau Bintang susah. Kakak sangat mencemaskanmu. Jadi mengertilah?"
"Dengarkan aku.." Menatap pandangan Nisa memperlihatkan sebuah keyakinan. "Aku sudah tahu resiko apa yang akan terjadi ke depan, untuk mengatasi semua itu, Aku hanya membutuhkanmu. Dengan begitu semua akan menjadi mudah untukku. Menikahlah denganku?"
Armanda berhasil memberikan keyakinan dalam sekejap ia melihat perempuan di depannya menganngguk tersenyum sebagai tanda setuju dan Armanda segera menggiring tubuh perempuan itu dan memeluknya erat.
__ADS_1
JEBLAAAAK.
Pintu rumah ini tiba-tiba menjeblak terbuka. Armanda dan Nisa saling melepas pelukannya. Beberapa bodiguar sudah berdiri di hadapan mereka. Belum sempat bertanya beberapa orang bodigar bertubuh tegap dan besar itu langsung menyerangnya dan membekapnya dengan sapu tangan yang sudah di beri cairan obat bius dalam sekejap Armanda tak sadarkan diri.
Nisa menangis menjerit-jerit ketika kekasihnya yang tak sadarkan diri di bawa pergi oleh beberapa bodigar itu dan mereka mengatakan kalau ini adalah perintah Anggraeni.
Armanda terkejut ketika ia sadar ia sudah berada dalam kamar rumah besar milik Anggraeni. Armanda mengedir-gedor pintunya namun tidak ada satu orangpun mendengarnya. Jendelanya sudah di tutup dengan pagar besi sehingga mustahil dirinya untuk bisa kabur. Kini Armanda merasa sedang berada dalam sebuah ruang penahanan untuk di eksekusi. Armanda berteriak-teriak sambil menggedor-gedor pintunya lebih keras lagi berharap seseorang menolong dan membukakan pintunya. Namun tetap tak ada seorangpun yang mau membukakan pintu untuknya. Armanda tersenyum senang ketika mendengar seseorang dari luar terdengar membuka kunci kamarnya.
Pintu terbuka nampak sosok paling menyeramkan sudah berdiri di hadapannya dengan pengawalan beberapa orang bodiguar.
"Kenapa Omah melakukan ini?" Teriak Armanda gusar menatap wajah omahnya yang seperti gunung es. Bibir tuanya mematup kaku dan hawa panas yang keluar dari napasnya seolah tepat bagi Armanda menyebutnya sebagai Mumy paling mengerikan yang pernah ada.
"Omah tidak suka kamu mengikuti perempuan itu! Selalu itu Omah tegaskan. Jauhi perempuan itu. Dia bukan siapa-siapamu. Dia hanyalah orang yang pernah berjasa mengurusmu di waktu kecil, tapi itu tidak akan mengubah apapun. Nisa adalah orang lain. Bukan keluargamu. Satu-satunya keluargamu adalah yang mencakup darah Akbar. Kamu mengerti?"
"Kalau begitu aku tidak termasuk didalamnya! Karena aku sendiri merasa yakin kalau ayahku bukan anakmu..!"
Plaaak...
Tamparan secepat kilat mendarat di pipi Armanda sebagai kendali mulut cucunya. Anggraeni marah sekali ia tak mengira kalau cucunya akan berani bicara seperti itu. Tak ada yang berani berkata seperti itu selain Nisa. Keyakinan yang tidak sanggup di benarkan, rahasia yang ia jaga, rahasia yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya, bahkan seorang Queen pun tidak akan pernah sanggup membukakannya karena rahasia itu akan dibawa Anggraeni sampai mati, sebagaimana suaminya membawa rahasia itu sampai ke alam kubur.
"Persiapkan dirimu. Minggu ini kita semua akan kembali ke London."
Satu tamparan saja memang tidak cukup bagi Anggraeni untuk membalas sakit hatinya atas kalimat cucunya namun kalimat yang keluar dari mulut Anggraeni barusan lebih dari sebuah tamparan namun pukulan berat bagi Armanda.
Armanda akan menolaknya karena ia tidak mau dipisahkan untuk yang kedua kali dengan kakaknya, membayangkannya saja tubuh Armanda terasa bergetar, ia tak akan pernah sanggup hidup tanpa Nisa di sampingnya.
"Aku tidak mau...! Biarkan aku pergi..." Teriak Armanda ketika Anggraeni mengunci pintunya kembali dari luar.
__ADS_1
Armanda menyusutkan tubuhnya lesu. Pikirannya kacau dan merasa putus asa namun air mata dan senyuman Nisa selalu memberinya kekuatan untuk bertahan.