Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Armanda dan Nisa dalam satu.


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan Armanda dan Nisa mengisi rumah rahasianya yang ada di sebuah perbukitan eksotik di kota bogor. Banyak hal yang sudah mereka rencanakan untuk masa depan mereka di rumah ini, Nisa dan Armanda memutuskan untuk mengubah tempat ini jadi sebuah tempat pemukiman yang indah dan asri karena di sini mereka merencanakan untuk membangun rumah masa depan anak cucu mereka kelak


''Setelah menikah nanti aku pingin mengubah tempat ini seperti surga untuk kita." ujar Armanda ketika berjalan bersama Nisa mengelilingi tempat ini.


"Yakin tidak akan rindu dunia luar?"


"Yakin, seyakin-yakinnya." Senyumnya meyakinkan di antara langkahnya yang tetap menggiring langkah Nisa dalam rangkulannya.


"Baru dua bulan kalau dua tahun Bintang pasti rindu Jakarta."


"Kalau Kakak di sini bagaimana bisa aku rindu Jakarta. Aku suka tempat ini dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku di sini, bersama Kakak dan anak kita."


"Omong-omong soal anak, Bintang pingin anak berapa?" Tanya Nisa di antara langkahnya.


"Satu saja. Seorang anak perempuan yang cantiknya seperti Kakak."


"Kakak mau anak laki-laki. Tampan sepertimu."


"Kalau laki-laki dia akan berusaha menyaingiku. Aku mau perempuan saja. Aku tidak mau hati Kakak berbagi dengan laki-laki lain. nanti aku cemburu."


"Apa..," Nisa tertawa dari hidung sambil menatap pria di sebelahnya. "Anak sendiri masa dicemburuin."


"Katanya seorang ibu akan lebih mengutamakan anaknya dari pada yang lainnya. Setelah punya anak posisiku akan tergeser. Kalau sama perempuan tidak apa-apa. Kalau sama laki-laki aku pasti cemburu."


"Haha, ada-ada saja. Bagi Kakak Bintang tetap yang pertama."


"Masaa..." Meloncat ke depan Nisa menghentikan langkahnya.


"Hmmm. Suami adalah suami dan anak adalah anak sedangkan Bintang saat kecil Kakak pernah merawatmu seperti anak sendiri, memposisikan Kakak sebagai ibu, seorang kakak, dan setelah besar menjadi seorang kekasih jika nanti Kakak melahirkan anakmu justru Kakak akan semakin mencintaimu, karena Bintang akan menjadi seorang ayah dari anak-anaku."


"Hehe kalau begitu satu masih kurang. Aku mau banyak..."


"Berapa?"


"Sebelas anak laki-laki. dan satu anak perempuan. Biar ramai."


"Hah. Banyak banget..."


"Kita buat kesebelasan sepak bola. sedangkan seorang anak perempuan untuk membingbing mereka, anak perempuankan pasti akan sangat lembut seperti Kakak. cocok untuk dijadikan penasehat..."


Nisa tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya merasa lucu mendengar pemikiran kekasihnya.


"Kasian dong anak perempuan kita, satu saja dikasih anak yang seperti Bintang, bikin repot..," mencubit pipi kiri kekasihnya gemas. "Bagaimana kalau sebelas orang.." Senyumnya mengembang sambil meneruskan langkahnya kembali.


"Satu orang terlalu sedikit, sebelas orang di tambah satu anak perempuan terlalu banyak. jadi berapa dong Kak, mau nya..?" ujar Armanda mengejar langkah Nisa.


"Kita ikuti anjuran pemerintah saja. Dua. Sudah cukup. Laki-laki dan perempuan bagaimana?"

__ADS_1


Armanda tertawa lalu dalam sekilat ia mengangkat tubuh Nisa, membopongnya. Nisa tertawa dalam rangkulan kekasihnya.


"Kakak tahu. Aku akan berjuang untuk mendapatkannya."


"Mendapatkan apa?" Tanya Nisa menatap wajah di atasnya dengan kedua tangan memutar di pundak Armanda.


"Dua anak itu..."


"Menikah dulu.."


"Hanya tinggal 48 jam lagi. Aku akan menunggu.".


Dua hari lagi mereka memutuskan untuk mengikatkan diri dalam tali perkawinan. Armanda menurunkan tubuh Nisa ketika sampai di teras rumahnya telah berdiri sosok yang dikenalnya.


Nisa terkejut ketika ia menyaksikan sosok perempuan paruh abad berkerudung kuning sudah berdiri dua meter di depannya. Sudah sepuluh tahun lewat untuk pertama kalinya lagi Nisa melihatnya.


"Ibu..." Nisa menyahut haru.


Dewi Purnama berhasil menemukan kedua anak asuhnya setelah selama dua bulan ini sibuk mencari keberadaan mereka. Ibu Dewi Purnama sangat khawatir dengan keselamatan keduanya setelah membaca berita dua bulan lalu tentang kisah cinta keduanya. Pertama kali mendengarnya ia merasa terpukul karena bagaimanapun keduanya sudah di ikat persaudaraan sebagai ibu asuh dari keduanya Dewi purnama tidak bisa tinggal diam.


"Ibu kecewa sekali dengan kalian. Kenapa bisa sejauh ini? Anak-anaku pikirkanlah semua ini akan berakibat buruk bagi masa depan kalian. Nisa pikirkanlah. Bintang Kecil adalah adikmu."


Dewi purnama berusaha mempengaruhinya karena ia sangat menghawatirkan keselamatan keduanya. Anggraeni Akbar tidak akan menerima kejadian ini dan yang ditakutkan kedua anak asuhnya ini akan mengalami nasib seperti kedua orang tua mereka, mungkin bahkan lebih buruk lagi.


Nisa dan Armanda awalnya merasa bahagia karena kedatangan ibu asuhnya itu tapi keduanya merasa kecewa karena kedatangannya tidak lebih untuk berusaha memprotes hubungannya, ternyata ibu asuhnyapun sama seperti yang lainnya, menganggap hubungan ini buruk.


"Hukum agama tidak melarangnya tapi bagaimana dengan hukum masyarakat. Keluarga Akbar tidak akan menerima ini. Ini aib bagi mereka."


"Aku tidak peduli. Aku akan memutuskan hubunganku dengan mereka. Aku hanya ingin bersama Kakak, Bu.., yang lain aku tidak peduli." Balas Armanda meyakinkan.


Dewi Purnama semakin merasa khawatir dengan ucapan anak asuh lelakinya, keberanian seperti itu pernah ia saksikan dulu dari ayahnya yang berusaha melawan Anggraeni demi kekasihnya. Kisah cinta Bintang Akbar dan Quin Alifa masih tergambar dalam memori Dewi Purnama, dan itu sangat menyedihkan untuk dikenang.


"Nisa dalam hal ini, kamu seharusnya lebih paham, kedua orang tua Bintang sudah mengangkatmu sebagai putri mereka. Apa yang kamu lakukan saat ini bersama Bintangmu seharusnya kamu tahu itu salah. Dan apakah kamu masih ingat apa yang terjadi dengan kedua orang tua angkatmu? Anggraeni adalah bayang-bayang mereka yang menghancurkan hidup mereka. Apa kamu ingat itu..."


Nisa menangis menyusutkan tubuhnya duduk lunglai di lantai ketika diingatkan tentang orang tuanya, bagaimana mereka meninggal dan bagaimana Anggraeni menghancurkan kehidupan ayah dan ibu Bintang Kecil, setiap mengingat itu hati Nisa merasa terpukul dan takut. Takut memikirkan nasib ia dan adiknya karena ibu asuhnya benar Anggraeni akan menjadi bayang-bayang yang siap memporak-porandakan hidupnya. Dewi Purnama melihat ketakutan pada diri Nisa. Armanda cemas merasa takut kata-kata ibu asuhnya akan mempengaruhi kekasihnya.


"Jangan dengarkan dia, Kak..," ikut menjatuhkan tubuhnya di dekat Nisa. "Aku akan menjagamu. Anggraeni atau siapapun tidak akan menyakitimu..." Kemudian mendangak menatap ibu asuhnya yang tetap berdiri di hadapannya. "Kalau Ibu datang hanya untuk berusaha memisahkan kami berdua? Sebaiknya Ibu jangan datang kemari. Pergilah!" Suara Armanda terdengar lebih keras namun ibu asuhnya tetap menghiraukan protesannya.


"Nisa Ibu mohon.., hentikan kekeliruan ini..." Ibu Dewi purnama menangis memohon pada Nisa.


"Aku bilang cepat pergi, Bu!" ucap Armanda keras karena merasa takut wanita yang dicintainya berubah pikiran. Kembali menatap Nisa merangkul erat tubuhnya dan berkata pilu. "Aku mohon jangan terpengaruh. Kak..."


Nisa menatap wajah kekasihnya. Ia sentuh wajah pria ini sambil bertanya dalam hati mampukah ia melindungi lelaki ini dari kemarahan Anggraeni kelak. Ayah ibu angkatnya dulu saja tidak sanggup, lalu bagaimana dengannya?Tapi Nisa yakinkan diri, demi kekasihnya ia akan berusaha semampunya untuk selalu menjaga pria ini jangan sampai terluka atau dilukai. Nisa beralih menatap ibu asuhnya.


"Maaf. Nisa tidak sanggup hidup tanpa Bintang, jadi Nisa mohon pada Ibu, restuilah kami. Dua hari lagi kami akan menikah. Kami hanya butuh restumu, Ibu..."


Armanda terharu mendengar pernyataan Nisa karena kalimat ibu asuhnya tidak berhasil mempengaruhinya. Dewi Purnama menangis menyerah karena tidak sanggup mengubah keadaan ini yang membuatnya sangat khawatir, kejadian masa lalu yang pahit akan terulang pada kedua anak asuhnya ini.

__ADS_1


Armanda dan Nisa sudah tidak perduli lagi meskipun tanpa adanya dukungan mereka tetap akan melangsungkan pernikahannya hari ini di bawah tangan. Untuk sampai ketitik ini sudah banyak menembus awan hitam dan ini tidak mudah.


Amanda menatap dirinya melalui cermin besar di kamar ini. ia merasa puas dengan jas pengantin milik ayahnya dulu yang berbentuk tuxido. Armanda ingat saat kecil ia sering memakai jas ini tapi selalu dibuat kecewa karena jas ini tidak cukup di tubuhnya yang masih kecil tapi kali ini, semua berubah tubuhnya tidak sekecil dulu saat menatapnya lagi Armanda merasa tidak percaya hari ini ia akan menggunakan jas ini untuk menikah dengan perempuan yang paling dipujanya sejak kecil. Jas ini melekat bagus di badannya saat ini.


"Tampan sekali calon suamiku ini..."


Armanda berbalik memutar ke arah suara itu. Nisa sudah muncul di kamar ini dengan balutan handuk yang melekat pada tubuhnya selesai mandi.


"Benarkah?" balas Armanda tersenyum senang. "setelah sepuluh tahun aku baru bisa memakainya. Dan dipakai untuk menikah denganmu. Kakak tahu saat ini aku benar-benar puas."


Keduanya saling menatap lembut, bagi keduanya pernikahan ini akan menjadi momen paling indah dalam hidup mereka. Nisa dan Armanda mengalihkan pandangan mereka. Bunyi bell di bawah rumah terdengar ke kuping mereka, mereka yakin seorang penghulu telah datang untuk menikahkannya hari ini.


Sementara Nisa segera memakai gaun pengantin yang sudah disiapkan dari tadi. gaun pengantin cantik milik ibu angkatnya dahulu. Armanda melesat turun ke bawah untuk menjamu tamunya. Ia buka pintunya namun bukan seorang penghulu nikah yang datang melainkan ibu asuhnya. Armanda yakin kedatangannya ingin menentang pernikahan ini.


"Kalau Ibu datang untuk mengganggu rencana kami menikah. Tolong pergilah dari sini. Biarkan kami bahagia." ujar Armanda menatap ibu asuhnya. namun ucapan kasar yang barusan ia lontarkan justru dibalas dengan senyuman tulus.


"Kedua anaku akan menikah hari ini. Bagaimana mungkin Ibu tidak hadir. Ibu menyerah. Ibu akan merestui kalian. Ibu akan menjadi saksi pernikahan ini."


Armanda tersenyum haru dalam sekejap ia memeluk ibu asuhnya.


"Mana Nisa?" Melepas pelukannya.


"Kakak di atas sedang berdandan."


"Kamu tunggu di sini. Ibu akan membantunya berdandan."


Nisa bahagia karena kini ia sudah mendapat restu ibu asuhnya. Dewi Purnama merias wajah Nisa menjadi nampak seperti pengantin.


Armanda dan Nisa melangsungkan pernikahan di rumah ini hanya dihadiri Dewi Purnama.


Acara pernikahan belangsung sunyi namun sangat sankral. Nisa dan Armanda sangat bahagia di momen ini.


Armanda menggendong tubuh Nisa dalam pangkuannya setelah mengantar ibu asuhnya pulang. Malam ini semua akan berubah dua jiwa akan melebur jadi satu, saat aku dan kamu akan berganti menjadi kita. Ini adalah momen yang paling di tunggu Armanda.


"Kakak..., siap melakukannya denganku malam ini..." ujar Armanda sambil membawa tubuh Nisa ke atas menuju kamarnya.


Sumpah Nisa belum pernah merasa segugup ini, jantungnya berdetak lebih kencang, ia merasa tak mampu berkata kecuali pandangan mata yang bicara, mungkin kalau mata dapat bicara pasti akan keluar kalimat tidak tahu malu siap dong sudah lama menunggu ini.


Armanda menjatuhkan hati-hati tubuh Nisa ke ranjang yang sudah di taburi banyak kuntum dan helaian bunga mawar merah. ntah siapa yang menaburi kasur ini dengan bunga, kaya di sinetron saja malu-maluin.


Sebenarnya tadi author yang naruh biar malam pertama mereka lebih romantis, Niat author bunga itu buat nyekar berhubung sebentar lagi mau bulan puasa tapi melihat kamar pengantin ini polos banget, author taburin saja, gak usah protes yah.


"Aku gugup sekali..," ucap Armanda dengan satu tangan menyentuh bawah rahang Nisa. Armanda menyaksikan kegugupan yang sama. "Kakak, gugup?"


Nisa mengangguk mengiyakan, tangannya berasa dingin sekali, ini buka malam pertama ia dan adiknya tidur dalam satu ranjang namun ini akan menjadi malam pertama untuk melakukannya setelah sekian lama berusaha mengendalikan nalurinya.


"Kapan Bintang akan berhenti memanggilku Kakak?" Tanya Nisa dalam kegugupannya.

__ADS_1


"Mungkin setelah malam ini..." balas Armanda kemudian mendekatkan wajahnya lebih dekat, pelan tapi pasti Armanda mencium bibir Nisa lembut melumatnya dan memainkan lidahnya. Nisa membalasnya lebih gairah, mengeluarkan segala nafsu yang tertahan sejak lama. keduanya bergumul dalam satu tempat yang begitu nyaman, saling membuka satu persatu pakaian mereka hingga seluruhnya dan menyalurkan naluri hasrat mereka mengubah dua jiwa dalam satu. inilah yang disebut menikah.


__ADS_2