Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
KITA MENIKAH?


__ADS_3

Nayaka, Armanda dan Nisa sampai di rumah besar milik Anggraeni sore ini, Nisa mengisi kamar bersebelahan dengan kamar adiknya. Kamarnya cukup luas nyaman dan sangat rapi memiliki jendela yang tembus langsung ke taman belakang.


Sudah tiga minggu Nisa berada di rumah ini keadaan Armandapun sudah dikatakan pulih hanya tinggal perban kecil saja di bagian tubuhnya yang masih melekat Nisa memang merawatnya dengan sangat baik.


Hari ke hari Nayaka hidup satu rumah mulai melihat sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang sulit untuk dikatakan, awalnya Nayaka seperti biasa melihatnya sesuatu yang lumrah namun porsi kedekatan mereka saat ini melebihi kapasitas sebagai kakak adik, tapi Nayaka berusaha membantah penilaiannya itu. Ia tidak mau menyimpulkan sesuatu yang masih rancu untuk diartikan.


Armanda terbaring miring di paha Nisa. Tangan Nisa yang lembut mulai bergerak di bagian pundak Armanda yang memperlihatkan punggungnya yang telanjang. Nisa melepaskan perban kecil yang masih menempel di punggungnya.


Armanda berbalik. Memperlihatkan dadanya yang bidang. Sekarang kedua tangan Nisa mulai melepaskan perban kecil di dahi kirinya.


Armanda menyaksikan kedua tangan kakaknya hati-hati melepas perbannya, Armanda tidak bergerak sedikitpun namun bola matanya tak berkedip memandang wajah Nisa di atasnya. Armanda merasa menyaksikan wajah cantik kakaknya dengan posisi seperti ini dirasakan lebih berbeda.


Rahang bawah yang bagus, lehernya jenjang, dan nampak sexi dengan dada yang membusung indah. Menatapnya dengan posisi seperti ini terasa lebih nikmat dan juga bergairah, namun ketika Armanda beralih mengamati lagi wajahnya...


Armanda menyaksikan sesuatu yang lucu. Wajah cantik milik perempuan itu nampak berubah memerah jambu sepertinya apa yang ia lakukan dengan memandanginya seperti ini telah membuatnya gugup dan malu. Armanda menikmati kegugupannya itu dengan senyuman nakal.


"Kakak gugup yah..?"


"Ti.., dak."


Jawaban Nisa yang terdengar gugup memancing senyuman Armanda melebar.


"Masa? Aku melihat Kakak sangat gugup..."

__ADS_1


Nisa berusaha membantah tuduhannya meski sebenarnya tuduhan itu benar. Nisa gugup karena Armanda terus memandanginya yang membuatnya menjadi salah tingkah.


"Kakak tidak gugup..."  protesnya malah membuat wajahnya semakin terasa panas.


"Kakak bohong. Itu wajah Kakak merah.." Senyumnya jahil sambil bangkit dari paha Nisa mengamati wajah Nisa lebih dekat, pura-pura menilai. Sebenarnya Armanda menggodanya karena saat merasa malu kakaknya akan sangat manis sekali. Armanda melihat wajah cantik milik kakaknya terpaku dengan bola mata memutar malu-malu. "Tuh kan, Kakak gugup.." ejeknya menyeringai menambah rasa malu kakaknya. Armanda mendekatkan kupingnya menempel ke dada Nisa pura-pura mendengarkan dentuman jantung kakaknya. Kembali menatap Nisa terpukau. "Wah... Kakak jatuh cinta sekali padaku yah?"


"Bintang...!" Mencubit tulang iganya dengan suara mengerang memprotes kenakalan adiknya yang membuat dirinya terasa menjadi konyol.


"Aduh sakit. Kak..." protes Armanda masih tersenyum-senyum nakal.


"Dasar nakal. Bagaimana bisa memandangiku seperti tadi? Tentu saja siapapun pasti gugup dengan caramu memandang seperti itu.., memangnya apa coba yang sedang kamu pikirkan...?"


Armanda tersenyum nakal lalu mendekatkan wajahnya ke kuping kakaknya berbisik,


Nisa tercengang ketika ia mendengar godaan nakal yang keluar dari mulut adiknya dalam sekilat wajah Nisa langsung memerah udang.


"Anak nakal. Mana boleh memikirkan hal seperti itu..." Nisa protes gugup dan malu.


"Kenapa tidak boleh? Aku pria dan Kakak wanita.. " ujarnya menggoda kembali dengan senyuman semakin nakal.


"Bintang.. " protesnya mengerang. "Awas yah kalau bicara seperti itu lagi Kakak akan menggelitikmu tanpa ampun..."


"O- ya... Kejam sekali..." ejeknya pura-pura takut kemudian tersenyum jahil "Tapi sebelum Kakak menggelitiku. Aku yang akan menggelitikmu lebih dulu..."

__ADS_1


Jari-jari Armanda mulai menyentuh tulang iganya. Nisa menjerit-jerit dan tertawa berusaha melepaskan diri dengan meronta, tapi kedua tangan Armanda kembali menangkapnya memperlihatkan sisi jenaka dan selera humornya yang tinggi. Keduanya saling bergumul di atas sofa yang terdapat di ruangan keluarga di rumah ini. Dalam sekejap keduanya terhenti ketika tubuh Armanda sudah menindih tubuh Nisa secara penuh dengan wajah saling bertemu dekat.


Napas keduanya seolah terhenti di sana. Armanda menembus kedua mata di dekatnya Di sana ia temukan cinta dan kelembutan yang tercurah banyak untuknya. Armanda menatap semua bagian pada wajah itu. Mata yang lembut, bibir yang merekah, pipi yang merona segar, hidung yang mancung, alis yang melengkung alami, nampak seperti sebuah maha karya ciptaan Tuhan yang paling sempurna yang ada di muka bumi ini. Armanda selalu terpesona dengan kecantikannya namun ia membantah tegas kalau ia mencintai perempuan ini karena kecantikannya. Menurutnya ia mencintai perempuan ini karena sesuatu yang tidak bisa ditembus mata, yang pasti ia bahagia bersamanya dan selalu ingin bersamanya. Inilah saat yang tepat untuk menyatakan sesuatu yang ia pikirkan selama ini.


"Kita menikah.."


Nisa terpaku tak sanggup bicara mendengat pernyataan itu. Sesuatu yang tidak ia pikirkan akan sejauh ini. Tapi baru saja ia mendengar jelas dari pemuda ini sebuah kalimat yang menyimpulkan dirinya sebagai pejantan tangguh yang berani mengambil resiko. Ada rasa takut di hati Nisa karena itu di luar batas kemampuannya untuk berjalan lebih jauh lagi, walau tak bisa dipungkiri ia menginginkan pria ini, namun di sisi lain ia merasa sangat takut. Adiknya sudah berani mengambil resiko tak ada alasan baginya untuk tidak terjun dalam resiko itu. Tapi tiba-tiba ketika bibirnya hendak berkata iya..., Nayaka sudah berdiri di antara mereka hingga yang keluar justru jadi sahutan pelan dari bibir Nisa,


"Naka..."


Nisa terkejut setengah mati diikuti


Armanda. Sahutan kecil dari bibir Nisa, cukup memberitahukan keberadaan pamannya saat ini, yang membuat Armanda cukup terkejut.


Armanda segera mengangkat tubuhnya dari tubuh Nisa. Namun bukannya berusaha menyangkal demi keamanannya saat pandangan pamannya menyelidik, tangan Armanda justru malah menggenggam tangan Nisa penuh percaya diri seolah meyakinkan Naka kalau apa yang di lihatnya barusan adalah benar.


Nayaka kaget setengah mati, kecurigaannya benar sesuatu telah terjadi di antara keponakannya dengan Nisa? Baru saja ia melihat hal yang menurutnya sangat menakutnya, kupingnya mendengar jelas saat keponakannya melamar Nisa dan itu hampir membuat Naya merasa shock.


"Sepertinya, kita berdua harus bicara." ujar Naka berusaha tenang pada keponakannya, lalu menatap wajah Nisa yang nampak pucat kembali menatap keponakannya yang justru terlihat lebih percaya diri. "Paman tunggu di ruangan Paman. Sekarang." ujarnya sambil melangkah meninggalkan keduanya.


Armanda melihat wanita yang sangat dicintainya itu terlihat gugup, telapak tangannya pun mulai terasa dingin sepertinya kakaknya masih nampak belum siap kisah cintanya diketahui oleh orang lain, namun Armanda memahaminya, kakaknya selalu merasa takut kalau hubungannya saat ini akan menyulitkan dirinya, padahal Armanda sendiri tidak peduli dengan kesulitan apa yang akan dihadapi selama Nisa ada di sampingnya.


"Kakak jangan takut..." Meremas kedua jari jemari tangan Nisa yang terasa dingin. "Biar aku akan menghadapinya. Aku tidak takut apapun sekalipun itu omah. Aku akan menghadapinya yang penting kita selalu bersama. Semua akan baik-baik saja. Kakak jangan khawatir, oke?"

__ADS_1


Armanda menemui pamannya segera di ruangan kerjanya yang ada di rumah ini Setelah berhasil meyakinkan Nisa kalau semua akan baik-baik saja.


__ADS_2