Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Kue ULTAH Bintang


__ADS_3

Malam sudah makin larut, hawa dingin membungkus badan, masuk menyelinap pada setiap organ, bulan purnama menyinari gelapnya malam, kumpulan bintang kecil di langit menghiasi angkasa malam.


Rumah ini belum di pasang listrik namun lentera yang ada di rumah ini cukup meneranginya, meski tidak terlalu terang tapi ini adalah momen indah untuk merayakan ulang tahun berdua saja.


Kue tart mini dengan hiasan bintang-bintang kecil yang Nisa beli tadi dalam perjalanan sudah Nisa letakan di meja kecil, menghadap dekat perapian yang sudah dinyalakan oleh Nisa.


"Ayo. Sudah saatnya memohon permintaan pada Tuhan." ujar Nisa mengingatkan.


Setelah selesai menyanyikan lagu ulang tahun, si kecil meminta permohonan pada Tuhan, Kemudian meniup lilin angka sepuluh di depannya lalu memotong kuenya. Potongan kecil kue itu di suapkan ke mulut sang kakak, begitupun Nisa sebaliknya menyuapi adiknya. Keduanya sangat bahagia di momen ini.


"Boleh Kakak tahu, permohonan apa yang tadi Bintang minta pada Tuhan?" Nisa bertanya lembut pada si kecil yang duduk di sampingnya.


"Rahasia. Kakak tidak boleh tau." Senyumnya nakal, sambil mengigit potongan kecil kue ulang tahun yang di pegangnya.


"Baiklah. Kalau begitu tak ada kado ulang tahun untukmu malam ini."


"Apa?" protesnya sambil mengunyah kue di mulutnya yang penuh. "Kenapa ancamannya buruk sekali?" protesnya dengan bibir menguncup kesal. Dan noda krim kue melekat penuh mengotori bibirnya. "Baiklah. Baik...." Kata terakhir bernada panjang. "Kakak menang."


Nisa tersenyum kecil melihat manyunan kesal si kecil yang membuatnya sangat menggemaskan, di tambah noda krim kue di sekitar bibirnya menambah kelucuan pada wajah tampan si kecil.


Nisa menyeka bibir si kecil dengan jari jemarinya dan punggung tangannya.


"Ayo. Katakan, Kakak pingin tahu." ujar Nisa setelah membersihkan bibir si kecil.


Nisa melihat si kecil tampak menarik nafas permintaannya kali ini sepertinya begitu berat untuk di katakan.


"Tadi. Bintang minta pada Tuhan...." Suaranya menurun murung. "Supaya Kakak tidak mengembalikan Bintang ke rumah besar itu."


Nisa terpaku bisu, pernyataan yang keluar dari mulut si kecil seperti sebuah peluru yang menancap tepat di jantungnya.


Si kecil meneruskan katanya.


"Di sana tidak menyenangkan," keluhnya hampir menangis. "Bintang tidak mau kembali ke rumah itu. Bintang mau tinggal bersama Kakak."


Nisa segera memeluk tubuh adiknya.


Hatinya tercabik sakit. Permintaannya adalah keluhan ketidak gembiraannya, dan itu penekanan berat buat Nisa, mengingat ia sudah kehilangan haknya sejak satu minggu lalu, sudah waktunya untuk tidak lagi saling berebut, yang harus Nisa lakukan sekarang adalah mempengaruhinya, supaya si kecil bisa menerima keberadaan keluarga Akbar sebagai keluarga barunya.


"Rumah besar itu adalah rumahmu sekarang. Sama seperti Kakak mereka juga keluarga Bintang. Bintang harus menyayangi mereka seperti Bintang menyayangi Kakak."


"Tidak mau!" Melepaskan diri dari pelukan Nisa marah. "Rumah itu bukan rumah Bintang. Mereka juga bukan keluarga Bintang. Bintang tidak akan sayang mereka. Bintang hanya akan sayang Kakak saja."


Nisa mendekapnya kembali, tak kuasa, Nisapun menangis.


"Maafkan Kakak sayang. Tapi ini sudah aturannya." Perkataan Nisa lirih


Si kecil menjadi semakin marah ia keluar dari pelukan Nisa lagi.


"Bintang tidak mau tahu. Pokoknya Bintang mau tinggal bersama Kakak."


Bintang Kecil berlari ke kamar tidur yang ada di lantai atas. Nisa menangis tampa bisa dihentikan. Rengekan si kecil mengoyak sanubarinya. Nisa hanya bisa mengutuki diri karna ia tak akan mungkin bisa mengabulkan permohonannya.


Nisa mengikutinya ke kamar setelah berusaha menghentikan tangisnya. Di sana ia melihat adiknya terbaring menangis di tempat tidur. Nisa duduk menempel di dekatnya sambil mengelus rambut adiknya yang terbaring miring di atas bantal.


"Sebenarnya Kakak juga ingin bersamamu, Sayang ...." tutur Nisa berhasil memutarkan balikan badan si kecil terlentang dan menatap ke arahnya.


Nisa tersenyum sambil mengusap lembut kening dan rambut si kecil, perlahan ia menarik nafas yang terasa berat. Nisa bingung bagaimana memberi penjelasan agar si kecil mau mengerti.


"Tapi, apa Bintang lupa, rumah kita sudah terbakar. Kita akan tinggal di mana? Kalau tinggal sama ibu Dewi lagi itu akan merepotkannya?" Nisa berusaha mencari alasan berharap si kecil mau mengerti keadaannya saat ini.

__ADS_1


"Kita tinggal di sini saja. Kakak...." Si kecil menangis sambil mengangkat tubuhnya duduk berdepanan dengan kakaknya.


Nisa tersenyum sambil menyeka lembut butiran air mata di kedua pipi adiknya.


"Memangnya Bintang mau tinggal di rumah ini?" ujar Nisa menatapi sambil menatap ruangan kamar sempit ini. "Di sini tidak ada apa-apa. Tidak ada lampu," menatap kembali wajah si kecil lembut. "Tidak bisa main game, tak ada tivi, tak bisa nonton Spiderman, tak bisa sekolah, dan di sini juga Bintang tak akan memiliki teman seperti Alana atau Amanda. Memangnya Bintang akan betah tinggal di tempat sunyi seperti ini?"


Nisa berusaha terus mempengaruhi agar keinginannya surut, sementara Nisa melihat bocah itu terdiam menatapi sekitar lalu kembali menatapnya dan berkata.


"Tidak apa apa. Tidak ada game atau tidak nonton tivi pun tidak apa apa. Kalau Spiderman," memutarkan matanya mengingat sesuatu.


Spiderman adalah tokoh jagoan idolanya, dan Ia mengingat kejadian tahun lalu di samping belakang halaman rumah ini, semua mainan hadiah ulang tahun dari kakaknya dari ulang tahun pertama sampai sampai ke sembilan, berbagai macam mainan berbentuk Spiderman sudah Ia kubur diam-diam di samping belakang halaman rumah ini. Ia berpikir kalau ingin melihatnya lagi tinggal menggalinya saja karna mainan itu di kubur secara apik pada sebuah peti kecil.


"Bintang masih bisa melihatnya. Tahun lalu semua mainan spiderman kesukaan Bintang, sudah Bintang kubur di tempat ini. Kalau ingin melihatnya tinggal menggalinya lagi. Iyakan. Kak?"


"Benarkah?" Terpukau Nisa ia tak pernah melihat kejadian saat ia mengubur mainannya tahun lalu.


"Kakak pikir semua mainan itu sudah pada hilang, ternyata Bintang menguburnya. Di mana?"


"Itu rahasia. Kakak tidak boleh tahu...." Si kecil mulai tersenyum.


"Berani sekali main rahasia-rahasian dengan Kakak. Padahal Kakak tak punya rahasia apapun untuk di sembunyikan."


"Beneran, Kakak mau tau?" Senyumannya nakal.


"Hmmm.." balas Nisa sambil mengangguk.


"Baiklah. Bintang akan kasih tahu Kakak. di mana letak mainan itu di kuburkan. Tapi Kakak harus janji, kalau kita akan tinggal di sini. Bagaimana. Setuju?" pintanya pada Nisa.


Sekali lagi Nisa terusik sakit mendengar ucapan si kecil. Ini seperti sebuah penekanan yang siap menghancurkan benteng pertahanan Nisa. Seandainya bisa, Nisa siap menghancurkan benteng itu demi bersama si kecil. Namun Nisa harus bertahan, Nisa tak mau jadi penjahat untuk hidup bersama si kecil. Menyetujuinya sama artinya menculik si kecil dari tangan Anggraeni. Dan Nisa tidak bisa melakukn itu, meski ia ingin.


"Di sini tidak ada apa apa. Tak ada teman-teman. Bintang akan kesepian?" Nisa kembali meyakinkan agar bocah itu menyerah.


Nisa yang menyerah tak ada lagi alasan yang sanggup menggoyahkan keinginan si kecil, tapi Nisa tekankan hati kalau ia tak boleh menyanggupinya.


"Sekarang sudah lewat tengah malam. Bintang tidur. Yah?" Nisa berusaha mengalihkan karna tidak sanggup menolak atau mengiyakan keinginannya.


"Bintang tidak mau tidur!" protesnya keras. "Kakak belum mengiyakannya."


"Ayolah...." bujuk Nisa sedih. "Mau Kakak nyanyikan lagu? Biar tidurnya nyenyak."


"Sudah Bintang bilang, Bintang tidak mau tidur! Kakak belum mengiyakanya!" protesnya dengan nada naik satu oktaf.


Nisa merasakan perasaannya tercabik-cabik hingga Ia merasa ingin mengikuti keinginannya, sebenarnya itu juga yang Nisa mau, hanya saja Nisa berpikir sanggup bertahan sampai berapa lama bersembunyi dari kejaran mereka? Keluarga Akbar tidak akan tinggal diam cepat atau lambat mereka pasti akan mengetahui keberadaan rumah ini, kalau sudah begitu akan berlanjut dengan kesedihan yang lainnya, mungkin mereka akan menjebloskan ke penjara karna tuduhan penculikan.


"Baiklah...," Nisa tersenyum sementara hatinya sangat sakit. "Kakak ingin tau di mana Bintang meletakan mainan-mainan itu? Besok siang Bintang harus mengajak Kakak ke sana, yah..."


"Besok siang...."


Si kecil melonjak gembira. Artinya besok siang ada rencana membuka peti mainan yang ia kubur setahun lalu. Berarti janjinya pada paman Naya untuk mengembalikannya subuh ini sebelum matahari terbit, tidak akan terjadi. Sejak tadi siang kalimat itu terus terngiang dalam pikirannya membuatnya merasa takut.


"Berarti Kakak setuju untuk tinggal di sini. Benarkan?" Si kecil memastikan dan ia melihat kakaknya tersenyum.


Si kecil tidak tahu kalau kegembiraannya saat ini justru melukai hati Nisa, karna sebenarnya Nisa tidak mengiyakan, si kecil sendiri yang mengartikan kalimatnya. Nisa tidak sanggup menolak juga tidak merasa mampu untuk mengiyakan karna itu telampau sulit baginya.


"Sekarang Bintang tidur, yah? Sudah hampir jam satu malam."


Setelah melihat jam di dinding yang sudah menunjukan pukul satu Nisa ikut membaringkan tubuhnya di samping si kecil. Dengan tangannya Nisa mengangkat kepala si kecil dan menyimpan di lengannya, lalu mendekap dalam pelukannya erat.


Posisi tidur seperti ini si kecil sangat menyukainya, Rasa nyaman dan terjaga setiap kali tidur di bahu dan dada Nisa, cukup dengan melingkarkan tangan kecil miliknya ke pinggang kakaknya, sementara kedua tangan kakaknya mendekap tubuhnya erat. Nyaris membuat si kecil merasa berada dalam perlindungan sayap malaikat, Yah Malaikat nyata yang ia miliki adalah Nisa.

__ADS_1


Guru ngaji berkata Malaikat nyata yang ada di bumi itu adalah ibu tapi bagi Bintang Kecil, Makaikat nyata yang ada di bumi itu adalah Nisa. Bagi anak- anak lain surga itu di telapak kaki ibu, tapi bagi Bintang Kecil surga itu di telapak kaki Nisa.


"Rasanya sudah lama Bintang tidak tidur senyaman ini," sambil menyerudukan kepalanya leher dan dada Nisa. "Selama seminggu ini Bintang tidak bisa tidur nyenyak. Tak ada yang memeluk juga tak ada yang mau menyanyikan lagu."


"Bintang sudah besar. Mungkin anak lain tidak lagi ada yang seperti Bintang, menjelang tidurnya masih senang dipeluk dan dinyanyikan lagu."


"Benarkah? Bintang pikir anak lain juga sama oleh ibu mereka."


"Kakak rasa tidak."


"Masa sih, Kak."


"Biasanya usia sepuluh tahun apalagi anak laki-laki, sudah memiliki kamar sendiri dan tidur sendirian, mereka sudah tidak mau kalau tidur dipeluk seperti ini."


"Aahh Bintang gak mau tidur sendirian. Pokoknya sampai bintang besarpun mau tidur seperti ini. Boleh?"


"Boleh. Kalau bintang suka."


"Suka banget...." Tersenyum gembira. "Janji, yah, Kak."


"Iya, Kakak janji, Sayang. Kakak janji untuk seumur hidup bintang, Kakak akan selalu memeluk Bintang seperti ini, biar tidurnya selalu nyenyak." ujar Nisa berjanji.


Nisa akan menepati janjinya, walau untuk menunggu seperti ini lagi Nisa harus menunggu tiga bulan lagi, saat nanti si kecil kembali pulang dari berliburnya. Saat itu Nisa akan terus memeluk dan tidak akan melepaskannya.


"Ya sudah sekarang Bintang tidur."


"Kakak nyanyi dulu...." pintanya dengan suara mulai parau karna menahan ngantuk.


Diam-diam tangan Nisa mengambil benda kecil berbentuk spiderman di jaketnya. Alat perekam yang sengaja Nisa beli sebagai hadiah ulang tahun si kecil. Nisa pilih ini karna ini akan cukup berguna untuk si kecil.


Nisa mulai menyanyikan lagu kesukaannya yang berjudul bintang kecil dan merekamnya, saat dinyanyikan oleh Nisa lagu ini akan


terdengar sangat lembut dan menyentuh, entahlah kenapa bisa begitu? Bagi orang lain mungkin ini adalah lagu yang cukup gembira, tapi kalau Nisa yang menyanyikannya semua yang mendengarnya mungkin akan terpaku sampai tertidur. Seperti bagaimana adiknya, ia hanya akan tidur kalau Nisa menyanyikan lagu ini.


"Seharusnya Bintang jangan dulu tidur...."


Nisa melihat kedua mata adiknya sudah tertidur lelap, padahal biasanya di samping lagu itu si kecil akan senang sekali diceritakan tentang apa yang akan dilakukan besok, biasanya yang akan diceritakan Nisa adalah hal sederhana dan menyenangkan, namun kali ini Nisa bingung apa yang harus ia ceritakan esok pagi? Sementara besok....


Nisa menangis karna besok Ia harus mengembalikan kembali adiknya pada keluarga Akbar, dan mungkin tiga bulan lagi baru bisa bertemu dan ini menyakitkan bagi Nisa.


Dengan lirih dan getir Nisa mulai mengeluarkan katanya.


"Besok....Hal pertama yang harus dilakukan besok? Bintang harus tetap tersenyum dan jangan pernah menangis. Setiap bangun pagi Bintang harus mandi, dan membiasakan mandi sendiri dengan benar. Kalau merasa kesulitan menggosok punggungmu, Bintang bisa berendam di bak mandi seperti yang sering kita lakukan bersama-sama."


Nisa menangis saat membayangkan hal-hal yg selalu dilakukan bersama-sama. Mandi di bak mandi saling membantu menggosok punggung. bercanda sering dilakukan ketika mandi bareng dalam bak yang sama.


"Dan jangan lupa sarapan pagi. Bintang sudah cukup besar untuk bisa makan sendiri...."


Nisa menangis mengingat bagaimana si kecil akan berhenti makan kalau tidak Nisa suapi. Kini Nisa baru menyadari memanjakannya secara berlebihan yang ia lakukan pada si kecil justru itu yang akan menyulitkannya. Tampa Nisa si kecil tak bisa apa apa.


"Kalau main, jangan jauh-jauh nanti tersesat...,"


Nisa meneruskan kembali kalimatnya sambil menangis.


"Dan kalau malam jangan lupa belajar, biar jadi anak yang pintar. Dan kalau mau tidur jangan lupa berdoa dulu, setelah itu dengarlah suara Kakak dalam rekaman ini, dengan begitu Bintang pasti akan tidur dengan nyenyak," lirih Nisa hampir merasa tak kuasa melanjutkan kata katanya. "Dan kalau merasa sedih, kesal atau gembira dan ingin berbagi dengan Kakak berteriaklah, keluarkan semua perasaan hatimu. Di sini Kakak akan mendengarkan, karna angin akan menyampaikannya pada Kakak. Dan kalau Bintang merindukan Kakak, maka tunggulah Bintang Pertama muncul, karna bintang pertama muncul itu adalah Kakak. Dan percayalah di manapun Bintang Kecil berada Kakak akan selalu di dekatmu, karna Bintang Kecil akan selalu berada di hati Kakak. Jadi jangan menangis. Tersenyumlah," tersenyum getir. "Maka Kakak akan membalas senyuman itu. Kakak menyayangimu."


Nisa mematikan alat perekam itu dan mencium kening si kecil dan mendekapnya erat, seolah ia tak mau melepaskannya lagi.


__ADS_1


__ADS_2