
"Nisa..."
Sepatah kata Nayaka mulai menyahutnya, ia merasa harus memastikan kalau itu Nisa meski itu sangat mustahil, tapi matanya, hidungnya dan sikap perempuan itu yang seolah berusaha lari dari pandangannya tadi menunjukan kalau dia Nisa. Tapi mana mungkin Nisa yang dulu dikenalnya sangat sederhana mustahil bisa berubah menjadi seperti ini.
"Maaf...Apakah kamu, Nisa?"
Nayaka kembali memastikan, namun wanita cantik itu tidak membalas pertanyaannya, ia menghiraukan keberadaannya saat ini, ia malah asik memesan menu yang disodorkan pelayan. Dia nampak begitu angkuh.
Ridwan Agung menatap pria tampan di hadapanya itu dengan tatapan bingung, kemudian menatap Queen yang juga nampak bersikap aneh, dingin dan memasangkan kebencian.
"Kamu mengenalnya?" tanya Ridwan Agung menyelidik wajah Queen.
Queen mengalihkan pandangannya pada pria yang sudah berdiri di dekatnya itu sebagai responnya dari pertanyaan Ridwan Agung. Queen menatap dingin Nayaka Dengan tatapan yang angkuh berikut menyepelekan lalu kembali menatap pelayan yang menyodorkan menu.
"Bawakan saya kopi pahit tanpa gula sedikitpun."
"Kopi pahit?" ulang Ridwan mengernyitkan dahi bingung, mengingat Nisa tidak suka sekali kopi apa lagi kopi pahit. "Sejak kapan kamu menyukainya?" Menyelidik Nisa yang nampak aneh.
"Hanya sebagai gambaran perasaanku saja saat ini." balasnya datar.
"Maksudmu?" Ridwan tidak mengerti apa maksud ucapan Queen yang penuh tanda tanya.
Maksudnya kopi ini tidak lebih pahit dari pada rasa pahit yang Queen rasakan saat ini ketika harus melihat pria ini lagi, itu yang sebenarnya ingin Queen sampaikan.
Queen mendongak untuk menatap pria itu kembali, lalu ia tersenyum dingin menatap wajah Nayaka yang masih tampan rupawan seperti dulu.
"Apa kabar?"
Nayaka tidak percaya karna sahutan itu menjelaskan kalau ternyata dugaannya benar. Wanita cantik ini adalah Nisa gadis paling manis yang dikenalnya sepuluh tahun lalu, ketika ia lihat lagi gadis manis itu sudah berubah menjadi wanita cantik yang super mempesona.
"Jadi benar kamu adalah Nisa." Senyumnya penuh haru, kembali meneruskan kalimatnya. "Kamu sudah banyak berubah, Aku hampir tidak mengenalimu, Aku senang melihatmu seperti ini, karna dengan begitu keadaanmu baik-baik saja dan aku lega."
Perkataan Nayaka yang masih berdiri diantara ia dan Ridwan Agung ini seakan mengantarkannya pada masa lalunya, masa-masa pelik yang harus ia jalani setelah ia kehilangan adiknya yang membuatnya nyaris gila, dan Queen merasa ucapan pria ini menyeretnya ke arah sana dan itu menyinggungnya.
'Tentu saja, Aku baik baik saja. Apakah selama ini kamu berpikir keadaanku sangat kacau berantakan, setelah apa yang kamu dan ibumu lakukan padaku?" Tersenyum mendengus, lalu berdiri. "Seperti yang kamu lihat sekarang, keadaanku sangat baik-baik saja, Aku sama sekali tidak hancur berantakan."
Nayaka mendengar kesombongan dari kata-kata perempuan cantik di depannya dan Ridwan menemukan kemarahan dan sakit hati dari kata-katanya itu. Ridwan masih belum tahu siapa pria ini tapi ia yakini pria ini salah satu orang yang ikut menghancurkan hidup Queen di masa lalunya.
Nayaka sendiri bersyukur setelah apa yang sudah ia lakukan dan ibunya lakukan padanya tidak membuat hidup Nisa terpuruk, keadaannya saat ini di luar pikirannya. Inilah yang Naya harapkan melihatnya sukses tanpa terbebani seorang anak kecil.
Pertemuannya sekarang momen yang tepat untuk Nayaka meminta maaf, bagaimanapun dulu ia pernah sangat menyakitinya.
"Mengenai kesalahanku di masa lalu, Aku minta maaf."
"Lupakanlah."
Queen tersenyum padahal ia ingin menangis, tapi ia berusaha untuk tidak rapuh di depan pria ini karna kalau ia terlihat rapuh si brengsek ini pasti akan mentertawainya. Pikir Nisa dalam hati.
"Mengenai masa lalu aku hampir tidak ingat." ujarnya berbohong padahal pertemuannya kembali dengan pria ini penderitaan yang paling kecilpun menjadi amat gamblang.
Ridwan Agung melihat jelas kepedihan Queen dibalik senyumnya. Ridwan mulai bisa menebak pria ini. Wajahnya tampan tanpa cela dan Queen nampak membenci pria rupawan itu, hanya satu pria yang di benci Queen dengan sosok fisik sempurna seperti ini yaitu Nayaka Akbar.
"Maaf, wajah Anda tidak asing apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Ridwan memastikan keyakinannya dan pertanyaan itu berhasil mengalihkan pria rupawan itu kepadanya.
"O-ya, maaf. Perkenalkan saya Nayaka Akbar."
Nayaka menyodorkan tangannya pada lelaki di sebelah Nisa. Ridwan berdiri dan menyambut tangan Nayaka dengan sigap.
"Apa Nayaka Akbar yang Anda maksud adalah Nayaka Akbar putra pemilik Akbar Group?" Ridwan pura-pura tidak tahu padahal ia sudah menebaknya dalam hati.
"Iya, Anda benar sekali, Anda sendiri apa Anda adalah...," suami dari Nisa itu yang ingin Nayaka tanyakan.
"Nama saya Ridwan." timpal Ridwan Agung sigap.
Ridwam Agung memperkenalkan diri dengan nama depannya saja, tidak memberi tahu nama belakangnya, karna dikhuatirkan kalau ia mendengar bahwa ia adalah Ridwan Agung pemilik PT Mulya Agung di mana Queen bergabung dengan perusahaannya, maka bisa ketahuan kalau wanita yang sedang bersamanya ini adalah Queen Agung pemilik terbesar Akbar Group saat ini.
__ADS_1
"Saya rekan kerja Nisa di perusahaan."
Ridwan menambahkan penjelasannya tanpa menyebut nama Queen tapi Nisa, karna kalau sampai ia menyebut nama Queen, akan menjadi sebuah spekulasi bagi pria ini tentang orang bernama Queen di perusahaan Akbar Group yang selalu disandingkan dengan nama Ridwan Agung.
Pria ini adalah Nayaka Akbar pacar pertama Queen yang telah mencampakannya dengan cara paling mengerikan, itu menurut cerita yang ia dengar dari Queen bertahun-tahun lalu, dan Ridwan perlu ikut berhati-hati.
"Silahkan duduk."
"Terima kasih." Mendudukan pantatnya diantara Nisa dan rekannya itu. "Kalau boleh tahu kalian berdua bekerja di perusahaan mana?"
Nayaka bertanya, menatap antara Nisa dan pria di depannya ini. Sementara nampak pelayan mengirim pesanan minuman yang tadi Nisa dan Ridwan pesan.
"Perusahaan biasa saja, perusahaan kami tidak terlalu terkenal seperti Akbar Group." terang Queen.
Queen berbohong karna Nayaka belum waktunya tahu, bisa ditebak apa jadinya kalau saat ini Nayaka tahu kalau dirinya sedang berhadapan dengan pemilik baru enam puluh persen Akbar Group?
"Mau pesan minuman?" tanya Queen pada Nayaka yang sudah duduk di depannya.
"Tidak. Terima kasih, apa kamu tahu," menatap Queen. "Sekarang ini kami sedang menghadapi masalah dalam perusahaan kami, itulah alasan kenapa saat ini aku ada di sini."
"Dilihat dari wajahmu sepertinya bukan masalah kecil?" Queen pura-pura tidak tahu padahal dalam hatinya tersenyum puas.
"Benar Nisa, ini masalah besar, Kamu tahu saat ini enam puluh persen Akbar Group sudah jatuh ke tangan orang luar, padahal Akbar Group sendiri adalah perusahaan keluarga yang dibangun oleh keluarga Akbar secara turun-temurun, kalau itu terjadi tamatlah riwayat keluarga kami."
"Cukup seriuskah." ujar Nisa merespon.
"Sangat serius, tapi aku percaya ibuku tidak akan membiarkan itu terjadi, Akbar Group sangat penting baginya, meski selama sepuluh tahun ini kami tidak menanganinya langsung tapi aku tahu ibuku akan melakukan apa saja untuk mempertahankannya."
Queen dan Ridwan tidak berpikir kalau Akbar Group sangat begitu penting bagi Anggraeni bahkan Anggraeni bisa melakukan apa saja untuk merebut kembali Akbar Group, mungkin ia akan melakukan hal curang seperti saat mereka merebut Bintang kecilnya dulu. Entah dengan cara apa wanita tua itu akan berusaha, tapi sepertinya Queen butuh persiapan diri karna sepertinya perang besar akan dimulai.
"Rencana apa yang akan dilakukan ibumu?" Queen penasaran.
"Sudah kami sepakati untuk membeli kembali perusahaan itu dengan harga tinggi dari harga yang ia beli. Itu akan sangat menguntungkannya. Benarkan?"
Nisa mendesis tersenyum sinis mendengar ungkapan Nayaka, Nisa benci karna bagi keluarga Akbar uang masih di atas segalanya.
Hati Queen yang pahit bukan kopi ini, mengingat dulu ia kalah di pengadilan karna Anggraeni melakukan apa saja karna memiliki uang. Dan sekarangpun ia pasti akan melakukan hal yang sama untuk merebut perusahaan.
Nayaka kaget tidak pernah berpikir kalau harga beli bisa sejauh itu tentu saja itu di luar jangkauan ibunya, mengingat tiga tahun terakhir ini keadaan keuangan ibunya sangat kacau.
"Kalau itu terjadi terus terang saya sendiri bingung? Jujur saja kondisi ekonomi keluargaku saat ini sedang kacau, perusahaan yang didirikan Ibuku di korea terancam bangkrut. Sebagian besar harta yang keluarganya miliki disita Bank karna dililit hutang, yang tersisa tinggal perusahaan Akbar group, itupun sekarang di dominasi pihak lain." Ungkap Nayaka seperti terdengar sebuah curahan hati.
"Benarkah?"
Queen tidak percaya karna selama ini di perusahaannya tak terdengar sama sekali masalah jatuhnya Anggraeni, sepertinya dia berhasil menutupi kebangkrutannya.
"Kalau benar demikian, bagaimana kalian bisa berpikir untuk bisa membeli enam puluh persen saham Akbar group?"
"Keluargaku saat ini memang lagi jatuh, namun bukan berarti kami jatuh miskin kami masih memilki simpanan, selain itu kakak perempuanku di Inggris siap membantu kekurangan kami tapi," berhenti sejenak memasang muka tak berdaya. "Kalau seperti yang kamu bilang, seandainya orang itu memasang harga yang terlampau tinggi sepertinya, kami tak akan sanggup."
Queen tersenyum puas.
"Berarti ibumu menyerah?"
Queen berharap dalam hati ia bersorak gembira kejayaan seorang Anggraeni mulai surut. Namun Queen masih belum puas Queen ingin melihatnya jatuh terkapar dan menyaksikannya hancur berkeping-keping.
"Ibuku tidak mudah menyerah, mungkin dia akan berusaha cari jalan lain. Kamu tahukan ibuku seperti apa? Akbar Group sangat penting untuknya, walau selama sepuluh tahun ini kami tidak menanganinya langsung tapi Akbar Group adalah Napas Ibuku, Aku yakin dia akan tetap berusaha untuk merebut kembali Akbar Group dengan cara apapun."
Brengsek..! Tentu saja ia tahu siapa Anggraeni Akbar, dia sanggup melakukan apa saja demi kemenangannya, curang dan menyakiti orang lain adalah sesuatu yang diwajarkannya, seperti bagaimana dulu ia tega membakar rumah dan toko rotinya, bahkan ada kemungkinan mengubah hasil lab Bintang Akbar yang harusnya anak angkat Anggraeni berhasil di rubah menjadi anak kandung Anggraeni, semua itu upaya merebut Bintang Kecil.
"Berapa lama kalian akan tinggal? Sepertinya masalah yang sedang di hadapi butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya." tanya Ridwan lagi.
"Kemungkinan besar kami sekeluarga akan kembali tinggal di sini lagi."
"Sekeluarga..?" Queen mengulang menyelidik wajah Nayaka seolah menunggu sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan sejak tadi namun ia menahannya karna takut terlihat rapuh. "Bagaimana dengan Bintang, apa dia...,"
Apa Bintang Kecil ikut kembali? itu yang ingin Queen tanyakan, selama ini ia tidak mendengar nama Bintang disebut-sebut di perusahaannya selain nama Armanda yang muncul hampir setiap hari.
__ADS_1
"Bintang." Nayaka mengulang pelan.
Nayaka tiba-tiba gugup dan juga bingung karna tidak mungkin baginya mengatakan kalau Bintang ikut kembali.
Sebenarnya Nayaka ingin memberitahu kebenarannya tentang keberadaan keponakanya pada Nisa, tapi kemunculan Nisa dalam keluarganya hanya akan memperburuk keadaan keluarganya yang sedang kacau, karna ibunya sangat tidak ingin cucunya kembali bertemu Nisa, itu sudah ditekankan sejak masih di luar negeri.
"Bintang, sepertinya dia sangat senang tinggal di Inggris bersama tantenya."
Nayaka terpaksa berbohong, namun kemudian ia melihat perempuan di depannya itu nampak kecewa dan sedih.
"Apa Bintang lupa padaku...?" tanya Queen berkaca-kaca.
"Sepertinya begitu, saat kalian berpisah dia masih kecil."
Nayaka berbohong lagi, tapi demi Tuhan Nayaka sebenarnya ia tidak mau berbohong, apalagi setelah melihat perempuan yang selama sepuluh tahun ini ia rindukan nampak terlihat prustasi, tapi apa daya banyak hal yang Nayaka pikirkan ke depannya, masalah demi masalah akan muncul lagi, dan Nayaka menghidari itu.
Queen hampir menitikan air matanya, ia membenarkan alasan Nayaka, saat ia berpisah umurnya masih kecil, kalaupun dia ingat, yang dia ingat pasti rasa marah karna malam itu disaat ulang tahunnya yang ke sepuluh Nisa sudah mengembalikannya secara diam-diam pada Anggraeni, padahal ia berjanji untuk tetap tinggal di rumah rahasia mereka di sebuah dataran Tinggi kota bogor.
"Bagaimana pertumbuhannya?"
Nayaka dan Ridwan menyaksikan kepedihan itu dan mereka juga melihat kerinduan yang luar biasa di matanya.
Ridwan segera menggenggam tangan Queen meremasnya seolah memberinya kekuatan untuk bertahan supaya tidak terlihat begitu rapuh, Queen tidak boleh kelihatan rapuh di depan pria ini karna kelemahannya bisa diketahui oleh musuh.
Nayaka merasa tak kuasa lagi untuk membohonginya, tapi kalau ia mengatakannya, adiknya juga ada di sini artinya mereka akan bertemu kembali, dan saat itu ibunya kembali akan menyusahkan wanita yang selalu dicintainya selama sepuluh tahun ini.
"Jangan khuatir Bintangmu baik-baik saja, dia tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan sehat. Kamu merindukannya?"
Pertanyaan Nayaka tembus ke titik sasaran. Genangan air mata Nisa tiba-tiba berkumpul di pelupuknya, seberusaha kuat Queen menahan air mata itu untuk tidak jatuh dengan mengangkat wajahnya kelangit-langit kafe tapi tidak berhasil.
Segera ia meneguk kembali kopi itu sampai habis dan berkata,
"Ini benar-benar pahit."
Bukan kopi ini yang pahit tapi persaannya saat ini. Pertanyaan Nayaka seakan tembus ke dasar hatinya, selama ini tidak seharipun dalam sepuluh tahun ini lewat dari rasa rindunya, hingga Nisa merasa akan mati karna dibantai oleh kerinduan yang setiap hari datang seribu kali untuk menyiksanya.
Getar suara HP milik Nayaka mengalihkannya.
"Ada apa?" Ridwan Agung bertanya pada Nayaka, seseorang baru saja meneleponnya dalam sekejap wajah tampan itu seperti dihantam badai.
"Keponakanku..."
Nayaka kelepasan kata hingga suaranya menurun, baru saja ia salah bicara dengan mengeluarkan kata keponakannya, kalau tidak diperjelas mungkin saja Nisa akan berpikir tentang Bintang Kecilnya.
"Maksudku, keponakanku, dari kakak perempuanku." ujar Nayaka gugup menatap Nisa yang juga menatapnya seolah menunggunya menyelesaikan dirinya bicara, "Namanya Armanda, keponakanku yang satu ini memang berbeda dari keponakanku yang lainnya, saat ini ia sedang berada di kantor polisi karna terlibat perkelahian di dekat Bundaran HI, kupikir aku harus segera ke sana."
Queen menyipit mengingat kembali kejadian setengah jam lalu di dekat Bundaran HI, beberapa anak muda terlibat perkelahian ternyata salah satu dari mereka adalah keponakan Nayaka yang bernama Armanda Akbar, ia baru inget pemuda berambut panjang yang tadi dikeroyok itu ternyata Armanda Akbar, pantes saja tadi ia merasa pernah melihatnya.
Pemuda itu cukup terkenal bahkan akhir-akhir ini sering jadi perbincangannya di perusahaan sebagai anak yang liar, kurang ngajar, putus sekolah dan sering disebut sebagai generasi Akbar yang terlahir gagal.
"Sepertinya tadi kami berdua melihatnya. Benarkan?" Menatap Ridwan lalu kembali menatap Nayaka dan anehnya keteranganya menambah pucat wajah Nayaka.
"Apa?" suaranya hampir tidak keluar merasa kaget.
"Benar, tadi kami menyaksikan perkelahian itu tapi kami tidak tahu kalau itu keponakan mu?" Ridwan Agung turut menjelas
"Ooh... '' Nayaka bernapas lega karena artinya Nisa sudah tidak mengenali adiknya. "kalau begitu maaf aku harus pergi." Sambil bangkit dari duduknya.
"Tidak apa-apa." Balas Ridwan berdiri bangkit diikuti Queen.
"Lain kali kita pasti bertemu lagi." ucap Queen.
"Kurasa begitu, Aku akan sangat gembira." Jawab Nayaka tersenyum pada Nisa.
"Tentu." Queen tersenyum sinis, "Bahkan mungkin setelah ini kita berdua pasti akan sering berjumpa. Dan aku yakin pertemuan kedua nanti pasti akan jauh lebih menarik."
Nayaka melihat senyuman aneh, beriring kalimat yang keluar itu terdengar nampak seperti sebuah misteri yang sulit ia terka.
__ADS_1