
Mutiara menemui Queen di kantornya sehari kemudian, Mutiara langsung meneriaki Queen dengan kata-kata marah dan menuduh, rasa cemburu yang bergejolak dalam hatinya mengenyahkan rasa sungkan dan takutnya pada sosok Queen Agung.
"Apa yang sudah Tante lakukan pada Armanda!"
Quinisa terkejut dengan sikap Mutiara yang tiba-tiba muncul dengan melemparnya kalimat yang tidak ia mengerti? Namun Nisa merasa khawatir kalau apa yang terjadi diantara ia dan adiknya, gadis ini sudah mengetahuinya.
"Apa maksudmu, Tiara?" ucap Nisa dengan nada khawatir.
"Jangan pura-pura lagi!" teriak Tiara menatapi perempuan yang masih duduk tenang di kursinya. "Tante tahu bukan kalau saat ini Armanda sedang menyukai, Tante?" Terang Mutiara dan saat itu juga ia langsung mendapati ketegangan dari wajah Queen, membuktikan kalau tuduhannya benar. "Tante memang tidak bisa menyangkalnya." Timpalnya lalu mengambil sesuatu di dalam tasnya sebuah handphone milik Nisa yang tertinggal di dekat kolam renang rumahnya. "Apa Tante sudah mendengar ini?" Mutiara membuka pesan suara diperdengarkannya pada perempuan cantik di depannya.
Nisa menitikan air matanya ketika kupingnya mendengar suara adiknya yang terdengar menangis pernyataan cintanya dan permohonannya untuk pulang membuat Nisa tidak dapat lagi menyembunyikan perasaannya dari Mutiara.
Mutiara sempat berpikir kalau Queen yang sangat cerdas tidak akan membuat dirinya konyol dengan membalas cinta Armanda yang usianya sembilan tahun lebih muda darinya, tapi pendapat yang salah karena Mutiara menemukan cinta itu di matanya, cinta yang sama yang ia temukan di kedua bola mata Armanda, dan itu sangat menggelikan bagi Mutiara.
"Kamu menjijikan!" Menurun kembali tangannya yang mengepal handphonenya, "sama menjijikannya dirimu seperti saat ayahku menemukanmu di tempat pelacuran." Maki Mutiara yang mulai tidak bisa mengendalikan diri karena kemarahannya.
"Cukup..!"
Nisa memprotes keras ketika Mutiara mengembalikan ingatannya ke masa delapan tahun lalu. Gadis ini tahu kejadian saat ia terjebak di tempat Melisa saat itu usianya masih dua belas tahun, dia sudah cukup memahami apa yang terjadi saat itu.
Namun selama ini gadis ini selalu berpikir kalau ayahnya sudah membelinya dari tempat pelacuran, walau ayahnya sudah cukup banyak menjelaskan, baginya tetap Nisa adalah seseorang yang sudah dibeli ayahnya dari seorang Mucikari.
"Apa perlu Tante jelaskan kembali kejadian saat itu?" emosi Nisa terpancing.
"Semua orang bisa dengan mudah berkata kalau ia adalah perempuan baik-baik.., tapi sebutan apa bagi perempuan yang dibeli dari seorang mucikari?"
Nisa membisu sementara ia berusaha untuk menahan amarahnya karena bagaimanapun ucapan Mutiara ada benarnya. Apa yang terjadi saat itu ia sudah diselamatkan oleh ayah gadis ini dengan cara dibeli dari tangan Melisa, sejak saat itu ia selalu merasa kalau hidupnya milik Ridwan Agung. Perasaan itu berangsur hilang setelah ia berhasil membayarnya dengan memajukan perusahaannya. tapi kata-kata Mutiara barusan mengingatkan akan perasaan itu lagi.
"Mutiara kamu sudah membuat Tante marah..!" lalu bangkit dari kursinya. "Sekarang apa yang harus Tante lakukan untuk menenangkanmu!"
Mutiara tersenyum puas ia merasa senang dengan pertanyaan itu, menurutnya ini adalah kesempatan baik untuk mengungkapkan keinginannya.
__ADS_1
"Aku ingin, Tante menyuruh Armanda jadi pacarku lagi. Bukankah Armanda sangat suka menurutimu? Itu bukan hal yang sulit untuk membuatnya kembali lagi padaku kalau Tante yang memintanya."
Nisa terpaku lesu setelah mendengar apa yang jadi keinginan gadis itu. Selama ini Nisa selalu merusaha membantu setiap keinginanannya yang sulit ia jangkau, tapi dalam hal ini tidak mungkin baginya untuk membantunya karena tidak hanya dirinya yang akan terluka tapi adiknya mungkin akan lebih terluka lagi.
"Dalam hal ini, Tante tidak bisa membantumu."
"Tante harus melakukannya karena kalau tidak..," berhenti sebentar. "Aku akan memberi tahu Armanda siapa diri Tante delapan tahun lalu?"
Nisa terpaku untuk sesaat mendengar ancamannya yang terdengar cukup membuat dadanya berdebar.
"Lakukan saja sesukamu..." balas Nisa berusaha tenang meski sebenarnya dalam hati ia merasa sangat khawatir bagaimanapun tak bisa dipungkiri ia pernah terkungkung di tempat itu walau tidak lama tapi keperawanannya hilang di tempat biadab itu. "Tante tahu betul siapa Bintang kecilku?" tambah Nisa berusaha menyembunyikan kekhawatirannya padahal ia merasa begitu cemas.
Keperawanannya hilang di tempat itu mungkin adiknya akan bisa memahami karena saat itu di bawah paksaan Melisa. Namun hal pertama yang Nisa takuti adalah adiknya akan mencari Melisa untuk balas dendam dan itu akan mengancam keselamatannya sendiri itulah kenapa Nisa tidak mau menceritakan kejadian tentang delapan tahun lalu padanya.
Mutiara kesal ancamannya tidak mempan tapi begitulah Queen wanita paling keren yang tidak pernah takut apapun, tentu saja karena ia selalu bisa mengatasi masalah apapun kalau mudah diancam bukan Queen Agung lagi namanya mungkin pantesnya juminten.., terdengar lugu untuk bisa diancam.
Tapi Mutiara tidak menyerah ia berusaha mencari cara untuk melemahkannya sepertinya telepon genggam milik Queen akan menjadi ancaman berikutnya.
"Apa yang harus Tante lakukan?"
Nisa menyerah ancaman gadis itu membuatnya merasa takut karena yang akan dipertaruhkan kehormatan adiknya sendiri.
"Sudah ku bilang tadi. Suruh Armanda jadi pacarku lagi. Dia pasti mau menurutimu."
"Baiklah.." Suara Nisa lesu. "Tante akan melakukannya."
"Kalau begitu telepon dia sekarang." menyodorkan hp miliknya pada Nisa. Mutiara tersenyum puas ketika melihat perempuan di depannya mengambil alih hp nya dan kemudian mengikuti perintahnya.
"Tidak diangkat." ujar Nisa menurunkan hp nya dari kupingnya.
Mutiara kesal ia menarik hp dari tangan Nisa dan mencoba sekali lagi menelpon Armanda, tapi sama tidak diangkat.
__ADS_1
"Aku tidak percaya Tante bisa melakukannya di belakangku. Aku mau mendengar sendiri kalau Tante melakukannya untuk ku! Karena kalau tidak..."
Queen tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia angkat tangannya tapi bukan untuk meraih hp miliknya melainkan ia meraih pegelangan tangan Mutiara, kemudian menariknya berjalan keluar.
Dengan memasang wajah kesal Nisa menimpali asistennya.
"Hapus semua jadwal hari ini dan pindahkan ke hari berikutnya!"
Evelin merasa jantungan menyaksikan atasannya keluar dari dalam ruangannya nampak marah besar sambil menyeret tangan Mutiara Agung. Evelin tak berani bertanya apalagi protes meski ada banyak pertemuan penting yang hari ini tidak bisa di undur, selain mengusap dada dan bernapas panjang yang Evelin lakukan hanya bisa bersyukur karena tidak diikut sertakan dalam kemarahannya.
Nisa menyeret Mutiara ke luar dari gedung ini.
"Naik!" tegas Nisa ketika sudah berada di depan mobilnya.
"Tidak mau..!"
Mutiara merasa sangat ketakutan melihat sikap Queen saat ini. Berusaha ia melepaskan diri dari cengkraman tangan Queen. Padahal tadinya ia pikir sudah berhasil membuat wanita ini ketakutan tapi nyatanya saat ini ketegasan wanita ini serta cara dia memerintah tak bisa dihindari, selalu membuatnya sakit perut karena gugup dan takut, tapi seperti inilah Queen bukan Queen lagi namanya kalau tidak berhasil membuat orang tidak mengikuti perintahnya tapi Jumirah mungkin lebih lembut.
"Ku bilang. Naik!"
Suara Nisa tiga oktaf sambil sedikit mendorongnya agar Mutiara masuk mobil, lalu membanting pintu mobil itu setelah dipastikan duduk, kemudian Nisa duduk di sebelahnya untuk menyetir.
Di antara rasa takut melihat kemarahan wanita ini, Mutiara merasa bingung apa yang akan dilakukan wanita ini dengan memaksanya menaiki mobilnya.
Mobil ini sepertinya menuju ketempat di mana apartemen miliknya berada.
Mutiara keluar dengan cara ditarik dari dalam mobilnya sementara dalam hati ia merasa cemas apa yang akan dilakukan wanita ini dengan menyeretnya ketempat ini.
Mutiara terpaku bisu ketika perempuan ini mendorongnya ke pintu apartemen milik wanita ini yang ia yakini Armanda ada di dalamnya. Tapi Mutiara masih belum paham apa maksudnya hingga kemudian perempuan itu bicara.
"Kamu bilang ingin memastikannya sendiri bukan..? Lakukanlah."
__ADS_1