Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
BINTANG REBUTAN


__ADS_3

Lima belas menit sebulumnya.


Nisa berlari mengejar kekasihnya yang sudah sampai gerbang.


"Bintang...." Nisa memanggilnya berhasil menghentikan langkah Armanda.


Armanda berbalik ke arah suara itu nampak Nisa sudah berdiri di depannya kini, perempuan cantik itu tersenyum dan menangis. Armanda menyahut lembut.


"Kakak..."


Quinisa melesat memeluk tubuh kekasihnya, tidak peduli lagi dengan Mutiara yang berdiri di sampingnya.


"Maafkan Kakak, Sayang.., maafkan Kakak karena sudah menduakan pikiranku dengan orang lain..." Tangis Nisa menyesal karena sudah menduakan perasaannya dengan Mutiara hingga membuat pria ini sangat menderita. Nisa melepas pelukannya untuk menatap pandangannya. "Sekarang Kakak percaya kalau keajaiban itu memang ada?"


"Apa keajaiban Mutiara yang tiba-tiba bisa berjalan?"


Untuk beberapa saat Nisa terdiam, Nisa ingin mengatakan kebohongannya kalau selama ini ia dan kekasihnya ini sudah terjebak dalam rencana mereka, tapi Nisa tidak ingin mengatakannya karena itu hanya akan membuat pria ini marah pada gadis itu sementara ketika Nisa lihat wajah gadis itu saat ini terlihat begitu mulai prustasi.


"Ada keajaiban lain?" ungkap Nisa menatap wajah di depannya kembali.


"Benarkah?"


Nisa meraih telapak tangan pria itu dan menggiringnya ke perutnya.


"Kakak.., hamil." ungkap Nisa tersenyum haru.


Armanda tercengang hampir tak percaya keajaiban datang di detik-detik kepergiannya saat ini.


"Oh my God. Benarkah...?" Armanda terpukau kaget sambil menatap perutnya dan beralih menatap wajah Nisa dan tertawa gembira. "Ini luar biasa. Aku.., Aku hampir tidak percaya.., ini bukan mimpikan ,Kak..." ucapnya terbata-bata karena gembira kemudian tertawa melalui hidung. "Aku akan jadi Ayah? Ini benar-benar ajaib..." Armanda tertawa senang hingga menitikan air matanya.


Nisa ikut terharu melihat reaksi calon ayah dari bayi di kandungnya sepertinya perderitaan kemarin terbalas dengan menyaksikan kebahagiannya saat ini.


"Kakak janji mulai saat ini Kakak tidak akan peduli lagi dengan orang lain. Hanya ada Bintang seorang saja yang Kakak pikirkan yang lain Kakak tidak peduli lagi." Sedikit menoleh pada Mutiara dan kembali menatap kedua mata Armanda. "Asalkan Bintang tersenyum. Kakak akan membalas senyuman itu dan mengabaikan semuanya. Walau seluruh dunia menangis di hadapanku Kakak tidak akan peduli lagi." lirih Nisa langsung di balas dengan pelukan erat Armanda.


"Aku bahagia, Kakak..." balas Armanda selepas melepas dekapannya.


"Kita kembali ke bogor, hidup di sana sesuai rencana kita, Bintang mau kan?"


"Tentu saja aku mau Kak, Aku ingin meninggalkan tempat ini, tinggal selamanya di sana menjauh dari kehidupan ini. di sana kita akan selalu bersama tanpa ada lagi yang mengganggu..." ujar Armanda tak terasa meneteskan air matanya.


"Bintang cengeng, kenapa selalu menangis..?" Mengusap air mata kekasihnya.


"Aku tidak percaya akhirnya kita bisa bersama. Ini akhir cerita yang bahagia. Ini bukan mimpi kan, Kak?"


"Tidak, Sayang.., ini bukan mimpi, cerita ini benar-benar telah berakhir bahagia..." balas Nisa yang dibalas langsung dengan pelukan Armanda.


Armanda dan Nisa saling berpelukan erat mereka benar-benar bahagia karena kisah ini akan berakhir bahagia seperti yang selalu mereka dambakan, tak ada alasan untuk berpisah lagi, seorang bayi telah hidup di perut Nisa dan ini keajaiban yang tidak sempat mereka bayangkan. Nisa dan kekasihnya segera saling melepaskan pelukannya ketika mereka menyaksikan seseorang yang mereka kenal mengarahkan pintolnya.


Sang Malaikat memperlihatkan taringnya. Nayaka berhasil mengalihkan pandangan Nisa dan keponakannya ke arahnya.


"Kamu yang membuatku tak punya pilihan lain." lirihnya menatap Nisa. "Nisa aku selalu mencintaimu selama dua belas tahun ini, bahkan sampai aku matipun aku akan selalu mencintaimu. Kamu cinta pertamaku. Kamu orang pertama yang memberi perhatian padaku. Hanya kamu satu-satunya perempuan yang membuatku ingin memilikimu, harusnya kamu kembali padaku dengan begitu tidak perlu aku melakukan ini, semua harus kembali pada tempatnya masing-masing. Ini baru benar..." Beralih menatap wajah Armanda. "Kamu tahu sekali kalau dari ketiga keponakanku kamu yang paling paman sayangi bahkan sampai aku matipun kamu akan tetap menjadi keponakanku yang paling Paman sayang, jika Paman melakukan ini, itu bukan karena Paman marah padamu atau marah pada Nisa tapi Paman hanya mau semua kembali pada tempatnya masing-masing. Ini baru adil bagi banyak orang, Paman sayang padamu..."


Selepas Nayaka menuturkan kalimatnya selepas itu pula peluru meluncur.


DOOORRRRRR.....

__ADS_1


Suara letupan tembakan itu sangat keras tapi Nisa tidak merasa sedikitpun tubuhnya terluka padahal ia sempat merasa pistol itu mengarah kepadanya tapi itu artinya...


Seketika Nisa menjerit ketika ia sadar ternyata peluru itu menancap ke dalam dada kekasihnya, Nisa menangkap tubuh kekasihnya yang ambruk jatuh ke tanah, Nisa histeris ketika ia melihat darah membasahi seluruh baju kekasihnya.


Mutiara sendiri langsung melesat menangis memukuli tubuh Nayaka kemudian menjatuhkan badannya duduk lemas ke tanah. Mutiara merasa akan shock ketika menyaksikan tubuh Armanda jadi sasaran tembak sang malaikat bertaring, pembunuhan tidak ada dalam rencana yang sudah dibuat ia dan Nayaka, namun ia ingat Nayaka pernah bilang kalau semua tidak sesuai rencana maka masih ada jalan kedua. Mutiara tidak pernah menyangka kalau cara yang kedua ini adalah sebuah kematian, kalau saja ia tahu maka Mutiara akan berusaha mencegah ini terjadi.


Armanda merasakan sakit sekali di dadanya ia merasa saat ini peluru itu tepat menancap di jantungnya namun ada yang lebih sakit baginya menyaksikan tangisan kekasihnya yang saat ini telah duduk memeluknya di atas tanah.


"Ka-kak..., jangan.., mena- nangis..," suara Armanda terpatah-patah menyaksikan wajah di atasnya yang sedang menangisinya. "Aku.., mohon jangan.., menangis..." ucap Armanda sambil berusaha mengangkat telapak tangannya menyentuh wajah dan rahang Nisa kembali berkata dengan suara berat dan parau menahan sakit. "Aku.., men.., cintaimu..."


Dalam tangisannya yang ketakutan Nisa mendekapnya semakin erat dan menciumi wajahnya sambil menangis.


"Kakak juga sayang.., Kakak juga..."


Armanda tersenyum dalam kesakitan, sementara keringat dingin mulai membasahi keningnya, bibirnya mulai kelu membiru pelan-pelan wajahnya memucat karena kehabisan darah.


"Aku ingat.., kalau.., Kakak.., masih berhutang.., padaku..." ucapnya parau dan terpatah-patah menahan sakit.


"Katakan apa, Sayang..." Tangis Nisa dalam ketakutan yang luar biasa.


"Sepuluh.., tahun., waktu yang.. hilang. Aku, ingin.., Kakak.., membayarnya.., berjanjilah padaku.., Kakak, akan, hidup untukku. Jagalah.., anak.., kita, seperti, Kakak.., menjagaku.., di waktu kecil..."


"Jangan bicara seperti itu kita yang akan membesarkan anak kita bersama-sama..."


"Sepertinya.., Tuhan.., sedang, merindukan.., Aku.., berjanjilah.. Kakak akan tetap hidup untukku?"


"Tidak. Kakak akan menemanimu. Kakak tidak akan membiarkan Bintang berjalan sendirian lagi. Kakak akan ikut denganmu. Kakak tidak bisa hidup tanpamu."


"Jangan berkata begitu.., anak kita harus hidup.., Kakak harus.., hidup.., demi aku.., bertahanlah, sampai.., Aku menjemputmu..."


Dalam sekejap satu persatu para tamu dari taman berlakang mulai bermunculan, namun tidak ada yang berani mendekat ketika menyaksikan sang malaikat bertaring itu masih memegangi pistol di tangannya. Anggraeni berdiri lemah dalam kerumunan orang-orang, Anggraeni tak berani melihat ternyata cucu kesayangannyalah yang jadi sasaran untuk mati bukan Nisa atau keduanya.


"Jangan..," protes Armanda lemas hampir tidak terdengar. "Jangan.., biarkan, mereka mendekat.., biarkan.., Aku seperti ini, Aku tidak, punya.., banyak waktu.., lagi.."


Armanda berusaha tersenyum di antara rasa sakitnya. Ia tahu saat ini Izroil sudah berada di dekatnya hendak mencabut nyawanya. Ini detik-detik terakhir ia bersama Nisa sekuat tenaga Armanda berusaha menarik nafas yang sudah berat.


"Aku ingin.., Kakak bernyanyi.., lagu Bintang kecil, untukku, sepertinya.., Aku..., ingin tidur..."


"Kakak tidak mau..." Tangis Nisa pecah menggeleng ketakutan karena Nisa merasa permintaan itu seolah memintanya mengantarkannya pada sebuah tidur panjangnya dan itu sangat menakutkan hingga seluruh tubuh Nisa bergetar.


"Aku.., mohon..."


"Tidak mau, Kakak tidak mau. Jangan tidur, Kakak mohon jangan tidur..."


Suara Armanda hampir tidak terdengar tapi kemudian ia berteriak pelan menyusupkan wajahnya ke dada Nisa menekannya, menahan rasa sakit yang luar biasa. Nisa ketakutan setengah mati, cengraman kuat di punggung dan bahunya membuktikan kalau kekasihnya saat ini dalam keadaan sekarat, Nisa mendekapnya lebih kencang seolah berusaha melindungi dari Izroil.


"Jangan.., jangan..." Dekap Nisa menpererat pelukan tubuh kekasihnya, Nisa merasakan tangan Izroil sedang berusaha menariknya. "Jangan ambil Bingtangku, Tuhan tidak boleh mengambilnya. Bintang miliku tidak boleh ada yang mengambilnya. Pergi..! Kubilang pergi..!" Teriak Nisa ketakutan semakit mendekap tubuh kekasihnya semakin erat. "Jangan tinggalkan Kakak.., Jangan tutup matamu, Bintang anak yang kuat, Bintang harus hidup..."


"Kakak.., izinkan aku tidur, ini sakit sekali..."


Suara Armanda hanya terdengar ke kuping Nisa saja. Nisa menangis hingga suaranya hampir tak keluar lagi, Nisa lemah mendengar suara parau kekasihnya, Nisa tidak mau pria ini kesakitan dan pergi sebelum permintaannya terkabul.


Dengan deraian air mata dan bibir kelu Nisa mulai bernyanyi lagu yang saat kecil digunakannya sebagai lagu pengantar tidur. Bintang kecil karya ibu Meinar Loueis ketika dinyanyikan oleh anak-anak terdengar mengembirakan namun saat dinyanyikan oleh Nisa akan terdengar sangat menyentuh hati dan menyedihkan dan Nisa merasa tubuhnya akan mati ketika sampai di lirik terakhir.


Aku ingin.., terbang dan menari.., jauh tinggi ke tempat kau berada...

__ADS_1


Tangis Nisa kembali mengencang di lirik terakhir itu ketika ia menyaksikan kedua mata kekasihnya mulai menutup dan kedua tangan yang melingkar di pundak dan punggungnya terlepas dan Nisa menangis berusaha membangunkannya.


"Bintang nakal, kenapa begitu cepat tidur, cepat bangunlah.., Kakak sudah tidak bisa menggendongmu lagi seperti dulu, cepat bangun, pagi-pagi kita pulang ke rumah rahasia kita. Kita tinggal di sana kita tidak perlu kembali ke sini, di rumah rahasia kita tidak ada orang yang mengganggu, cepat bangun dulu, cepat bangunlah.., Sayang.., jangan bercanda seperti ini. Ini tidak lucu..."


Tangis Nisa berharap pria dalam pelukannya bangun sementara ia tahu kalau kekasihnya itu telah pergi. Tangan Izroil sudah mengambilnya. Nisa menjerit sambil mendekapnya.


BINTAAAAAANGGG


Tangisannya seolah memecah hingga ke langit ke tujuh. Langit tiba-tiba mengeluarkan air matanya seakan ikut menangisi kepergian belahan jiwa Nisa. Sebentar Nisa tatapi sekitarnya dan ia sadar kalau di gerbang ini dulu ia kehilangan adiknya sebelas tahun lalu, saat itu Nayaka membawanya pergi memisahkannya darinya dan saat ini Nayaka juga yang melakukannya hingga membuat Bintangnya harus pergi meninggalkannya. Sekali lagi Nisa kembali harus kehilangannya di tempat ini di tempat yang sama seperti sebelas tahun lalu.


Nisa selalu menunjuk dirinya sebagai orang yang paling mencintai pria ini dibanding siapapun juga yang terdapat di muka bumi ini, bahkan Nisa sering berkata perasaan sayangnya pada pria ini melebihi Tuhan, Nisa benar-benar merasa menyaingi Tuhan dan ia tidak sadar kalau cinta Tuhan lebih besar dari segala cinta yang ada di muka bumi ini, Nisa lupa kalau Tuhan adalah sang pencipta, dia bisa mengambil kembali miliknya termasuk belahan jiwanya.


Bintang Rebutan itu telah mati dan Tuhan sendiri yang mengambilnya, puluhan mata ikut menangisi kepergiannya sementara Nayaka tidak menyesal karena ini adalah pilihan terakhir. Semua harus kembali ketempatnya masing-masing sesuai aturan dari awal, kematian keponakannya adalah keadilan bagi semua orang, tidak hanya akan memberikan penderitaan untuk Nisa saja tapi untuk Anggraeni, Mutiara dan pastinya untuk dirinya juga dan seluruh orang yang mengidolakannya. Sengaja ia tidak memilih Nisa yang mati karena itu tidak adil untuk Armanda saja. Menurut Nayaka itu adalah keadilan walau tidak akan ada satu orangpun di dunia ini yang bisa membenarkannya.


Sepuluh tahun Nisa merangkak sendiri berpijak pada bumi yang kering, meronta dalam kesakitan, hujan, badai semua telah lewat dalam jiwa Nisa, yang ada adalah kemarau panjang dalam buratan wajah lelah Nisa menghadapi kesepian hidup dengan jiwa yang sudah lama lelah.


Nisa berjalan menatap sekitar. Rumah yang dulu rahasia kini sudah jadi tempat hunian yang indah dan menyejukan. Tempat hunian seperti inilah yang dulu kekasihnya inginkan dan Nisa mengabulkannya dengan membuat rumah-rumah kecil disekitanya, dihuni oleh setiap kepala keluarga yang tidak mampu.



di bawah pohon cemara Nisa berjongkok di depan pusara kekasihnya yang terletak di samping rumah ini, di sampingnya ada kuburan kecil yang di dalamnya terdapat peti mainan yang telah di kubur oleh adiknya sendiri ketika masih hidup. Kuburan kecil itu kini nampak menjadi teman dalam tidur panjang kekasihnya.


Sebuket mawar Nisa simpan di atas kuburan kekasihnya yang terdapat batu Nisan bertuliskan nama Armanda Bintang di antara senyumannya yang sakit Nisa berkata,


"Jemputlah Kakak, sebelas tahun lagi, Kakak akan menunggumu di tempat kita ini, Kakak merindukanmu..."


Seseorang melingkarkan kedua tangan kecil ke leher Nisa dari belakang. Nisa menoleh, dan ia melihat seorang pria berumur sepuluh tahun yang memiliki mata indah serta senyumannya yang menawan memeluknya dari belakang. Pria kecil itu tersenyum dan menyahutnya manja.


"Bunda..."


Nisa memutarkan badannnya tanpa berdiri, Ia meraba pipi anak itu dengan kedua tangannya, wajahnya tampan dan mungil, setiap kali melihat wajahnya mengantarkannya pada adik kecilnya saat berusia sepuluh tahun wajah yang persis sama. Adik kecilnya seolah hidup kembali dalam diri putranya bahkan Nisa sengaja menamai putranya dengan nama yang sama. Nisa menyahut dengan lembut,


"Bintang Kecilku..."


"Bunda.., setiap hari Bunda mendatangi pusara ayah untuk mendoakannya. Pagi, siang, sore dan malam, Bunda pasti nengok ayah ke sini, boleh Bintang tanya sesuatu?"


"Boleh. Bintang mau tanya apa?"


"Siapa yang lebih Bunda sayang? Ayah atau Bintang?"


Nisa terdiam untuk sesaat lalu tersenyum lembut menyentuh pipi si kecil di depannya, ia menatap kedua  mata pria kecil itu seolah menembus ke masa lalu tentang adik kecilnya saat berusia sepuluh tahun. Nisa menjawab lembut.


"Bintang Kecilku..."


Nisa melihat bibir kecil putranya tersenyum gembira dan puas membalas jawabannya. Nisa merasa melalui putranya ini Nisa akan membayar hutang waktu yang pernah hilang selama sepuluh tahun tanpa adiknya dahulu. Nisa akan bertahan sebelas tahun lagi sampai usia pria kecil ini dua puluh satu tahun, menunggu di rumah ini hingga kelak Bintangnya memanggilnya?.


 


THE END


TERIMA KASIH UNTUK PARA READER YANG SELALU SETIA MENUNGGU NOVEL SAYA, MAAFKAN PENULIS KARENA TIDAK BISA MEMENUHI KEINGINAN KALIAN UNTUK MENGAKHIRI CERITA INI DENGAN HAPPY ENDING, JALAN CERITA INI SUDAH SAYA BUAT DARI TAHUN 2005 DAN SAYA TIDAK DAPAT MENGUBAHNYA. MUNGKIN KALIAN BERTANYA KENAPA PENULIS MEMILIH BINTANG YANG MATI BUKAN NISA ATAU KEDUANYA, KARENA DARI AWAL BINTANG SELALU JADI REBUTAN, SEMUA ORANG SELALU MERASA PALING BERHAK DAN MEREKA LUPA KALAU TUHAN ADALAH SANG PEMILIK.


SEANDAINYA NOVEL INI BISA KETERIMA KONTES ATAU KOTRAK MAKA SAYA AKAN MEMBUAT BAGIAN DUANYA, TENTANG CERITA BINTANG KECIL YANG KEDUA DENGAN MUTIARA SEBAGAI PASANGANNYA. TAPI JIKA TIDAK BERHASIL SEMUA AKAN TERHENTI SAMPAI DI SINI, TAPI SAYA TIDAK TERLALU MULUK-MULUK MENANG ATAU TIDAK MENANG BUKAN ITU TUJUAN SAYA, SAYA SUDAH CUKUP SENANG MEMILIKI PEMBACA SETIA SEPERTI KALIAN. TERIMAKASIH SEMUA.


 

__ADS_1


__ADS_2