Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
KULIAH


__ADS_3

Sejak pertemuannya kembali dengan kakaknya, Armanda tak punya kegiatan lain selain bangun pagi mengikuti kakaknya kerja. Sekedar membuatkan kopi untuknya dan sesekali menjadikan bahunya sebagai sandaran kakaknya, saat kakaknya merasa lelah bekerja.


Nisa senang karena selama dua minggu ini selalu ada yang menemani tapi kini ia berpikir kalau seperti ini terus juga kurang baik. Adiknya harus memiliki kegiatan yang lebih bermampaat untuk masa depannya. bagaimana kalau mendaptarkannya kuliah?


"Kuliah...!"


Armanda cukup terkejut mendengar keinginan kakaknya untuk kembali ke sekolah tinggi mengingat selama ini ia tidak pernah suka belajar, bahkan omahnya harus merangkak sepuluh ribu mil pun ia tidak mau melakukannya.


Armanda selama ini ia tidak memiliki cita-cita apapun selain ingin bertemu kembali dengan kakaknya dan setelah keinginan itu terkabul yang saat ini ia pikirkan hanya ingin menghabiskan waktu bersama Nisa tak berpikiran yang lain.


"Kenapa?Tidak mau yah?" ujar Nisa mengangkat kepalanya dari pundak adiknya.


"Bukannya begitu. Tapi..., Kakak tahu sendiri aku tidak begitu pintar belajar." ujarnya beralasan sambil menatap wajah kakaknya yang duduk di sebelahnya.


"Padahal kelak kalau kakak sudah tua dan merasa lelah, Bintang yang harus menjaga Akbar Group, tapi Bagaimana kalau tidak mau belajar dari sekarang?"


Nisa sengaja memperlihatkan kekecewaan, memancing keinginannya untuk kuliah, bagaimanapun enam puluh persen miliknya kelak perusahaannya di sini akan ia berikan atas nama adiknya juga.


Armanda terdiam sejenak. Lalu berkata.


"Aku lebih suka tinggal di rumah bersama Kakak dari pada harus menghabiskan waktu bekerja untuk perusahaan besar seperti ini." menatap ruangan kantor ini.

__ADS_1


"Kakak juga sama lebih suka menghabiskan waktu bersamamu di rumah saja, tapi kalau tidak begini perusahaan akan bagaimana?"


Armanda terdiam sebentar membenarkan kata-kata kakaknya bagaimanapun Akbar group adalah tempat mencari uang. tidak bisa ditinggalkan begitu saja dan kalaupun harus dipercayakan pada seseorang harus benar-benar dipercayakan pada orang yang mampu menangani perusahaan dengan baik seperti kakaknya.


"Kakak ingin aku sekolah. Agar nanti aku bisa gantiin Kakak di sini."


"Iya rencananya begitu tapi kalau Bintang keberatan Kakak tidak akan memaksa."


"Kakak lelah yah." ucap Armanda dengan nada iba. Dan ia melihat kakaknya mengangguk.


"Tapi mau gimana lagi Kakak harus tetap di sini karena tidak ada yang bisa menggantikan Kakak." ujarnya bernada kecewa.


"Ya sudah deh, Aku mau sekolah."


"Benarkah?" Nisa terpukau senang.


"Iya. Kakak benar," mengusap pipi kakaknya lembut. "Selama ini Kakak pasti merasa lelah bekerja sepanjang hari. Sudah seharusnya tidak seperti ini. Sekarang sudah ada aku. Sudah selayaknya aku yang cari uang buat Kakak." Beralih memegang kedua tangan Nisa dan tersenyum. "Sekarang aku mau belajar, Aku ingin pintar seperti Kakak biar nanti aku bisa bekerja di sini menangani perusahaan ini menggantikan kakak, dan Kakak bisa istirahat di rumah menungguku pulang kerja itu pasti lebih mengasyikan. Iyakan?" ujarnya bersemangat dan Nisa membalasnya dengan pelukan gembira.


Nisa merasa gembira dengan keputusan yang diambil adiknya. Universitas tempat belajar Nisa dulu menjadi pilihan adiknya selain itu Universitas ini adalah tempat di mana Mutiara belajar saat ini.


Universitas ini adalah pilihan tepat menurut Nisa karena dengan begitu ia bisa meninjau perkembangan belajar keduanya secara bersamaan seperti yang selama ini ia lakukan pada Mutiara, tentu saja dengan cara pengawasan yang berbeda? Nisa tidak akan menuntut adiknya seperti bagaimana ia menuntut Mutiara untuk belajar sangat serius.

__ADS_1


Sebenarnya Nisa sudah mengadakan kerjasama dengan para Dosen di sini dan setiap tiga bulan Nisa akan menanyakan perkembangan Mutiara ke Dekan.


"Perkembangan Mutiara tiga bulan ini semakin baik. Kamu jangan khuatir percayakan saja pada para dosen di sini kami akan tetap bersikap tegas kepadanya seperti apa yang kamu suruh." ujar pak Budi salah satu mantan dosennya yang dulu ikut mengajarnya saat dirinya jadi mahasiswa.


Nisa bisa cukup lega dengan pernyataan mantan dosennya kali ini. Kerjasamanya dengan pihak Universitas berhasil. Terpaksa Nisa melakukan ini pada Mutiara karena selama ini hidup Mutiara terlalu santai sementara tanpa ia tahu kalau ayahnya saat ini diponis dokter sakit jantung itulah alasan kenapa dua tahun ini Nisa memperketat kehidupan Mutiara.


Nisa sebenarnya sangat mencemaskan masa depan Mutiara kelak jika ayahnya tiada. Mutiara memang tidak pernah mengalami kesulitan bahkan dulu saat ayahnya mengalami kesulitan perusahaan, ayahnya sengaja mengirimnya ke Inggris dan kembali setelah perusahaannya maju jadi dia benar-benar tidak pernah mengalami kesulitan apapun selain pernah merasakan sakitnya kehilangan ibu saat usianya sepuluh tahun.


Kehidupan Mutiara bertolak belakang dengan Nisa. Penderitaan demi penderitaan yang menimpah Nisa kala itu justru memacunya untuk mandiri. Belajar adalah wadah untuk mencapai Ambisinya dan kehidupan kejamlah yang menuntunnya menjadi seperti sekarang ini. Lain dengan Mutiara hidupnya nyaris tanpa kesulitan sehingga membuatnya menjadi manja dan santai tanpa mau mandiri, yang Nisa cemaskan bukan saat ini melainkan nanti karena kata dokter kematian mendadak bisa kapanpun menyerang ayahnya jadi sebelum hal buruk itu terjadi Nisa memakai cara ini untuk menanganinya, tegas serius dan tanpa kompromi.


Keseriusan yang Nisa tanamkan kepada Mutiara biar Mutiara menjadi dewasa, dan kelak jika ayahnya sudah tidak ada di sampingnya lagi ia sudah memiliki persiapan diri dan sanggup meneruskan sebagai pemilik PT Mulya Agung, itulah alasan kenapa selama dua tahun ini Nisa selalu keras kepadanya.


Seorang dosen bertanya apa ia harus memperlakukan Armanda seperti memperlakukan Mutiara? Maka saat itu Nisa menjawab.


"Tidak perlu. Sewajarnya saja."


Nisa memiliki jawaban sendiri tentang ini.


"Karena Bintangku selamanya akan memiliki aku, Aku akan selalu berdiri di sampingnya kelak aku akan memberitahu sesuatu yang tidak diketahuinya membantu segala kesulitannya aku akan membiarkan ia tetap memegang tanganku membiarkan pundakku jadi sandaran selamanya karna hati dan jiwaku akan ku abadikan untuknya. Jadi masa depannya ada bersamaku dia tidak membutuhkan ketegasan apapun selain kelembutan hatiku."


Nisa keluar dari kantor dekan setelah mendaptarkan adiknya kuliah di sini, diantara langkahnya yang sedikit anggun Nisa terhenti ketika ia melihat adiknya dari jauh nampak sedang dikrubuti para gadis yang mau berkenalan dengannya. ternyata benar adiknya yang selalu manis di depannya itu selalu menjadi idola di manapun dia berada. Dia terkenal tidak hanya di instagram tapi di kehidupan nyatapun sama.

__ADS_1


Nampak terlihat lucu menyaksikannya sibuk seperti ini tapi untungnya ada Mutiara yang nampak menjaganya berlaku seperti bodyguar  artis Hollywood.


Nisa kembali ke kantor setelah melambaikan tangan dari jauh pada adiknya yang membalasnya dengan lambaian yang sama.


__ADS_2