Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
QUEEN AGUNG


__ADS_3

Armanda sempat tersentuh dengan nama "Queen" karena nama itu mengingatkan akan nama depan ibunya dan nama depan kakaknya, walau secara penulisan huruf berbeda, ibu dan kakaknya memiliki nama depan dengan ejaan Quin sementara pemilik enam puluh persen Akbar Group memiliki nama depan dengan ejaan Queen tapi tetap saja kalau dibaca menjadi Quin.


Queen Agung. Kabarnya dia wanita yang Ambisius, kejam dan tidak berperasaan dalam berbisnis, tapi mungkin karna itulah ia begitu hebat hingga sanggup mengambil alih enam puluh persen Akbar group yang notabene adalah perusahaan besar milik keluarga besar Akbar, dan hebatnya lagi wanita itu sanggup membuat seorang Anggraeni Akbar tidak berdaya.


Armanda mengacungi jempol untuk wanita itu, sepertinya dia telah menjadi saingan terbesar Anggraeni saat ini, bisa dilihat bagaimana di rumah ini nama wanita itu selalu menjadi  bahasan makan malam antara Anggraeni dan Nayaka.


Ada hal lucu. Armanda merasa wanita itu sama sekali tidak menghargai Anggraeni. Berulang kali Anggraeni mengundangnya secara khusus ke rumahnya dalam membahas mengenai perusahaan namun wanita itu tidak pernah hadir, padahal dia adalah sosok yang paling penting bagi Anggraeni saat ini, dan yang lebih dirasa menyebalkan, wanita itu tidak pernah menunjukan batang hidungnya setiap kali Anggraeni dan Nayaka datang ke gedung Akbar group.


Seperti halnya Anggraeni, Armada juga merasa penasaran dengan sosok perempuan itu, Queen Agung dia sama sekali tidak aktif di sosial media dan tidak ada satupun media yang berani mengekpos wajah wanita itu, kabarnya ia menolak gambar dirinya dipublikasikan, bahkan di data identitas perusahaan ia sengaja tidak melampirkan potonya, jadi Armanda dan keluarganya sama sekali tidak tahu wajah wanita bernama Queen Agung itu seperti apa, yang jelas ia bertindak sesuai namanya.


Armanda mentertawakan dirinya sendiri ketika berpikir kenapa ia jadi ikut sibuk memikirkan wanita itu? Bukankah saat ini ia harus tetap pokus untuk mencari Malaikat pelindungnya di waktu kecil, yang sudah sebulan ini sejak ia datang ke Indonesia belum juga mendapat titik terang.


Malam ini Armanda menerima ajakan Mutiara siang tadi untuk ke apartmennya. Baru sampai pintu apartmen. Mutiara memberinya kejutan.


"Suprise..."


Armanda terkejut ketika kedua matanya langsung pokus pada ruangan apartment yang sudah dihias indah dengan berbagai macam balon dan pita, sampai di sini ia baru ingat kalau malam ini adalah malam ulang tahunnya yang ke 20.




Mutiara menyeringai puas menunjukan hasil hiasan pada pemuda yang kini nampak terpaku menatap ruangan apartmennya.


"Gimana lo suka?baguskan?"


Sejak dari SMP Mutiara tidak pernah melewatkan hari ulang tahunnya, moment ulang tahun Armanda, yang selama ini dilupakan keluarganya.


Keluarga Akbar benar-benar sudah mengambil jati diri sahabatnya itu sampai hari ulang tahun yang sebenarnyapun diubah disesuaikan dengan ulang tahun perusahaan.


Mutiara tidak pernah tahu apa alasannya yang jelas saat SMP dulu Armanda selalu merayakan ultahnya sendirian secara diam-diam. Mutiara selalu menemaninya walau disetiap ultahnya Armanda selalu terhanyut dalam kesendirian.


Beberapa tahun belakangan Armanda selalu berusaha tidak ingin mengingat hari ulang tahunnya karena setiap kali ulang tahunnya datang kenangan masa lalu selalu membuatnya ingin menangis, di malam ulang tahunnya yang kesepuluh momen indah sekaligus menyakitkan itu selalu merasuk dalam jiwanya yang  meronta.


"Pasti menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk bisa menjadi seperti ini."


"Lumayan, dua hari dua malam gue habiskan waktu ngerjain ini, nggak masalah sih yang penting gue puas dengan hasilnya, gimana lo suka kan, Boy?"


Boy kependekan nama dari Badboy, panggilannya sewaktu tinggal di Inggris.


Sebenarnya Armanda tidak begitu suka dengan hiasan-hiasan seperti ini, Armanda tidak suka ulang tahunnya dirayakan bersama orang lain, tanggal 4 april baginya adalah malam sakral, ia hanya ingin merayakan ulang tahunnya bersama kakaknya saja makanya Armanda tidak menolak saat Anggraeni mengubah tanggal dan bulan lahirnya disamakan dengan perusahaan.

__ADS_1


Teng...Tong...


Suara bell mengalihkan Mutiara sebelum Armanda menjawab pertanyaannya. Mutiara berlari keluar dengan memasang wajah sumringah sepertinya kejutan yang sesungguhnya yang sejak tadi ia tunggu sudah datang. Sesaat kemudian ia kembali dengan membawa kotak kue di tangannya yang diberi pita berwarna biru.


"Kue ultah nya baru nyampe."


Mutiara berjalan ke arah meja dan menyimpan kotak kue itu di atas meja  di hadapannya, disusul Armanda yang hanya menatap gadis itu tanpa banyak bicara.


Mutiara terkejut ketika ia membuka dus kue itu isinya sangat berbeda dengan kue yang ia pesan, ini bukan kue ulang tahun yang ia pesankan tadi di toko kue online. Mutiara hendak protes keras tapi tiba-tiba ia terpaku ketika menyaksikan pria di depannya justru nampak tersenyum menyukainya, dan ini sesuatu yang langka bahkan belum pernah terjadi. Reaksinya kali ini tidak biasa, sangat berbeda, senyumnyanya kecil bibirnya terlihat bergetar dan tiba-tiba air matanya menetes ntah apa yang terjadi dengan kue ini, kenapa reaksi Armanda begitu dramatis.


Kue tart berbentuk Bintang berukuran kecil yang baru saja di buka Mutiara berhasil menghanyutkan hati Armanda kemasa lalunya tentang kakaknya.


"Cantik sekali." ucapnya sambil mendudukan pantatnya di kursi sementara pandangannya tidak bergeser sedikitpun dari kue cantik di depannya.




"Thanks..., '' senyumnya pada Mutiara, kembali memandangi kue yang membuatnya merasakan sekali kehadiran sang kakak "Aku sangat menyukainya?"


Mutiara merasa terharu karna di moment ini sudah berhasil membuat mantan pacarnya ini bahagia. Hingga Mutiara tak mungkin bisa protes kalau sebenarnya kue ini bukanlah kue yang ia pesan.


"Syukurlah kalau lo suka. Itu emang rencana gue bikin lo senang malam ini, Boy."


Mutiara gugup dengan pertanyaanya itu, tak mungkin bilang kalau kue ini bukan kue miliknya, kebenaran itu pasti akan merusak kebahagian momen ini, Armanda sudah terlanjur menyukainya.


"Karna...," Mutiara bingung mencari jawaban tapi tiba-tiba ia ingat bukankah nama kecil pria ini Bintang Kecil, bukankah ini kebetulan, sesuai dengan bentuk kue nya. "Gue tahu nama kecil lo Bintang Kecil jadi gue mencari kue yang sesuai dengan nama kecil lo, Boy."


Armanda semakin terharu, ia semakin merasakan kehadiran kakaknya, jawaban dan alasan yang sama, dulu kakaknya selalu merayakan ulang tahunnya dengan memberinya kue berbentuk bintang kecil disesuaikan dengan namanya.


"Terima kasih.'' Armanda nenatap Mutiara melempar senyuman haru.


"Kamu tahu, Aku benar-benar bahagia malam ini."


Mutiara sangat bahagia karna sudah berhasil membuat si badung ini bahagia malam ini yang membuatnya nampak begitu manis.


Teng...Tong...


Suara bell berbunyi lagi, diikuti suara sahutan.


"Tiara. Buka pintunya, ini Tante."

__ADS_1


Oh Tuhan...! Pekik Mutiara dalam hati karna pemilik suara itu adalah..? Perempuan yang paling menakutkan di dunia ia berpolah seperti namanya semua orang akan bertekuk lutut padanya saat ia berbicara itu akan seperti perintah, siapa lagi kalau bukan orang yang mengganggu hidupnya selama dua tahun ia di sini, dia adalah sang Ratu Agung.


"Lo harus sembunyi? ujar Mutiara takut.


"Siapa? '' Armanda bingung melihat kepanikan gadis di depannya.


"Cepat sembunyi dulu nanti gue jelaskan.'' Mendorongnya ke teras balkon apartemen berserta kue ulang tahunnya lalu menutup pintunya.


Mutiara berlari membuka pintu dengan perasaan panik karna ia tahu seseorang di luar sedang menunggunya. Dan ia terpaku hampir aja pingsan ketika ia sadar pesanan kue miliknya yang asli ketukar dengan perempuan ini, perempuan yang selalu cantik dalam situasi apapun, bahkan saat tidurpun ia akan nampak cantik sekalipun bikin pulau dalam bantalnya.


Astagaaa, Mutiara jadi merasa takut ketika perempuan itu menyodorkan dus kue yang bertuliskan toko kue yang tadi ia pesan melalui WA, dengan gugup dan terbata-bata Mutiara mengeluarkan kalimatnya.


"I-iya. Tante. A- ada, A-apa...?" Suara Mutiara terbata-bata.


"Mutiara, pesanan kita tertukar, ini pesananmu, kan? Tante sudah tanyakan pada pemilik toko. Kamar kita bersebelahan. Jadi ada kesalahan pengiriman."


Mutiara bingung berpikir kalau ia tidak mungkin menukar kue itu. Armanda begitu terharu  dengan kue itu dan ia sangat menyukainya, tidak mungkin ia mengambilnya kembali dan menukarnya dengan kue ini yang sebenarnya tadi yang ia pesan.


"Maaf.., sepertinya...,'' menggaruk-garuk kepala bingung apa yang harus dikatakan.  "Aku tidak bisa mengembalikan kuenya. Karna..."


Armanda menyukainya sama saja ia bunuh diri kalau mengatakan itu, kalau sampai wanita ini tahu ada pria di kamarnya bisa celaka dua belas. Teringat kejadian satu tahun lalu, ketika ia membawa teman prianya ke dalam apartemenya lalu ketahuan perempuan ini. Mutiara tidak akan pernah melupakannya bagaimana saat itu ia menyeret teman prianya dan mempermalukannya. Yang membuat Mutiara berhenti marah karna dua hari kemudian ketahuan pria itu memang brengsek dia menginginkan uangnya saja.


Queen menemukan keanehan dari sikap gadis tomboy di depannya, ia nampak sedang menyembunyikan sesuatu tepatnya seseorang di dalam kamarnya, bagaimana tidak kue yang ia pegang saat ini adalah kue ulang tahun berikut ada lilin angka 20 di dalamnya, dan seingat Queen ini bukan hari ulang tahun gadis ini berarti...


"Ada siapa di kamarmu?"


Pertanyaannya tenang namun menuduh berhasil membuat Mutiara merasakan salto pada tubuhnya. Mutiara benar-benar merasa takut wanita ini akan memperlakukannya Armanda seperti memperlakukan teman kencannya setahun yang lalu? Tapi Mutiara tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada Armanda, Ia akan berusaha mencegahnya.


"Dia hanya temanku. Tante tidak boleh menyakitinya.'' ujar Mutiara panik buru-buru menjaga pintunya agar wanita ini tidak masuk. "Aku pastikan yang aku bawa ini pria yang paling baik, dia tidak akan berani apa-apa padaku, dan aku juga sudah cukup besar untuk menilai mana yang baik dan mana yang tidak baik untukku, jadi Tante tidak usah berpikir kalau pria ini akan menyakitiku?"


Queen membisu sepertinya untuk kali ini ia tidak bisa protes lagi, selama ini ia sangat mengkhawatirkan Mutiara? Queen selalu merasa takut Mutiara jatuh cinta pada orang yang salah, tepatnya Queen merasa takut Mutiara seperti dirinya yang pernah jatuh cinta pada orang seperti Nayaka, yang mempermainkannya hingga ia tak percaya lagi dengan adanya cinta pria dan wanita. Sejak saat itu ia hanya mengabadikan cinta dan kasihnya untuk Bintang kecilnya saja seorang.


Mungkin sudah waktunya untuk tidak perlu lagi mengendalikannya seketat itu, gadis ini sudah lebih dewasa sekarang dia bisa cukup tahu mana yang baik untuknya dan mana yang tidak baik untuk hidupnya? Nisa tersenyum setelah bermonolog dalam hatinya.


''Apakah ini hari ulang tahunnya?"


Mutiara menggangguk takut.


"Baiklah. Kue itu untuknya. Katakan selamat ulang tahun padanya."


Mutiara terpaku hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar dari bibir perempuan itu, dalam sekejap perempuan yang paling menakutkan menurutnya nampak berubah hangat dan lembut sepertinya kata-katanya tadi berhasil melemahkannya.

__ADS_1


"Terima kasih. Tante."


Mutiara tidak tahu sebenarnya yang membuat Queen lemah adalah hari ulang tahun pria di kamarnya. Itu mengingatkan pada hari ulang tahun adiknya yang jatuh pada malam ini. Hari ini adiknya berusia dua puluh tahun dan itu persis sama dengan hari ulang tahun teman Mutiara yang ada di kamarnya saat ini.


__ADS_2