
Pagi ini aku dan ketiga bestie'ku sudah bersiap untuk joging, lebih tepatnya mau melihat keadaan rumah Wira seperti apa.
Jujur aku merasa penasaran dengan rupa dari ibu tiri Wira, kenapa dia tega sekali membunuh Wira?
Padahal, kalau mang dia tidak mau mengurus Wira, dia bisa mengirim Wira ke asrama. Atau mungkin menyekolahkan Wira di luar negeri atau di luar kota.
Walaupun terkesan kejam, tapi terasa lebih baik jika harus membunuh bukan? Rasanya, ibu tirinya Wira itu seakan tidak punya hati.
"Sudah siap guyz?" tanyaku pada ketiga temanku.
"Siap, dong!" jawab Mario dan juga Naura.
"Lex, kok elu diem bae?" tanyaku.
Alex tersenyum, kemudian dia menganggukkan kepalanya. Aku ikut tersenyum, lalu aku peluk lengan kanannya.
"Kalau begitu, kita berangkat," ajakku.
"Kuy, lah." Naura langsung menarik tangan kiri Alex, hal itu membuat pelukanku di tangan Alex terlepas.
Aku tersenyum, lalu ku hampiri Mario dan kami pun berjalan beriringan. Sebelum pergi, tentu saja kami memutuskan untuk berpamitan terlebih dahulu kepada ayah dan bunda.
Beruntung ayah dan bunda mengizinkan, malah mereka terlihat mensupport kegiatan kami. Karena menurut ayah dan bunda, kegiatan yang kami lakukan adalah hal yang positif.
"Eh, kita naik mobil aja, Nes. Kalau udah deket rumahnya si Wira baru kita jalan, pura-pura joging gitu," kata Naura.
Aku mengambil ponselku, lalu ku masukan alamat rumah yang Wira ucapkan kepadaku. Ternyata jarak dari rumahku hanya satu kilo meter saja.
Aku menunjukkan ponselku kepada Alex, dia terlihat tersenyum lalu menepuk pundakku.
"Kita jalan kaki saja, ini sangat dekat," kata Alex.
Aku sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Alex, karena jarak satu kilo meter hanya sebentar saja jika dilalui dengan jalan kaki.
Lagi pula itung-itung jalan sehat, biar badan kami lebih terasa segar di pagi hari ini. Lebih bugar dan berkeringat.
"Ya, baiklah. Terserah apa elu, aja. Gue nurut," kata Naura dengan bibir mengkerucut.
Aku tersenyum melihat wajah Naura yang terlihat sangat lucu di mataku, lalu aku merangkul pundak sahabatku itu.
__ADS_1
"Jangan marah, biar sehat. Katanya elu ngga mau gemuk, kalau naik mobil terus nanti bisa gendut. Bahaya!"
Aku berusaha menakut-nakuti Naura agar dia mau berjalan kaki bersama dengan kami, rasanya tidak enak jika harus menaiki mobil
Apalagi kami kini akan melintasi perkampungan, udaranya masih sangat segar. Banyak pohon hijau berhamparan di pinggiran jalan, sepertinya sambil menghirup oksigen akan sangat baik dari pada menaiki mobil milik ayah.
"Iya, iya!" kata Naura.
Mario menghampiri kami, lalu dia merangkul pundak Naura dan mengajaknya untuk segera melangkahkan kakinya.
"Ayo ah, jangan manja," kata Mario.
"Okeh," jawab Naura.
Akhirnya kami berempat melakukan jalan santai, selama perjalanan menuju rumah Wira, kami sesekali bercanda untuk menghilangkan ketegangan.
Jujur saja di dalam hati aku merasa sangat was-was dalam menjalankan misi ini, aku takut tidak bisa membantu Wira.
Setelah lima bekas menit kami berjalan kaki, akhirnya kami tiba di depan sebuah rumah megah.
Rumah itu terlihat memiliki gerbang yang menjulang tinggi, aku bahkan tidak bisa mengintip ke arah dalam dari gerbang tersebut.
Pantas saja Wira bisa meninggal tanpa ada yang mengetahuinya, karena keadaan rumahnya saja seperti ini.
Aku sangat yakin pelakunya tidak hanya Ibu tiri dari Wira saja, tapi ada seseorang yang membantunya.
Tidak mungkin bukan, jika ibu tiri Wira menggali tanah sendirian untuk mengubur tubuhnya Wira?
"Wow, rumahnya gede banget, ya, Ra," kataku kepada Naura.
"Ini mah udah kayak istana," kata Naura.
"Sayangnya ini rumah serem banget, elu ngga lihat gerbangnya aja tinggi banget. Pantes aja itu anak dibunuh kagak ada yang tahu, keadaan rumahnya aja serem banget kayak gini," kata Mario.
"Hush! Sudah jangan pada banyak bicara, sekarang kita harus mencari cara agar kita bisa masuk ke rumah ini," kata Alex.
Ya, Alex benar. Kami harus mempunyai cara untuk bisa masuk ke rumah besar tersebut. Tentu saja tujuannha agar kami bisa mencari cara untuk memberitahukan kepada ayahnya Wira, tenrang apa yang terjadi terhadap Wira.
Kami pun mulai berpikir dan berusaha mencari cara untuk bisa masuk ke dalam rumah tersebut.
__ADS_1
Saat sedang asyik berpikir, tiba-tiba saja sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang rumah tersebut.
Aku dan ketiga temanku langsung menyingkir, karena kami sadar jika kami sudah menghalangi jalan.
Tanpa kami duga, pintu kaca mobil tersebut nampak diturunkan dari dalam. Lalu, seorang pria paruh baya yang terlihat masih tampan menetap ke arahku dan bertanya.
"Kalian siapa? Kenapa ada di depan rumah saya?" tanya pria paruh baya tersebut.
"Eh? Maaf, Pak. Kami pendatang baru, kami baru saja datang dari kota. Anu, Pak. Itu, kami niatnya cuman jalan-jalan saja, ternyata malah kesasar. Lupa jalan pulang," ucapku beralasan.
Entah ide dari mana muncul kata 'kesasar', yang terpenting saat ini aku tidak dicurigai oleh pria paruh baya tersebut.
Sejenak aku memperhatikan wajah pria paruh baya itu, wajahnya terlihat begitu mirip dengan Wira.
Sepertinya dia adalah ayah dari Wira, semoga saja dia orang yang baik. Semoga saja dia tidak menyangka kami melakukan hal yang tidak-tidak.
"Oh, kasihan sekali kalian. Memangnya tidak ada yang bawa ponsel? Sekarang jaman canggih, bisa tahu alamat hanya dengan membuka situs pencarian," kata pria paruh baya tersebut.
Kami otomatis langsung menggelengkan kepala kami, walaupun memang pada kenyataannya kami mengantongi ponsel.
Akan tetapi, untuk memuluskan rencana kami, kami terpaksa berbohong. Pria paruh baya itu nampak tersenyum, kemudian dia berucap.
"Ya sudah, bagaimana kalau kalian mampir saja ke dalam?" tanya pria paruh baya tersebut.
Sontak kami semua langsung menganggukkan kepala kami secara bersamaan.
Tentu saja itulah hal yang sangat kami inginkan, karena jika tidak masuk ke dalam rumah megah tersebut, kami tidak akan tahu keadaan yang sebenarnya di dalam rumah megah itu.
Kami juga tidak bisa memberitahukan apa yang terjadi terhadap Wira kepada tersebut ayahnya, jika kami tidak berhasil masuk ke dalam rumah tersebut.
Pria paruh baya itu terlihat mengambil ponsel miliknya, lalu tidak lama kemudian dia terlihat berbicara dengan seseorang.
Beberapa saat kemudian, pintu gerbang nampak terbuka. Dia terlihat turun lalu mengajak kami untuk masuk ke dalam rumah megah tersebut.
Berbeda dengan seorang lelaki bertubuh yang membuka gerbang tersebut, dia langsung membawa mobilnya dan memarkirkannya di garasi.
"Mari masuk, jangan sungkan!" kata pria paruh baya tersebut.
"Ah, iya, Om," jawab Mario.
__ADS_1
**//
Masih berlanjut, ya Bestie. Hayo, kira-kira ada rahasia apa di dalam rumah megah tersebut?