
Satu minggu kemudian.
Kini keadaan Aneska sudah sangat baik, baik kondisi kesehatan tubuhnya dan juga kondisi kesehatan kejiwaannya.
Ya, Aneska sempat terguncang jiwanya karena mendapatkan pelecehan seksualitas dari tuan Edward.
Namun, setelah mendatangkan psikiater akhirnya Aneska kini merasa jika dirinya sudah merasa lebih baik.
Alex terlihat begitu setia mendampingi Aneska, padahal luka yang dia dapatkan juga begitu parah.
Namun, dia terlihat mengenyampingkan rasa sakit yang dia derita. Dia seolah tidak rela bergeser sedikit pun dari sisi Aneska, dia ingin terus saja mendampingi wanita pujaan hatinya itum
Pria blasteran Indo-Australia itu selalu saja setia menunggu wanita pujaan hatinya selama di Rumah Sakit, dia tidak pernah absen.
Bahkan, dia meminta ruang perawatannya berada di samping ruang perawatan Aneska saja, karena dengan seperti itu dia bisa kapan pun menemui sang pujaan hatinya.
"Siang ini elu udah boleh pulang, gue senang karena akhirnya elu udah sembuh. Tapi gue juga sedih karena itu artinya gue ngga bisa lama-lama lagi bareng elu," kata Alex.
Aneska memandang Alex yang terlihat begitu sedih menatap dirinya, ada rasa bahagia karena pria itu begitu perhatian terhadap dirinya.
Namun, ada juga rasa sedih karena mereka akan berpisah. Berpisah dari Rumah Sakit tentunya.
Karena pada kenyataannya tetap saja mereka akan sering bertemu, karena memang rumah mereka yang berdekatan.
Sayangnya memang tidak akan bisa seperti saat mereka berada di Rumah Sakit, maka dari itu Alex terlihat begitu berat untuk berpisah dengan wanita yang dia cintai itu.
"Nggak usah sedih juga kali, Lex. Kita bisa ketemuan di kampus kayak biasanya, bisa juga ketemuan di rumah. Kaya elu ngga pernah datang ke rumah gue aja," jawab Aneska.
Alex terlihat menggenggam tangan Aneska, lalu dia hendak mengecup punggung tangan Aneska. Namun, dengan cepat Aneska menarik tangannya.
Alex sempat mendengkus sebal mendapatkan perlakuan seperti itu dari Aneska, tapi dia berusaha untuk tersenyum lalu berkata.
"Tapi tetap beda, selama di sini gue bisa terus berada di samping elu. Cuman lagi tidur doang yang nggak bisa di samping elu, nunggu hala dulu soalnya."
Ucapan yang keluar dari bibir Alex berhasil membuat Aneska melayangkan pukulannya pada pundak pria itu, Alex nampak meringis kesakitan seraya mengelus lembut pundaknya yang terkena pukulan dari wanita yang dia cintai itu.
"Yaelah, elu kok jadi cemen kayak gini sih. Udah deh nggak usah lebay, nanti juga kita sering ketemu kayak biasa," ucap Aneska seraya terkekeh.
"Tapi elu tega Nes sama gue, elu nggak mau jadi pacar gue. Padahal gue cinta banget sama elu, elu juga tahu banget kalau gue udah cinta banget sama elu sejak dulu."
__ADS_1
Alex terlihat berkata dengan jujur, sayangnya Aneska seolah tidak mau tahu. Dia malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
Hal itu membuat Alex sedih, Alex terlihat menangkup kedua pipi Aneska agar pandangan mata mereka bertemu.
"Lihat mata gue, Nes. Gue tuh sayang banget sama elu, gue cinta banget sama elu. Masa sih elu nggak mau nerima cinta gue? Gue benar-benar cinta sama elu," kata Alex dengan raut wajah serius.
Aneska terdiam, dia membalas tatapan mata Alex yang menatap dirinya penuh cinta. Tadi malam dia sudah berbicara dengan ayah dan bundanya.
Aneska menceritakan jika Alexa berkata begitu mencintai dirinya, dia bingung apakah harus menerima cinta Alex atau tidak. Karena mereka masih dalam masa kuliah.
Menurut Aneska dia ingin serius dalam menjalankan kuliahnya, terlebih dahulu, untuk masalah pacaran nanti mereka bisa lakukan setelah lulus kuliah.
Namun, di luar dugaannya. Ayah dan bundanya justru malah mengatakan hal yang membuat Aneska tercengang.
"Kalau memang kamu ingin berpacaran dengan Alex, Bunda dan Ayah tidak keberatan. Asalkan tidak melampaui batas," ucap Bunda.
"Ayah juga tidak keberatan, dia adalah lelaki yang baik. Ayah yakin dia bisa menjaga kamu, kalau dengan berpacaran dengan Alex bisa membuat hari-hari kamu lebih bersemangat lagi, kenapa tidak. Yang penting jangan sampai melakukan hal yang tidak boleh dilakukan," ucap Ayah.
Aneska terlihat menunduk malu-malu ketika kedua orang tuanya berkata seperti itu, karena dia tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan dukungan dari kedua orang tua tersebut.
Dia benar-benar merasa senang karena mempunyai kedua orang tua yang begitu menyayangi dirinya, perhatian dan juga pengertian.
Aneska tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Alex, dia terlihat mengusap pipi Alex dengan lembut lalu dia berkata.
"Gue juga suka sama elu, gue mau jadi pacar elu."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Aneska, Alex terlihat membulatkan matanya dengan sempurna. Dia merasa kaget sekaligus tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang begitu dia cinta itu.
"Tadi aku diem kamu bilangnya diam aja, giliran aku jawab kamunya malah bengong kayak gitu."
Aneska terlihat mengerucutkan bibirnya, karena Alex malah terlihat syok ketika dia menjawab pertanyaan dari pria yang berada di hadapan itu
"Ehm! Kamu serius, kan? Kamu beneran suka sama aku? Kamu beneran mau jadi pacar aku, kan?" tanya Alex dengan raut wajah tidak percaya.
"Iya, beneran gue mau," jawab Aneska tanpa ragu.
"Oh ya ampun, gue seneng banget."
Setelah mengatakan hal itu Alex langsung menunduk dan menautkan bibirnya pada bibir Aneska, dia memagut bibir wanita yang sudah menjadi kekasihnya itu.
__ADS_1
Dia memagut bibir berwarna pink itu dengan sangat lembut, dia sedikit menekan tengkuk leher wanitanya agar ciuman itu semakin dalam.
"Kok diem aja? Kenapa ngga bales ciuman bibir gue?" tanya Alex setelah pagutan bibir mereka terlepas.
"Ck! Elu pan tau gue ngga pernah ciuman, gue belum tau cara balesnya kaya gimana." Aneska menunduk malu.
"Oh ya ampun, gue lupa kalau elu ngga pernah pacaran." Alex mencuil dagu Aneska.
"Elu juga sama, ngga usah ngata-ngatain!" keluh Aneska seraya cemberut.
"Iya-iya, maaf. Gue mau lagi ya?" pinta Alex.
"Mau apa?" tanya Aneska.
"Mau cium," ucap Alex seraya memonyongkan bibirnya.
"Jangan cium lagi!" kata Aneska seraya mendorong wajah Alex.
"Kenapa?" tanya Alex kecewa.
"Ada dia di sana!" tunjuk Aneska ke arah jendela tanpa berani menolehkan wajahnya.
"Ada apa sih?" tanya Alex.
"Ada cewek, tapi matanya ngga ada. Aku takut," jawab Aneska.
"Oh ya ampun, aku lupa kalau kekasihku ini bisa melihat mahkluk halus." Alex memeluk Aneska dan mengecup keningnya dengan lembut.
Seketika rasa tenang langsung menyeruak ke dasar hati Anesja, dia benar-benar merasa jika menerima Alex sebagai kekasihnya adalah keputusan yang terbaik.
"Terima kasih karena elu sudah mencintai gue," kata Aneska seraya mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih juga karena elu sudah mau menjadi kekasih gue," balas Alex.
Setelah mengatakan hal itu, Alex kembali menunduk dan mengecupi kening Aneska dengan penuh kasih.
๐Tamat๐
**
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti novel Othor dengan genre horor ini, terima kasih juga untuk kalian yang selalu memberikan dukungan berupa like, koment, gift dan juga votenya.