Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Hal Yang Mencengangkan


__ADS_3

Aneska kini tengan duduk di atas sofa dekat jendela yang ada di dalam kamarnya, dia memeluk kedua kakinya dengan dagu yang dia sandarkan di atas kedua lututnya.


Setelah makan malam bersama dengan kedua orang tuanya dan juga dengan ketiga sahabatnya, dia langsung masuk ke dalam kamarnya.


Dia sedang merenungi apa yang akhir-akhir ini terjadi kepada dirinya, apa yang dia alami dan apa yang dia lihat.


"Kenapa semuanya terasa berat sekali? Sepertinya aku harus mulai ikhlas dengan apa yang saat ini aku bisa lihat, mungkin ini adalah salah satu anugerah yang Tuhan berikan padaku," kata Aneska.


Aneska terlihat menghela napas berat, jika melihat sosok hantu yang berwujud manusia dengan wajah yang normal mungkin dia tidak akan merasa takut.


Namun, ketakutan selalu saja datang jika dia melihat makhluk buruk rupa atau yang benar-benar tidak jelas rupanya.


Bahkan, Aneska akan merasakan gemetaran kala dia melihat makhluk yang benar-benar tidak terbentuk organ tubuhnya.


Saat sedang asyik dengan lamunannya, tiba-tiba saja ada seberkas cahaya putih yang melayang dan tepat berputar di hadapannya.


Aneska yang merasa silau langsung menegakkan tubuhnya dan menutup kedua wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Oh Tuhan, apalagi ini?" keluh Aneska.


Cukup lama dia merasakan silau karena cahaya putih yang datang tersebut, tidak lama kemudian dia merasa cahaya itu sudah tidak ada lagi.


Aneska lalu menjauhkan kedua telapak tangannya dari wajahnya, dia berusaha untuk membuka kedua kelopak matanya.


Namun, saat dia melihat sekelilingnya dia merasa benar-benar takut. Karena kini dia berada di sebuah ruangan yang entah di mana Aneska tidak tahu.


Ruangan itu nampak seperti gudang, banyak barang-barang bekas yang terlihat sudah tidak terpakai.


Bahkan, di sana juga ada tumpukan kotak-kotak kayu yang terlihat kosong. Ada juga tumpukan cairan hitam seperti minyak, terlihat sangat menjijikan. Lantainya terlihat basah dan kotor.


"Di mana aku?" tanya Aneska.


BLAM!


DUGH!


PRANG!


BRUGH!


Tiba-tiba saja Aneska mendengar suara gaduh di dalam ruangan tersebut, Aneska terlihat mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


Dia berusaha mencari asal dari suara tersebut, tidak lama kemudian dia melihat sosok seorang pria yang sedang berdiri seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Dia berdiri dengan wajah kesal seraya menatap ke arah sisi lainnya, Aneska mengikuti arah tatapan dari pria tersebut.


Ternyata di sisi lainnya terlihat seorang pria yang sedang dipukuli oleh beberapa pria berbadan kekar dengan wajah yang menyeramkan.


Dia bukan hanya dipukuli dengan tangan kosong, tapi salah satu pria berbadan tegap di antara lima orang pria tersebut memukul pria yang kini tengah tersungkur itu dengan sebuah kayu.


Aneska langsung memejamkan matanya seraya memalingkan wajahnya, dia benar-benar merasa kesal melihat apa yang dilakukan oleh kelima pria tersebut.


Bahkan, di saat pria yang tersungkur itu sudah tidak berdaya pun mereka masih saja menendang tubuh pria itu.


Aneska ingin sekali berteriak, tapi ucapannya seakan tercekat di tenggorokan. Bahkan, tubuhnya terasa gemetaran. Kakinya terasa lemas, hanya untuk digerakkan saja seakan tidak bisa.


"Stop!"


Pria yang sedari tadi berdiri seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada itu terdengar berteriak, dia mengisyaratkan kepada kelima orang itu untuk berhenti memukuli pria tidak berdaya itu.


Kelima pria bertubuh kekar dengan wajah menyeramkan itu terlihat menghentikan aksinya, tidak lama kemudian dia mengisyaratkan kepada kelima orang itu untuk menjatuhkankan cairan yang seperti minyak itu ke atas lantai.


Dengan sigap kelima orang itu langsung mengguyurkan cairan berupa minyak tersebut ke atas lantai, lalu pria yang nampak seperti bos itu tertawa dengan lantang.


"Hahahahahaha, BAKAR DIA!" teriaknya.


Lalu, Pria itu nampak pergi dari gudang tersebut. Kemudian, dia masuk ke dalam mobil mewahnya dan dia nampak pergi dari sana.


'Ya Tuhan, tega sekali mereka!' hanya dalam hati Aneska bisa berucap, karena mulutnya seakan terkunci rapat.


Setelah kepergian bosnya, kelima pria itu nampak tertawa. Mereka terlihat begitu senang dengan uang yang kini berada di tangan mereka.


"Kita harus segera menyelesaikan tugas terakhir," kata salah satu dari mereka.


"Hem, elu bener. Biar kita bisa segera pergi," kata pria yang lainnya.


Setelah mengatakan hal itu, tidak lama kemudian mereka juga nampak keluar dari gudang tersebut.


Mereka terlihat dengan tergersa masuk ke dalam mobil, lalu salah satu dari mereka terlihat melemparkan sebuah benda kecil seperti gundu ke arah gudang tersebut.


Setelah itu mereka nampak melajukan mobilnya dengan sangat cepat, Aneska terlihat mengerutkan dahinya.


Apa maksud dari semua itu, pikirnya. Namun, tidak lama kemudian dia mendengar sebuah ledakan yang sangat dahsyat.

__ADS_1


DUAAAR!


Gumpalan api terlihat begitu dahsyat menggulung sampai ke angkasa, terlihat berwarna orange dan hitam menggumpal. Gudang itu nampak hancur dalam seketika.


"Aaaakkhh!" jerit Aneska dengan mata yang terpejam.


"Sayang! Kenapa kamu berteriak seperti itu? Buka pintunya, Sayang!" teriak Ayah dan Bunda Aneska.


Aneska yang mendengar teriakan dari ayah dan juga bundanya langsung membuka matanya, saat matanya terbuka dengan sempurna dia merasa kaget karena kini dia berada di dalam kamarnya kembali.


Dalam seketika tubuhnya benar-benar terasa lemas, bahkan kakinya seakan tidak bisa menyangga tubuhnya sendiri. Dia terlihat limbung, tubuhnya langsung luruh ke atas lantai.


"Anes, Sayang! Tolong jangan bikin Bunda khawatir, buka pintunya, Sayang!" teriak Bunda Aneska.


"A--aku tidak baik, Bun. Aku lemes, ambil kunci cadangan saja." Aneska mencoba berteriak sebisanya.


Lima menit kemudian pintu nampak terbuka, ayah dan bunda Aneska langsung masuk dan menghampiri Aneska.


"Ya Tuhan, kamu kenapa, Sayang?" tanya Bunda Aneska.


"Lemes, tadi aku lihat itu--"


Aneska terlihat bingung harus berkata apa, ayah dan bunda Aneska yang paham langsung menghela napas berat. Mereka yakin jika Aneska pasti sudah melihat hal ghaib lagi.


"Kita duduk dulu ya, Sayang!" kata Ayah Aneska.


Ayah Aneska terlihat mengangkat tubuh lemas putrinya ke atas sofa, lalu dia ikut duduk dan mengelus puncak kepala putrinya itu.


Bunda juga ikut duduk, lalu dia menarik lembut Aneska ke dalam pelukannya. Dia sungguh khawatir terhadap putrinya itu.


"Minum dulu, Sayang!" kata Ayah.


Ayah Aneska mengambil air yanh berada di atas nakas lalu memberikannya kepada putrinya itu.


"Nanti saja," Jawab Aneska.


Saat ini rasanya Aneska hanya membutuhkan pelukan dari bundanya yang terasa begitu menenangkan, bukan apa pun.


"Baiklah, sekarang kamu tenang diri kamu dulu. Nanti kalau sudah siap baru cerita," kata Ayah seraya menyimpan air minum di atas meja.


"Ya," jawab Aneska.

__ADS_1


***


Pagi menjelang siang Bestie, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Jangan lupa tinggalkan komen dan likenya.


__ADS_2