
Aku benar-benar merasa takut saat melihat pocong itu, wajahnya terlihat gosong. Matanya terlihat merah, kain putih yang terlihat kucel seperti anak kecil yang habis guling-guling di atas tanah, kain seperti itulah yang dia pakai.
Namun, jika aku terus bersembunyi di dalam ketakutanku. Aku yakin pocong itu akan terus mengikuti aku kemana pun aku pergi, padahal aku sudah sangat senang sekali jika hari ini aku akan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang bersama dengan kedua orang tuaku.
'Sial! Bagaimana aku bisa bersenang-senang jika dia terus menatapku dengan tatapan yang begitu sulit diartikan?' umpatku dalam hati.
Aku berusaha untuk menghela napas panjang, kemudian mengeluarkannya dengan perlahan. Aku terus mensugesti diriku untuk tidak merasa takut dengan pocong yang kini berada di dekat pria paruh baya itu.
Setelah merasa lebih tenang, aku menolehkan wajahku ke arah pria paruh baya yang ayah dan bunda sebut pak Sanjaya itu.
Aku sempat memperhatikan wajah lelaki itu, tapi dia tidak memiliki rupa yang sama dengan lelaki yang aku lihat di dalam mimpiku.
Lalu, apa hubungannya pria itu dengan pocong yang kini berada di sampingnya? Apa hubungannya antara pria jahat di dalam mimpiku, dengan pria yang kini berada di samping pocong itu?
Ah, semuanya sungguh rumit. Hal ini membuat kepalaku benar-benar terasa pening, aku rasa ini adalah sebuah teka-teki yang sangat sulit.
Melihat aku yang begitu kebingungan, ayah dan bunda terlihat cemas. Bunda bahkan langsung mengelus pundakku dengan lembut dan bertanya dengan penuh kelembutan.
"Apa mau pulang saja? Bunda jadinya merasa cemas, jika kamunya terus saja ketakutan seperti itu," kata Bunda.
Aku terdiam memikirkan apa yang harus aku ucapkan kepada bunda, jika pulang aku masih ingin menikmati makanan yang selama ini sudah aku rindukan.
Akan tetapi, jika tidak pulang aku juga merasa takut dengan tatapan horor dari pocong tersebut.
"Kalau engga kamu tanyain saja sama pocongnya, kenapa sih dia ngikutin kamu terus," usul Ayah seraya terkekeh.
Aku tahu ayah mengatakan hal itu agar aku tidak merasa ketakutan lagi, ayah sedang berusaha untuk mencairkan suasana bukan bermaksud untuk meledek.
Mendengar apa yang ayah katakan aku jadi berpikir dalam hati. Bukankah aku bisa berkomunikasi lewat mata batinku? Lalu, kenapa dari tadi aku malah terdiam dalam ketakutan?
__ADS_1
"Ayah benar," kata aku.
Setelah mengatakan hal itu, aku langsung memejamkan mataku. Aku berusaha untuk berkomunikasi dengan makhluk ghaib yang terlihat begitu menakutkan itu.
'Maaf jika aku lancang, aku hanya ingin bertanya. Kenapa kamu terus mengikutiku?'
Tanyaku dalam hati, aku memfokuskan pikiranku untuk bisa berbicara dengan pocong tersebut lewat mata batinku.
'Tolong aku, tolong bersihkan namaku.'
Aku mendengar jawaban dari pocong tersebut, tapi terus terang saja aku tidak paham dengan apa yang diminta oleh pocong tersebut.
Sepertinya clue yang diberikan oleh pocong tersebut masih sangat kurang, aku harus mencari clue yang lainnya.
'Aku tidak paham dengan apa yang kamu inginkan, apakah bisa lebih diperjelas lagi?' tanyaku.
Mendengar apa yang diminta oleh pocong tersebut, aku benar-benar merasa gundah. Rasanya misi kali ini terasa sangat berat, aku harus mendekati pria paruh baya yang bernama Sanjaya itu.
Rasanya akan sangat sulit, apalagi dia merupakan orang penting. Bahkan ayah bilang jika lelaki paruh baya itu adalah klien bisnis dari ayah.
'Lalu apa hubungannya dengan mimpi yang aku alami tadi malam?' tanyaku kembali.
'Tentu saja ada hubungannya, karena pria yang dipukuli sampai mati di dalam mimpimu itu, adalah aku.'
"Oh Tuhan, tugas ini terasa sangat berat sekali!" keluhku tanpa sadar dengan mata yang masih terpejam.
"Tugas apa yang sangat berat Nes?"
Sebuah pertanyaan terdengar keluar dari bibir ayah, aku langsung membuka mataku dan menatap kearah ayah dan juga bunda secara bergantian.
__ADS_1
"Pocong itu korban pembunuhan, Yah. Dia meminta aku untuk membersihkan namanya, tentunya dia juga memintaku untuk mengusut tuntas masalah yang menimpa dirinya. Saat dia hidup dia dikambing hitamkan oleh orang lain."
Mendengar apa yang aku katakan, ayah dan bunda terlihat seperti orang kebingungan. Mungkin, mereka bertanya-tanya. Bagaimana cara membersihkan nama orang yang sudah meninggal.
Begitupun dengan aku, aku merasa bingung dari mana aku harus memulai misi kali ini. Namun, sepertinya aku harus menemui ketiga temanku dulu dan membicarakan nya dengan mereka. Karena biasanya mereka akan lebih paham untuk masalah seperti ini.
"Sayang, napsu makan Bunda sepertinya malah menghilang. Bagaimana kalau kita pulang saja? Kepala Bunda juga terasa sakit, makanannya di bungkus saja. Nanti kita makan di rumah saja," kata Bunda.
Bunda saja yang hanya mendengarkan cerita dariku terlihat begitu bingung dan pening, bagaimana dengan aku coba.
Namun, aku berusaha untuk setentang mungkin agar aku bisa berpikir dengan lebih baik lagi. Aku tidak boleh ketakutan lagi, aku adalah manusia terpilih.
"Baiklah, Bun. Kita pulang saja," jawabku.
Padahal aku ingin sekali menikmati makan siang di Resto Jepang bersama dengan kedua orang tuaku ini, aku benar-benar rindu dengan kebersamaan kami.
Sayangnya aku merasa tidak fokus untuk melanjutkan makan siangku, rasanya selera makanku saja sudah hilang entah kemana.
Setelah semuanya makanan yang aku pesan dibungkus oleh pelayan yang ada di sana, ayah terlihat ke kasir untuk membayar makanan tersebut.
Aku sempat mengedarkan pandanganku, tidak ada lagi pocong yang terlihat menyeramkan itu di samping pria paruh baya yang katanya bisa menjadi petunjuk untuk aku menyelidiki siapa pembunuh dari pocong itu.
Ya ampun, aku lupa jika tadi aku tidak menanyakan siapa nama pocong itu. Aku jadi tidak tahu harus menyebut pocong itu dengan sebutan apa.
Apa aku harus memanggilnya om, paman atau apa? Heh, sepertinya lain kali kalau bertemu lagi aku harus bertnya siapa namanya.
****
Selamat siang Bestie, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, jangan lupa untuk tinggalkan komentar dan juga likenya.
__ADS_1