Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Sepertinya Memang Leni


__ADS_3

Tiba di tepi hutan, Alex menurunkan aku dari gendongannya. Aku mengedarkan pandanganku, tidak lama kemudian aku melihat pohon yang sama dengan mimpiku.


Di bawah pohon itulah Leni dikuburkan, aku memperhatikan tanah yang berada di sekitar pohon besar itu. Benar saja, di sana ada gundukan tanah yang tidak rata dan berbeda kondisi tanahnya dengan yang di sekitarnya.


"Sepertinya Leni dikuburkan di sana," ucapku.


Mang Asep nampak terdiam, dia memperhatikan gundukan tanah di bawah pohon tersebut.


Tidak lama kemudian, tubuhnya langsung melemas. Dia terlihat terduduk di atas tanah seraya menggenggam gundukan tanah tersebut.


"Leni!" panggilnya lirih tapi suaranya penuh penekanan.


Aku benar-benar merasa iba kepada dirinya, apalagi kini meng Asep terlihat menangis dengan tersedu. Terlihat dengan jelas raut kesedihan di wajahnya.


"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Mang Asep dengan tatapan tidak beralih dari gundukan tanah di hadapannya.


"Kita gali saja gundukan tanah ini," ungkap Mario menggebu.


Berbeda dengan Naura yang terlihat sedikit ragu dan juga takut, sepertinya dia masih memikirkan sesuatu yang entah apa aku pun tidak tahu.


Aku mencoba mengalihkan pandanganku kepada Alex, tapi dia terlihat terdiam seperti biasanya.


Dia nampak begitu tenang walaupun dalam keadaan genting seperti ini, entah apa yang ada di dalam pikirannya aku pun tidak tahu.


"Kita harus lapor polisi, kita tidak boleh gegabah untuk melakukan tindakan." Alex langsung merogoh saku celananya, kemudian dia mengambil ponselnya.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara Alex langsung melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, Alex berkilah jika mang Asep curiga bahwa Jony' lah yang membunuh Leni dan menguburkannya di tepi hutan.


Bukan tanpa sebab Alex mengatakan hal tersebut, karena Jony memanglah pacar dari Leni. Wajar saja jika alasan tersebut dialontarkan oleh Alex.


Setelah hampir setengah jam menunggu, akhirnya banyak polisi yang datang ke sana. Alex mencoba menjelaskan detail duduk perkaranya secara rinci dan juga jelas.


Akan tetapi, Alex tidak menyebutkan jika Leni mendatangi Aneska di dalam mimpinya. Karena dia takut jika Aneska akan terlibat dalam masalah yang lebih jauh lagi.


Beruntung pihak Kepolisian memercayai apa yang dikatakan oleh Alex, setelah melakukan penelitian di dalam gudang yang terbengkalai tersebut, polisi banyak menemukan bukti yang mengarah jika memang Jony yang menjadi tersangkanya.


Apalagi setelah polisi menggali gundukan tanah tersebut, mayat Leni sudah tinggal tulang saja.


Namun, yang menguatkan jika itu adalah mayat Leni karena adanya tas milik Leni yang ikut dikuburkan bersama dirinya.


Ada ponsel milik Leni juga yang sudah mati di sana. Bahkan di dalam tas tersebut ada tespek bergaris dua dengan warna merah.


Bahkan, polisi juga menemukan dua cincin yang sama di dekat jasad Leni. Sepertinya cincin yang satunya adalah milik Leni, sedangkan yang satunya lagi adalah cincin milik Jony.


Cincin yang Jony melemparkan ke dalam lubang tanah, saat hendak menguburkan Leni. Aku masih sangat ingat akan hal itu.


Polisi juga membawa tulang belulang milik Leni untuk diautopsi, mang Asep tidak bisa berkata apa pun. Dia hanya pasrah dengan apa pun nanti keputusan dari pihak Kepolisian.


Saat ini justru mang Asep terlihat seperti orang linglung, air matanya tiada henti turun di kedua pelupuk matanya.


Sedih?

__ADS_1


Tentu saja dia merasa sedih, karena ternyata putri yang dia tunggu-tunggu kepulangannya kini sudah tiada lagi.


Kecewa?


Tentu saja dia begitu merasa kecewa, karena dia merasa gagal sebagai orang tua. Dia tidak bisa mengurus anaknya, dia merasa gagal karena tidak bisa menjaga putri semata wayangnya yang sudah ditinggalkan oleh ibunya terlebih dahulu.


"Mang, mau pulang atau mau ikut ke Rumah Sakit?" tanya Mario.


Mang Asep yang terlihat sedang meratapi kesedihannya terlihat mendongakkan kepalanya, dia menyusut air matanya lalu menatap wajah Mario dengan lekat.


"Untuk apa pergi ke Rumah Sakit?" tanya mang Asep.


"Sebentar lagi jasad Leni akan di autopsi, apakah Mamang tidak ingin mengetahui hasilnya? Apa Mamang tidak ingin mengetahui penyebab dari kematian Leni?" tanya Mario.


Mang Asep terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, tubuhnya memang lemah. Namun, dia tetap ingin mengetahui hasil dari pemeriksaan polisi tersebut.


Dia juga ingin benar-benar meyakinkan dirinya bila itu adalah putri semata wayangnya, Leni.


"Ya, Mamang mau ikut ke Rumah Sakit,'' jawab Mang Asep.


Akhirnya kami semua pergi ke Rumah Sakit, Jujur saja aku juga merasa penasaran dengan hasilnya nanti.


Karena walau bagaimanapun juga aku didatangi oleh Leni secara langsung. Lebih tepatnya arwah Leni.


****

__ADS_1


Masih berlanjut, jangan lupa tinggalkan jejak, ya.


__ADS_2