
Pagi ini Aneska, Mario, Alex dan juga Naura sudah bersiap untuk menjalankan rencana mereka. Tentu saja untuk memperlancar semuanya, rencana mereka dibantu oleh ayah Aneska sendiri.
Pukul 08.00 pagi mereka sudah tiba di perusahaan milik ayah Aneska, keempat anak cantik dan tampan itu terlihat duduk di lobi.
Mereka sengaja memperhatikan Jony yang kini sedang bertugas di balik meja resepsionis, berbeda dengan ayah Aneska, dia harus segera masuk ke dalam ruangannya karena masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.
"Nes, dia ganteng juga, ya? Pantesan si Leni sampai tergila-gila sama itu cowok," celetuk Naura.
Aneska terdiam, dia terlihat memperhatikan wajah dari Jony. Kalau dilihat-lihat memang dia lebih tampan dari sebelumnya, jika dibandingkan saat dia melihat kejadian bersama dengan Leni.
Mungkin saja sekarang dia bisa berpenampilan lebih baik karena sudah bekerja, atau memang tuntutan dari pekerjaan, menurut Aneska.
Mendengar apa dikatakan oleh Naura, Mario terlihat tersinggung. Dia merangkul pundak Naura, mencondongkan wajahnya, lalu dia berbisik.
"Elu mah gitu, masa penjahat aja elu kata ganteng. Gantengan gua kemana-mana kali," kata Mario seraya merapikan kerah baju yang dia pakai.
Mendengar kalimat protes dari Mario, Naura terlihat mencubit gemas perut sahabatnya tersebut. Mario langsung melepaskan rangkulannya dan mengelus perutnya yang lumayan terasa sakit.
"Ini namanya penganiayaan, elu mah ama gue begitu terus," protes Mario.
"Ya ampun! Sahabat gue, teman gue. Unyu-unyunya gue, tentu saja elu lebih ganteng dari dia. Maksud gue dia itu orang kampung, tapi wajahnya lumayanlah. Makanya pantes aja tuh si Leni ngejar-ngejar dia, bukan berarti gua mengagumi dia. Gimana sih elu tuh!" kata Naura seraya menoyor kepala Mario.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Naura, Mario terlihat mengerutkan bibirnya seraya mengelus-ngelus kepalanya.
"Untung sayang, kalau ngga udah gue pites," gumam Mario.
Alex dan juga Aneska hanya saling pandang, kemudian mereka tertawa melihat tingkah dari kedua sahabatnya itu.
Menurut mereka Mario dan juga Naura sangatlah cocok, sayangnya Naura tidak mempunyai perasaan apa pun terhadap Mario.
Berbeda dengan Mario yang begitu mengagumi sosok Naura, walaupun terkadang mereka sering berantem, tapi mereka akan cepat akur kembali.
"Sudah jangan berdebat terus, gue mau ke sana nih. Siapa yang mau nemenin gue?" tanya Aneska.
Naura dan Mario saling pandang, kemudian mereka terlihat nyengir kuda. Jika Aneska akan pergi, tentu saja mereka ingin ikut.
__ADS_1
"Gue ikut," jawab keduanya secara bersamaan.
Aneska tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, mereka selalu saja bertingkah seperti itu pikirannya.
"Baiklah, kalau begitu kita bersama-sama saja bertemu dengan si Jony itu," kata Aneska.
Akhirnya Aneska, Mario, Alex dan juga Naura terlihat berjalan menuju arah resepsionis. Di sana ada empat orang resepsionis yang sedang bekerja, tiga orang perempuan dan satu orang laki-laki yaitu Jony.
Aneska terlihat menghampiri Jony, lalu dia memperhatikan name tag yang tertera di di baju Jony. Jony terlihat memperhatikan Aneska, dia seolah bertanya sedang apa gadis muda seperti Aneska berada di gedung perkantoran seperti ini.
Apalagi wajah Aneska terlihat begitu imut, dia terlihat masih pantas untuk mengenakan seragam SMP. Berbeda dengan tiga resepsionis perempuan lainnya yang mengetahui jika Aneska adalah putri tunggal dari pemilik perusahaan.
Mereka terlihat membungkukkan badan tanda hormat, Aneska tersenyum. Lalu, dia menganggukkan kepalanya.
"Kamu pegawai baru ya, Bang Jo--ny," kata Aneska pura-pura mengeja name tag yang berada di baju milik Jony.
"Ah iya, Ade ada perlu apa ya? Kayaknya Ade lebih baik sekolah deh, bukannya berada di sini," kata Jony.
Ketiga resepsionis perempuan yang berada di samping Jony terlihat saling lirik kala Jony berkata seperti itu, berbeda dengan Aneska. Dia terlihat tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Jony, kemudian dia berkata.
"Bantu apa?" tanya Jony setengah malu.
"Ikut aku ke ruang Ayah sebentar, yuk. Aku mau minta bantuan," kata Aneska.
"Ayah? Minta bantuan?" tanya Jony bingung.
Salah satu perempuan yang berada di samping Jony langsung menyikut perutnya, kemudian dia berbisik tepat di telinga Jony.
"Dia anak tunggal Bos, Nona muda kita. Elu jangan macam-macam ama dia, dipecat tau rasa elu!" kata perempuan dengan name tag Raisa.
Jony langsung memelototkan matanya dengan apa yang dia dengar dari Raisa, wajahnya yang awalnya terlihat jutek tiba-tiba berubah menjadi ramah. Jony tersenyum ke arah Aneska, lalu berkata.
"Maaf, Nona muda. Saya tidak tahu kalau anda adalah anak dari Bos kami," kata Jony seraya membungkukkan tubuhnya beberapa kali.
"Ya, tidak apa-apa. Bisa dong ya, bantu aku?" tanya Aneska.
__ADS_1
"Bisa, bisa!" jawab Jony bersemangat.
Aneska terlihat menatap ke arah Raisa, Susi dan juga Tata. Ketiga perempuan yang bekerja sebagai resepsionis bersama dengan Jony.
"Aku permisi dulu ya, Kak. Soalnya ada yang harus aku kerjakan, mungkin aku akan meminjam Bang Jony untuk waktu yang lama," kata Aneska.
Ketiga perempuan cantik itu terlihat tertawa renyah mendengar apa yang dikatakan oleh Aneska, karena biasanya Aneska memang suka bercanda dengan ketiga resepsionis tersebut.
"Iya, Nona muda. Silakan!" jawab mereka bertiga.
Berbeda dengan Jony, dia terlihat mengerutkan dahinya dengan apa yang dikatakan oleh Aneska. Dia itu sedang bekerja, kalau dipinjam dengan waktu yang lama bagaimana dengan pekerjaannya, pikirnya.
Jony yang memang belum paham dengan apa yang dikatakan oleh Aneska, tapi dia tidak berani bertanya. Dia takut jika dirinya nanti malah akan dipecat.
Saat Aneska, Mario, Naura dan juga Alex mulai berjalan, dia hanya berani mengikuti langkah dari nona mudanya tersebut.
Tidak mungkin bukan jika dia harus melakukan protes, bisa-bisa dia dia akan dipecat saat itu juga. Padahal untuk mendapatkan pekerjaan ini saja dia harus menyogok temannya yang bekerja di sana.
Bahkan, dia juga harus mengorbankan masa depan Leni karena sudah hamil duluan. Dia tidak ingin terbebani dengan janin yang berada di perut Leni.
Apalagi kini dia baru bekerja, dia harus mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang banyak pikirannya. Jangan ada penghambat.
"Ayo masuk," kata Aneska seraya membukakan sebuah ruangan yang ada di lantai lima.
Jony sempat mengernyitkan dahinya, dia merasa bingung dengan permintaan dari Aneska. Bukankah Aneska berkata jika pak Bos sedang membutuhkan bantuan mereka.
Lalu, kenapa dia malah dibawa ke sebuah ruangan yang dia tidak tahu itu ruangan apa dan ruangan siapa. Karena setahu dirinya, ruangan pak Bos bukanlah di sana.
"Maaf, Nona. Bukankah tadi Nona berkata jika ayah Nona sedang membutuhkan bantuan kita?" tanya Jony memberanikan diri.
"Ya, aku tadi berkata seperti itu. Maka dari itu masuklah! Nanti, Bang Jony akan tahu apa tugas yang diberikan oleh ayah kepadaku," kata Aneska.
"Oh, baik Nona." Jony menurut walaupun dia tidak paham apa tugas yang akan diberikan kepada dirinya.
****
__ADS_1
Masih berlanjut, jangan lupa like dan komentar ya.