
Aku segera turun dari mobil disusul oleh Alex, Mario dan juga Naura. Ibu Riyani terlihat memanggil security yang berjaga di depan rumahnya, tidak lama kemudian security itu nampak menghampiri kami dan membukakan pintu gerbang untuk kami.
"Loh, Nyonya kok, sudah pulang?" tanya security itu dengan gugup.
Aku menjadi curiga dengan lelaki yang bertugas sebagai security di rumah Ibu Riyani tersebut, raut wajahnya terlihat kaget dan bercampur dengan rasa takut saat ibu Riyani datang.
"Ya, saya sengaja pulang dulu. Ada berkas yang ketinggalan, kalau begitu saya permisi," kata Ibu Riyani.
"I--iya, Nyonya," jawabnya dengan gugup.
Ibu Riani terlihat melangkahkan kakinya menuju rumah megah miliknya, aku, Alex, Naura dan juga Mario dengan setia mengikuti langkah dari ibu Riyani tersebut.
Saat memasuki pintu utama, aku merasakan kehadiran dari Rayena, ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan yang ada di rumah megah tersebut.
Aku tertegun saat melihat Rayena yang sedang berdiri tepat di samping pintu sebuah kamar, dia terlihat menatapku dengan sebuah senyuman yang tersungging di bibirnya.
Mungkin dia merasa senang karena aku kini datang ke rumahnya, tinggal bagaimana cara aku memberitahukan kepada Ibu Riyani tentang kejahatan yang dilakukan oleh tuan Anggara.
Melihat Rayena yang berdiri di sana, aku jadi berpikir jiia kamar itulah, kamar tamu yang digunakan oleh tuan Anggara untuk membunuh Rayena.
"Maaf, Nyonya. Kamar mandinya di mana ya? Saya sudah tidak tahan ini, pengen pipis banget," ucapku.
Ibu Riyani yang terlihat sedang berjalan langsung menghentikan langkahnya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arahku.
"Kalau nggak tahan banget kamu bisa memakai kamar mandi yang ada di kamar tamu," kata Ibu Riyani.
Aku tersenyum karena ini berarti adalah kesempatan bagus untukku, aku langsung menganggukan kepalaku tanda setuju.
"Baiklah, kalau begitu aku penumpang pipis di kamar yang itu saja," kataku seraya menujukkan ke sebuah kamar yang di depan kamar tersebut ada Rayena yang sedang berdiri dengan tatapan sendunya.
"Ya, silakan!" kata Ibu Riyani.
Setelah mendapatkan persetujuan dari ibu Riyani, aku langsung berlari menuju kamar tersebut. Sedangkan Ibu Riyani terlihat pergi menuju ruang kerjanya.
Dengan cepat ku putar handle pintunya dan kudorong hingga pintu itu langsung terbuka dengan lebar.
Aku sangat kaget dengan hal itu, karena Rayena pernah menyampaikan pesannya kepadaku, jika pintu kamar tamu selalu dikunci oleh ayah tirinya.
Tentunya hal itu terjadi semenjak kejadian itu, dengan cepat aku masuk ke dalam kamar tersebut walaupun masih dalam keterkejutanku.
__ADS_1
Ku edarkan pandanganku, benar saja di atas tempat tidur itu aku pernah melihat Rayena yang hendak digauli oleh ayah tirinya.
Bahkan, aku juga masih mengingat kala kaki Rayena ditarik dari tempat tidur dan dipukuli dengan tongkat baseball oleh ayah tirinya.
Aku edarkan kembali pandanganku dan kucari tongkat baseball tersebut, tapi ternyata tidak ada.
Aku kembali berlari ke arah keranjang cucian kotor, tapi ternyata di sana tidak ada apa pun. Aku jadi berpikir, apakah aku telat datang?
Saat aku edarkan kembali pandanganku, aku sangat kaget karena ternyata Rayena kini berada tepat di hadapanku.
Aku langsung menunduk karena tidak sanggup melihat tubuh polosnya yang dipenuhi dengan luka lebam, aku merasa tidak sanggup untuk menatap wajah sendunya.
Hening, tidak ada suara apa pun yang terdengar. Namun, tidak lama kemudian aku mencium bau busuk dari tubuh Rayena.
Mungkin karena Rayena sudah terbunuh beberapa hari yang lalu, tubuhnya sudah mulai membusuk dan pastinya mengeluarkan bau busuk.
Untuk sejenak aku terdiam, tapi tidak lama kemudian aku berpikir kembali. Rayena tidak bisa berbicara, bagaimana cara kami berkomunikasi jika aku hanya menunduk saja?
Aku memberanikan diri untuk menatap wajah Rayena, dia tersenyum walaupun air mata berurai di wajahnya.
Dia memang tidak bicara, tapi dia menunjuk ke arah belakang rumah dengan tangan kanannya.
Ibu Riyani yang baru saja keluar dari ruang kerjanya terlihat keheranan saat melihat diriku, dia ikut menyusulku ke arah belakang rumahnya.
Aku tidak peduli jika Ibu Riyani menyebutku sebagai tamu kurang ajar atau apa pun itu, yang terpenting saat ini adalah aku ingin tahu apa yang sebenarnya ditunjukkan oleh Rayena kepadaku.
Tiba di belakang rumah, aku melihat tuan Anggara yang hendak menyalakan api. Ternyata dia ingin membakar baju milik Rayena, aku segera berlari dan langsung mendorong tubuh lelaki paruh baya itu dengan sekuat tenaga.
Karena dia yang tidak sigap, tubuhnya langsung tersungkur ke atas tanah. Padahal dia terlihat tinggi besar, tapi karena tidak siap mungkin hal itulah yang menyebabkan dia langsung tersungkur.
Melihat apa yang aku lakukan, Ibu Riyani nampak berteriak. Dia terlihat begitu marah kepadaku.
"Hey! Apa yang kamu lakukan terhadap suamiku?" tanyanya dengan penuh amarah.
Mendengar pertanyaan dari ibu Riyani, tuan Anggara terlihat gelagapan. Dia langsung bangun dan menarik baju milik Rayena yang hendak dia bakar.
Dia segera menyembunyikan baju Rayena di belakang tubuh besarnya, aku benar-benar kesal dibuatnya.
"Hey! Kenapa malah diam saja? Jawab pertanyaanku!" sentak Ibu Riyani seraya mendorong pundakku cukup kencang.
__ADS_1
"Tolong jangan salah paham terlebih dahulu, Nyonya. Coba Nyonya perhatikan baju siapa yang kini disembunyikan oleh suami kedua anda," ucapku dengan napas tersenggal.
Setelah berlari tentu saja aku merasa jika napasku tidak beraturan, apalagi kini aku berada di dalam situasi yang tegang.
Jujur saja jantungku terasa berdebar dengan kencang, bahkan rasanya jantung ini mau terlepas dari tubuhku.
Ibu Riyani mengalihkan pandangannya ke arah tuan Anggara, dia menatap tuan Anggara dengan tatapan penuh tanya.
Suami keduanya tersebut terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memundurkan tubuhnya. Wajahnya terlihat panik, bahkan bulir keringat terlihat mengucur deras dari wajahnya.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun, kamu harus percaya padaku. Jangan pernah mempercayai orang yang tidak dikenal," kata Tuan Anggara berkilah.
Setelah mengatakan hal itu, dia langsung berlari ke dalam rumah. Melihat akan hal itu Alex dan juga Mario tidak tinggal diam.
Mereka langsung mengejar lelaki paruh baya itu, sedangkan Naura malah bengong. Dia seakan tidak tau dan tidak mengerti harus berbuat apa.
Ibu Riyani terlihat bingung dengan apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut, aku langsung menghampirinya dan menepuk lengannya.
"Jika Nyonya bertanya kenapa aku melakukan hal ini, ini semua karena Rayena yang memintaku," ucapku dengan tegas.
Ibu Riyani nampak kaget, dia bahkan menatapku dengan lekat. Bulir air mata langsung bercucuran di wajahnya, ada sedih dan ada rasa bahagia yang aku tangkap dari wajahnya.
"Rayena? Di mana Rayena? Kamu mengetahui di mana keberadaan putriku?" tanya Ibu Riyani.
"Ya, aku mengetahuinya. Dia dibunuh oleh suami anda dan jasadnya dibuang di pinggir tol," kataku.
Mendengar apa yang aku katakan, dia langsung memelototkan matanya. Bahkan dia langsung mendorong tubuhku dengan sangat kencang.
Aku langsung jatuh tersungkur, aku tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh ibu Riyani. Kenapa dia tidak memercayaiku?
"Bohong! Kamu pasti bohong!" teriaknya. "Suamiku tidak akan pernah melakukan hal itu," katanya lagi.
Setelah mengatakan hal itu, dia terlihat mendekatiku. Lalu, dia menarik kerah kemeja yang aku pakai.
Mau tidak mau aku pun berdiri karena dia menarik kerah kemejaku dengan sangat kencang, Naura terlihat ingin menghampiriku.
"Diam dan jangan bergerak!" teriaknya pada Naura.
****
__ADS_1
Selamat siang Bestie, jangan lupa tinggalkan jejak, yes. Sayang kalian semua.