Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Air Mata Jatuh Tiada Henti


__ADS_3

Ibu Riyani terlihat begitu lemah, air matanya terus saja bercucuran. Wajahnya benar-benar terlihat kusut, dia terlihat begitu menyesal karena tidak bisa menjaga putri semata wayangnya.


Selama ini dia hanya menghabiskan banyak waktu untuk bekerja, selain untuk menghidupi putrinya, selain untuk memikirkan masa depan dirinya dan juga putrinya, dirinya berharap bisa melupakan kenangan masa lalu yang buruk bersama dengan suami pertamanya.


Ibu Riyani terlihat berjalan dengan sempoyongan, hal itu membuat Aneska dan juga Naura merasa kasihan.


Mereka mengapit Ibu Riyani dari samping kanan dan kirinya, agar wanita itu tidak terjatuh.


Tidak jauh dari sana Rayena terlihat menangis, dia seakan begitu sedih melihat keadaan Ibunya yang sangat menyedihkan.


"Nyonya adalah wanita yang kuat, jangan menangis lagi. Kasihan Rayena, dia ikut menangis," kata Aneska seraya melirik ke arah Rayena yang berada tidak jauh dari ibu Riyani.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aneska, lagi-lagi Ibu Riyani nampak menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Dia seolah sedang mencari-cari keberadaan dari putrinya tersebut, melihat akan hal itu Aneska nampak menitikan air matanya.


Karena seberapa keras pun Ibu Riyani mencoba untuk bisa melihat putrinya, seberapa keras pun Ibu Riyani berusaha untuk memeluk putrinya, atau berusaha untuk berbicara dengan putrinya tersebut, tetap saja tidak akan bisa.


Karena pada kenyataannya mereka sudah berbeda alam, Aneska hanya bisa meneteskan air matanya. Dia terhanyut dalam kesedihan yang dirasakan oleh Rayena.


"Di mana putriku? Di mana dia?" tanya Ibu Riyani.


"Tepat di belakang anda, dia juga sama ingin memeluk anda. Sayangnya kalian sudah beda alam," kata Aneska.


Tubuh Ibu Riyani nampak bergetar hebat, bahkan dia seakan tidak kuat untuk menopang tubuhnya.


Tangan kanan dan kirinya menggapai tangan Aneska dan juga Naura, dia seolah sedang berusaha untuk tegar.


Dia tidak mau terlihat lemah, Naura dan Aneska menuntun Ibu Riyani agar cepat masuk ke dalam rumahnya.


Namun, baru saja mereka masuk lewat pintu belakang, mereka sangat kaget karena melihat Alex dan juga Mario yang sedang berusaha mengikat tubuh tuan Anggara pada tiang.


Ibu Riyani nampak kaget saat melihat suaminya yang sedang meronta-ronta, dia berusaha untuk melepaskan ikatannya. Sayangnya Mario dan juga Alex terlihat sudah mengikat tangan tuan Anggara dengan sangat kencang.


"Mas!" panggil Ibu Riyani.

__ADS_1


Tuan Anggara yang sedang meronta-ronta dan terlihat berusaha untuk melepaskan diri dari ikatannya, terlihat menghentikan aktivitasnya.


Kemudian, dia menatap Ibu Riyani yang tidak jauh dari dirinya. Tuan Anggara terlihat menampilkan wajah mengiba kepada Ibu Riyani, istri cantiknya.


Namun, wajah itu terlihat tidak tulus. Hanya sebagai topeng saja agar sang istri merasa iba terhadap dirinya, Ibu Riani terlihat menghampiri Tuan Anggara. Lalu, dia mengusap wajah suaminya itu dengan sedikit kasar.


"Kenapa kamu melakukan semua ini, Mas? Kenapa kamu tega membunuh putriku?" tanya ibu Riyani.


Ibu Riyani terlihat memandang suaminya dengan tatapan penuh kekecewaan, dia selama ini sudah mempercayai lelaki itu. Namun, sayangnya kepercayaannya runtuh begitu saja.


Tuan Anggara langsung menggelengkan kepalanya, dia tidak terima jika dirinya dituduh secara langsung seperti itu oleh istrinya.


"Aku sudah mendengar semuanya, semua perbuatan bejatmu dari Aneska. Kamu tega sekali, Mas!" kata Ibu Riyani.


"Tidak, Sayang. Aku tidak melakukannya, mereka hanya ingin menghancurkan rumah tangga kita saja. Kumohon kamu jangan percaya pada mereka," kata Tuan Anggara.


Mendengar akan hal itu, Alex terlihat emosi. Dia langsung mengambil baju yang hendak dibakar oleh tuan Anggara, lalu melemparkannya tepat di muka lelaki paruh baya itu.


"Anda berkata tidak pernah berniat untuk membunuh Rayena, anda berkata tidak pernah berbuat kasar kepada Rayena. Lalu, apa ini? Ini adalah baju yang Rayena pakai sesaat sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya!" kata Alex dengan raut wajah penuh amarah.


Mungkin dia begitu kesal karena pria paruh baya itu terlihat berkelit, bahkan sejak tadi dia mengejar pria itu terasa begitu susah.


Karena security yang berjaga di depan rumah Ibu Riyani nampak berusaha untuk membantu dirinya, beruntung Alex bisa melumpuhkan security tersebut yang ternyata adalah anak buah dari tuan Anggara


Alex memang menguasai banyak ilmu bela diri, maka dari itu dia bisa dengan mudah mengalahkan security tersebut.


Dia juga bisa mengikat dan melumpuhkan tuan Anggara, walaupun harus mengeluarkan banyak tenaga karena ternyata tuan Anggara mampu menghindari serangan dari Alex dan juga Mario.


Aneska terlihat menghampiri Alex, lalu dia mengelus lembut tangan sahabatnya itu. Mendapatkan sentuhan dari Aneska, Alex nampak menolehkan wajahnya ke arah sahabatnya tersebut.


"Elu harus tenang, elu ga boleh kebawa emosi gitu. Lagi pula dia sudah terikat, elu ngga usah khawatir dia bakalan kabur. Mulutnya bisa ngeles, tapi sebentar lagi tidak akan bisa," kata Aneska.


"Diam, anak sialan! Aku tidak meminta pendapatmu," kata Tuan Anggara dengan penuh emosi.


Naura yang merasa kesal langsung menghampiri pria paruh baya itu dan menoyor kepalanya dengan cukup kencang.

__ADS_1


Hal itu membuat kepala tuan Anggara sampai menengadah ke atas, Naura mengambil air dan mengguyurkannya ke wajah lelaki paruh baya itu.


Sontak tuan Anggara terlihat gelagapan, bahkan dia terlihat menggerak-gerakan tubuhnya agar bisa terlepas dari ikatannya. Sayangnya dia tidak bisa.


"Jangan berteriak seolah anda orang yang paling benar lelaki tua!" kata Naura dengan wajah yang sangat kesal.


"Sialan! Kalian memang anak sialan!" teriak Tuan Anggara.


"Cukup, Mas!" bentak Ibu Riyani seraya mengambil baju milik Rayena.


Mata Ibu Riyani nampak berkaca-kaca saat melihat baju Rayena, apalagi saat dia merentangkan baju milik Rayena yang terlihat sobek di bagian atasnya.


Dia jadi membayangkan seberapa kasarnya tuan Anggara memperlakukan putrinya, tatapan Ibu Riyani kini beralih kepada tuan Anggara.


Dia menatap suaminya itu dengan tajam, lalu tidak lama kemudian dia nampak menampar pipi tuan Anggara sebanyak dua kali.


Plak!


Plak!


Tanda merah bekas telapak tangan dari ibu Riyani terpampang jelas di kedua pipi tuan Anggara, tuan Anggara nampak memelototkan matanya mendapatkan perlakuan seperti itu dari ibu Riyani.


Dia tidak pernah menyangka jika Ibu Riyani yang selalu lembut terhadap dirinya, kini terlihat begitu kasar.


Ibu Riyani memang sering kasar, tapi tidak pernah memukul. Dia hanya akan kasar saat bermain di atas ranjang, permainannya selalu membuat dirinya mabuk kepayang.


"Sayang," panggil Tuan Anggara lirih.


"Tidak asa kata sayang, aku akan menelpon polisi. Kamu harua mendapatkan ganjaran yang setimpal.


Mendengar apa yang dikatakan oleh ibu Riyani, tuan Anggara nampak kembali meronta-ronta.


Dia ingin berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu tubuhnya, sayangnya ikatannya terlalu kuat sehingga pria paruh baya yang memiliki tubuh tambun dengan perut buncit itu nampak kesusahan untuk melepaskan diri.


***

__ADS_1


Selamat malam Bestie, semoga kalian selalu semangat dalam menjalani hari. Jangan lupa tinggalkan komengnya, ya. Komeng yang paling uhuk, pokokna..


__ADS_2