Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib
Hampir Saja


__ADS_3

Aku benar-benar ketakutan kala tuan Edward membopong tubuhku ke suatu tempat yang tidak aku kenal, dia terlihat menginjak sebuah pot yang berada di belakang rumah sehingga ada sebuah pintu terbuka.


Saat pintu itu terbuka, terlihat banyak anak tangga yang menurun ke bawah. Menurutku itu semacam jalan menuju ruang bawah tanah.


Ya Tuhan, aku benar-benar sangat takut. Jika tuan Edward membawaku ke dalam ruang bawah tanah, itu artinya aku akan sulit untuk melepaskan diri dari pria paruh baya itu.


Aku memberontak dan mencoba untuk melepaskan diri dari pria paruh baya itu, sayangnya pria itu sama sekali bergeming.


Padahal, aku sudah memukul-mukul pundaknya dengan sangat keras. Bahkan, punggungnya pun aku pukuli dengan sangat kencang.


Namun, tetap saja tuan Edward tidak menurunkan diriku. Aku bahkan berteriak meminta tolong, tapi dia malah tertawa menanggapi kecemasan dan ketakutan dari diriku.


"Om, tolong turunkan aku," pintaku mengiba.


"Sebentar lagi, Cantik," ucapnya dengan suara yang menurutku sangat menakutkan.


Semakin lama aku merasa pandanganku semakin gelap, karena tuan Edward membawaku ke dalam ruang bawah tanah yang semakin jauh dari pencahayaan.


Tidak lama kemudian dia terlihat berhenti dan seperti sedang meraba-raba sesuatu, mungkin stop kontak yang sedang dia cari.


Sesuai dengan dugaanku, tidak lama kemudian ruangan tersebut nampak menyala. Walaupun cahayanya terasa remang.


Dengan perlahan dia menurunkan tubuhku, lalu merebahkan tubuhku di atas sebuah tempat tidur yang tidak terlalu besar.


Aku benar-benar merasa ketakutan karena tiba-tiba saja tuan Edward merangkak ke atas tubuhku dan mengungkung pergerakanku, aku berusaha untuk memberontak.


Sayangnya tenaga dari tuan Edward dirasa sangat besar, sehingga aku tidak bisa menandingi kekuatan dari lelaki paruh baya itu.


"Jangan apa-apain aku, Om. Om orang baik, pasti tidak akan melakukan hal yang jahat," ucapku mencoba untuk membujuk pria paruh baya itu.


Sayangnya mendengar apa yang aku katakan pria paruh baya itu malah tertawa dengan terbahak-bahak, bahkan tawanya seakan menggema di dalam ruangan tersebut.


Suaranya terdengar begitu mengerikan, rasanya suara kuntilanak saja tidak akan terdengar menyeramkan seperti ini.


"Diamlah, Kiara, Sayang. Aku hanya akan memberikan kesenangan untuk kamu," ucapnya seraya menyeringai.


Sialan! Pria paruh baya itu benar-benar membuat aku takut, bahkan dia kini menjepit kedua kakiku dengan kakinya.


Tangan kirinya mengungkung pargerakkan kedua tanganku, lalu tangan kanannya dengan cepat membuka bajunya. Dia bahkan terlihat membuka celana yang dia pakai dengan mudah.

__ADS_1


"Jangan, Om. Aku bukan bunda Kiara, jangan sakiti aku," pintaku kembali mengiba.


Mendengar apa yang aku katakan, kembali pria paruh baya itu tertawa dengan terbahak-bahak. Lalu, dia membungkukkan badannya dan membelai pipiku dengan lembut.


"Aku sangat tahu jika kamu bukan Kiara, Aneska. Namun, satu hal yang baru saja aku sadari. Kamu lebih muda, lebih cantik dan pastinya kamu masih perawan. Uuuh, pasti masih rapat," kata Tuan Edward seraya mengelus milikku.


Ya Tuhan, mendapatkan perlakuan seperti itu darahku langsung mendidih. Ingin rasanya aku memukuli dirinya sampai babak belur, sayangnya pergerakanku begitu terbatas.


"Jangan, Om. Ampuni Aneska," ucapku dengan air mata yang mulai berlinang.


Sayangnya, pria paruh baya itu terlihat benar-benar gelap mata sehingga apa pun usaha yang aku lakukan akan terlihat sia-sia.


Bahkan, apa pun yang aku katakan tidak akan pernah dia dengar. Dia benar-benar sudah tuli dan buta mata hatinya.


"Bersiaplah Aneska, Sayang." Dia kembali terlihat menyeringai, wajahnya terlihat benar-benar sangat mengerikan.


Broek!


Sreeek!


Dia lansung merobek dan menarik baju yang aku pakai, sialan! Matanya terlihat menatap lapar ke arah dadaku.


"Wow! Mulus, cantik dan besar!" pujinya.


Brak!


Brugh!


Dugh!


Sebuah balok berukuran sedang langsung menghantam pria paruh baya yang sedang berusaha untuk mengambil mahkotaku, pria tua yang sangat bejat.


Dia terlihat kesakitan karena punggungnya beberapa kali dipukuli oleh balok berukuran sedang tersebut, aku sempat mengangkat wajahku karena ingin melihat siapakah yang melakukannya.


Ternyata itu adalah Alex, walaupun wajahnya terlihat babak belur dan terlihat ada darah yang menempel di bajunya, tapi pria itu terlihat memukuli tuan Edward dengan bersemangat.


"Keparat!" teriak Alex.


Sekuat tenaga Alex langsung menarik tubuh tuan Edward dan menghempaskannya ke atas lantai, bahkan aku melihat kepalanya terbentur tembok.

__ADS_1


Dengan cepat aku bangun dan turun dari atas tempat tidur tersebut, lalu aku menghampiri Alex yang terlihat akan memukul tuan Edward kembali.


Aku bahkan memeluk tubuh Alex dengan erat, bukannya aku membela tuan Edward. Namun, jika Alex terus-menerus memukuli tuan Edward, dia bisa mati. Jika tuan Edward mati, itu artinya Alex akan mendekam di penjara. Aku tidak mau.


"Lepaskan gue, Nes. Jangan halangi gue untuk menghajar pria yang kurang ajar itu!" teriak Alex. "Atau jangan-jangan elu lebih membela dia dari pada gue?" tanya Alex dengan raut wajah kecewa.


Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat, karena aku tidak mungkin membiarkan dia menghajar lelaki paruh baya itu lagi.


Namun, walaupun seperti itu Alex terlihat menginjak punggung Tuan Edward dengan sangat kencang. Hal itu membuat tuan Edward tidak mampu berdiri, bahkan bibirnya terlihat begitu menempel pada lantai yang terlihat dingin.


"Gue khawatir elu kenapa-kenapa," ucapku lirih.


Mendengar apa yang aku katakan, Alex terlihat tersenyum. Wajahnya terlihat sumringah, dia membuka baju yang dia pakai lalu memakaikannya kepadaku.


Setelah itu dia terlihat memelintir kedua tangan tuan Edward dan mengangkat tubuh tuan Edward dengan paksa.


"Bangun brengsek! Kalau saja Anes ngga ngebelain elu, elu udah mati di tangan gue," kata Alex lantang.


"Cih! Gue ngga takut mati," kata Tuan Edward seraya menyeringai.


Dia seperti sedang memanas-manasi Alex agar memukuli dirinya kembali, Alex bahkan hampir terpancing.


Namun, dengan cepat aku menepuk punggungnya. Alex seolah tersadar jika Itu adalah sebuah hasutan yang menyesatkan.


"Gue ngga bakal berbuat hal yang gila lagi," kata Alex seraya tersenyum.


Setelah mengatakan hal itu, Alex terlihat mendorong tuan Edward agar bisa keluar dari ruang bawah tanah tersebut.


Tuan Edward nampak memberontak, walaupun tubuhnya terlihat begitu besar tapi Alex bisa mengimbangi tuan Edward karena tuan Edward terlihat kesakitan setelah dipukuli oleh Alex tadi.


"Brengsek!" teriaknya lagi.


Alex seolah tidak peduli dengan apa yang tuan Edward teriakan, dia terus mendorong tuan Edward dengan kedua tangannya yang tetap dia pelintir ke belakang.


Bahkan, sesekali kakinya terlihat menendang kaki dari tuan Edward. Sebenarnya aku merasa kasihan terhadap pria itu, jika saja dia tidak berusaha untuk melecehkanku, mungkin aku akan melarang Alex untuk melakukan hal tersebut.


Namun, kali ini aku merasa mendukung apa yang dilakukan oleh Alex. Karena itu merupakan pelajaran untuk lelaki paruh baya itu, hal yang pantas dia dapatkan.


"Aneska, Sayang!" teriak Ayah saat kami baru saja keluar dari ruang bawah tanah.

__ADS_1


***


Selamat malam, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Selamat beristirahat, terima kasih.


__ADS_2